NovelToon NovelToon
Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Malam datang bersama suara ban mobil di halaman.

Pearl yang sedang menata meja makan langsung merasakan perubahannya sendiri jantungnya berdegup lebih cepat, tangannya berhenti sejenak di atas mangkuk yang hendak ia letakkan. Ia merapikan gaun rumahan sederhananya dan berdiri menunggu dengan tangan terjalin di depan perut.

Lorcan masuk.

Bahunya turun dengan cara yang tidak biasa Pearl lihat, bukan postur pria yang menguasai ruangan, tapi postur seseorang yang sudah membawa beban terlalu berat terlalu lama hari ini. Dasinya sudah dilonggarkan sejak di mobil, kemejanya sedikit kusut di bagian lengan. Garis-garis kelelahan tercetak jelas di wajahnya.

Langkahnya terhenti.

Ia mencium aromanya lebih dulu sebelum melihatnya.

"Apa ini?" Suaranya serak, tapi tidak tajam.

"Aku memasak," jawab Pearl pelan, matanya menghindari tatapan langsung. "Vanya bilang kamu menyukai sup kaldu. Aku hanya ingin... mengucapkan terima kasih. Untuk laporan tentang ibuku."

Lorcan tidak menjawab langsung.

Ia berjalan mendekati meja, menatap sup yang masih mengepul, roti gandum di sampingnya, tatanan sederhana yang sama sekali berbeda dari meja makan yang biasanya ia duduki sendirian dengan makanan yang dipesan dari luar dan tidak pernah benar-benar terasa seperti milik rumah.

"Siapa yang memberimu izin menggunakan dapur ini?" tanyanya. Nadanya tidak setajam yang Pearl antisipasi.

"Tidak ada. Maaf." Pearl menunduk, mempersiapkan diri. "Aku hanya ingin--"

Suara kursi ditarik.

Pearl mendongak.

Lorcan sudah duduk. Jasnya diletakkan di sandaran kursi, lengan bajunya digulung ke siku. Ia meraih sendok dan mencicipi sup itu dan Pearl menahan napas tanpa sadar, menatap ekspresi wajah pria itu yang tidak bisa ia baca.

Keheningan itu terasa sangat panjang.

"Duduk" kata Lorcan akhirnya.

Pearl menurut. Ia mengambil tempat di kursi seberang, punggungnya tegak, tangannya di atas lutut.

Lorcan makan dalam diam. Setiap suapan membawa sesuatu ke wajahnya yang tidak bisa Pearl beri nama, bukan kelembutan, bukan juga kedinginan yang biasa. Sesuatu di antaranya. Sesuatu yang tampak seperti seseorang yang sedang mengingat sesuatu yang sudah lama tidak ia izinkan untuk diingat.

"Ini... tidak terlalu buruk" katanya akhirnya.

Pearl menghembuskan napas yang hampir terdengar seperti isakan kecil. "Syukurlah."

"Berhenti memanggilku Tuan saat kita hanya berdua," potong Lorcan tiba-tiba. Ia meletakkan sendoknya dan menatap Pearl dengan tatapan yang sulit diartikan. "Panggil aku Lorcan. Bagaimana kamu bisa terbiasa di depan orang lain kalau di sini saja kamu masih bicara seperti dengan majikan?"

Pearl tertegun.

"Tapi... bukankah kamu bilang aku harus tahu posisiku?"

"Posisimu adalah istriku dalam kontrak ini," jawab Lorcan, bersandar ke kursi. "Dan kontrak itu mengharuskan kita terlihat seperti pasangan. Mulai berlatihlah dari sini."

"Baik..." Pearl menelan ludah. "Lorcan."

Nama itu terasa asing di lidahnya. Seperti sepatu baru yang belum terbentuk mengikuti kaki, tidak nyaman, tapi tidak sepenuhnya salah.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Pearl menginjakkan kaki di mansion ini, mereka makan bersama tanpa ada ancaman yang menggantung di udara. Lorcan bahkan bicara sedikit tentang masalah di kantornya, singkat, tidak banyak, seperti seseorang yang tidak terbiasa bercerita tapi tiba-tiba mendapati dirinya sedang melakukannya tanpa tahu kapan mulainya.

Dan Pearl mendengarkan.

Ada sesuatu yang asing di mata Lorcan saat ia menatap Pearl yang mendengarkan, sesuatu yang tampak seperti bingung, seperti seseorang yang tidak tahu harus melakukan apa dengan rasa nyaman yang tidak ia minta.

Lalu ponsel Lorcan bergetar di atas meja.

Ia meliriknya dan dalam sepersekian detik, seluruh udara di ruangan itu berubah.

"Ada apa?" tanya Pearl, melihat perubahan itu dengan jelas.

Lorcan tidak menjawab langsung. Ia membalik ponselnya ke arah Pearl.

Di layar itu, sebuah tangkapan kamera pengawas, sosok seseorang yang mengendap di koridor rumah sakit, di dekat pintu yang Pearl kenal terlalu baik.

Dekat kamar ibunya.

"Sepertinya kakakmu sudah bosan bersembunyi," kata Lorcan pelan, tapi nada itu sudah berubah sepenuhnya, kembali ke sesuatu yang tajam dan dingin dan tidak menyisakan ruang untuk apa pun selain kecurigaan. "Orla mencoba masuk ke kamar ibumu sore tadi."

Pearl menutup mulutnya dengan tangan. "Orla? Dia... dia kembali?"

Lorcan berdiri.

Ia memutari meja dengan langkah yang terukur dan sebelum Pearl sempat bergerak, tangannya sudah mencengkeram bahu Pearl, menghancurkan sisa kehangatan malam ini dengan satu gerakan.

"Katakan padaku, Pearl." Suaranya rendah dan berbahaya. "Apakah ini bagian dari rencanamu? Kamu memasak, membuat suasana seperti ini, agar aku lengah, sementara kakakmu menyelinap masuk?"

"Tidak!" Tangis Pearl pecah tanpa ia izinkan. "Aku bersumpah aku tidak tahu apa-apa. Aku bahkan tidak tahu di mana Orla sekarang!"

Lorcan menatapnya lama.

Terlalu lama dan Pearl tidak tahu apakah ia mencari kebohongan atau mencari alasan untuk tidak menemukannya.

Akhirnya ia melepaskan bahunya.

"Pengamanan di rumah sakit akan diperketat mulai besok." Ia berbalik, mengambil jasnya dari sandaran kursi. "Dan kamu--" ia berhenti di ambang pintu, punggungnya membelakangi Pearl, "Jangan pernah berpikir satu mangkuk sup bisa mengubah siapa kamu di mata saya. Kamu tetap seorang Rowan. Dan satu langkah saja Orla berhasil menyentuh ibumu, kamu akan tahu seberapa cepat aku bisa mencabut semua yang sudah kuberikan."

Ia pergi.

Langkahnya terdengar menjauh di koridor, lalu hilang.

**

Pearl duduk sendirian di depan meja makan yang tadi terasa seperti sesuatu.

Sup di mangkuknya sudah mulai mendingin.

Uapnya sudah tidak ada.

Ia menatap permukaan cairan yang sudah tidak mengepul itu dan menyadari bahwa itulah yang baru saja terjadi pada malam ini. Sesuatu yang hangat, yang sempat terasa nyata, yang sempat terasa seperti mungkin mendingin dalam hitungan menit.

Air matanya jatuh ke atas meja tanpa suara.

Bukan karena ancaman Lorcan.

Tapi karena selama beberapa jam tadi, ia lupa bahwa ia adalah tawanan di sini. Dan ternyata lupa itu menyakitkan dengan caranya sendiri jauh lebih menyakitkan dari ingat.

Malam itu Pearl kembali ke sofanya, memeluk lututnya dalam gelap, menyadari satu hal yang tidak ingin ia sadari.

Orla kembali.

Dan dengan kembalinya Orla, semua yang rapuh dan baru dan belum sempat tumbuh di tempat ini, hancur bahkan sebelum ia sempat memberinya nama.

1
Dede D
ceritanya sangat bagus
Dede D
lanjut kak
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿV⃗a͢n꙰a͢a⃗ꦿᵏⁱᵉˡяᷢ⃞🐰
Gegara Kk nya, adikny jdi korban😭
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Vaelisse: makasii kak, jangan lupa like dan komen nya ya 😀
total 1 replies
Juli Queen
bagus
Juli Queen
kaa kapan update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!