Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Penyusup.
Malam harinya, Selena duduk di tepi ranjang, seperti malam-malam biasanya gadis itu selalu sendiri terkurung di dalam kamar mewah bernuansa gelap ini. Sunyi, sepi kian mencengkam, setelah beberapa menit gadis itu mencoba untuk melangkahkan kakinya, duduk di tepi jendela, sejenak ia mulai memejamkan menatanya menikmati angin malam yang lewat dari arah jendela.
Ia merasakan hawa sejuk menembus ke uluh hatinya setelah seharian bercekcok dengan Valen yang membuat hatinya bergejolak, Selena menatap ke arah luar, seketika ia mendengar bunyi loncatan kaki dari arah samping kamarnya.
Selena terperanjat, segera tangannya terulur untuk menutup jendela besar itu, langkahnya mulai kembali keatas tempat tidur, di sini ia hanya bisa terduduk sambil meremas ujung seprai disaat bayangan pria di luar sana yang memakai baju serba hitam ada di depan jendela besar.
"Tolong ... di depan ada orang!" teriaknya, dengan nada ketakutan.
Dengan cepat pria berpakaian hitam itu langsung mencongkel jendela besar itu menggunakan alat yang sudah ia bawah terlihat sudah pengalaman dari terlatih sehingga tidak membutuhkan waktu lama jendela sudah bisa terbuka.
Selena mencoba untuk teriak lagi sekuat tenaganya. "Tolong... ada penyusup di kamar ini!" teriaknya sekencang-kencangnya.
Dua penjaga yang di depan pintu kamar Selena langsung membuka pintu, tapi sayang Selena sudah dibawa oleh pria itu keluar melalui jendela depan.
"Segera bawa gadis ini," ucap suara lainnya dengan nada dingin.
Selena dipaksa mundur, punggungnya membentur dinding, terasa sakit. Tangan kasar sudah hendak meraih lengannya, hampir saja gadis itu di bawa terjun ke dasar tanah.
"Ja ... Jangan aku gak berani," cegah Selena.
"Jangan banyak omong gadis nakal!" bentak pria itu.
DOOOR! DOOOOR!
Tiba-tiba suara tembakan menggema. Satu pria topeng terjatuh bersimbah darah, sementara yang lain cepat menunduk, melihat gerakan cepat dari kedua penjaga tersebut.
"Jangan mencoba melarikan diri jika tidak mari seperti rekanmu," ucap salah satu penjaga Selena.
Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka lebar. Valen muncul dengan pistol di tangan, sorot matanya tajam penuh amarah. Jas hitamnya berkibar saat ia melangkah masuk, hatinya mulai berdesir di saat melihat miliknya di sentuh oleh pria lain.
“Sentuh dia sekali lagi… dan kau mati di tempat,” ucap Valen, dingin namun menggelegar.
Pria bertopeng yang tersisa dua masih menunduk dan saling pandang, seolah taktiknya masih di jalankan, dengan cepat, kaki salah satu pria itu melangkah menghampiri Selena yang ada di sudut kamar.
"Kau masih mau melawanku," ucap pria itu sambil mencabut pisau lipatnya dari balik jaketnya lalu mulai ditempelkan ke arah wajah Selena.
Selena menegang ketakutan, wajahnya langsung pucat tubuhnya dipenuhi oleh keringat dingin bibirnya bergetar hebat.
"Sekali lagi kau berani menyentuh milikku maka ... kau akan mati di tempat," ucap Valen dengan amarah yang sudah membuncah.
Seketika fokus Valen mulai terpecahkan antara pria yang bersama Selena dan pria satunya lagi yang di ujung sana. Kedua penjaga Valen sudah siaga, ujung pistol mereka mengarah ke kepala pria bertopeng itu, namun tak ada yang berani bergerak sembarangan. Ketegangan memuncak, setiap detik serasa lama.
Valen mulai mengambil satu langkah ke arah Selena, dengan tangan yang masih menjulurkan pistolnya, sejenak jemarinya mulai sedikit menarik pelatuk, dan "DOOOR" pria ya ada di samping Selena tumbang, dengan yang bersamaan rekan pria itu mulai menembakkan peluruh ke arah Valen akan tetapi kedua penjaga itu lebih dahulu menembakkan peluruh ke arah lawan hingga keduanya tumbang dengan cara yang bersamaan.
