"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.
Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.
Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.
Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kuaci
"Pokoknya Kakak gak mau kamu terlibat masalah lagi sama Arnas. Kakak juga gak suka kamu deket-deket sama Jonas, atau pun cowok lain."
"Mm," gumam Chilla malas.
"Udah sana masuk," suruh Kak Largha.
Chilla memutar matanya sebelum melangkah masuk kelas. Harus banget ya diantar sampe pintu kelas begini cuma karena kejadian kemarin? Kak Largha macam tahu saja bila Chilla tadi berniat mampir ke kelas Jonas jika tak diantar begini.
Setelah sampai di mejanya, Chilla menoleh untuk memastikan apakah kakaknya sudah pergi atau belum. Dan ia tak kecewa, kakaknya sudah menghilang dari depan pintu. Maka ia segera menuju arah yang ditinggalkan, setengah bersembunyi mengintip keadaan di lorong yang masih lengang. Terlihat kakaknya melangkah menjauh, terus hingga berbelok dan menghilang dari jangkauan pandang.
Chilla mengembuskan napas lega. Ia keluar dari persembunyian. Melangkah santai menuju kelas Jonas. Ada maaf yang harus ia utarakan karena kelakuan kakaknya yang sungguh tak bersahabat. Padahal Jonas bermaksud baik—bahkan membawa pengaruh baik.
Sebetulnya semalam Chilla mau menelepon Jonas untuk meminta maaf tapi dipikirnya lebih baik bertemu langsung. Sebab ia bisa memandang ekspresi Jonas, memastikan apakah laki-laki itu sungguh menerima permintaan maafnya atau tidak. Walau sebernarnya ia sangat malu bertemu Jonas, ia juga takut Jonas tak mau berteman dengannya lagi, seperti teman-temannya saat SMP dulu. Ia sampai menangis lama sekali karena memikirkan kemungkinan itu semalam, takut sekali Jonas menjauh.
Sesampainya di muka kelas Jonas, Chilla melongok ke dalam, tak mengacuhkan beberapa penghuni kelas yang memperhatikannya.
Sayang sekali, orang yang dicari tak ditemukan Chilla. Kelas itu hampir penuh, tapi Jonas tak ada di kursinya, begitu pun tasnya.
Apa Jonas belum berangkat?
Tidak mungkin. Chilla saja sudah melihat Arnas di kelas tadi.
Atau jangan-jangan Jonas sakit?
Dengan lesu Chilla kembali ke kelasnya. Ia bisa bertanya pada Arnas saja yang pasti punya jawaban dari pada sekedar menduga-duga. Lagipula itulah fungsi Arnas dalam hidupnya, jadi sumber informasi.
Baru setengah perjalanan bel sudah berbunyi, tanda pelajaran pertama di mulai. Chilla sama sekali tak repot mempercepat langkahnya. Sekarang pelajaran bahasa Inggris, gurunya selalu telat, bahkan sering tak masuk. Jadi ia santai-santai saja.
Sesampainya di kelas, bukannya menuju bangkunya, Chilla malah menghampiri Arnas yang seenaknya sedang duduk bersila di atas meja, mengobrol dengan teman-temannya sambil mengemil kuaci. Memang tak ada akhlak si Arnas.
"Gak ada akhlak ya lo," caci Chilla, mengalihkan perhatian Arnas berserta teman-temannya yang banyak itu. Mereka sedang rapat umum atau bagai mana, sih? Ramai sekali.
"Apaan sih lo? Rese banget," balas Arnas asal. Tangannya sibuk membelah kuaci rasa susu melihat dari bungkusnya yang betebaran.
"Nyampah aja lo pada, gak mikirin yang piket."
"Udah gue pikirin," Arnas menjawab sambil menumpahkan lagi sebungkus kuaci.
Chilla berdecih.
Arnas memutar matanya. "Gue yang piket sama temen-temen gue? Lo mau apa?"
Alis Chilla terangkat, sangsi. Arnas bersama gerombolannya yang piket hari ini?
"Kalo lo gak percaya, pelototin noh jadwal piket! Sekretaris kita yang berbudi luhur itu bikin semua yang piket hari ini anak-anak cowok."
Belum sempat Chilla menoleh dan menanyakan apa pernyataan Arnas itu benar, sekretaris kelas yang duduk di pojok depan itu ngegas menjawab, "Itu karena lo-lo pada anak cowok suka gak sadar diri buat piket kalo digabung sama anak cewek!"
Para murid yang merasa laki-laki mengangkat tangan ke arah sekretaris kelas seraya berkata kompak, "Santai, santai."
Chilla tersenyum kecil melihat kejadian itu. Namun segera ia tersadar apa tujuannya tadi.
"Ar," panggil Chilla, langsung menarik perhatian laki-laki itu—bahkan semua laki-laki yang menjadi teman berkumpul Arnas. "Jj—" Nyaris saja Chilla keceplosan dan menanyakan soal Jonas di hadapan semua orang ini.
