NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Satu Lawan Lima Puluh

Mobil melaju kencang membelah jalanan pinggiran kota yang mulai sepi dan berdebu. Di kejauhan, bangunan pabrik tua milik Adhitama Corp sudah mulai kelihatan, asap tipis mengepul pelan dari cerobongnya, tapi suasana di sekelilingnya terasa berbeda banget. Bukan suasana kerja yang biasa, melainkan suasana tegang, mencekam, seolah ada badai besar yang lagi nunggu buat meledak kapan aja.

Di dalam mobil, Viona duduk dengan tangan saling menggenggam erat, wajahnya pucat, matanya menatap lurus ke depan penuh kekhawatiran. Dia tau betapa pentingnya pabrik ini, bukan cuma soal uang atau aset, tapi ratusan nyawa karyawan yang menggantungkan hidupnya di sini. Kalau sampai pabrik ini jatuh ke tangan orang jahat, atau sampai ada kerusuhan, kerugiannya nggak bakal terhitung lagi.

Di sebelahnya, Faris malah duduk santai banget, nyender enak di jok empuk, sebelah kakinya dia ganjel ke kaki satunya. Tangan kirinya sibuk ngotak-atik bungkus rokok Gajah Baru yang udah dia pegang dari tadi. Sekali gerakan jempol cekrek! bungkusnya kebuka rapi, dia ambil sebatang, selipin di bibir, nyalain korek cesss, terus dihisap dalem-dalem berkali-kali pluk... pluk... pluk.... Asap putih keluar panjang dari mulut sama hidungnya, dia merem sebentar nikmatin rasa tembakunya, mukanya tenang banget, seolah yang bakal dia hadepin nanti cuma sekumpulan anak kecil yang lagi main-main, bukan gerombolan orang berbadan besar bawa senjata tajam.

"Udah tenang aja Bu, mukanya jangan pucat gitu, nanti malah kelihatan kayak orang sakit, ntar mereka dikira kita takut terus makin semena-mena. Ini baru permulaan doang kok, belum ada apa-apanya, santai aja ya," kata Faris santai sambil meniup asap ke arah jendela yang sedikit terbuka.

"Kamu gampang banget ngomongnya Faris! Kamu tau nggak bahayanya seberapa besar? Mereka bawa parang, celurit, besi beton... kalau sampai ada yang nekat nyerang, kita bisa luka parah atau bahkan tewas di situ juga!" jawab Viona dengan suara bergetar, matanya menatap tajam ke arah Faris, campur marah sama takut.

Faris malah senyum sengklek, dia nengok sebentar natap Viona, terus tepuk-tepuk pelan paha bosnya itu.

"Waduh Bu, nyawa kan udah ada yang atur, kita cuma numpang hidup doang di dunia ini. Mau kita sembunyi di benteng sekuat apa pun, kalau udah waktunya pergi ya bakal pergi juga. Tapi kalau belum waktunya, biar ditembak meriam pun kita bakal selamat. Lagian Bu, yang mereka bawa itu cuma besi sama besi tajam doang kan? Itu benda mati, nggak bisa jalan sendiri, nggak bisa nyerang sendiri. Yang bahaya itu orangnya, bukan senjatanya. Kalau orangnya udah ciut nyalinya, sepeda yang dibawa pun jadi senjata berat buat dia. Percaya aja sama saya, nanti saya kasih pelajaran dikit biar mereka tau mana yang bisa dan nggak bisa dipermainkan," jawab Faris enteng banget, nadanya penuh percaya diri bikin Viona bingung antara harus percaya atau makin pusing.

Tak lama kemudian, mobil mereka sampai di depan gerbang pabrik yang besar dan tinggi. Tapi pemandangan yang ada di depan sana bikin jantung Viona rasanya mau copot. Gerbang utama tertutup rapat, di depannya berdiri berkerumun banyak orang, kira-kira lima puluh orang lebih, semuanya berbadan besar, berotot, bawa pakaian acak-acakan, dan jelas kelihatan bawa senjata tajam di tangan atau diselipin di pinggang. Ada yang megang parang panjang mengkilap, ada yang megang celurit melengkung, ada yang bawa batang besi tebal, bahkan ada yang bawa kayu balok sebesar lengan orang dewasa.

