Novel ini adalah sequel dari Terjebak Gairah Monster Tampan
Jeremy Suryawijaya adalah adik kandung dari Cintyara Alona Suryawijaya dengan bersuamikan Pria hebat yaitu kakak ipar Jeremy yang memberi Jeremy fasilitas penuh untuk memulai bisnisnya di usia yang begitu muda setelah kakaknya Alona menikah dan membina biduk Rumah tangga dengan Johan Rahadiningrat.
Pertemuan pertamanya dengan Kimberly Tejakusuma gadis cantik di Dreamy Internasional Highschool yakni adalah junior di sekolah yang sama dengannya. Gadis cantik itu seringkali mencuri pandang dan melihatnya dari kejauhan tingkah lucunya yang akhirnya membuat Jeremy juga jatuh hati padanya. Namun sayang seribu sayang ternyata Kimberly sudah di jodohkan dengan Arsen yang notabene berasal dari keluarga konglomerat yang orang tuanya bersahabat baik dengan Kimberly dan menjodohkan keduanya sedari bayi. Bagaimana cara Kimberly lepas dari belenggu perjodohan itu saat cintanya dengan Jeremy akhirnya bersambut?
Yuk mampir zeyeng ditunggu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ippiiieee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemas!
…Kedai Muda Mudi…
“Dasar gadis nakal, sini!” Jeremy menarik pergelangan tangan Ily dengan cepat sebelum gadis itu sempat menjauh darinya. Ia menempatkan Ily di dekat dinding kedai agar mereka tidak terlalu terlihat oleh orang lain. Jeremy hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, campuran antara kesal dan lega karena akhirnya bisa berbicara lagi dengan gadis itu setelah kejadian sebelumnya.
Ily yang semula ingin protes justru terdiam ketika melihat wajah Jeremy dari jarak yang begitu dekat. Pipi gadis itu perlahan memerah.
…Blush…
Jeremy menghela napas pelan sambil menatap Ily beberapa detik lebih lama dari biasanya. Ia sebenarnya ingin mengatakan banyak hal, tetapi kata-kata seolah menumpuk di tenggorokannya.
“Kenapa kamu diam saja?” tanya Jeremy akhirnya.
Ily memalingkan wajahnya ke samping, berusaha menyembunyikan kegugupan yang tiba-tiba muncul.
“Bukannya kamu yang tadi menarikku ke sini?” jawabnya pelan.
Jeremy tersenyum tipis.
Melihat reaksi Ily yang salah tingkah justru membuat suasana di antara mereka terasa lebih hangat. Angin malam berhembus lembut di sekitar kedai yang mulai sepi karena sudah hampir larut.
Jeremy menyandarkan punggungnya ke dinding di samping Ily, mencoba mengendalikan perasaannya sendiri yang juga tidak kalah berdebar.
“Bernafas yang benar dulu, Mok,” katanya setengah bercanda. “Kamu kelihatan tegang banget.”
Ily langsung menoleh cepat.
“Siapa yang tegang? Aku biasa saja!”
Jeremy tertawa pelan melihat reaksi spontan itu.
Beberapa detik kemudian keduanya justru sama-sama terdiam. Tidak ada lagi kata-kata, hanya suara kendaraan yang sesekali melintas di jalan depan kedai.
Jeremy kemudian berkata dengan suara lebih lembut.
“Mok… menurutmu… apakah mungkin kita menjalani sesuatu… di saat kamu sedang dikejar-kejar oleh laki-laki lain?”
Pertanyaan itu membuat Ily kembali menundukkan kepala.
Ia tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, gadis itu hanya bersandar ringan di dinding sambil memandang jalanan di depan mereka.
“Biarkan seperti ini dulu, Jer,” ucapnya pelan. “Aku tidak ingin malam ini cepat berakhir.”
Jeremy menatapnya.
Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dadanya terasa hangat.
Ily melanjutkan,
“Kadang kebersamaan seperti ini jarang terjadi. Jadi… biarkan saja sebentar.”
Jeremy tidak memotong perkataannya.
Ia tahu yang dimaksud Ily adalah Arsen.
Nama itu memang menjadi bayangan yang selalu mengikuti hubungan mereka sejak awal.
Jeremy akhirnya mengangguk pelan.
“Baiklah.”
Beberapa saat kemudian ia berdiri tegak dan menepuk jaketnya.
“Sudah larut. Aku antar kamu pulang. Nanti Oma mencarimu.”
Ily mengangguk.
Jeremy berjalan menuju motor sportnya yang terparkir di depan kedai. Ily mengikuti di belakangnya dengan langkah kecil.
Keduanya tidak sadar bahwa cara mereka berbicara sudah berubah. Panggilan “gue–elo” perlahan menghilang, digantikan dengan “aku” dan “kamu”.
Ily bahkan sudah berani memanggil Jeremy tanpa embel-embel “kak” lagi.
Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.
Tidak jauh dari tempat Jeremy memarkir motornya, dua orang pria memperhatikan mereka sejak tadi.
“Buaaa… gue lihat lo tadi nggak berkedip, tau nggak?” ujar tukang parkir sambil menyikut temannya.
“Ngeliatin dua anak muda itu dari tadi.”
Tukang somay di dekat gerobaknya terkekeh.
“Ya gimana, gue jadi berasa muda lagi.”
Ia menggaruk kepalanya sambil tersenyum geli.
“Tadi gue sempat ngompor-ngomporin tuh cowok supaya minta maaf sama ceweknya.”
Tukang parkir mengangkat alis.
“Oh ya?”
“Iya. Ceweknya cantik begitu kok disakitin. Kalau kelamaan dicuekin, bisa-bisa gue yang nyamperin duluan.”
Tukang parkir langsung tertawa keras.
