Zuri Keilana Wesley adalah putri sulung dari keluarga Wesley.
Gadis naif yang selalu berharap ada yang mencintainya dan menerimanya.
Tepat beberapa hari setelah kekasihnya yang telah ia taksir selama 20 tahun melamarnya, pria itu justru melakukan perbuatan tercela yang tak bisa Zuri maafkan meski ia berlutut memohon ampun.
Ethan Aviel Leon, tunangan Zuri kedapatan telah berselingkuh dengan adik kandung Zuri yaitu Leona Agatha Wesley.
Marah dan sakit hati membawa Zuri pada situasi yang pelik serta rumit.
Dan disaat itulah ia memikirkan balas dendam pada kedua pengkhianat itu dengan membuat perjanjian nikah bersama pria yang paling ia benci yaitu Davian Maverick Junior yang juga sedang diincar oleh Leona adiknya.
Davian dan Zuri sama-sama memiliki kepentingan dalam pernikahan ini.
Akankah pernikahan kontrak itu berubah jadi pernikahan manis atau sebaliknya?
yuk simak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
makan malam keluarga Wesley
Aaaaa......
Jerit Zuri memenuhi seisi kamar.
Davian yang sedang berada didapur terperanjat dan berlari secepat kilat menuju asal suara.
Masih bert*lanj*ng dada, dan sebuah spatula di tangan kanan, Davian menerobos masuk kedalam kamar.
Matanya kembali disuguhkan dengan pemandangan menyejukkan mata.
Zuri makin teriak ketika melihat Davian tepat dihadapannya dengan penampilan yang hmmmm... nggak bisa di ucapkan dengan kata-kata.
Perut berotot, dada bidang dan paha yang juga berotot karena Davian hanya memakai boxer sebatas paha. Dan jangan lupakan rambut yang berantakan khas bangun tidur.
"Kau.... Apa yang kau lakukan padaku tadi malam?Kau tidak melanggar perjanjian kita kan?Kau tidak menid*riku tadi malamkan?Jawab Davian!" cecar Zuri dengan wajah merah seperti kepiting rebus.
Davian mengerti duduk persoalannya.
Sebuah ide jahil terlintas diotaknya yang memang jahil.
Davian berjalan mendekati tepi ranjang di sisi Zuri berbaring.
Sedikit membungkuk, Davian berbisik tepat ditelinga Zuri.
Zuri yang merasakan sedikit bahaya spontan memundurkan wajahnya.
"Apa kau sudah melupakan apa yang kita lakukan semalam sayang? Kau jahat sekali. Padahal kita sama-sama menikmatinya" bisik Davian usil.
Aaakhh...
Zuri secara implusif mendorong bahu Davian hingga selimut yang ia tahan guna menutupi tubuh polosnya sedikit melorot dan hampir saja memperlihat dua gunung kembar yang telah membuat Davian jumpalitan tadi malam hingga ia harus mengguyur badannya dengan air dingin.
Pipi Davian kembali panas saat melihat langsung kulit kuning langsat tanpa cela itu.
"Sial... kenapa bangun lagi sih..." gumam Davian yang termakan ulahnya sendiri karena sesuatu di bawah sana berdenyut kembali.
Kheeemmmm...
Davian berdehem.
"Ganti cepat pakaian mu lalu kita sarapan bersama... aku tunggu di pantry!" ucap Davian yang melenggang keluar kamar.
Zuri memicing curiga.
"Oh... Satu lagi! Kita nggak ngapa-ngapain tadi malam, meskipun aku yang bukain semua pakaianmu. Itu karena suhu tubuhmu sangat tinggi dan semua pakaian mu basah" seru Davian dari ambang pintu.
Zuri tak langsung percaya ucapan Davian.
"Bohong! Kenapa harus kau? Kemana bu Sri?"
"Bu Sri izin pulang kampung tiga hari karena keponakannya menikah. Kalau kau tidak percaya, ya sudah! Bukan urusanku juga. Sudah untung aku urus!" ujar Davian ketus dan berlalu dari kamar.
Zuri melongok ke arah pintu untuk memastikan jika Davian benar-benar telah pergi.
Ia mengintip ke dalam selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Nggak sakit sih... Itu artinya Davian benar..."
Zuri mengetuk dahinya.
