NovelToon NovelToon
Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight

Status: tamat
Genre:Action / Petualangan / Militer / Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / Ahli Bela Diri Kuno / Tamat
Popularitas:410.3k
Nilai: 5
Nama Author: aisy hilyah

Warning!!!

Bijaklah dalam membaca banyak tindak kekerasan. Terima kasih sudah berkenan baca.

Fakta tentang siapa dirinya baru Zena ketahui setelah ia melakukan penyerangan terhadap markas Mata Elang. Seorang master sepuh di perkumpulan tersebut mengatakan bahwa dia adalah seorang master legenda yang hilang. Tepatnya, keturunan sang legenda, sepasang Elang Putih.

Namun, Zena yang menyukai kebebasan, lebih memilih menyembunyikan identitasnya sebagai seorang master dan menjadi gadis lugu nan polos yang sekilas mudah sekali ditindas. Seiring waktu berjalan, identitasnya terkuak sedikit demi sedikit membuatnya menjadi incaran sang pemimpin markas dan adiknya. Akan tetapi, Zena memilih pergi keluar untuk menjalankan misi-misi memberantas para mafia yang kembali berulah.

Tanpa berpikir bahwa kepergiannya itu justru akan ia sesali untuk seumur hidup.

FB: Aisy Hilyah
Ig: aisyhilyah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Petunjuk

Jeritan yang mengusik telinga memancing rasa penasaran Zena. Langkahnya terjeda, indera pendengaran dipertajam, matanya memindai pada selasar panjang yang sepi.

"To-long! Hen-ti-kan! Sa-kit!" Suara itu semakin nyata terdengar. Membangunkan sisi kemanusiaan Zena yang ia tahan. Dahi sempitnya mengernyit hingga mempertemukan kedua ujung alis.

Ia masih mematung di tempat, entah kenapa lorong tersebut cepat sekali sepi. Padahal, baru saja semua siswa laki-laki dan perempuan berebut jalan pulang. Berdesakan saling mendahului, tapi dalam waktu beberapa detik menjadi sunyi, senyap tanpa suara.

"Jangan dengarkan! Terus maju jika kau ingin selamat!" Sebuah suara berbisik di telinganya. Zena tersentak hingga melompat jauh menghindari si pemilik suara.

"Kau? Apa maksudmu?" sungut Zena tak bisa menerima jika ia dikejutkan dengan kehadirannya yang tiba-tiba itu.

William, si remaja misterius berdiri di sana dengan wajah datar dan dinginnya. Tepat di samping Zena. Kedua pupil gadis itu membesar, jelas ia terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.

"Tutup telingamu jangan turuti rasa penasaran di hatimu, Zena. Pulanglah! Sekolah ini sudah tidak aman jika semua siswa telah pulang," ucap William lagi memperingati.

Zena membeku, remaja di depannya tahu sesuatu tentang sekolah ini. Ribuan tanya mencuat membutuhkan jawaban segera, tapi Zena harus tetap bersabar dan bermain cantik tentunya. Berpura-pura polos dan tak tahu apa-apa.

"Tapi dia seperti kesakitan. Kita tidak bisa membiarkannya. Aku akan pergi mencari tahu," sahut Zena lagi dengan kilatan tekad yang memancar lewat sorot matanya.

Wajah remaja laki-laki di depannya mengernyit. Kesedihan, penyesalan, juga kekecewaan jelas tercetak di wajahnya yang tirus.

"Aku sudah memberimu peringatan, jika kau tetap ingin pergi, pergilah! Aku hanya takut orang tuamu di rumah sedang menunggu kepulanganmu. Itu saja," katanya tak acuh. Ia berbalik seolah tak peduli, padahal Zena jelas melihat yang ia tak ingin gadis itu pergi.

"Aku akan tetap pergi!" tegas Zena seraya berbalik dan berjalan berlawanan menuju lorong sepi belakang gedung sekolah.

William menghentikan langkah, ia berdesis dengan desah napas lelah. Matanya terpejam sebelum ia berbalik mengejar Zena. Ditariknya tangan gadis itu dengan kasar.

"Argh! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" pekik Zena seraya mencoba melepaskan cekalan tangan William yang kuat. Pada hakikatnya, mudah saja bagi Zena melepasnya.

William terus menyeret Zena hingga ke lapangan parkir sekolah. Sederet mobil dan motor yang dikendarai para siswa telah raib. Hanya menyisakan beberapa saja, mungkin milik guru atau pengurus sekolah.

