Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Sagara
Rasa kesal Sephia ke Alan bertahan sampai tiga jam pelajaran berikutnya selesai. Sepanjang guru menjelaskan materi di depan papan tulis, Sephia sama sekali gak bisa fokus. Gimana mau fokus kalau cowok yang baru aja beliin dia bubur ayam dengan cara yang bikin baper, sekarang malah duduk di belakangnya dengan muka sedingin es seolah-olah mereka gak saling kenal?
Bener-bener punya kepribadian ganda nih bocah, cibir Sephia dalam hati sambil mencoret-coret bukunya asal.
Begitu bel tanda istirahat kedua berbunyi, Sephia langsung berdiri dari bangkunya. Dia butuh udara segar buat mendinginkan otaknya yang mendadak panas.
"Pia, mau ke kantin gak?" tanya Hana sambil meregangkan otot-otot lehernya yang kaku.
"Gue mau ke kamar mandi dulu deh, Han, mau cuci muka. Gerah banget rasanya," jawab Sephia lemas.
"Ya udah, gue tunggu di kantin biasa ya," sahut Hana sebelum akhirnya ngacir keluar kelas duluan.
Sephia berjalan menyusuri koridor menuju toilet. Setelah membasuh wajahnya dengan air dingin, dia merasa sedikit lebih segar. Namun, begitu keluar dari toilet dan baru saja selesai mengeringkan tangannya di wastafel dekat koridor tengah, Sephia langsung mengernyitkan dahi begitu mendengar suara jeritan tertahan dari arah lapangan basket indoor. Suasana sekolah yang tadinya tenang mendadak jadi heboh banget.
"Eh, demi apa Kak Saga udah balik dari Jepang?!"
"Iya! Hari ini pertama kali dia masuk sekolah lagi setelah setahun exchange. Gila ya, makin ganteng banget sekarang, auranya kayak cowok-cowok di anime!"
Langkah kaki Sephia langsung terkunci di lantai koridor. Jantungnya mendadak berdegup, tapi kali ini bukan karena takut atau kesal kayak pas bareng Alan, melainkan karena rasa senang yang membuncah.
Kak Saga? Udah pulang? batin Sephia gak percaya.
Sagara itu kakak kelasnya di kelas 12. Di SMA Garuda, dia emang ibarat pangeran sekolah—pintar, supel, dan mukanya ramah banget, tipe-tipe cowok yang gak pelit senyum. Tapi buat Sephia, Kak Saga jauh lebih dari sekadar kakak kelas idola. Cowok itu adalah tetangga masa kecilnya.
Rumah Kak Saga itu letaknya persis di seberang rumah Sephia. Saking dekatnya, jendela kamar Sephia di lantai dua langsung berhadapan sama balkon kamar Kak Saga. Dulu, sebelum Kak Saga pergi ke Jepang, hobi mereka tiap malam adalah buka jendela kamar masing-masing terus saling teriak-teriak gak jelas. Mulai dari nanyain pr, curhat colongan, sampai adu bacot yang ujung-ujungnya berakhir diomelin Mama Sephia karena berisik.
Baru saja Sephia berniat melongok ke arah lapangan basket, sebuah suara bariton yang sangat familier memanggil namanya dari ujung koridor.
"Sephia?"
Sephia mendongak. Di depannya, berdiri seorang cowok jangkung dengan seragam khas kelas 12 yang pas banget di badannya yang tegap. Rambut hitamnya agak acak-acakan gaya modern, dan matanya langsung menyipit membentuk bulan sabit begitu melempar senyum khasnya ke arah Sephia.
"Kak Saga!" seru Sephia spontan, senyum lebar langsung terbit di wajah cewek itu. Beban pikirannya soal Alan mendadak menguap begitu saja.
Sagara berjalan mendekat, lalu tanpa permisi tangannya langsung bergerak mengacak-ngacak rambut Sephia dengan gemas—kebiasaan lamanya yang paling Sephia kangenin. "Lama gak ketemu, makin kuntet aja kamu ya?"
