dihianati suami dan adiknya, dan menjadi tameng bagi kebebrokan perilaku kedua orang terdekatnya. Afifah memutuskan untuk bercerai.
dah, gitu aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12 - Afifah harus bisa
Bab 12
Setelah melalui perjalanan jauh, akhirnya Afifah tiba di Kota Jember. Wanita itu bergegas berkunjung ke rumah ibu mertuanya yang ada di Jember.
Selama dalam perjalanan ke rumah ibu mertua, Afifah nampak gusar. Wanita itu cemas dan bingung memikirkan bagaimana reaksi ibu mertuanya nanti saat ia memberikan kabar kurang enak ini pada beliau.
Afifah mendadak menjadi ragu. Sungkan dan tak enak hati pada ibu mertuanya yang tak tahu apa-apa itu.
"Aku bilang tidak, ya?" gumam Afifah bingung.
"Bagaimana aku harus mengatakannya nanti?" oceh Afifah.
Wanita itu benar-benar dilema. Makin dekat dengan rumah sang mertua, wanita itu justru makin tak tega hendak membongkar aib anak-anak dari ibu mertuanya.
"Katakan saja sejujurnya, Afifah! Kalau kamu menutupi kebenaran, Bunda juga akan terluka!" ujar Afifah meyakinkan dirinya sendiri.
Berbekal keyakinan dan tekad kuat, akhirnya Afifah pun tiba di kediaman Bu Siti, ibu dari Putri dan Arga. Afifah diam sejenak di depan pintu dan mencoba mempersiapkan diri. Rasanya berat sekali saat dirinya harus memutuskan untuk menyakiti Bu Siti karena ulah Arga dan Putri.
Tok, tok! Setelah berdiri lama di depan pintu, akhirnya tangan Afifah mulai tergerak. Tak ada gunanya membuang waktu. Sebelum dosa Putri dan Arga membesar, Afifah harus melakukan sesuatu.
Cklek! Pintu terbuka dan ibu mertua Afifah muncul dari balik pintu. Senyum merekah mulai terpancar dari wajah cerah Bu Siti yang menyapa Afifah dengan ramah.
"Afifah!" sapa Bu Siti dengan senyum sumringah.
Afifah ikut tersenyum pada ibu mertuanya yang menyambut dirinya dengan ramah tamah. "Bunda!" sapa Afifah balik.
Wanita itu mencium punggung tangan Bu Siti dan memeluk ibu mertuanya yang baik hati itu. Sungguh hati Afifah makin menjerit dan tak tega jika ia harus menyakiti ibu mertua yang ia sayangi itu.
"Baru sampai, Nak Afifah? Ayo masuk!" sambut Bu Siti.
"Terima kasih, Bunda!" sahut Afifah.
Bu Siti dan Afifah duduk bersama di ruang tamu. Bu Siti membuka perbincangan dengan basa-basi pada sang menantu yang baru saja tiba dari Semarang.
"Bunda buatkan teh dulu, ya?" ujar Bu Siti.
"Tidak perlu repot, Bun. Nanti biar Afifah buat sendiri di dapur," cetus Afifah.
"Mana boleh begitu? Kamu pasti lelah, kan? Istirahat dulu sambil minum teh hangat buatan Bunda!" timpal Bu Siti.
Sungguh ibu mertua yang baik hati. Kalau bukan karena kelakuan Arga, Afifah juga tak mau kehilangan ibu mertua sebaik Bu Siti.
"Ini, Nak Afifah! Bunda juga masak buat kamu! Makan dulu, ya?" tawar Bunda Siti.
"Bunda kenapa repot-repot?" tukas Afifah sungkan.
"Repot apanya? Menantu Bunda datang berkunjung. Mana mungkin Bunda tidak menjamu menantu?" timpal Bu Siti. "Makan dulu, ya? Bunda siapkan!"
Afifah tak bisa menolak. Beginilah ibu mertuanya. Baik, perhatian, ramah. Ibu mertua idaman. Sayangnya ibu mertua sebaik ini harus mempunyai anak bejat seperti Arga.
"Ayo dimakan, Nak Afifah!"
"Bunda tidak makan?" tanya Afifah.
"Bunda tidak lapar. Kamu saja! Kamu baru menempuh perjalanan jauh, kan?"
Afifah menikmati masakan ibu mertuanya dengan manik mata berkaca-kaca. Masakan ibu mertuanya sangat enak. Sayangnya harus dibalas oleh Afifah dengan kabar tidak enak.
"Ibu sudah siapkan kamar. Istirahat dulu, Nak!" ujar Bu Siti.
"Tidak perlu, Bun. Afifah tidak terlalu lelah," ungkap Afifah.
Ibu mertua dan menantu itu pun menghabiskan waktu bersantai bersama sembari menyeruput teh hangat di ruang tamu. "Kenapa pulang sendiri? Arga tidak ikut?"
Mendengar nama Arga membuat Afifah tersedak. Wanita itu nampak bingung bagaimana ia harus memulai pengaduan pada sang ibu mertua.
"Afifah ... sengaja datang kemari sendiri, Bun," ucap Afifah.
"Sengaja?" tanya Bu Siti dengan dahi berkerut. "Kamu tidak bertengkar dengan Arga, kan?"
Afifah terdiam. Wanita itu menarik napas dalam-dalam dan mencoba merangkai kalimat yang pas untuk dikatakan pada Bu Siti.
"Sebenarnya ... ada hal yang ingin Afifah katakan pada Bunda," ujar Afifah berusaha memulai.
"Apa, Nak? Hubungan kamu dan Arga sedang tidak baik-baik saja, ya?"
Afifah mengangguk. Tak ada gunanya juga bertele-tele. "Afifah bertengkar dengan Mas Arga, Bun."
"Bertengkar? Apa yang Arga lakukan padamu, Nak?" tanya Bu Siti. "Kamu dipukul? Dibentak? Apa masalahnya?"
Bu Siti agak panik. Takut terjadi apa-apa dalam pertengkaran mereka. Selama ini pernikahan Afifah dan Arga baik-baik saja. Tentu saja Bu Siti agak terkejut saat mendengar hal ini dari mulut Afifah.
Mata Afifah berkaca-kaca. Rasanya berat sekali mulutnya untuk berkata-kata. "Mas Arga ... selingkuh, Bun!" ungkap Afifah menahan tangis.
Wanita itu segera mengeluarkan ponselnya. Sebelum memberikan bukti, Afifah menjelaskan terlebih dahulu hal apa yang sudah menggoyahkan rumah tangganya.
"Selingkuh? Arga selingkuh?" tanya Bu Siti malu sekaligus kecewa di depan sang menantu.
"Dengan siapa Arga selingkuh? Kamu yakin kamu sudah memastikannya? Mungkin saja ada salah paham di antara kalian," ujar Bu Siti.
"Mas Arga sudah mengakui, Bun. Mas Arga juga tertangkap basah oleh Afifah. Tidak ada kesalahpahaman, Bun. Mas Arga benar-benar mempunyai wanita lain," terang Afifah.
Bu Siti memijat kepalanya yang pening. Wanita paruh baya itu mulai sesak mendengar perkataan Afifah tentang kelakuan putranya.
"Dengan siapa Arga berselingkuh, Nak? Bagaimana kamu bisa mengetahuinya? Lalu sekarang Arga di mana? Apa Arga tahu kamu pulang kemari?" tanya Bu Siti beruntun.
"Mas Arga ... di rumah, Bu. Masih di Semarang. Bersama dengan selingkuhannya. Mas Arga tidak tahu kalau Afifah pergi ke Jember," ungkap Afifah.
"Dan Mas Arga ... berselingkuh dengan ...." Lidah Afifah terasa kelu. Wanita itu memejamkan mata erat dan menyebutkan satu nama yang begitu dikenal oleh Bu Siti.
"Dengan Putri, Bun!" sambung Afifah.
Bu Siti tercengang mendengar nama yang diucapkan oleh Afifah. Hanya ada satu Putri yang ia kenal, yaitu anaknya sendiri. Hal yanga sangat dia takutkan terjadi.
"Putri? Maksudnya ... Putri anak Bunda? Putri adiknya Arga?" tanya Bu Siti.
Afifah mengangguk dan membenarkan. "Afifah tahu, Bunda pasti tidak percaya. Percaya atau tidak, tapi inilah yang terjadi, Bun. Mas Arga selingkuh dengan Putri. Bahkan ... bahkan Afifah melihatnya sendiri," ujar Afifah dengan air mata berlinang.
Bu Siti dengan sudut mata yang sudah berair. Bu Siti pun ikut menangis. Menangis karena malu dan kecewa. Menangis karena tak menyangka.
"Mas Arga sudah mengakui, Bun. Afifah tidak asal tuduh. Afifah juga punya bukti," ujar Afifah.
"Bukti apa?"
"Bukti ... Mas Arga berbuat ... berbuat tidak pantas dengan Putri," ujar Afifah sembari menyodorkan ponselnya. "Afifah melihat sendiri, Bun. Afifah kesal, Afifah kecewa. Tapi Mas Arga tidak mau mengakui kesalahan dan tidak mau berubah dengan Afifah, Bun."
Bu Siti memeluk Afifah dan menangis bersama dengan menantunya itu. Melihat ibu mertuanya menangis, Afifah pun merasa tak enak hati dan kasihan pada wanita paruh baya itu.
"Maafkan Bunda, Afifah!" ucap Bu Siti.
*****
terimakasih author
bahwa kehadirannya sungguh berharga.,. wkwkkkk