Selena menggigil, air matanya menetes pelan. Valen menatapnya sekilas, seolah berusaha menyalurkan ketenangan lewat sorot matanya, meski wajahnya tetap garang dan berbahaya.
Ketika Valen hendak melindungi Selena tiba-tiba saja anak buah Robin yang lain langsung bergerak cepat. Suasana di lorong rumah Valen berubah menegangkan, teriakan para pelayan dan pertempuran antara penjaga dan musuh menggema terdengar sampai ke dalam kamar.
Pertarungan di rumah ini pecah, semua penjaga melawan musuh yang jumlahnya lumayan banyak. Begitu juga dengan Valen, yang berusaha untuk tetap menjaga Selena dan menghadapi musuh yang sudah ada di depan mata.
"Kau tetap tenang di situ ingat jangan kemana-mana," pesan Valen dengan suara beratnya.
Valen berdiri tegak diambang pintu mengatur strategi, langkahnya sudah mantap sambil menjulurkan pistol ke arah lawan, dengan sekali hentakan, timah panas itu sudah melayang ke arah lawan, sementara pria bertopeng lainnya masih mencoba untuk melawan Valen dari arah yang berlawanan.
"DOOOR ... DOOOR ....!" sebisa mungkin Valen menghindari tembakan dari arah lawan.
Tubuh Valen kini bersembunyi menempel dibalik tembok, tembakan terus saja melayang ke arahnya. Ketika lawan sudah mulai kewalahan tangan Valen bergerak dengan cepat menarik pelatuk dan menembakkannya ke arah lawan.
Aksi tembak-tembakan berlangsung lama, hingga di kubu lawan sebagian tumbang dan sebagian lagi lemah tidak berdaya, Valen segera mendekat, namun lawan yang sudah terluka mencoba untuk menembakkan pelurunya ke arah Valen, dengan cepat Valen menepis tangan pria itu dengan sekali tendangan.
"Buuuugh...," pistol lawan jatuh seketika.
Dengan penuh amarah Valen mulai menendang perut lawan sehingga terhuyung ke lantai, hampir saja Valen menginjak wajah lawan dibawahnya akan tetapi teriakan Selena menghentikan langkahnya.
“Valen, cukup! Jangan bunuh mereka ...” suara Selena bergetar, ia setengah berusaha menahan Valen, setengah takut dengan sorot matanya.
Valen tak menggubris dengan teriakan Selena, darahnya sudah mendidih amarahnya mulai memuncak, ketika istananya mulai diserang oleh lawan. “Aku tidak pernah main-main dengan siapa pun yang berani menyentuh apa yang menjadi milikku,” ucapnya, setiap kata seakan menjadi ancaman dan peringatan.
Ia lalu menunduk, meraih dagu salah satu pria yang sudah tak berdaya, memaksanya menatap. “Bawa pesan pada bos kalian,” bisiknya dingin, “katakan… Valen tidak pernah kalah dalam perburuan. Kalian datang ke sarang ku berarti kalian siap mati.” ucapnya pelan tapi menusuk.
Valen mulai menambahkan tendangan sebagai kenang-kenangan terakhir untuk lawannya itu.
Selena gemetar, menyaksikan bagaimana Valen bergerak cepat, menendang dan menembak lawan tanpa ragu. Darah berceceran di lantai, adegan itu membuat perut Selena mual, tapi di sisi lain ia sadar: Valen benar-benar mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi.
Dalam hitungan menit, semua penyerang berhasil dilumpuhkan. Sebagian tewas, sebagian lagi menyerah. Rumah kembali sunyi, hanya tersisa suara napas Selena yang terengah.
Valen menyarungkan pistolnya, lalu mendekat ke Selena yang masih terpaku di sudut kamar. Ia jongkok di hadapannya, menatap lurus dengan sorot mata yang kini lebih lembut.
“Sekarang kau tahu…” ucapnya pelan namun tegas. “Kurungan ini bukan sekadar penjara. Ini benteng. Dan aku… akan berdiri di depanmu, meski harus berlumuran darah setiap malam.”
Selena menatapnya, bingung antara takut, marah, atau tersentuh. Hatinya berdebar kencang, tak bisa dipungkiri, ada rasa aman sekaligus ancaman dalam sosok pria itu, tanpa sadar gadis itu mulai memeluk erat tubuh Valen yang sudah dipenuhi keringat.
Bersambung ....
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf