Apa yang paling di inginkan setiap Kultivator didunia ini? Tentu saja kekuatan. Kekuatan adalah segalanya didunia ini, jika kamu tidak cukup kuat maka sesuatu yang menunggu adalah kematian. Oleh karena itu, untuk menjadi kuat semua hal akan dilakukan, meski itu harus membunuh demi sumber daya yang terbatas.
Tetapi terdapat seorang pemuda yang memiliki tujuannya sendiri, yaitu kedamaian. Dia menggunakan kekuatan sebagai alat untuk mencapainya. Setiap ayunan pedangnya akan menghancurkan kegelapan dari sisi kehidupan. Dengan pedangnya, dia akan membunuh segala musuh yang menghalangi langkahnya.
Namanya adalah Li Hui, pemuda berambut putih dengan iris emas yang setiap tatapannya akan menghancurkan mental setiap orang. Dan dengan bakatnya, dia akan memimpin setiap Kultivator melawan musuh yang sudah kelaparan selama ribuan tahun.
"Inikah akhirnya?"
Ucap Li Hui dengan pedang ditangan kirinya, memandang sedih kearah langit malam tanpa bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Levifq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.10 Zhu Yan
Sudah 2 jam berlalu, tetapi Shu Juan dan kedua rekannya masih dengan sabar menunggu patriak Qifan keluar dari ruangan Li Hui.
"menurutmu apa saja yang mereka bicarakan? " tanya Xu Nan.
"entahlah, tapi menurutku ini sudah terlalu lama" balas Shu Juan.
"benar, ini sudah terlalu lama hanya untuk memastikan sesuatu.. Kalau menurutmu Saudara Bong?" tanya Xu Nan lagi kepada pria paruh baya yang bernama Ki Bong.
"entahlah, tapi apapun yang mereka bicarakan, aku sudah mulai bosan disini" balas pria paruh baya berbadan besar itu.
"kau benar, aku juga sudah bos......" perkataan Xu Nan terputus setelah melihat Patriak Qifan keluar dari ruangan Li Hui.
Krietttt
"bagaimana patriak?" ucap Xu Nan.
"memang benar bahwa anak itu tidak tinggal diklan Utama maupun klan cabang, melainkan disebuah desa kecil dipinggir hutan Wuda." ucap Patriak Qifan.
"jadi apa maksudnnya patriak?." tanya Shu Juan.
" biasanya seseorang yang tidak tinggal lagi didalam klan, sudah dianggap bukan anggota keluarga lagi. Tetapi anak itu tidak mau memberitahu lebih jauh mengenai itu."
"lalu apa yang harus kita lakukan patriak? Bukankah sekte kita akan berada dalam masalah jika klan Li mengetahui hal ini?"tanya Xu Nan.
"sejauh ini aku bisa menangkap 2 poin penting dari masalah ini. Yang pertama kita bisa membuatnya menjadi murid disekte ini dan kemungkinan dia akan menopang sekte kita menjadi lebih baik dimasa depan"
"lalu apa yang kedua patriak?"
"yang kedua, sekte kita akan jatuh kedalam masalah besar suatu hari nanti" ucap Patriak Qifan membuat Shu Juan dan yang lainnya terdiam.
"jadi apa pilihanmu patriak?.."
"anak itu tidak memiliki tempat tujuan setelah ini, jadi lebih baik jika dia menetap di sekte ini"
"apakah dia setuju menjadi murid disekte kecil ini patriak?"
"kebetulan 2 hari lagi sekte kita akan membuka penerimaan murid baru, jadi aku bermaksud mengangkatnya sebagai murid langsungku, tetapi dia menolak dan mengatakan akan bersaing bersama calon murid lainnya."
Ketiga orang itu tidak tahu harus menanggapi seperti apa mengenai hal ini, apakah mereka harus senang, terkejut, takut, atau merasa kasian? Jadi mereka hanya berdiri dengan diam ditempat masing-masing.
"hei hei, bukankah itu adalah kabar baik? Seorang jenius dari klan Li akan menjadi murid disekte kita. Kenapa kalian seolah tidak senang dengan ini?" Patriak Qifan merasa heran dengan reaksi ketiga tetua didepannya. Bukankah ini adalah kesempatan yang sangat langka? bahkan tidak semua klan besar bisa merekrut murid dari salah satu 4 Holys Clan.
"bukan seperti itu patriak, kami juga sangat senang apabila dia menjadi murid disekte kita, tapi setelah mendengar ancaman yang akan mengintai kita, membuat kami tidak tahu harus menanggapi seperti apa" jawab Shu Juan.