"Ckk... Zuri bod*h... Bisa-bisa demam disaat yang tidak tepat. Kan harga dirimu semakin diinjak oleh pria ketus dan narsis itu" gumam Zuri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai sarapan, Davian bergegas hendak kekantor sedangkan Zuri tetap berada dirumah.
Sendirian di penthouses, membuat dirinya jenuh.
Ting...
Sebuah pesan masuk ke ponsel pribadinya.
Kening Zuri mengernyit.
Ini hal yang tak biasa.
"Zuri, keluarga besar kita akan mengadakan makan malam, mama harap kau bisa mampir bersama Davian"
Sebuah pesan dari mamanya yang mengundang ia dan Davian untuk makan malam bersama.
Zuri menimbang-nimbang antara datang atau tidak.
Bukan cuma satu pesan dari mamanya saja, tapi papanya juga mengirim pesan yang sama kepadanya.
Dengan berat hati, Zuri akhirnya memutuskan untuk hadir diacara tersebut tanpa memberitahukan kepada Davian.
Zuri merasa, ini bukan kewajiban Davian untuk hadir dan melihat betapa kacaunya keluarga besarnya.
Tepat pukul lima sore, taksi yang Zuri tumpangi tiba didepan halaman rumah kediaman keluarga Wesley.
Seperti biasa, tidak ada penyambutan istimewa untuknya.
Tak ada pelukan hangat dari mamanya ataupun dari anggota keluarga lainnya.
Zuri berjalan menuju ruang tengah dimana tadi pelayan mamanya memberitahu jika semua anggota keluarga sedang berkumpul disana.
Dari balik tembok, Zuri bisa mendengar pembicaraan anggota keluarganya.
"Apa tidak sebaiknya kita tunggu Zuri dan Davian memberikan keturunan baru kita akan membahasnya kembali" terdengar suara perempuan yang menyebut nama Zuri.
"Bagaimana Zuri dan Davian akan memiliki keturunan, sedangkan mereka saja tidak pernah terlihat berdua jika bukan diacara perusahaan. Hubungan mereka terlalu kaku dan dingin ma... jadi jangan berharap mereka akan punya keturunan... Nggak mungkinlah...!" timpal suara lain yang Zuri kenali.
"Lalu bagaiamana rencana papa selanjutnya? Bukankah tuan Edgar meminta syarat itu untuk dia memberikan suntikan modal penuh kepada perusahaan? Mama nggak mau kita bangkrut pa..."
"Leona juga... Mau taruh dimana mukaku jika semua teman-temanku tahu perusahaan kita sedang kolaps" timpal Leona dengan rengekan manjanya.
"Kalian semua diamlah... Biar papa pikirkan caranya lagi" suara bentakan Abraham terdengar jelas hingga membuat kedua orang itu diam.
Zuri meremas kuat sisi dress yang ia kenakan.
Sekali lagi dia harus kecewa di sebabkan oleh keluarganya sendiri. Ia bagai pion dalam pernikahan ini, meski dirinya sendiri juga memiliki tujuan dalam pernikahan ini. Tapi tetap saja menyakitkan baginya ketika ia tahu hanya dimanfaatkan oleh orangtuanya sendiri demi harta dan kekuasaan.
"Zuri? Kapan kau sampai?" suara kakek Adam mengejutkan Zuri.
Matanya yang tadi berkaca-kaca sirna sudah.
"Baru saja kek..." sahut Zuri singkat.
Kakek Adam menepuk bahu Zuri. "Istirahat saja dulu, kita makan malam pukul tujuh. Apa suamimu belum datang?"
"Hmm.... Davian sedang sibuk jadi dia memintaku untuk datang sendiri saja... Baiklah, aku kekamar dulu. Permisi" pamit Zuri yang langsung memutar langkah menuju kamar tamu.
Kakek Adam mengikuti langkah Zuri dengan lirikan matanya.
"Ayah... Apa itu tadi Zuri?" Adam keluar menghampiri ayahnya dengan raut cemas. Entah cemas karena apa, hanya dia yang paham.
"Hmmm... sepertinya dia mendengar apa yang kalian bicarakan. Lainkali, lihat situasi kalau mau membicarakan hal yang bersifat pribadi dan rahasia, terutama istri dan putrimu Leona" tegas kakek Adam.
Sarah yang juga ikut menyusul suaminya hanya bisa melirik ayah mertuanya yang sedang berjalan ke arah gazebo ditaman belakang.
