NovelToon NovelToon
Delima

Delima

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 5
Nama Author: Mizzly

Delima, gadis yang hidup dengan rasa percaya diri yang rendah. Terbiasa dibully membuatnya menarik diri dari pergaulan dan merasa dirinya tak pernah berharga. Sampai Ia dicintai oleh Richard Kusumadewa, mantan pemakai narkoba dan playboy kelas kakap. Akankah Richard mampu merubah Delima dan mengembalikan rasa percaya dirinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Happy Birthday

Adel

Takkan pernah terlintas

Tuk tinggalkan kamu

Jauh dariku, kasihku

Karena aku milikmu

Kamu milikku

Separuh nyawaku

Hidup bersamamu

Berdua kita lewati

Meski hujan badai takkan berhenti (takkan berhenti)

Sehidup semati

Mentari pun tahu

Kucinta padamu

Percaya

Aku takkan ke mana-mana

Aku kan selalu ada

Temani hingga hari tua

Percaya

Aku takkan ke mana-mana

Setia akan kujaga

Kita teman bahagia

Lantunan merdu lagu Teman Bahagia milik Jaz mengalun dari radio mobil Jazz milik Richard. Jaz di mobil Jazz. Kontras sekali.

Lagu yang mengalun juga seperti menyindirku. Bagaimana dulu aku setuju menjadi temannya namun malah meninggalkannya tanpa kabar.

Mau bagaimana lagi. Kami tak sempat bertukar nomor Hp. Mencari di sosmed juga enggak mungkin, nama Richard tuh nama sejuta umat. Aku enggak tau nama lengkapnya apa.

Tapi takdir seakan masih berputar di sekitar kami. Datangnya Richard menjemputku di kontrakkan buktinya. Takdir yang dicari dan diusahakan.

Sepertinya kecanggungan diantara kami masih belum hilang. Terbukti dengan kami yang sejak tadi masih diam tanpa memulai percakapan sama sekali.

Hening. Terlalu hening malah. Beberapa kali aku melempar pandangan keluar jendela, melihat keramaian jalan di hari libur seperti ini.

Mama sempat menyuruhku pulang tapi aku malas. Pasti Papa akan menyuruhku menikah secepatnya dan mendengar Mama bercerita tentang anak temannya yang bersuamikan orang kaya.

Kenapa sih mereka berpikir kalau materi segalanya? Belum tentu yang bergelimpangan materi akan bahagia, tapi... bahagia banget.... ha...ha...ha...

Iyalah bahagia banget, bakalan punya uang buat suntik kurus, buat sedot lemak, buat perawatan tubuh, tanam benang, filler dan beli barang branded.

Aku menggelengkan kepalaku. Mulai deh terpengaruh toxic people lagi. Aku melirik Richard yang sejak tadi mengemudi dengan diam.

Richard yang mengajarkanku membersihkan otakku dari pengaruh toxic people tapi aku malah mulai terpengaruh lagi dan lagi. Susah sekali menghilangkannya.

"Kabar kamu gimana?" ucapan Richard membuyarkan lamunanku.

"Baik, seperti yang kamu lihat. Kamu gimana?"

"Tapi aku enggak lihat kamu baik-baik saja."

"Maksudnya?" kenapa bukan menjawab pertanyaanku malah mengomentari tentangku. Membuatku jadi bertanya-tanya.

"Your mental health, enggak baik-baik saja. Malah semakin down daripada yang aku lihat dulu."

Jawaban Richard membuatku semakin sebal. Baru ketemu udah ngajak ribut aja. Pake ngebahas tentang mental health segala.

"Sok tau." cibirku.

"Bukan sok tau. Tuh buktinya." Richard menunjuk ke tubuhku.

"Aku? Apa buktinya?" tanyaku tak mengerti.

"Kehilangan berat badan yang drastis dalam waktu beberapa bulan. Cara diet yang ekstrim demi memuaskan hasrat ingin dipuji orang lain. Apa itu baik-baik saja?"

Aku pikir hanya Kak Rian laki-laki dengan mulut terpedas yang ada di dunia ini. Ternyata ada yang lebih pedas lagi.

"Aku enggak jadi nyari kado. Turunin aku aja di depan!"

"Ngambek! Kabur lagi kayak dulu!" bukannya baik-baikkin aku eh malah meledek. Nih anak beneran nyebelin ya.

"Aku enggak kabur!"

"Lalu apa? Menghilang tiba-tiba tanpa kabar?"

"Aku enggak menghilang. Memang waktu itu aku disuruh pulang, ada kerjaan lebih penting di Jakarta. Dan enggak punya nomor Hp kamu."

"Kan bisa nitip pesan sama Sisil dan Sita?"

"Enggak akrab."

"Alesan."

"Ih nyebelin banget sih!"

