Ariana termenung di hadapan Lily. matanya masih berkaca-kaca namun kosong. memandang arah yang pudar di depannya. hatinya masih berkecamuk. ucapan-ucapan dokter soal kondisi ibunya terus terngiang yang dipikirannya. dia belum siap kehilangan satu-satunya wanita yang dia punya sekarang.
" Aku ada satu jalan keluar buat kamu. Tapi Aku nggak tahu kamu mau apa nggak sama pekerjaan ini." Ucap Lily setelah beberapa menit mereka berdiam duduk di dalam kafe.
" Apa pun itu. Akan aku lakukan. Saat ini aku udah nggak punya pilihan lain untuk memilih pekerjaan yang cocok atau tidak cocok untukku. Aku harus melakukan sesuatu untuk membayar biaya operasi ibu." Jawab Ariana dengan penuh keyakinan.
Ariana tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan pada sahabatnya itu. pekerjaannya sebagai waiters hanya cukup untuk biaya makan mereka sehari-hari.
" Jual diri." Kata Lily singkat.
Tak percaya sahabatnya akan menyuruhnya menjual dirinya untuk mendapatkan uang dengan cepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Megan Yang Licik
*****
Ariana duduk di sebelah brangkar sang ibu. Dia menggenggam tangan Melia yang terasa sangat lembut.
Tangan yang dulu selalu membelai rambut nya, menyuapi dia sebelum berangkat kerja. Kini hanya bisa tergeletak lemas tak berdaya.
" Buk, ini Ari buk. Ibuk bagimana keadaan nya? Ari kangen buk sama ibuk. Ari kangen ngobrol sama ibuk. Bangun buk... Banyak yang mau Ari adukan sama ibuk. Hari ini seseorang telah menyakiti hati Ari. Dia mengatakan perkataan yang sangat menyakitkan karena pekerjaan Ariana, buk. Andai saja ibuk sudah bangun, pasti Ariana akan bawa ibuk menemui nya. Dan ibuk harus memarahi nya dan membalas perkataan nya dengan yang lebih menyakitkan lagi buk." Gumam Ariana di sebelah Melia.
" Ibuk harus bangun buk. Masih banyak cerita yang ingin Ari sampai kan sama ibuk. Ibuk... Ari kangen ibuk." Ucap Ariana lagi.
" Selamat malam mbak Ariana." Sapa dokter masuk ke ruangan Melia.
" Selamat malam dokter." Jawab Ariana mengusap air mata nya yang jatuh.
" Yang sabar ya mbak Ariana. Perkembangan ibuk Melia sudah sangat baik, hanya saja memang sekarang kita tinggal menunggu beliau siuman. Walaupun beliau sudah melewati masa - masa kritis nya, tapi tidak ada yang bisa menjamin keadaan beliau seterusnya. Maaf jika saya terlalu berkata jujur mbak Ariana." Jelas dokter yang menangani Melia.
" Tidak apa - apa dokter. Justru saya sangat menunggu kabar yang sebenar nya tentang keadaan ibuk saya." Jawab Ariana.
" Perbanyak berdoa ya mbak Ariana. Semoga beliau cepat siuman." Kata dokter.
" Baik dokter." Jawab Ariana.
" Kalau begitu saya pamit dulu ya mbak Ariana. Jika masih ada yang ingin di tanyakan, langsung ke ruangan saya saja ya mbak." Pamit Dokter.
" Iya dokter. Terima kasih."
" Sama - sama mbak Ariana. Terima kasih. Selamat malam."
" Selamat malam dokter."
Dokter pun keluar dari ruang rawat Melia dan menutup pintu dengan rapat. Sedangkan Ariana kembali duduk di sebelah Melia.
Tak tahu lagi dia harus berbuat apa sekarang. Meskipun sudah di operasi, Melia masih belum sadarkan diri juga. Sedangkan biaya rumah sakit terus berjalan dan harus di bayar kan.
Dan mami Miya sudah menjamin untuk itu. Dia akan menjamin biaya rumah sakit Melia sampai Melia sembuh dari hasil kerja Ariana selama menjalankan kontrak dengan Gibran.
" Ibuk harus bangun ya buk. Ariana akan lakukan apa pun demi kesembuhan ibuk. Ariana cuma mau ibuk bangun dan kembali ke rumah." Ucap Ariana lirih.
*
*
*
*
*
Mobil Gibran memasuki halaman rumah nya setelah security membuka pagar rumah untuk nya.
Dia berjalan menaiki anak tangga menuju kamar nya. Suasana malam itu sudah sangat sunyi. Bahkan beberapa lampu di ruangan sudah temaram. Tanda jika penghuni rumah sudah masuk ke dalam kamar menyisakan para assisten rumah tangga menyelesaikan pekerjaan mereka yang belum selesai.
Dan saat masuk ke dalam kamar, Gibran kaget saat dia mendapati Megan duduk duduk di tepi ranjang nya.
" Megan? Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Gibran yang masih berdiri di ambang pintu.
" Aku di sini? Tentu untuk bertemu dengan mu, Gibran. Seharian aku tidak melihat kamu, aku kangen sayang." Jawab Megan.
" Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke dalam kamar ku?"Tanya Gibran lagi.
" Memang nya aku harus izin dulu gitu buat masuk ke kamar kamu? Bukan kah kamar ini nanti nya juga akan menjadi kamar pengantin kita?" Jawab Megan balik bertanya.
" Keluar sekarang, Megan. Aku mau istirahat." Ucap Gibran maju beberapa langkah dan membuat pintu kamar nya otomatis tertutup.
" Memang nya kalau aku tidak mau, kamu mau apa?" Tantang Megan.
" Aku akan tidur di kamar tamu saja." Jawab Gibran.
Megan bangkit dari duduk nya.
" Gibran, aku mohon jangan menghindari aku terus. Aku ini tunangan kamu, sayang. Aku juga butuh perhatian dari kamu. Kamu selalu saja mengabaikan aku. Bahkan seharian kamu tidak mengangkat telepon ku? Kamu tidak tahu kalau aku begitu merindukan kamu. Aku bisa saja mengadukan pada Tante Yusnita kalau kamu mengabaikan aku."
" Kenapa selalu membawa nama mama agar aku mau mengikuti semua keinginan konyol kamu itu?" Tanya Gibran.
" Karena hanya itu yang bisa membuat kamu memperhatikan aku, sayang." Jawab Megan tersenyum.
Gibran menggelengkan kepala nya. Dia tidak habis pikir dengan yang di lakukan Megan sekarang.
Sebenar nya bisa saja dia memaksa Megan keluar dari kamar nya sekarang. Tapi itu akan memancing keributan di rumah dan membuat Yusnita bangun dan pasti akan lebih membela Megan jika Megan mengadukan hal - hal lain pada Yusnita. Karena memang Yusnita akan lebih mempercayai perkataan Megan dari pada Gibran.
Megan kemudian berjalan mendekati Gibran.
" Apa sesibuk itu kamu di kantor sampai tidak punya waktu untuk ku?" Tanya Megan.
" Aku memang sangat sibuk di kantor." Jawab Gibran.
" Apa aku tidak penting bagi mu?" Tanya nya lagi.
" Harus nya kamu sudah sadar itu dari dulu. Kenapa malah bertanya lagi." Cibir Gibran.
" Gibran kamu ini kenapa sih? Kamu bilang kamu sibuk di kantor sampai tidak punya waktu untuk ku. Tapi kalau aku mengunjungi mu di kantor, sekretaris mu bilang kamu sedang keluar. Dan pasti kamu keluar mencari kesenangan dengan wanita - wanita bayaran di luar sana kan?"
" Bukan urusan mu juga kan?" Jawab Gibran dingin.
" Tentu urusan ku karena aku ini tunangan kamu, Gibran."
" Sejak awal kamu sudah tahu jika aku tidak menginginkan pertunangan ini. Tapi kamu tetap kekeh ingin bertunangan dengan ku."
" Kenapa aku? Mama kamu kan yang memaksa kita bertunangan?" Tanya Megan balik.
" Karena kamu yang memaksa nya. Kamu yang memaksa keluarga kamu agar kamu bisa bertunangan dengan ku. Jangan pikir aku tidak tahu otak licik kamu itu ya, Megan. Dan aku hanya mengikuti keinginan mama ku saja. Aku tidak akan bisa mencintai kamu."
" Kalau begitu ayo kita menikah. Bukan kah saat ini mama kamu menginginkan kita untuk menikah?"
" Pernikahan itu bukan permainan, Megan. Kamu bisa sesuka hati kamu menikah kapan saja."
" Lalu kapan kita akan menikah?"
" Kapan aku merasa siap."
" Kamu tidak akan pernah siap, Gibran."
