Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Motor Misterius
Suara riuh di kampus mulai terdengar samar. Jeviza sedang berjalan bersama ketiga temannya, rencananya mau mengadakan pesta kecil di kamar kos Sisil. Hari ini terakhir kegiatan OSPEK, dan mereke berencana memberi salam perpisahan pada kegiatan yang menguras tenaga dan pikiran selama beberapa hari kemarin.
"Mampir minimarket depan dulu yuk, beli cemilan," ajak Sisil disetujui mereka.
Jevi hanya menurut saja, ia belum hapal daerah kampus, karena selama masa OSPEK kemarin, kegiatannya hanya datang dan pulang tepat waktu. Tanpa nongkrong seperti teman-temannya yang sudah mulai paham kafe terdekat, juga rumah makan enak di daerah kampus.
Setelah selesai dengan beberapa kantong plastik yang berisi minuman dan cemilan, Jevi dan teman-temannya kini kembali berjalan menuju kos, terdengar obrolan ringan yang membahas seputar OSPEK diselingi tawa.
"Bay the way, kok beberapa hari ini kak Kean nggak keliatan ya? Tadi aja muncul pas penutupan doang," ujar Naura diangguki setuju Sisil.
Dari ke empatnya, Sisil dan Naura memang yang paling sering membahas Keandra, sementara Tevi lebih banyak diam, dan berkomentar jika perlu saja.
"Gue rasa, kak Kean bukan mahasiswa sembarangan," suara Tevi menyahut.
Gadis yang biasanya diam dan enggan berkomentar itu ternyata mendengarkan keluhan Naura tadi.
"Maksud lo, dia mahasiswa super?" tebak Sisil seketika membuat Tevi memutar bola matanya.
Sangat kentara wajah jengah Tevi, jika harus menjelaskan secara rinci.
"Nggak gitu, udah ah, nggak mau bahas itu," tolak Tevi cepat, tetapi Sisil dan Naura yang sudah kepalang penasaran mendesak Tevi untuk menjelaskan maksud gadis itu. Mau tidak mau Tevi menjelaskan agar keduanya berhenti bertanya tentang cowok populer di kampusnya itu.
"Ih Tevi, buru jelasin," rengek Naura menggoyangkan lengan Tevi, perisis seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Jelasin Tev, kita bakalan tetep nanyak terus sampai kos," tambah Sisil mengancam.
Tevi berdecak, melirik keduanya secara bergantian sebelum bersuara.
"Katanya fans, tapi kok nggak tahu hal kecil dari orangnya?" sindirnya halus.
Sisil dan Naura saling pandang, keduanya lalu melirik Jevi yang mengangkat kedua bahunya, seakan tidak mau ikut campur.
"Apa sih maksud lo? Buru deh Tev jelasin, nggak usah muter-muter."
Tevi menghembuskan napas panjang, membenarkan letak kaca mata di pangkal hidungnya.
"Ya kalian liat aja, dari sekian kating yang kita temui, cuma dia aja kan yang dari ujung rambut sampai kaki barangnya brand**ed semua."
Penjelasan sederhana Tevi berhasil membuat Sisil dan Naura saling pandang, sebelum keduanya menatap kembali ke arah Tevi dengan serius.
"Terus? Terus?" tanya Sisil penasaran.
"Gue pernah liat kak Kean bawa mobil sport, tapi parkirnya emang agak jauhan dari kampus, maybe biar nggak pada tau ya," jelas Tevi mengingat di hari pertama OSPEK melihat mahasiswa yang memarkirkan mobil mewahnya di depan kafe dengan jarak yang lumayan jauh dari kampus.
Dan ternyata yang dilihat itu salah satu kakak tingkat yang menjadi perbincangan para maba sekarang, termasuk kedua temannya.
"Hah? gila, dia orang kaya dong, tapi nggak mau sombong," ujar Sisil semakin kagum dengan kakak tingkat tampan tapi dingin itu.
"Stecu-stecu ya kak Kean, aw," lanjut Naura tersenyum gemas sendiri.
"Fyi, gue bakal jadi orang pertama yang duduk di sebelah kemudi kak Kean." Sisil menyibakan rambutnya dengan gaya mempesona.
"Mimpi aja terus," komentar Naura membuat Sisil mendengus kesal, tetapi tawa Tevi dan Naura malah semakin kencang.
Dan Jevi, gadis yang sedari tadi memilih diam dan enggan menanggapi merasa dirinya semakin kecil, menjauh dari Kean memang pilihan yang paling tepat, setelah mulai kelas di kampusnya nanti, Jevi berniat untuk menghindari apapun itu yang menyangkut tengang Keandra.
Perbedaan keduanya semakin kentara, bahkan 2 tahun tidak bertemu, membuat Jeviza sempat terkejut melihat perubahan tubuh Keandra yang semakin tinggi dan terlihat lebih tegap dari pas masa SMA.
Sementara Jevi, tidak ada yang berubah dari dirinya. Jevi merasa 2 tahun lalu dan sekarang sama saja, paling ukuran bra yang kini mulai nambah karena pertumbuhan usia.
Mengingat itu Jevi menggelengkan kepalanya dengan pikirannya yang konyol.
"Je, lo kesambet?"
"Hah? Kenapa?" bingung Jeviza ditatap selidik ketiga temannya.
"Lo, aneh, tadi diam aja, sekarang senyum-senyum sendiri gitu, jangan bilang lo juga lagi bayangin kak Kean dengan tubuh shirtless nya," tuduh Naura langsung mendapat gelengan kepala Jevi.
"Apa sih? Gue bukan kalian ya?" elaknya, setengah benar, setengah salah.
Jevi memang lagi memikirkan Keandra, tetapi bukan membayangkan hal aneh seperti kedua temannya.
"Halah, nggak papa kali Je, kita nggak akan cemburu, lo normal kalau suka juga sama kak Kean."
Jevi mendengus, berjalan cepat mendahului ketiganya.
"Jangan ngaco, bisa lebih cepet nggak jalannya? Keburu sore ini."
Ketiganya tertawa meliha wajah Jeviza yang memerah, tetapi tidak lagi menggoda dengan tuduhan seperti tadi.
Acara makan-makan di kos Sisil telah usai. Palstik yang tadi berisi dengan cemilan dan minum kini berganti menjadi sampah.
Jevi duduk di karpet bulu bersama dengan Tevi dan Sisil, sementara Naura merebahkan diri di ranjang kos Sisil.
"Nginep aja Je, telpon deh kakak lo," ujar Sisil melihat gerimis yang mulai datang di malam ini.
Jevi menggeleng, ia sudah memesan taksi dan tinggal menunggu sebentar saja.
"Kapan-kapan aja, gue masih mau jadi anak baik dulu biar kak Pus nggak ngomel mulu."
"Kak Pus? Memangnya namanya pus-pus?" tanya Naura seketika membuat Jevi tertawa.
"Puspa, tapi panggilan singkat yang paling bagus emang kak Pus, dari kak Pa."
Mereka tertawa terbahak mendengar penjelasan Jevi, tidak tahu saja kalau yang sedang ditertawai mereka bisa murka jika mengetahuinya.
"Eh, gue balik ya, taksinya udah nunggu di bawah," ujar Jevi pada temen-temennya.
"Bawa payung Je, gue ada payung," balas Sisil mendapat gelengan kepala Jevi.
"Nggak usah, aman kok," teriaknya.
Ketiganya melihat kepergian Jevi dari depan kamar Sisil yang berada di lantai 3, lalu melambaikan tangan sebelum Jevi masuk ke dalam taksi yang di pesannya.
Jevi melirik ke arah ponselnya yang terus bergetar. Nama orang yang sedari tadi ditertawakan teman-temannya tertera di sana.
"Halo kak."
Lo masih di kos temen Je? Gue uda nyuruh mas Arlo buat jemput
"Nggak usah kak, gue udah lagi jalan pulang ini."
Naik apa malam-malam gini?
"Taxi, mas Ar nggak usah jemput, bentar lagi juga sampe."
Setelah sambungan tertutup, Jevi bersandar pada kursi penumpang, ia melihat jalanan dari balik kaca. Suasana Jogja yang sangat menenangkan meski sedang diguyur hujan.
Sampai tidak terasa, taxi yang membanya kini telah sampai di depan pagar rumah tempat tinggalnya. Jevi segera turun dari taksi.
"Makasih ya pak," ujarnya segera masuk.
Sampai di teras, Jevi merapihkan baju yang basah karena baru saja menerobos hujan. Puspa tiba-tiba datang dengan payung di tangannya.
"Aduh, kok nggak bilang sih kalau udah mau sampai? Basah kan? Kenapa nggak nunggu di mobil dulu? Biar gue bawain payung."
Omelan Puspa seperti angin lalu saja bagi Jevi. Atensi gadis itu teralihkan pada motor besar yang terparkir di sebelah mobil Arlo.
Kendaraan yang mengingatkan pada masa lalunya. Sangat persis seperti milik masa lalu Jevi. Bahkan ada getaran dalam dirinya hanya dengan melihat motor yang terparkir itu.
Mikir apa sih Je? Emang di dunia ini cuma dia yang punya motor kaya gitu
"Heh, ngalamun, buruan keringin dulu rambut lo, masuknya lewat pintu sebelah aja Je."
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!