Menceritakan kisah Maya yang menikah dengan Albiru karena perjodohan, selama ini Maya sudah berjuang untuk cintanya, kala cinta itu sudah bersemi kerikil kerikil kecil kerap kali menghampiri, berbeda dengan Maya yang selalu mencoba menjadi dewasa dalam setiap menyikapi masalah tapi berbeda dengan Albiru yang memilih untuk menikah lagi demi mendapatkan selingan di luar rumah. Akankah Maya menyerah diakhir cerita karena mendapati suaminya telah membagi cinta yang seharusnya utuh hanya untuk dirinya?
Aku mencintaimu dengan penuh kesabaran, tapi kamu membalas cintaku dengan luka, Mas! [Maya]
Maafkan aku karena telah mencintai kamu dan dia, sekarang kalian sudah berada di hatiku. Aku hanya meminta kalian untuk mengerti! [Albiru]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hafizah Mengancam!
Seorang wanita yang terlihat biasa saja, dia adalah Hafizah yang mendatangi kantor Biru.
Wanita itu tidak menyangka kalau Albiru adalah pemilik perusahaan ternama, di mana produk miliknya itu sudah tersebar luas dan sangat terkenal.
Hafizah menganggukkan kepala, memperhatikan seisi ruangan milik Biru, Hafizah merasa kagum, karena ruangan itu memiliki kamar dan ranjang yang besar.
"Apa dia juga membawa wanita kemari?" tanyanya pada diri sendiri.
Dengan sabar Hafizah menunggu Albiru, tidak lama kemudian terdengar suara berisik di depan ruangan Biru.
"Ya, Ran mengatakan kalau ada seorang wanita yang sudah menunggu di dalam, Biru memarahi Ran karena telah mengizinkannya masuk.
" Maaf, Tuan, wanita itu membawa dompet anda," jawab Ran yang menundukkan kepala, pria muda itu berdiri di depan ruangan Biru.
"Sial!" gerutu Biru meninggalkan Ran dan membuka pintu ruangannya.
Hafizah memberikan senyum saat melihat Biru menatapnya datar.
"Ada perlu apa kamu?"
"Aku berniat baik, aku mengembalikan ini, mau ku antar ke rumah aku takut sama Mbak Maya," jawab Hafizah.
Lalu Biru mengambil dompet itu yang berada di tangan Hafizah, Biru melihat uangnya seperti masih utuh, kemudian Biru memberikan semua uang itu untuk Hafizah.
"Ambil ini dan pergilah, hubungan kita sudah selesai!" ucap Biru seraya memberikan uang.
Hafizah menerimanya dan berkata, "Apakah anda benar-benar membeli saya dengan uang? Setelah malam-malam yang kita lalui bersama? Sekarang berakhir seperti ini saja? Bukankah kita menikmati malam-malam itu bersama?"
Biru tak percaya dengan apa yang wanita itu katakan, Biru merasa telah salah menilai ular yang berada di depannya, Biru menganggap remeh wanita itu.
"Dari awal kamu sendiri yang menawarkan dirimu itu padaku! Memangnya apa lagi yang kamu harapkan!" ucap Biru seraya mencengkeram mulut Hafizah.
"Turunkan tanganmu yang selalu melindungiku!" ucap Hafizah seraya menurunkan tangan Biru dari wajahnya.
Sebisa mungkin Hafizah menyembunyikan rasa takutnya itu, tidak ingin mengalah, agar tidak terlihat remeh di mata Biru.
"Yang aku inginkan kita tetap bersama, aku tidak apa-apa menjadi yang kedua, aku akan menunggu seperti apa yang kamu katakan waktu itu, kamu bilang aku hanya harus menerima, aku akan menerima itu!"
Plak!
Biru menampar Hafizah, sudah sangat kesal dengan wanita itu yang terus menyerocos di depan wajahnya.
Hafizah yang terkejut itu merasa sakit, bukan hanya di pipinya tetapi sampai ke hatinya, dadanya terasa sakit, seolah nafasnya akan terhenti karena sangat terkejut.
Biru yang selalu lembut di ranjang itu ternyata juga memukulnya.
"Pergi dan jangan pernah temui aku lagi, aku menceraikanmu!" kata Biru penuh penekanan.
Sedangkan Hafizah, wanita itu menghapus air matanya, kembali menatap Biru dengan menghamburkan uang yang masih berada di tangannya, Hafizah tertawa membuat Biru menjadi heran.
"Tidak semudah itu, Mas. Aku akan memboikot semua produk milik kamu dan kamu akan jatuh miskin, tentunya jabatan kamu juga akan diambil alih karena seorang pria yang tak pandai memimpin rumah tangganya tidak pantas untuk memimpin perusahaan!" ancam Hafizah seraya mengambil ponselnya yang sedari tadi sudah merekam semua pembicaraan itu.