Maka Chilla mendekatkan dirinya pada Arnas, sedikit membungkuk ke arah telinga laki-laki itu. Dan ternyata, tanpa pernah ia perhitungkan reaksinya, anak-anak laki-laki heboh bersiul-siul.
Kepalang tanggung, Chilla tetap melanjutkan rencananya. Ia berbisik, "Jonas ke mana? Kok gak ada di kelas?"
"Gimana rasanya, Ar? Geli-geli sedap?" komentar salah satu dari para siswa itu. Dari suaranya Chilla cukup yakin bahwa yang berbicara itu adalah Yaksa, Presiden of NC di kelas. Tahu NC, kan? Genre cerita plus-plus yang sedang banyak diminati para kaum milenial. Tapi serius, Chilla tidak. Mendengar komentar Yaksa saja ia sudah jijik, apalagi bila membaca cerita kotor. Ia tak sanggup.
Kini gantian Arnas yang membisiki Chilla. "Segitu sukanya lo ngumumin ke semua orang kalo kita udah akur?"
Secepat kilat Chilla menarik dirinya menjauh. Wajahnya memerah. Malu dan merah. Belum lagi ketika Yaksa kembali berkomentar, "Jangan digigit dong, Ar."
Chilla mendelik pada Arnas. Kemudian ia berbalik memandang Yaksa. "Jijikin lo!" Dan langsung berlalu begitu saja.
Chilla menghempaskan bokong di kursinya. Mood-nya yang memang sudah buruk semakin harcur saja. Kenapa sih tak ada yang bisa membuatnya senang hari ini?!
Drrtt... drrtt...
Ponsel Chilla bergetar. Dengan ogah-ogahan ia meraihnya dari dalam saku. Ada satu pesan masuk. Dari Arnas.
Arnas Prawira : Jonas lagi seleksi buat tim olimpiade. Baru dateng tadi langsung di suruh ke ruang guru.
Aish... pasti sekarang Jonas sedang bersama Zeeta. Sungguh menyebalkan.
Oke. Nanti istirahat kabarin gue dia ke kantin gak. Kalo gak, kasih tahu gue dia ke mana, balas Chilla.
Baru saja Chilla mau menyimpan kembali ponselnya, benda itu kembali berdenting.
Arnas Prawira : Kalo gue lagi bareng temen-temen gue, chat aja kalo butuh, jangan nyamperin.
Arnas Prawira : Sorry kalo bercandaan Yaksa bikin lo terganggu. Otaknya emang agak-agak.
Chilla tak terlalu peduli tentang himbauan Arnas. Ia lebih tertarik pada permintaan maaf atas nama teman Arnas—walau teman sekelasnya juga—yang najis itu.
Lincah sekali jemari Chilla mengetik, Suruh temen lo itu rendam otaknya pakek So Klin pemutih, biar bersih seperti baru.
Belum lama pesan Chilla terkirim, ia bisa mendengar Arnas menyarankan pada Yaksa untuk merendam otaknya menggunakan produk pemutih terkenal itu.
Bukannya malah membuat kondiri lebih baik, saran yang diteruskan oleh Arnas itu malah membuat kelas jadi heboh dikompori oleh Yaksa.
"Cieee... yang udah baikan. Sampe chat-chat segala. Uhuy!"
"Cieee... Cieee...." Ramai anak sekelas bepartisipasi.
Di antar cie-cie yang kenyebalkan itu. Menyeruak suara Arnas yang berujar lantang, "Largha sekolah, Chill?"
Dan seketika kelas hening. Tahu-tahu Yaksa sudah ada di samping mejanya, membawa sebungkus kuaci rasa green tea.
"Largha sehat, Chill?" tanya Yaksa ramah.
Wah. Kak Largha sungguh sesuatu. Cara Arnas menenangkan situasi mengingatkan Chilla pada kejadian saat Jonas membantu menguraikan perselisihannya dengan Diandra waktu itu.
"Gue titip salam sama dia." Yaksa menyerahkan kuacinya. "Salam damai."
Chilla menerima pemberian yang sebetulnya kurang berharga itu. Lalu ia berkata, "Asal lo gak lupa buat rendam otak lo sama kumur-kumur pakek So Klin pemutih biar steril. Biar gak kotor banget otak sama mulut lo. Setelah itu baru gue sampein salam damai lo itu."
"Diskonlah jangan So Klin," bujuk Yaksa. "Ngeri mati gue."
Mendadak munculah beberapa siswa yang tunggang langgang masuk kelas, berseru, "Miss Arin masuk, ****!"
Dan suasana kelas itu menjadi riuh sekali. Yang pacaran melerai diri, yang ghibah memisah jarak, yang menyalin tugas menunda usai. Nyaris semua sibuk, saling bahu membahu membereskan kulit kuaci yang berserakan dan menyusun setiap meja agar sejajar.
Chilla yang stay di tempat, takjub menyaksikan kejadian itu. Kelasnya yang sangat tidak kompak itu tiba-tiba menjelma menjadi kelas bersolidaritas tinggi ketika monster ganas mencoba menerobos.