"Ih, Kak Saga! Bukannya Pia yang pendek, Kakak aja yang meninggi banyakkk!" protes Sephia sambil cemberut, bikin Sagara tertawa renyah.
"Nih, oleh-oleh khusus buat kamu. Sengaja aku simpen satu kotak paling bagus dari Jepang," ucap Sagara sambil menyodorkan sebuah kotak cokelat premium kemasan cantik bermerek Jepang.
"Wah, beneran Kak? Asyik, makasih banyak ya! Repot-repot banget ih," Sephia menerima kotak itu dengan mata berbinar-binar kegirangan.
Tapi, di tengah momen manis itu, Sephia gak sadar kalau dari ujung koridor seberang, ada sepasang mata tajam yang lagi memperhatikan mereka berdua.
Alan baru saja keluar dari ruang guru bareng beberapa anak kelas 11 lainnya. Langkah kakinya mendadak berhenti total begitu melihat Sephia sedang tertawa lepas di depan cowok lain—pemandangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Biasanya kan Sephia cuma masang muka cemberut, galak, atau salah tingkah yang panikan kalau di depan dia.
Rahang Alan mendadak mengeras sekilas. Tatapan matanya yang biasa datar, kini berubah jadi sedingin es dan menusuk tajam ke arah Sagara. Aura di sekitar Alan mendadak jadi mencekam, sampai-sampai teman di sebelahnya refleks menjauh karena mendadak merinding.
Tahu ada yang memperhatikan, Sagara menoleh. Matanya langsung beradu dengan tatapan dingin Alan. Sebagai sesama cowok, ada radar tidak kasat mata yang langsung berbunyi di antara mereka berdua. Tensi di koridor itu mendadak terasa tegang banget.
"Dia... anak baru yang lagi rame diomongin anak-anak ya?" tanya Sagara santai, matanya kembali menatap Sephia setelah mengamati Alan sekilas.
"Ah... iya, namanya Alan. Kebetulan sekelas sama Pia, Kak," jawab Sephia agak canggung, karena dia juga bisa merasakan hawa intimidasi dari arah Alan.
Sagara cuma tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Sephia pelan. "Ya udah, dimakan ya cokelatnya. Aku ke ruang guru dulu. Nanti sore pulang bareng ya."
"Siap, Kak!"
Begitu Sagara berbalik dan pergi, Sephia berniat kembali ke kelasnya. Namun, baru juga berjalan beberapa langkah, dia menyadari suasana di koridor sudah berubah. Beberapa siswi kelas 11 dan 12 yang berdiri gak jauh dari situ terang-terangan memberikan tatapan sinis ke arahnya.
Selama ini, Sephia itu tipe murid biasa yang damai, ramah, dan gak punya musuh sama sekali di sekolah. Tapi hari ini, gara-gara kemarin dipepet anak baru seganteng Alan, ditambah hari ini langsung disamperin pangeran sekolah sekelas Kak Saga, pandangan cewek-cewek ke Sephia langsung berubah drastis.
"Dih, sok kecantikan banget sih si Sephia. Kemarin mepet si anak baru, sekarang pas Kak Saga balik, langsung caper lagi," bisik seorang cewek berambut sebahu di dekat mading, sengaja dikerasin biar Sephia denger.
"Iya, maruk banget. Semua cowok populer di sekolah ini mau diembat sendiri sama dia kali," sahut temannya dengan pandangan sinis.
Sephia menghela napas berat, hatinya mendadak mencos. Dia meremas kotak cokelat di tangannya dan mempercepat langkah menuju kantin dengan perasaan campur aduk. Sephia baru sadar, kehadiran dua cowok populer yang kebetulan sama-sama tetangganya ini, tampaknya bakal bikin masa-masa indahnya di sekolah berubah jadi zona perang.