Syafira Andriani terjerat siluman ular yang dendam dan benci padanya, akibat kesalahan yang tak ia sengaja, ia harus terjebak di dalam sebuah istana yang di penuhi dengan ular-ular berbisa, ular-ular itu bukan ular-ular biasa, mereka semua adalah siluman ular yang begitu mengerikan di mata gadis berusia 20 tahun tersebut.
Syafira yang phobia dengan ular hidup dalam ketakutan di istana yang megah dan menawan itu, ia sangat takut dengan sekelilingnya, di sana tak ada satupun orang yang ia kenali.
Bagaimana hidup Syafira selanjutnya, apa kesalahan yang sudah ia perbuat? lalu apakah Syafira bisa keluar dari istana dan terlepas dari jerat siluman ular tersebut?
Penasaran dengan kelanjutan kisahnya! jangan lupa pantengin terus dan ikuti kelanjutannya. Dan jangan lupa pula beri dukungan agar author bisa lebih semangat!
Jangan lupa follow akun media sosial author!
Tik-tok:makhlukangkas4
Ig: makhluk_angkas4
Snack Video: Makhlukangkas4
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifdetul Faihak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di ambang pilihan berat (Telah Revisi)
Matahari telah terbenam secara sempurna, gadis bernama Syafira menutup mata saat rasa kantuk tak bisa ia tahan-tahan lagi.
Dengkuran berhembus halus tanda bahwa pemilik mata itu telah masuk ke dalam mimpi.
Di malam yang senyap satu demi satu langkah kaki terdengar memecah keheningan. Pria misterius tersenyum tipis menatap wajah Syafira yang setenang lautan.
Pria misterius duduk di tepi kasur sambil membelai lembut surai hitam Syafira, pria misterius itu mengecup singkat kening Syafira, lalu ia ikut merebahkan tubuh tepat di sebelah Syafira, tangan besarnya melingkar di pinggang Syafira.
Syafira tak sadar kalau ada sosok lain yang tidur di sampingnya.
Ketika di pagi hari Syafira membuka mata dan melihat sekitar, alangkah terkejutnya ia kala mendapati pria asing yang terbaring di tempat tidur yang sama dengannya.
"Aaahhhh!" Pekik Syafira keras.
Pemuda asing itu terjaga akibat terkejut dengan teriakan Syafira di pagi buta seperti ini.
"Kenapa, kenapa kamu teriak?" Tanyanya panik.
"Kenapa pangeran ada di sini?" Tanya Syafira balik, kini tiba-tiba Syafira menjadi takut dengan pangeran tampan di depannya.
"Emang kenapa kalau aku berada di sini, ini kan kamar ku, boleh-boleh aja kan aku berada di sini" jawab pangeran Andara dengan mudahnya.
"T-tapi pangeran, aku bukan istri mu kita tidak bisa tidur bersama kayak gini!" Ujar Syafira sungguh takut dengan pangeran Andara yang benar-benar berbisa.
"Kalau seperti itu, hari ini juga aku akan menikahi mu." Timpal pangeran Andara.
Syafira menggeleng cepat, ucapan pangeran Andara membuatnya tertegun.
"Tidak, aku tidak mau, aku tidak mau."
Tidak akan ada orang yang mau menikah dengan manusia separuh ular seperti pangeran Andara. Syafira juga tidak mau punya suami seperti pangeran Andara.
"Kalau kamu tidak mau gak papa, tapi jangan salahkan aku kalau hari ini adalah hari terakhir mu melihat dunia." Sahut pangeran Andara tersemat ancaman di dalamnya.
Syafira menelan ludah pahit, menerima atau menolak sama-sama membuatnya dalam bahaya, tapi kali ini ancaman pangeran Andara tak bisa di sepelekan.
"Kalau kamu memang bosan hidup tidak apa-apa, aku akan dengan mudah membuat mu berada di alam lain, itu masalah gampang bagi ku." Ucap pangeran di iringi nada yang cukup menakutkan.
"Bagaimana, iya atau tidak?" Tanya pangeran Andara tak sabar menunggu jawaban Syafira.
Bungkam, mulut Syafira terus tertutup rapat, lidahnya terasa keluh, mengambil keputusan yang tepat ia merasa kesulitan.
"Pangeran, aku butuh waktu, tolong beri waktu aku untuk menjawab."
Syafira ingin pikir-pikir dulu biar tidak salah mengambil keputusan dan juga ia belum siap menikah apalagi mati.
"Enggak, gak ada waktu-waktuan jawab sekarang aja, iya atau tidak!" Tegas pangeran Andara.
Pangeran Andara tak suka menunggu, apa yang ia inginkan harus terkabul, untuk menunggu satu jam saja ia tak bisa.
"Gimana ini, aku tidak mau menikah dan memiliki suami siluman ular, tapi kalau aku nolak kematian yang akan menghampiri ku." Batin Syafira di ambang hidup dan mati.
Satu kali Syafira salah menjawab, maka tamatlah riwayatnya.
"Kenapa diam, jawab!" Titah pangeran Andara.
Syafira diam tak bergeming, matanya terus menatap pangeran Andara yang serius, parahnya lagi tak ada kata becanda di dalamnya.
"Kalau kamu gak mau siap-siap bertemu ajal mu, kali ini aku tidak bohong apalagi becanda dengan ucapan ku. Sudah cukup aku bercanda dengan mu, sebenarnya aku tidak suka becanda apalagi menunda-nunda." Tutur pangeran Andara.
Syafira menegak ludah pahit, wajahnya memucat penuh ketertekana. Untuk mengangguk atau menggeleng ia bingung harus pilih yang mana.
"Cepat pilih yang mana, iya atau tidak!" Suruh pangeran Andara sekali lagi.
Tampaknya pangeran Andara telah muak bicara terus menerus tanpa di tanggapi sedikitpun oleh orang di depannya.
"Aku tanya sekali lagi, iya atau tidak!"
Kepala Syafira mengangguk, wajah pangeran Andara langsung gembira tanpa aba-aba.
Setetes air mata mengalir di wajah Syafira, terpaksa ia harus melakukan ini, nyawa lebih penting dari apapun walaupun hidupnya akan kacau balau setelah menikah dengan pangeran Andara.
Pangeran Andara yang kelewat senang memeluk erat tubuh wanita itu yang diam bagai patung, tatapan matanya kosong, sesekali air mata berjatuhan.
"Kita akan nikah hari ini, akan aku jadikan kau istri ku, aku berjanji aku tidak akan pernah menyakiti mu dan tidak akan aku biarkan ada orang yang membuat terluka, sungguh aku berjanji pada mu, akan aku berikan kau kebahagiaan yang tiada tanding." Janji pangeran Andara di sela-sela pelukan hangat.
Bibir Syafira tertutup rapat, telinganya mendengar setiap janji yang terlontarkan, tapi untuk menyahut rasanya tak mampu.
Entah janji barusan itu hanya janji manis saja atau bukan Syafira tetap tidak akan pernah bergantung atau bersandar pada sebuah janji yang belum di ketahui kebenarannya.
"Tunggulah di sini, aku ingin memberitahukan keluarga ku tentang keinginan ku, aku yakin mereka akan setuju dan juga aku akan persiapkan pernikahan termewah hanya untuk mu, kamu hanya tinggal terima jadinya aja." Titah pangeran Andara.
Syafira tak bereaksi dan terus tetap diam, sementara pangeran Andara dengan sangat happy keluar dari dalam kamar untuk memberitahu semua orang tentang keinginannya yang mau menikahi Syafira.
Setelah pangeran Andara pergi tangis Syafira tumpah ruah, air mata tak terbendung lagi. Segelintir tak pernah ia bayangkan kalau akan bertemu dengan siluman ular dan menjadi istrinya. Harapan dunia yang ia karang selama bertahun-tahun telah patah, tapi sedikitpun Syafira tak dapat memberontak.
"Haruskah aku menikah dengannya dan menjadi istrinya, lantas apakah mungkin setelah itu aku bisa kembali lagi ke dunia ku, aku merindukan semua orang-orang yang ku sayangi, dapatkah aku bertemu mereka lagi?"
Pertanyaan itu meluncur keluar dari bibir Syafira, harapan bertemu lagi dengan orang-orang yang ia sayangi setipis tisu. Apalagi jika ia sudah resmi menjadi istri siluman ular kemungkinan besar ia akan hidup selamanya di istana dan menutup diri dari dunia luar.
Membayangkan hancurnya hidup Syafira tak mampu, tapi tak ada satupun orang yang dapat membela. Hanya ini satu-satunya pilihan yang paling tepat meskipun berat.
Krieet
Di tengah tumpahnya bendungan, pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Dengan cepat Syafira menyeka air mata, tak ingin kalau ada orang yang melihatnya bersedih.
Syafira terkejut kala mendapati tiga orang wanita cantik yang membungkukkan tubuh di depannya sambil tersenyum ramah.
"S-siapa kalian?" Tanya Syafira terbata-bata.
3 wanita yang datang ke kamar Syafira tak sekalipun Syafira lihat sebelumnya. Asing, mereka amat asing di matanya sehingga Syafira sedikit merasa takut.
"Kami perias yang di tugaskan pangeran Andara untuk merias putri dengan secantik mungkin." Jawab salah satu perias yang berdiri di tengah-tengah.
Syafira diam sejenak, apa yang barusan terjadi benar-benar nyata, ia masih menganggap bahwa itu hanyalah mimpi semata.
"Mari putri kami akan merias mu karena sebentar lagi acara pernikahan akan segera di mulai." Izin sopan perias paling pinggir sebelah timur.
Tak ada pilihan lain selain diam dan membiarkan mereka mengotak-atik tubuh Syafira, yang ada di pikiran Syafira hanya satu, yakni kalau dia tak akan bisa melihat dunia bebas lagi setelah ini.