Biru memperhatikan Hafizah yang berjalan ke arah mejanya dan ternyata Hafizah mengambil ponsel miliknya.
"Aku masih menunggu kedatanganmu di malam-malam ku, Mas!" kata Hafizah sebelum benar-benar pergi dari ruangan Biru.
Sedangkan Biru, pria itu mematung karena baru saja mendapatkan ancaman murahan.
"Memangnya siapa dia, bisa mengancam ku seperti itu!" gerutu Biru, pria itu duduk di sofa panjang, memijit pangkal hidungnya.
****
Hafizah keluar dari kantor Biru dengan perasaan hancur, merasa tidak yakin dapat mengancam Biru dengan cara seperti itu.
"Memangnya aku siap menjatuhkan harga diriku sendiri dengan tersebarnya vidio itu?" ucapnya, Hafizah merasa ragu kalau rencananya akan berhasil.
"Kalau aku hancur, setidaknya aku tidak hancur sendirian bukan!" kembali Hafizah berbicara sendiri, wanita itu memilih kembali ke hotel.
Melempar tas nya ke ranjang, masih terasa sakit tamparan pemberian dari Biru.
"Aaaaaah! Kenapa harus ketahuan secepat ini!" geramnya pada diri sendiri.
Sementara itu, Maya sedang mengurus Ifraz, terlihat raut murung dari wajahnya membuat Gala ingin bertanya.
"Mbak, kenapa? Di mana Mas Biru? Kenapa tidak datang bersama?" tanya Gala seraya duduk di ranjang Maya.
Maya pun menoleh, memberi senyum pada Gala.
"Mungkin dia lagi sibuk, nanti juga datang," jawab Maya yang kemudian menggantikan popok Ifraz
"Mbak, jangan bohong, apa mbak tidak menganggap Gala sebagai saudara?" tanya Gala seraya menahan tangan Maya yang ingin keluar dari kamar untuk membuang popok.
Maya tidak menjawab tetapi berusaha melepaskan tangan Gala dari tangannya, tanpa terasa air mata menetes begitu saja. Maya tidak berhasil menyembunyikan kesedihannya di depan Gala.
Maya terduduk, menyembunyikan wajahnya diantara lututnya.
Gala pun menjadi tidak enak hati, karena telah memaksa Maya.
"Mbak, ayo bangun," kata Gala seraya membantu Maya untuk berdiri, Gala membawa Maya untuk duduk di ranjangnya.
Maya menjatuhkan kepalanya di dada Gala, ingin menceritakan tetapi lidahnya kelu, hanya sesenggukan dari Maya yang di dengar Gala.
Gala semakin yakin kalau Biru telah menyakiti hati kakaknya lagi.
"Bi-biru...," jawab Maya dengan terbata, suaranya terdengar berat karena Maya terus menangis.
"Kenapa, Mbak? Katakan!"
Maya menjawab dengan tangis yang ditahannya, Maya tidak ingin Lisna mendengar tangisnya itu.
"Dia selingkuh!" jawab Maya yang kemudian kembali menangis di pelukan Gala.
"Sialan! Dari awal Gala sudah tidak setuju dengan pernikahan kalian!" ucapnya, pria muda itu menahan amarahnya, lalu Gala pamit pada Maya.
"Mau kemana?" tanya Maya seraya menahan lengan Gala.
"Kuliah!" jawab Gala berbohong.
Pria itu keluar dari rumah mengendarai motor sportnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor Biru.
Sesampainya di sana, Gala tidak basa basi lagi, pria itu langsung menuju ke ruangan CEO tetapi Gala tidak menemukan yang dicari.
Lalu Gala keluar dari ruangan Biru, terlihat Biru baru saja keluar dari ruang meeting. Gala berjalan cepat dan menarik kerah kemeja Biru.
BLUG!
Gala meninju wajah Biru dan Biru tidak melawan, pria itu merasa pantas untuk menerima perlakuan seperti itu dari adik iparnya.
Sementara itu, Ran dan beberapa orang yang sedang bersama Biru berusaha memisahkan Gala.
"Lepaskan!" teriak Gala seraya mengibaskan tangan mereka dari lengannya. Kembali Gala meninju Biru, kali ini Gala meninju perutnya, tidak cukup sekali dan kembali Gala meninju wajah Biru.
Gala menghentikan itu saat melihat wajah Biru sudah penuh lebam.
"Kenapa? Kenapa berhenti? Aku pantas mendapatkan itu!" ucap Biru, lelaki itu merasa sedikit pusing namun tetap berusaha untuk berdiri.
"Ayo, ayo pukul aku!" perintah Biru seraya menuntun tangan Gala ke wajahnya, tidak lama kemudian pandangan Biru menjadi gelap, Biru pun jatuh di depan Gala.
Bersambung...
Jangan lupa untuk klik like ya teman-tenan. Dukungan dari kalian berarti buatku. Terimakasih yang sudah membaca^^