Zena menyentak tangannya kasar hingga terlepas. Napas yang memburu menandakan ia tengah emosi karena perbuatan remaja bernama William itu. Kedua pandang mereka saling mengunci tajam memberikan tekanan pada masing-masing rasa.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyeretku?" bentak Zena tidak terima. Semakin besar kedua matanya, melotot hampir melompat keluar.

"Aku menyelamatkanmu, kau tahu!" Telunjuk William menuding wajah Zena dengan bengis.

"Menyelamatkan? Menyelamatkan dari apa? Kau justru telah kehilangan kemanusiaan dengan membiarkan teriakan itu dan meninggalkannya. Kita tidak tahu apa yang terjadi di sana?" Zena tak kalah geram. Ia masih menahan diri untuk tidak menunjukkan siapa dirinya.

Terus berpura-pura menjadi gadis polos dan tidak tahu apa-apa.

Ayo, katakan! Katakan kau tahu sesuatu!

Hatinya bersorak gemas. William terpaku, tak menyahut untuk beberapa detik atas pernyataan Zena yang baru saja.

"Kenapa kau diam? Dia berteriak minta tolong, dan kita abai padanya. Di mana hati nuranimu? Di mana?" Zena menepuk-nepuk dada geram.

William tetap bungkam, berhadapan dengan mulut terkunci rapat. Sementara Zena, menahan emosi agar tak meluap. Suara teriakan itu membuatnya penasaran, bisa mati dia jika tak melihatnya, tapi sikap William aneh dan mencurigakan.

"Kau tidak tahu apa pun soal sekolah ini, Zena. Kau masih sehari bersekolah di sini. Pulanglah! Kedua orang tuamu menunggu," titahnya dengan helaan napas berat yang ia hembuskan.

Zena mengernyit tak senang. Ia tak berhasil membuat William membuka mulut perihal misteri di sekolah tersebut.

"Aku akan mengantarmu sampai gerbang," katanya lagi masih berdiri menunggu Zena yang justru mematung dengan raut wajah kesal.

Zena menghentakkan kaki meninggalkan lapangan parkir diawasi kedua mata biru milik William yang memandangnya dengan lekat. Ia menaiki sepeda motor dan perlahan mengikuti gadis itu dari belakang. Entah ada apa dengan remaja itu, sikap dan tingkahnya membuat Zena waspada.

Apakah aku ditandai?

Zena membelalak dengan kepala yang tertunduk. Ia awas, seorang penjaga gerbang yang ramah, tapi memiliki pandangan tajam menusuk. Senyum yang diukir menampakkan sederet giginya yang menguning. Menyeramkan jika dilihat sekilas. Bekas luka di wajahnya yang nampak sangat jelas, tak ia tutupi sama sekali. Menambah kesan menakutkan pada sosoknya.

"Nak Zena pulang sendiri?" sapanya ramah. Gadis itu mengangkat wajah, memperhatikan dengan saksama sosok jelek di depannya. Kedua mata kecokelatan milik penjaga gerbang itu memindai tubuh Zena dari atas hingga bawah dengan lidah yang tak henti menjilati bibirnya sendiri.

"Iya, Pak. Permisi!" Zena mengayun langkah menuju luar gerbang diikuti motor William di belakangnya. Remaja laki-laki itu membiarkan Zena berjalan sendiri menuju sekolah Cheo yang berjarak sepuluh meter dari sekolahnya.

"Siapa laki-laki itu?"

"Dia murid kelas tiga C."

"Awasi!"

"Baik!"

Dua pasang mata mengawasi mereka saat di parkiran. Menyelidik tentang siapa William. Seolah-olah tak rela Zena menjadi dekat dengannya.

Hah~

Zena menghela napas yang tak berkesudahan, sambil terus mengayuh langkah menuju gedung sekolah dasar tempat Cheo berada.

"William? Siapa dia sebenarnya? Aku akan menyelidikinya," gumam Zena. Ia menengadah ke langit meneguk ludah perlahan sebelum menurunkan kembali pandangannya.

Di tepi jalan gedung sekolah Cheo, anak itu sedang berdiri menunggunya. Melihat Zena di kejauhan, anak sepuluh tahun itu ikut melangkah mendekat. Zena merangkul bahu kecil Cheo mengajaknya terus melanjutkan langkah untuk pulang.

"Bagaimana sekolahmu?" tanya Zena menjatuhkan pandangan pada Cheo di sampingnya. Bocah itu cepat sekali tumbuh.