“Mimpi lo ketinggian, Bang! Mana mau tuh cewek sama muka somay kayak lo.”
Tukang somay pura-pura tersinggung.
“Eh jangan salah! Dulu gue juga pernah jadi playboy!”
“Playboy kampung kali!”
Keduanya tertawa sambil terus berdebat ringan, sementara Jeremy dan Ily sudah pergi meninggalkan kedai tanpa menyadari percakapan lucu itu.
✨
✨
✨
Ily memegang jaket yang ia kenakan saat Jeremy mulai melajukan motornya keluar dari area kedai.
Angin malam terasa cukup dingin, tetapi perjalanan terasa menyenangkan.
Lampu jalan memanjang seperti garis cahaya yang menemani perjalanan mereka.
Jarak sekitar sepuluh kilometer terasa begitu singkat karena jalanan malam itu cukup lengang.
Jeremy mengendarai motornya dengan hati-hati, sesekali melirik spion untuk memastikan Ily baik-baik saja di belakangnya.
Sementara itu, Ily diam sepanjang perjalanan.
Namun senyum kecil terus menghiasi wajahnya.
Perasaan hangat yang aneh memenuhi hatinya, seperti kupu-kupu kecil yang beterbangan di dadanya.
Tidak ada kata-kata.
Namun kebersamaan sederhana itu sudah cukup membuat malam terasa istimewa.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di depan rumah Oma Oman.
Jeremy mematikan mesin motor.
“Turunlah,” katanya sambil menoleh sedikit. “Mimpi indah ya, Mok.”
Ily turun dari motor dan berdiri di depan gerbang rumah.
“Masuklah. Aku pergi setelah kamu masuk ke dalam,” lanjut Jeremy.
Ily tersenyum kecil.
“Bye, Jer.”
“Bye.”
Ily melangkah masuk ke halaman rumah sambil sesekali menoleh ke belakang.
Jeremy masih berdiri di sana sampai ia benar-benar masuk ke dalam rumah.
Barulah setelah pintu tertutup, Jeremy menyalakan kembali motornya dan pergi.
Di dalam kamar, Ily langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Namun bukannya tidur, ia justru menatap langit-langit kamar sambil tersenyum sendiri.
Malam ini terasa begitu berbeda.
Baru beberapa saat mereka berpisah, tetapi Ily sudah merasa kehilangan.
Tiba-tiba ia baru menyadari sesuatu.
Ia bahkan belum memiliki nomor ponsel Jeremy.
“Ah…,” gumamnya pelan.
Biasanya pasangan akan saling berkabar sebelum tidur.
Namun mereka bahkan belum sampai pada tahap itu.
Ily menutup matanya sambil menghela napas.
“Ya sudahlah… besok pasti bertemu lagi.”
Dengan pikiran yang masih dipenuhi bayangan malam itu, akhirnya Ily memejamkan mata.
Keesokan harinya…
Tok… tok… tok…
“Ily, kamu sudah siap?” suara Tante Elma terdengar dari balik pintu.
“Kita mau berangkat.”
Ily segera bangun dari tempat tidur.
“Ya Tan! Ily sudah siap!”
Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar dengan seragam sekolah yang rapi.
Elma langsung tersenyum melihatnya.
“Aduh… cantik sekali keponakan Tante ini.”
Di ruang tamu, seorang anak kecil berlari menghampiri.
“Peter, say hi to your sister.”
“Hai Kak Ily!”
Ily tertawa kecil.
“Halo Peter. Kamu sudah besar sekali.”
Peter mengangguk dengan bangga.
“Cepat besar supaya bisa sekolah juga!”
Ily tertawa mendengarnya.
“Semangat ya.”
Setelah berpamitan dengan Oma, mereka pun keluar menuju mobil.
🚘
🚘
🚘
Di dalam mobil, Elma melirik ke arah Ily dengan senyum penuh arti.
“Ayo ngaku.”
Ily menoleh bingung.
“Ngaku apa?”
“Tadi malam diantar siapa?”
Ily langsung salah tingkah.
“Ah… Tante tahu saja.”
Elma tertawa kecil.
“Tante ini matanya seperti elang. Semakin malam semakin tajam.”
Ily ikut tertawa.
Beberapa detik kemudian Elma bertanya lagi.
“Jadi benar yang dikatakan Oma kemarin?”
Ily menoleh.
“Yang mana?”
“Kamu dijodohkan.”
Wajah Ily langsung berubah murung.
“Iya, Tan.”
Elma terdiam sebentar.
“Tante sebenarnya tidak ingin ikut campur urusan keluarga kamu,” katanya pelan.
“Tapi kalau kamu yakin dengan pilihanmu… perjuangkan.”
Ily menatapnya.
“Caranya?”
Elma tersenyum.
“Buktikan kalau kamu bisa menjadi lebih baik.”
“Prestasi?”
“Iya. Kalau kamu menunjukkan perubahan yang baik, orang tuamu pasti akan melihat keseriusanmu.”
Ily mengangguk pelan.
“Terima kasih, Tante.”
Elma tersenyum hangat.
“Keponakan Tante yang cantik ini pasti bisa.”
Ily tiba-tiba bertanya dengan wajah penasaran.
“Lalu… bagaimana caranya supaya aku bisa sering bertemu Jeremy?”
Elma tertawa kecil.
“Ah… Tante punya ide.”
Ia lalu mendekat sedikit dan membisikkan sesuatu ke telinga Ily.
Mata Ily langsung melebar.
“Hah?!”
Ia terlihat gugup sekaligus penasaran.
“Apakah itu akan berhasil, Tante?”
Elma hanya tersenyum misterius.
“Kita lihat saja nanti.”
To be continued…