"Nyebelin mana sama kamu yang udah janji mau temenan sama aku tapi menghilang tanpa kabar? Nyebelin mana sama kamu yang udah janji enggak akan dengerin toxic people eh malah diet ekstrim hanya karena terganggu dengan omongan toxic people?"

"Itu... terserah aku." aku yang awalnya emosi hanya bisa mengkeret bak tikus yang tersudut di pojokkan.

"Tau sih kalau itu terserah kamu. Tapi sebagai seseorang yang care sama kamu-"

"Kenapa kamu yang harus care sama aku?" aku memotong ucapan Richard sebelum Ia menyelesaikannya.

"Ya... karena aku peduli."

"Makasih tapi aku enggak butuh."

Richard lalu menghela nafasnya dengan kesal. "Maaf kalau terlalu memaksa kamu. Aku... Aku kaget melihat kamu yang... jadi seperti ini. Jujur aja melihat kamu yang dulu terlihat sedih tapi melihat kamu sekarang kamu malah terlihat lebih menyedihkan lagi."

"Tapi-"

"Kalau mau diet, bukan begitu caranya. Kalau memang terpengaruh sama perkataan toxic people, jangan semua perkataan ditelan mentah-mentah. Disaring. Mana yang jadi prioritas," Richard tak membiarkan aku membantahnya. Malah terus menasehatiku.

"Yang aku lihat kamu terpengaruh masalah berat badan. Oke, kamu mau kurus. Tapi caranya yang benar, jangan yang menyiksa diri."

"Aku enggak menyiksa diri kok. Dietku berhasil" aku membela diri selagi bisa.

"Dengan memuntahkan semua makanan yang kamu makan?"

Aku menengok ke arah Richard. Darimana Ia tau?

"Aku tanya sama kamu, berapa banyak rambut kamu yang rontok sekarang? Apa siklus menstruasi kamu lancar?"

"Kenapa kamu mau tau masalah pribadiku?" aku masih memasang pagar tinggi.

"Jawab aja. Itu efek diet ekstrim kamu. Satu lagi, apa kamu selalu mual kalau makan?"

Aku diam. Tau dari mana Ia permasalahanku?

"Gimana? Bener kan pertanyaanku?"

Kini aku yang menghela nafas. Mengakui kekalahanku dari helaan nafasku.

"Iya. Rambutku rontok, tapi enggak banyak. Lalu menstruasi mundur seminggu, kadang dua minggu. Dan sekarang tiap makan semakin mual saja." aku hanya bisa mengakui tanpa mengelak lagi. Kayak ketangkap basah mencuri saja.

"Oke. Gitu dong terbuka. Kita obatin ya dikit-dikit." kini Richard sudah menyunggingkan senyumnya.

"Obatin? Aku enggak sakit. Apa yang harus diobatin. Mau buat aku gendut lagi biar bisa dikatain 'buntelan kentut' lagi?"

"Enggaklah, Sayang. Aku ganti kata obatin jadi perbaiki biar lebih enak di dengarnya. Kita perbaiki pola diet kamu. Kamu bisa tetap diet yang sehat tanpa membuat rambut kamu rontok dan siklus menstruasi kamu berantakan lagi."

Deg.... Sayang? Richard manggil aku Sayang? Rasanya udah lama banget aku enggak dipanggil Sayang. Terakhir saat berpacaran waktu kuliah dulu.

Fokus Del, fokus! Tadi sampai mana ya, oh iya tentang memperbaiki pola diet. Jangan fokus di kata Sayang aja.

"Caranya?"

Senyum Richard semakin lebar mengembang. "Ikutin aja petunjuk dari Babang Icad ini. Oke?"

Walau agak ragu tapi kujawab, "Baiklah."

"Kita mulai hari ini ya. Ayo kita turun."

Ternyata kami sudah sampai di parkiran mobil Mall. Mengobrol dengan Richard membuatku tanpa sadar sudah sampai di Mall.

Aku turun dan menunggu Richard mengunci mobilnya.

"Ayo!" Richard datang dan langsung merangkul bahuku.

Aku merasa risih dibuatnya. Namun Richard santai saja dan terus merangkulku. Kami bagaikan sepasang kekasih yang sedang jalan-jalan di mall.

"Beli apa ya enaknya buat si Oon itu?"

Aku mengernyitkan keningku mendengar perkatan Richard. "Si Oon?"

"Iya. Aku biasa manggil Maya si Oon. Ya kalau lagi bener aku panggilnya Adinda."

"Ubah panggilannya!" protesku. "Maya enggak oon. Dia pintar. Nilai IPKnya aja tinggi. Masa disebut Oon sih!" aku tak terima sahabat terbaikku dipanggil seperti itu.

"Emang dia oon. Jatuh cinta sama Leo sampai dua kali. Padahal ada aku yang lebih keren dari Leo."