"Biasa saja, sama seperti yang diajarkan Kakak saat di pulau dulu," jawabnya enteng.

Zena mengusap rambut lembabnya, keduanya terus melangkah menyusuri jalanan besar sambil menunggu jemputan. Di kejauhan, Zena melihat sosok siswa perempuan yang berpakaian sama seperti dirinya. Ia berjalan bersama temannya sambil berbincang.

Tak lama sebuah mobil SUV berwarna hitam melintasi keduanya, berhenti sejenak sebelum lanjut berjalan memecah jalan.

"Tidak mungkin!"

Zena bergumam terkejut disaat mobil berlalu, dua gadis itu hilang di jalanan.

"Kakak! Ada apa?" Cheo menggoyangkan tangan Zena disaat gadis itu berhenti mendadak dan termangu di jalan.

"Kita harus menyelamatkan mereka, Cheo!" serunya, seraya melilau ke segala arah. Tak menemukan apa pun untuk mengejar, Zena berlari menarik tangan Cheo mencari tempat sedikit sepi, bersiul memanggil sang elang.

Burung pemangsa itu datang tanpa menunggu waktu lama, ia hinggap di tangan Zena dengan cepat dan mendengar perintah dari tuannya. Perintah yang diberikan Zena melalui tatapan mata mereka. Burung itu terbang kembali ke langit, menukik merobek langit sendirian, dia pandai menyembunyikan diri dari pemburunya.

"Kakak apa apa?" Cheo kembali bertanya saat Zena tak menjawab dan ia justru membuka seragamnya.

"Cheo, saat Ayahmu datang kau harus segera pulang!" katanya terus membuka semua atribut dari tubuhnya.

"Kau tidak akan ke mana pun!"

1
Fisee
cuuuuhhhhhhh mokondo cap tikus buntung 🤮🤮🤮🤮🦠🦠🦠🦠🦠
NONA JANDA
🥰
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
NONA JANDA
suka bgt sma zena dan cheo tapi
jujur thor si cendrik saya ilfi deh... kaya ngk pantas aja, buat zena karna sifat pertama nya ngk tulus, karna zena anak pendiri elang putih dan lebih kuat dari nya makanya dia naksir,, coba dia ngk tau asal usul zena ngk sifat egois, serakah, mana dia kaya terlalu nafsu sama zena yg benar2 polos, dan mana lebih kuat zena dan anak nya, ya menimal yg setara lah kekuatan nya jdii kalo boleh buat mati aja dia nanti nya ganti pemeran thorr🤣🤣
Aisy Hilyah: hahahayyy di sini zena emang mendominasi. tumbuh tanpa orang tua sejak kecil di tempat terpencil
total 1 replies
Yaayaaa🌸
baca ini kek lg nnton film petualangan ibu dan anak serta harimau mereka😍
Yaayaaa🌸
aku suka kekejaman gadis polos ini aakkhhhh🥳🥳🥳🥳
Yaayaaa🌸
hahaha kau bener cheoo🤣🤣
Yaayaaa🌸
dih cembukur🤣🤣🤭
Aisy Hilyah: iya dia tuh
total 1 replies
Amril N Utiah
polosnya
Wahyu Purwati
ada lanjutannya gak thor?
Aisy Hilyah: mmmmm nanti lah belum dipikirkan
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
kok ga dipenggal aja tuh kepalanya Hirata..
Dwi Setyaningrum
bagaimana Nasih arabela ya🤔
Dwi Setyaningrum
apa kabar dg laki2 yg katanya black shadow itu sdh mati juga ga nih🤔apa aku kelewat bacanya
Dwi Setyaningrum
Zena keren sperti ayra sama2 strong women😁
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
jesS Noisyanthie
seru bgt
jesS Noisyanthie
mending baca episode ini,seru
daripada episode sebelum y dgn kekalahan chendrik
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
jesS Noisyanthie
chendrik sibuk memperkuat cintanya sama Zena, hingga lupa memperkuat diri😣
Aisy Hilyah: bener banget
total 1 replies
jesS Noisyanthie
tegang bgt
jesS Noisyanthie
perbanyak cerita ky gini Thor,seru bgt berasa nonton bioskop
Aisy Hilyah: terimakasih sarannya
total 1 replies
jesS Noisyanthie
cheo aku padamu 😍
Aisy Hilyah: aku jugaaaaa
total 1 replies
jesS Noisyanthie
astaga chendrik 🤣🤣🤣🤣🤣
Aisy Hilyah: Alhamdulillah apapun itu saya terima dengan senang hati.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!