Status simpanan itulah yang harus disandang wanita cantik bernama Dista karna sebuah kesalahan fatal yang ia lakukan dengan suami sahabat karibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Leo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Bab 11
.
.
.
Ibu Diana membantu Dista duduk setelah melihat Dista lemas karna memuntahkan semua isi diperutnya.
"Dista maafkan ibu ya.. Ibu tidak tau kalau Dista sekarang tidak suka ikan bakar.."Ucap Ibu diana
"Ibu jangan minta maaf, mungkin karna efek perut Dista yang lagi nggak enak.."Balas Dista.
"Kakak istirahat saja."Saran Via.
Dista mengangguk setuju. "Buk, Dista pamit dulu ya.. mau istirahat."
"Tidak tidur disini dulu?? nanti kalau kau muntah lagi bagaimana?"balas Buk Diana dengan wajah kawatir.
"Tidak akan buk.. "Diana perlahan beranjak dari duduknya dan segera melangkah keluar meninggalkan ibu Diana, Via dan Rayyan yang sejak tadi hanya diam
Sepeninggal Dista dan Via yang sudah masuk kekamar, Ibu diana mencegah Rayyan yang juga hendak masuk kekamarnya.
"Rayyan.. tunggu dulu.."
"Ada apa buk?? " Tanya Rayyan.
"Itu, ibu kok merasa aneh ya.. si Dista, kayak orang lagi Hamil, bau amis ikan langsung muntah."Buk Diana mengatakan keganjilan dihatinya.
Rayyan terdiam sesaat. "Bukanlah buk.. Mungkin karna lambungnya memang sedang bengkak. kemarin dokter bilang seperti itu."
"Ya ampun Dista, lambung bengkak kok tidak mau dirawat.. kau sering-sering lihat Dista kerumahnya ya?? kasihan kalau dia ngeluh mules atau lemes, dia kan tinggal sendiri."Celoteh ibu.
"Iya. Rayyan kekamar dulu."Rayyan melenggang masuk kedalam kamar.
.
.
Dista merebahkan tubuhnya ditempat tidur. tidak ada yang menyenangkan kecuali hanya tidur.
Ponsel Dista berbunyi, tertera nama Arumi disana. meski ragu,Dista segera menerimanya.
"Halo Rum.. ada apa?? "
"Dista, kau kemana?? dirumah sakit tidak ada..??" Arumi bertanya
"aku sudah pulang, kau kerumah sakit ya?? " Dista bangun dari tidurnya.
"Iya, Ya sudah. tunggu ya aku kerumahmu."Arumi langsung mematikan panggilannya.
Dista yang awalnya hendak bicara menghela nafasnya panjang. Ia masih belum siap bertemu Arumi dengan apa yang terjadi dengannya.
.
.
Jam makan siang,Aqil berniat mengunjungi Dista kerumahnya.Hati pria itu entah mengapa malah terus kefikiran Dista.
Tanpa mengindahkan sapaan dari Karyawan lain, Aqil terus melangkah keluar dari kantornya.
.
.
Arumi masuk kekamar Dista dengan mangkuk berisi sup buatannya.
"Taraaa.... sudah jadi."Arumi meletakkan mangkuk disisi ranjang Dista.
"Kau seharusnya tidak perlu Repot Rum.."Balas Dista.
"Kau mual kalau makan nasi. setidaknya kau harus tetap makan. ini sup jagung tanpa amis-amis.."Arumi hendak menyuapi Dista.
Namun saat Arumi hendak menyuapi dista, Arumi malah melihat Dista menangis.
"Loh..loh..loh.. kau kenapa??!! kenapa malah menangis?? " Arumi buru-buru meletakkan kembali mangkuknya dan memeluk Dista dengan erat sembari mengusap punggung Dista berusaha menenangkan Dista yang terisak.
"Tenanglah Dista, kenapa kau malah menangis?? tenang ya.."
"Terima kasih.. terima kasih.."tidak ada yang lain yang diucapkan Dista, lidahnya ingin mengungkapkan kesalahan besarnya, namun Semua sangat sulit.
"Iya..iya.. jangan seperti itu.. Kita sahabat Dista.. jangan bicara begitu.. Kau harus kuat dan lawan sakitmu.."Ucap Arumi
Dista hanya menjawab dengan anggukan dan terus terisak lalu mengeratkan pelukannya.
Aqil urung masuk kekamar Dista, Ia yang sedari tadi menguping pembicaraan istrinya dan Dista. seketika rasa bersalah Aqil muncul.
.
Didalam mobil Aqil terus mengusap kasar wajahnya terus menerus kepalanya terasa pusing dengan apa yang tengah terjadi saat ini. Rasa bersalah dan ingin bertanggung jawab bergulat dihati Aqil bagaimana ia harus menyikapi semua ini. dua wanita yang kini harus menjadi tanggung jawabnya.
.
.
.