" Selama kamu yang jadi calon istriku, aku tidak akan pernah siap. Jika kamu tetap ingin menjadi istri ku, bersabar lah lagi. Tapi jika kamu ingin menikah dengan cepat, cari lah laki - laki yang bisa kamu nikahi dengan cepat." Ucap Gibran lalu menggeser berdiri nya.
Megan mendesah lalu mengikuti langkah Gibran.
" Kalau kita menikah, kamu tidak perlu lagi membayar wanita bayaran di luar sana untuk memuaskan kamu. Kita bisa melakukan nya sepuas kamu. Bahkan jika kamu menginginkan nya sekarang, kita bisa melakukan nya, Gibran. Aku akan melakukan apa yang bisa membuat kamu puas. Bahkan aku jauh lebih mahir dari wanita bayaran kamu itu. Bahkan setelah bersama ku, kamu akan merasa ketagihan dan tak ingin lepas lagi, Gibran." Megan mengalungkan kedua tangan nya di leher Gibran.
" Kita tidak akan melakukan nya." Tolak Gibran ketus.
" Kenapa tidak mau?" Tanya Megan.
" Karena aku tidak mau tidur dengan kamu. Kamu bisa cari laki - laki lain jika kamu menginginkan tidur dengan pria." Ucap Gibran menjauhkan tangan Megan dari leher nya.
" Kamu benar - benar kelewatan, Gibran. Lihat saja, aku akan mengadukan hal ini dengan mama kamu."
Setelah mengatakan itu Megan keluar dari kamar Gibran dengan membanting pintu kamar nya.
" Dasar perempuan gila. Bisa - bisa nya dia memaksa ku meniduri nya." Gumam Gibran .
Gibran membanting tubuh nya di atas kasur empuk di kamar nya. Pikiran nya kembali pada sikap Ariana terakhir mereka bertemu semalam. Seharian Gibran tidak bisa berfikir dengan jernih.
Dia sampai berpikir apa kah perkataan nya tadi benar - benar telah menyakiti hati Ariana sampai Ariana bersikap acuh pada nya.
Seharus nya tadi Gibran bisa menahan diri agar tidak mengucapkan perkataan yang bisa saja menyakiti hati Ariana kemaren..
*
*
*
*
*
Gibran keluar dari kamar mandi setelah dia membersihkan diri nya. Tiba - tiba pintu kamar nya di gedor dengan keras oleh Yusnita sambil meneriakkan nama nya.
" Gibran... Gibran buka pintu nya , Nak." Panggil Yusnita.
" Ada apa lagi ini?" Gumam Gibran mendekati pintu kamar nya.
" Gibran... Bangun Gibran. Buka pintu nya." Panggil Yusnita lagi.
CEKLEK
" Ada apa, ma?" Tanya Gibran.
" Ada apa, ada apa? Mama harus nya yang tanya. Ada apa dengan kamu ini sebenar nya?" Tanya Yusnita balik.
" Tadi Megan ke sini kan? Tapi kenapa kamu malah menyuruh nya pulang selarut ini? Kamu itu kenapa tega sekali sih, Gibran."
" Aku hanya menyuruh nya keluar dari kamar ku, tidak menyuruh nya pulang." Elak Gibran.
" Itu sama saja. Sekarang Megan sudah sampai di rumah nya. Tapi dia demam mungkin karena pulang terlalu malam. Harus nya kamu itu lebih perhatian dengan Megan."
" Megan itu bukan anak kecil lagi, ma. Dia sudah dewasa. Dia bisa menjaga diri nya. Tidak perlu orang lain untuk memperhatikan nya terutama soal kesehatan nya."
" Tapi kamu ini kan tunangan nya. Harus nya tadi kamu antar dia pulang. Pastikan dia baik - baik saja sampai di rumah nya."
Gibran merasa frustasi jika berbicara dengan mama nya. Dia mengusap wajah nya kasar.
" Kita bertunangan bukan berarti aku harus memperhatikan hidup dia kan ma. Kami punya kehidupan kami masing - masing. Dan aku juga tidak pernah meminta Megan untuk ikut campur dengan kehidupan ku. Begitu juga dengan kesehatan ku. Jadi biar kan saja dia merawat diri nya sendiri ma. Mama tidak perlu panik seperti itu."
Yusnita menggeleng mendengar jawaban putra nya itu.
" Mama nggak mau tahu, sekarang kamu harus ke rumah Megan. Kamu jemput dia dan bawa dia ke rumah sakit. Mama nggak mau kalau sampai Megan sakit." Perintah mama menarik tubuh Gibran keluar dari kamar.