"Siapkan saja makan malamnya..." pinta Abraham kepada istrinya.
Dikamar tamu, Zuri menghempaskan b*kongnya di tepi ranjang.
Bahunya turun seiring helaan nafas kasarnya.
Matanya menatap sekeliling isi kamar.
Tak ada yang berubah sejak terakhir kali ia tinggalkan.
"Apa yang kau harapkan Zuri? kau hanya orang asing yang kebetulan memiliki darah yang sama dengan keluarga ini"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di kantor Davian, pria itu baru saja menyelesaikan pertemuan dengan beberapa staf keuangan perusahaan yang memang diadakan setiap bulannya.
Gama datang buru-buru menghampiri bosnya dengan ponsel yang masih memperlihatkan sebuah pesan dilayarnya.
"Pak bos, nona Zuri sedang makan malam di rumah orangtuanya? Apa pak bos akan datang?" bisik Gama memperlihatkan isi pesan di ponsel milik Davian yang ia pegang.
Kening Davian mengernyit. Pasalnya ia tidak diberitahu oleh Zuri perihal acara tersebut.
"Siapa yang mengirim pesan" tanya Davian.
"Papa mertua anda pak bos... Apa saya harus membelikan sesuatu untuk anda dibawa kesana?"
Davian mengangkat sebelah tangannya "Tidak usah...! Kau selesaikan sisanya, aku pulang duluan" ujarnya sambil berlalu dari hadapan Gama.
Davian melepaskan dasinya secara kasar dan menggulung lengan kemeja hingga batas siku.
Rahangnya mengeras.
"Dasar ceroboh... Sudah tahu dia akan di asingkan disana sekarang justru datang tanpa pemberitahuan kepadaku...! Dasar perempuan keras kepala!" gumam Davian sepanjang perjalanan.
Mobil yang ia kendarai melaju di jalanan cukup padat kendaraan.
Tak butuh waktu lama, mobil Davian tiba di halaman rumah keluarga Wesley.
Ia disambut seorang pelayan laki-laki seusia dengannya.
"Dimana orang-orang?" tanya Davian dari depan teras rumah.
"Tuan Davian... Semua orang sedang berkumpul di ruang makan" ucap si pelayan kepada Davian.
Tanpa basa-basi, Davian bergegas menuju ruang makan yang di maksud.
Sayup-sayup Davian mendengar suara yang ia yakini adalah Leona adik iparnya sedang berkata kasar dan merendahkan seseorang yang Davian yakini adalah Zuri.
"Sudah aku duga... kau pasti akan menyesal menikah dengan Davian! Dia hanya memanfaatkanmu! Jangan sok polos kau Zuri! Apa yang kau incar dari pria itu? Apa jangan-jangan kau mengincar hartanya?"
"Jika ia, kau harusnya sadar Zuri...! Apa kau lupa perihal kejadian di tepi danau hah! Kau telah mence..."
"Zuri?Kau kenapa tidak memberitahuku kalau akan datang makan malam ke rumah orangtuamu?"
Kalimat Leona terputus kala matanya menangkap wujud pria yang baru saja ia bicarakan.
Davian datang dan langsung mengecup puncak kepala Zuri hingga membuat perempuan itu terkejut dan segera menoleh kearah Davian yang langsung duduk di kursi kosong di sampingnya.
"Selamat malam semuanya, maaf saya datang terlambat... " sapa Davian kepada semua anggota keluarga Wesley yang disambut hangat oleh Adam Wesley.
"Tidak apa-apa Davian... kami paham kesibukanmu. Ayo kita lanjut makan malamnya... Zuri, ambilkan piring untuk suamimu" ucap Adam memberi isyarat kepada Zuri yang masih terdiam.
"Apa kau akan terus menatapku begitu? Kita bisa melakukannya nanti dirumah" ucap Davian menggoda Zuri yang akhirnya tersadar akan rasa kagetnya.
Zuri memutar bola matanya. Rasa kagumnya berubah jadi kesal dalam sesaat.
Dengan sangat terpaksa, Zuri melayani suaminya dimeja makan disaksikan oleh empat pasang mata keluarga Wesley lainya termasuk Leona yang lagi-lagi seperti kebakaran jenggot melihat interaksi kedua pasangan itu.
bersambung....