"Kamu kenal Leo juga? Terus maksud omongan kamu kok kayak kamu naksir sama Maya sih?"

"Dulu sempet naksir. Cantik, baik, lembut banget eh ternyata oon-nya enggak ketulungan. Ampun deh!"

"Ih apaan sih ngatain orang oon-oon aja! Sama aja tau enggak kamu tuh kayak toxic people yang lain!"

"Eh maaf....maaf. Bukan gitu. Aku mah cuma becanda aja. Aslinya mah aku sama Maya akur. Kompak malah. Makanya Maya mau jodohin kamu sama aku."

"Cuma asal ngomong aja kali Maya mah mau jodohin. Enggak usah dianggep." pasti wajahku memerah deh mendengar mau dijodohin sama Richard.

"Telat. Aku udah penasaran sama kamu sejak lama eh ternyata Adel yang dia maksud tuh kamu. Udah kenal duluan malah. Udah ayo pilih kado, nanti kesiangan mereka pulang duluan lagi." Richard menarik tanganku memasuki toko tas branded.

"Mereka? Memang yang dateng bukan Maya dan Leo doang?" aku menghentikan langkahku tepat sebelum masuk ke dalam toko.

"Enggak lah. Mertuanya Maya ikut. Ngintilin kemana-mana."

Aku mulai ragu. Ketemu sama keluarganya Leo? Sama Mamanya Leo yang waktu itu kami sempat berkenalan di pasar? Yang terlihat banget style orang kayanya.

"Kenapa diam aja? Ragu lagi?"

Aku mengangguk. "Malu kalau ada orang tuanya Leo."

"Kenapa malu?" tanya Richard bingung.

"Ya, aku udah pernah ketemu sama Mamanya Leo dulu sekali waktu Maya belum resepsi. Ketemu di pasar. Keliatan banget gayanya high class. Maya sih mukanya mumpuni dan cantik, bisa membaur dengan yang kayak gitu. Lah aku?" aku kembali menarik diri. Terlalu banyak ketakutan dalam diriku. Andai Richard tau jati diriku yang sebenarnya....

"Udah jangan takut. Sama-sama makan nasi kok takut. Kalau Mama makan besi baru kamu takut. Udah ayo beli kado."

"Ih sok akrab banget manggilnya Mama. Sedeket itu lau?"

"Ya deket lah. Anak kesayangan semua orang gitu. Emangnya kamu enggak sayang sama aku?"

Pertanyaan apa itu? Sayang? Kenal juga baru beberapa kali. Bener-bener sok akrab jadi orang.

"Udah mau nyari kado apa? Enggak enak nih diliatin sama pelayan tokonya sejak tadi berdiri di depan toko tapi enggak masuk!"

"Lah yang pertama kali berhenti siapa?" jawabannya ya aku.

"Eh tapi disini mahal. Maya juga enggak suka barang mahal. Ia lebih suka yang sederhana." aku tau sekali selera sahabatku itu. Enggak mau yang mahal. Cukup yang sederhana.

Inget banget waktu Maya minta anterin ke ITC untuk beli kemeja. Baju ITC yang dipakainya lebih terlihat seperti branded, sedangkan baju branded yang kupakai malah terlihat seperti baju beli di ITC.

"Lalu mau beli kado apa? Ini aja udah bagus. Enggak usah muter-muter."

"Kayak punya uang aja buat beli disini. Mahal tau! Dompet kecil aja bisa 4 juta. Udah kita bikin kado yang unik tapi berkesan aja."

"Iya yang unik tapi berkesan itu kayak apa? Jangan yang ribet." protes Richard.

Lama-lama pelayan toko mulai melihat kami dengan jengah. Berdiri doang di depan toko tapi udah kayak pasangan suami istri yang lagi berantem. Bikin feng shui toko jadi jelek aja.

Tak enak terus ditatap pelayan dengan muka sebal, aku menarik tangan Richard menjauh dari toko mahal tersebut.

"Cie... sekarang udah berani pegang-pegang nih!" ledek Richard. Spontan kulepaskan pegangan tangannya.

"Jangan ge er!"

Richard tersenyum penuh arti dan malah merangkulku. Membuatku tak bisa berkutik karena kalah tenaga dengan badannya yang makin berisi dan berotot tersebut.

Tiba-tiba kenangan di kolam renang kembali melintas di benakku. Dulu aja udah berotot, kalau sekarang makin berotot lagi gimana ya? Wow deh pastinya.

"Kenapa muka kamu merah?"

Aku gelagapan mencari jawabannya. Menurunkan tangan Richard yang merangkulku seraya mengipasi wajahku dengan tangan. "Gerah."

"Masa sih? Dingin kayak gini kenapa gerah?"

Aku harus mengalihkan pembicaraan. Kalau enggak bisa malu aku kalau ketahuan sedang membayangkan tubuhnya yang berotot itu.

"Kalau kasih bingkai foto gimana?"

"Bingkai foto? Bukannya di rumah udah banyak?"

"Yaudah yang lain. Kalau lukisan karikatur gimana?" sebuah ide tiba-tiba melintas di benakku. "Enggak mahal tapi pasti lebih berkesan."

"Karikatur? Nyari dimana? Di mall ini gitu?"

"Ya enggaklah, Malih! Mana ada lukisan karikatur di mall?"

"Dih sama banget kayak Maya, kalau marah nyebutnya Malih... Malih aja. Sekali-kali Bolot kek disebut."

"Eh kok tau? Maya masih suka kayak gitu ya? Ini becandaan kita waktu masih kuliah ha...ha....ha..."

Richard tersenyum melihatku tertawa renyah. "Nah gitu dong. Tertawa. Nikmatin hidup. Jangan terlalu banyak tekanan. Kerjaannya merengut melulu. Cepet tua tau."

Tawaku pun langsung lenyap dalam sekejap. "Udah ayo nanti kesiangan. Kita ke daerah Kota Tua. Let's go!"

Richard kembali mengemudikan mobilnya membelah kemacetan Jakarta. Sabtu, jalanan ramai dengan mobil yang memenuhi jalanan. Membuat perjalanan lebih ngaret lagi.

"Tenang aja, mereka janjiannya sore kok. Aku bohong aja supaya kamu langsung mau diajak pergi." ujar Richard. Sepertinya tau apa yang kupikirkan.

"Ah tau gitu tadi aku tiduran dulu sebentar." gerutuku.

"Nah itu tujuanku. Bikin kamu banyak bergerak. Jalan santai ngelilingin mall lumayan bakar lemak loh. Enggak perlu diet ekstrim kayak yang kamu lakuin."

"Iya... Iya... Itu berhenti disana. Kita parkir dulu. Udah banyak pelukis karikatur disana." aku menunjuk tempat parkir untuk mobil.

Aku dan Richard memilih foto Maya dan Leo dari galeri di Hp Richard. Rupanya Ia menyimpan foto Maya dan Leo saat resepsi kemarin.

Harga lukisan dan bingkai 700 ribu namun Richard minta lukisan langsung selesai hari ini juga. Setelah nego harga dan deal kami pun memboyong lukisan kado ulang tahun untuk Maya.

Richard mengemudikan mobilnya ke kawasan Ancol, di restoran Bandar Jakarta. Setelah parkir kami pun masuk ke dalam.

Tanpa kusadari, kembali Richard menggandeng tanganku dengan tangan kirinya sedang tangannya yang lain membawa bingkai lukisan.

Maya tersenyum saat melihat kedatangan Richard, namun senyumnya berubah menjadi terkejut saat melihat aku muncul dari balik punggung Richard. Dengan digandeng tangannya.

"Adel? Kamu dan Kakanda? Kok bisa?" Maya tak bisa menyembunyikan kebingungannya.

"Happy birthday, Sayang." aku memeluk Maya dan mengucapkan selamat ulang tahun. "Doa terbaik untukmu ya."

"Wait, kok kalian bisa bareng sih?"

"Iyalah. Aku kan sekalian mau ngenalin calon istriku sama kalian semua." perkataan Richard mengagetkan semua orang, termasuk aku.

Calon istri?

****

1
Elis Ayna
Baru balik lagi min ini di ganti gak sih ceritanya
Tika Gemoy
mewekkk lagii😭
Tika Gemoy
tiap kali baca ,masih nangis juga😭😭
Hani Hani
uda baca ini 5x tamat tapi ttp ngakak sm kelakuan richard🤣🤣
Ida Rodiah
Luar biasa
martini
luar biasa
Evi Yolanda
thor buat lah Ndut bucin secepatnya 🤣🤣🤣🤣
Evi Yolanda
jd gedek SM adel .. gendut mang siadel
Ning Fifi
👍👍👍
Ernawati💕
luar biasa
💐Tari Nyonya Sibuea💐
dsr jalang murahan🤮🤮
Ran Aulia
poor Babang Icad 😭😭😭
Ran Aulia
terima kasih kak, ceritanya bagus 🥰🥰🥰🥰
✨️ɛ.
lika liku perjalanan Kakanda dalam menaklukkan hati Neng Adel..
Ei_AldeguerGhazali
Jaksa dan terdakwa wkwk jadi ngakak🤣
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Ei_AldeguerGhazali
Ikut mesem aku del🤣
Ei_AldeguerGhazali
Beneran sengklek sih maya🤣
Ei_AldeguerGhazali
Bang icad udah beneran taubat mah ini🤣🤣👍🏻
Ei_AldeguerGhazali
Ngakak 🤣 bener bgt ya bang icad
Ei_AldeguerGhazali
Gercep bgt dah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!