" Aku nggak mau, ma." Tolak Gibran.
" Kenapa tidak mau?" Tanya Yusnita heran.
" Karena aku capek. Hari ini banyak kerjaan di kantor. Dan besok pagi - lagi sekali aku harus kantor. Ada meeting dengan klien penting." Jawab Gibran dengan tenang. Dan dia kembali masuk ke dalam kamar nya.
" Gibran Gibran Gibran." Yusnita ikut menyusul masuk ke dalam kamar Gibran.
" Mama tidak mau dengar penolakan kamu. Pokok nya kamu harus pergi sekarang. Bawa Megan ke rumah sakit dan pastikan dia mendapatkan pengobatan yang terbaik." Paksa Yusnita.
" Jangan kamu pikirkan soal meeting kamu itu. Kalau perlu batalkan saja. Karena yang terpenting sekarang adalah kesehatan Megan." Ucap Yusnita lagi.
" Mama tahu apa yang mama lakukan sekarang ini ma? Mama sudah terlalu memaksa kan keinginan mama pada ku. Aku ini sebenar nya anak mama nggak sih?"
" Justru karena kamu itu anak mama, mama harus menyiapkan semua yang terbaik untuk kamu. Termasuk dengan calon istri kamu nanti nya."
" Tapi tidak dengan memaksa aku menikah dengan wanita yang tidak aku cintai, ma."
" Kamu hanya kurang memberi kesempatan untuk Megan mendampingi kamu. Kamu beri dia kesempatan itu agar kamu bisa sadar kalau Megan itu adalah calon istri yang baik untuk kamu. Dengan itu cinta akan tumbuh di hati kalian. Tanpa harus mama paksa."
" Mama salah. Karena sampai kapan pun, aku tidak akan bisa mencintai Megan ma."
Gibran berlalu dari hadapan Yusnita. Dia menyambar kunci mobil di atas meja dan keluar dari kamar nya.
Tak ada guna nya juga berdebat dengan sang mama terlalu panjang. Karena ujung - ujung nya Gibran juga tidak akan bisa menang. Semua yang Gibran ucapkan hanya di anggap Yusnita sebagai pola pikir anak kecil karena Gibran masih labil.
Gibran keluar dari rumah dan menyalakan mobil agar bisa secepat nya sampai ke rumah Megan sebelum Megan memainkan drama - drama menyedihkan berikut nya yang akan semakin menjerumuskan Gibran ke dalam lobang pemaksaan dari sang mama
*
*
*
*
*
" Terima kasih Gibran. Kamu mau mengantar aku ke rumah sakit." Ucap Megan saat mereka sudah di dalam mobil menuju rumah sakit.
" Harus nya kamu tidak perlu memainkan drama pura - pura sakit mu ini hanya untuk mendapatkan perhatian dari ku." Kata Gibran dengan tegas.
" Jika perlu, aku akan selalu menggunakan nya. Bukti nya sekarang kamu di sini kan. Menemani ku. Itu baru nama nya tunangan ku." Jawab Megan.
Gibran hanya diam fokus menatap jalanan lurus di depan nya.
" Aku beneran sakit, Gibran. Tadi nya aku mau mengajak kamu dinner keluar. Tapi kamu malah pulang telah. Seperti nya maag aku kumat karena aku telat makan."
" Kamu itu sudah besar, Megan. Kamu tidak perlu aku untuk menjaga kesehatan mu."
Megan tersenyum menoleh pada Gibran.
" Tapi aku akan lebih cepat sembuh jika aku terus bersama mu. Seharus nya tadi lebih awal menghubungi Tante Yusnita, agar kita bisa segera sampai di rumah sakit. Aku ingin kamu menemani aku nanti nya selama di rumah sakit."
" Jangan mimpi kamu, Megan. Kalau bukan karena mama, aku tidak akan sudi mengantar mu ke rumah sakit."
" Whatever. Yang penting kamu di sini. Dan kedepan nya nanti, demi mama kamu juga kamu akan menikah dengan ku, Bima." Ucap Megan percaya diri.
" Tidak untuk itu. Simpan ucapan kamu ini dalam ingatan mu. Kita buktikan nanti jika waktu nya tiba." Tantang Gibran.
" Oke, kita lihat saja nanti. Ucapan kamu atau ucapan aku yang akan menjadi kenyataan." Balas Megan tersenyum sinis.