Suasana di sana hening banget, sunyi senyap, cuma suara napas berat mereka yang kedengeran pelan. Mereka natap tajam ke arah mobil Viona, tatapannya dingin dan mengancam, kayak sekumpulan serigala yang lagi nunggu mangsanya. Di balik gerbang kelihatan beberapa karyawan pabrik ngintip dengan wajah ketakutan, berani-beraniin diri ngeliat apa yang terjadi di depan sana. Sopir langsung mengerem mobil agak jauh dikit, takut kalau maju terus malah diserang duluan.

"Mundur dikit Pak, jangan terlalu deket, nanti kaca mobil rusak nggak ada yang ganti," kata Faris santai ke sopir, terus dia buka pintu mobil mau turun.

"Faris! Mau ke mana kamu?! Jangan turun! Bahaya banget itu!" seru Viona cepet, tangannya nyenggol lengan Faris nahan dia.

Faris berhenti sebentar, nengok natap Viona sambil senyum lebar, rokoknya masih nempel manis di bibir. Dia ngangkat sebelah tangan, ngelus pelan kepala Viona kayak lagi ngelus anak kecil.

"Ibu diem aja di dalem sini, kunci pintunya dari dalem, jangan keluar sebelum saya panggil. Ini urusan sepele, beresin cepet terus kita pulang cari makan enak, saya udah laper banget nih dari tadi," kata Faris santai banget, terus dia turun dari mobil, nutup pintu pelan-pelan, lalu jalan santai banget mendekati gerbang dan gerombolan orang-orang galak itu.

Jantung Viona berdegup kencang banget, dia pegang dadanya kuat-kuat, matanya nggak lepas ngeliat punggung Faris yang jalan sendirian itu. Rasanya dia mau teriak, mau nyuruh dia balik, tapi mulutnya rasanya kaku, takut, dan penasaran juga sama apa yang bakal dilakuin orang aneh ini.

Faris jalan santai banget, tangannya dimasukkan ke saku celana sebelah, tangan satunya megang rokok yang lagi dihisapnya. Gayanya bener-bener santai, langkahnya biasa aja, nggak cepet, nggak lambat, nggak ada rasa takut, nggak ada rasa ancaman, persis kayak orang yang lagi jalan sore-sore cari angin segar.

Pas dia makin deket, salah satu orang yang kelihatan jadi pemimpin mereka, berbadan paling besar, botak kepala, berwajah sangar, megang parang panjang, langsung maju selangkah. Dia nggak teriak, nggak bersuara, cuma natap tajam banget ke arah Faris, matanya menyala penuh amarah dan ancaman. Semua anak buahnya langsung serentak maju selangkah juga, mengacungkan senjata mereka diam-diam, suasananya makin mencekam banget, bikin bulu kuduk siapa aja yang ngeliat pasti merinding ketakutan.

Tapi Faris nggak berhenti, dia tetep jalan maju sampe berhenti cuma beberapa langkah aja di depan si pemimpin botak itu. Dia ngebatin rokoknya dalem-dalem, terus tiupkan asapnya tepat ke arah muka si orang besar itu, terus natap dia dengan pandangan santai, senyum-senyum dikit.

"Wih... kelihatannya galak banget ya, sunyi senyap gini malah bikin merinding. Emang niatnya mau ngapain nih bawa-bawa senjata segala kayak mau pindahan barang curian?" kata Faris santai banget, nadanya malah agak mengejek, bikin si orang botak itu makin merah mukanya nahan marah.

Si pemimpin botak itu cuma mendengus pelan, parangnya dia angkat tinggi perlahan, ujungnya mengkilap kena sinar matahari sore. Dia natap Faris dari ujung kepala sampe ujung kaki dengan pandangan jijik dan meremehkan.

Faris nengok sebentar, natap satu-satu ke arah lima puluh orang lebih yang mengelilingi dia itu, semuanya diem, semuanya siap nyerang, semuanya natap dia kayak mangsa empuk. Dia buang sisa rokoknya ke tanah, diinjak pelan sampe mati cess, terus dia berdiri tegak, tangannya dia masukin ke saku celana lagi. Wajahnya yang tadi senyum-senyum berubah jadi datar, dingin, matanya menatap tajam banget, tapi tetep ada senyum sengklek samar di ujung bibirnya.

"Begini ya Pak, saya cuma mau kasih tau dikit aja. Tempat ini, orang-orang di dalem sini, sama hak milik perusahaan ini, semuanya lagi saya jagain. Jadi kalau ada siapa aja, mau sendirian mau bergerombol segede apa pun, yang berani ganggu, berani nyakitin, atau berani ngambil paksa apa yang bukan haknya... ya maaf ya Pak, saya bakal jadi penghalang pertama yang harus Bapak lewatin dulu," kata Faris pelan tapi tegas banget, suaranya rendah tapi kedengeran jelas sama semua orang di situ.

Suasana makin hening seketika. Mereka semua natap Faris dengan pandangan nggak percaya. Baju biasa, badan nggak terlalu gede, muka biasa aja, tapi tatapannya... tatapan itu tajam banget, bikin siapa aja yang natap rasanya kayak ditusuk jarum.

Si pemimpin botak itu mengangguk pelan ke arah anak buahnya, kode diam buat mulai serangan. Tanpa ada aba-aba, tanpa ada suara, dua orang di sebelah kanan langsung maju cepet.

Satu megang kayu balok diayun keras ke arah kepala Faris... swushh!

Satu lagi bawa celurit tusuk cepat ke perut... swing!

Gerakan mereka cepat, terlatih, dan diam banget, nggak ada bunyi sama sekali.

Viona di dalam mobil sampe nahan napas kencang banget, matanya melotot nggak kedip nggak kuat ngeliat pemandangan mengerikan itu. Tapi apa yang terjadi selanjutnya bikin dia melongo nggak percaya.

Faris cuma mundur selangkah pelan banget, kayu balok itu lewat cuma sehelai rambut aja dari kepalanya, samar terasa anginnya. Belum sempet si penusuk narik lagi senjatanya, tangan kanan Faris udah bergerak cepet banget kayak kilat, nangkep pergelangan tangan orang itu dengan genggaman yang kenceng banget... tuk!

Sampe kedengeran bunyi sendi bergeser pelan. Orang itu langsung menegang, matanya melotot lebar nahan sakit tapi nggak ada suara yang keluar, celuritnya jatoh ke tanah... klang... halus banget.

Belum kelar situ, dua orang lagi dari kiri udah nyerang barengan.

Satu bawa parang disabet rendah ke kaki... swushh!

Satu lagi bawa besi ayun ke punggung... wusss!

Faris nunduk dikit, parang itu lewat di bawah kakinya, terus kakinya dia angkat pelan... plak!

Nendang persis ke dada si pengayun besi, orang itu terlempar mundur nabrak temannya sendiri sampe jatuh bergelimpangan tanpa suara, cuma bunyi tubuh nabrak tanah doang... bruk!

"Pelan-pelan dong Pak, ini belum ada apa-apanya kok, udah kewalahan," celetuk Faris santai banget sambil senyum lagi, tangannya masih nahan tangan si pemimpin yang udah maju nyerang diam-diam dari depan, parangnya ditangkis pelan pake telapak tangan... tak! halus banget.

Si pemimpin botak itu mukanya merah padam, dia narik-narik tangannya tapi nggak bisa bergerak sama sekali. Dia ngangguk lagi kode keras, sisa anak buahnya yang puluhan orang itu langsung maju serentak, semuanya nyerang barengan, senjata mereka berkilauan kena matahari, gerakan mereka cepat, lincah, tapi hening banget, nggak ada teriak, nggak ada bunyi teromol.

Kedengeran cuma suara gesekan baju... sreeek... sreeek...

Sama bunyi besi beradu pelan aja... ting... teng...

Di mata orang biasa, pemandangan itu udah kayak kiamat, nggak ada harapan sama sekali buat selamat. Tapi di mata Faris, semuanya berjalan lambat banget, gerakan mereka kaku, terburu-buru, asal serang, nggak ada teknik, nggak ada arah yang jelas.

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!