Epik sekali momen itu.
ΔΔΔ
Usai bahasa Inggris hadirlah matematika. Dan setelah istirahat nanti datanglah geografi yang disusul ekonomi. Kurang nikmat apa coba jadwal pelajaran hari ini. Yang menyusun jadwal memang tak punya akhlak tampaknya.
"Oke, sampe sini paham?" tanya Bu Rosmiati Koesmarini yang hobi mencaci maki murid-murid yang berani-berani tak memahami materi yang diberi sepenuh hati.
"Paham, Buuuuu!" Murid sekelas menyahuti seraya melirik kanan-kiri, memastikan bahwa mereka bukan satu-satunya yang cari aman agar tak ada caci maki hari ini.
"Kalo begitu akan Ibu akan kasih kalian sedikit tugas kelompok untuk dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya."
Menyusul pengumuman itu pundak-pundak mayoritas manusia di kelas ini lemas. Tugas lagi, tugas lagi. Bahasa Inggris tadi saja sudah ada seabrek tugas, ditambah 'sedikit' tugas matematika lagi yang biasanya suka beranak sampai dari 'a' sampai 'j' setiap nomornya. Padahal hari ini Arnas ada janji main basket bersama teman-temannya, besok juga ada latihan futsal, lusa mungkin akan acara juga. Pokoknya sibuk sekali. Sedangkan kerja kelompok itu membutuhkan banyak waktu luang. Cara terbaik menyelesaikan persoalan tugas matematika ini adalah mendapatkan partner pintar dan individualis, yang merasa jawaban orang lain selalu meragukan, yang lebih suka mengerjakan tugas kelompok sendirian, sehingga Arnas bisa nebeng nama saja.
"Baik akan Ibu bagi satu kelompok dua orang. Mau Ibu tentukan atau kalian tentukan sendiri?"
"Ibu aja, Bu!" seseorang berseru.
"Biar adil!"
"Biar yang pinter gak sama yang pinter!"
Bu Rosmiati mengangkat tangan, menenangkan kegaduhan. Memang acara menentukan kelompak itu selalu riuh.
"Oke, oke," Bu Rosmiati setuju. "Arnas Prawita dengan Bunga Rukmini."
Arnas mendesah lega. Lumayan dapat Bunga, juara 2 semester lalu.
"Achilla Summer dengan Bambang Prayoga... Adin—"
"Bu!" Chilla menginterupsi seraya mengacungkan tangannya.
"Iya Achilla?" tanya Bu Rosmiati.
"Boleh saya satu kelompok sama Arnas aja? Soalnya rumah kami juga deket, jadi lebih mudah buat kerja kelompok."
"Ehem! Ehem!" Tiba-tiba banyak siswa yang batuk dadakan. Bau-baunya makin panas ini ledek-ledekan
"Iya, Bu," Bunga yang duduk di depan Chilla bersuara. "Chilla sama Arnas aja. Terus saya sama Bambang, kebetulan kita satu tempat bimbel, gak susah cari waktu buat kerja kelompok."
Ini nih, pikir Arnas, yang disebut belum jodoh. Padahal sudah ditentukan, sudah final, ujung-ujungnya masih bisa berubah juga.
Arnas melirik Chilla yang kebetulan sedang memandangnya dengan alis terangkat bersama senyum menyebalkan. Terbaca sekali akal bulusnya. Ia berani bertaruh bila Chilla akan memaksa mengerjakan tugas di rumahnya agar bisa bertemu Jonas. Itu pasti.
Tapi mau bagaimana lagi, ia akan terjebak bersama Chilla selama dua bulan ke depan. Jadi, jalani saja.
Bel tanda istirahat meraung. Anak-anak sekelas mulai gelisah, maka Bu Rosmiati tergesa mengakhiri kelasnya.
Arnas mengambil ponselnya dari laci. Dibukanya aplikasi berkirim pesan.
Jo, mau gue pesenin mie ayam Bu Endang gak?
Mie ayam Bu Endang adalah menu legendaris di kantin, yang sering kali sold out. Orang seperti Jonas tak akan pernah kebagian karena selalu jadi murid paling akhir keluar kelas, maka dari itu Jonas sering meminta dipesankan lebih dulu.
Butuh waktu lima menit sebelum Jonas memberi balasan.
Jo: Boleh. Kayak biasa.
Arnas berdiri seraya mengalihkan ruang obrolan Jonas ke ruang obrolan lain. Ia mengetik sebuah pesan singkat dengan cepat.
Jonas mau ke kantin.
Alangkah terkejutnya Arnas yang sedang mengekori teman-temannya ketika mendadak suara Chilla berbisik dekat telinganya.
"Ajakin Jonas satu meja sama kita."
ΔΔΔ
*Ada yang nungguin cerita ini gak sih?
Kalo ada spam komen dong di bawab.
luv luv buat kalian yang sudah membaca cerita ini ❤❤❤❤❤*
S2 yuk kak....
kenapa baru sekarang nemunya....
sungguh