"huft, sebenarnya kita tanpa melakukan apapun juga akan jatuh kedalam masalah besar suatu hari nanti. Coba pikirkan bagaimana jika sekte kita tidak berkembang sama sekali, sementara kedamaian ini pasti akan berakhir dimasa depan. Jadi, setidaknya kita harus keluar dari zona nyaman dan mencoba ikut dalam persaingan sekte-sekte kuat." ucap Patriak Qifan.
"apa yang dikatakan patriak benar, anak itu akan menjadi peluang bagi kita dimasa depan! Kita harus berubah untuk menjadi sekte yang kuat dimasa depan!!" ucap Xu Nan dengan semangat. Sementara Shu Juan dan Ki Bong hanya menatapnya dengan tatapan aneh.
Disisi lain, Li Hui sedang duduk bersila sambil memeriksa cincin yang diberikan ibunya lebih jauh. Dan setelah melihat-lihat selama beberapa menit, dia tidak menemukan apapun yang cukup berharga selain pil dan beberapa sumber daya ringan untuk dantian es.
"apapun yang terjadi aku harus meningkatkan kekuatanku secepat mungkin, agar aku bisa pergi menjelajahi dunia ini" ucap Li Hui sambil menyudahi kegiatannya. "tapi apa yang harus kulakukan?" ucapnya lagi.
Tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaanya, pemuda berambut putih itu memutuskan untuk bermeditasi. Selain untuk menenangkan pikirannya, dia juga ingin mencari jawaban akan langkah yang harus dia ambil dimasa mendatang.
Li Hui membuka matanya setelah 5 jam bermeditasi, tetapi tetap saja dia belum menemukan jawaban yang dia inginkan.
lalu dia bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu, dia ingin berjalan-jalan keluar untuk mengetahui selak-beluk sekte ini karena bagaimana pun dia akan tinggal disini dalam waktu yang lama.
Sekte Bintang Biru adalah sekte kecil aliran putih sehingga wilayahnya tidak terlalu besar, tetapi meski begitu sekte ini masih memiliki banyak tempat tinggal untuk menampung semua muridnya.
Sekte ini berdiri disebuah dataran tinggi yang berdekatan dengan tebing yang cukup curam. Diseberang tebing tersebut hanya ada sungai dan hutan belantara yang cukup luas, sedangkan beberapa ratus meter disebelah utara sekte ada sebuah pemukiman yang cukup padat.
Li Hui terus berjalan mengitari sekte dengan ringan, dan sedari tadi dia sudah menjadi pusat perhatian beberapa murid, tetapi pemuda berambut putih tidak menghiraukan mereka dan terus berjalan hingga akhirnya sampai dihutan yang berada dibelakang sekte.
Bermaksud untuk mencari ketenangan, Li Hui terus melangkah memasuki hutan dan sampai dipinggir tebing.
"hm, ini tempat yang cocok untuk mencari ketenagan." ucap Li Hui sambil mendudukkan pantatnya disebuah batu yang cukup datar tepat dipinggir tebing.
Tebing ini bukanlah tempat yang populer dikalangan murid-murid sekte bahkan mungkin tempat yang tak ingin mereka kunjungi, karena sebenarnya hutan dibelakang Sekte Bintang Biru tersebut dipenuhi oleh beberapa jenis binatang buas.
Sedangkan tingkat kultivasi murid-murid sekte yang berumur sekitar 10-18 tahun, masih berada ditingkat Pulse Condensation Stage ke 1-3, jadi mereka harus menghindari tempat itu jika tidak mau berubah menjadi potongan daging.
Berbeda dengan Li Hui yang sudah menetapkan jika ini akan menjadi tempat favoritnya, meskipun dia sudah mengetahui dari Patriak Qifan bahwa hutan yang memisahkan sekte dan tebing dipenuhi oleh binatang buas.
Tak berselang lama setelah sampai ditebing, Li Hui merasakan kehadiran sesuatu yang sedang mendekat kearahnya. Lantas dia langsung berdiri dan mengeluarkan pedangnya dari cincin ruangnya.
'Ghrrrrrr!'
Beberapa detik kemudian, terlihat seekor macan kumbang yang seukuran dengan tinggi badan Li Hui berjalan keluar dari dalam hutan dengan tatapan penuh lapar.
"hanya binatang buas tidak akan membuatku takut!" Li Hui mengangkat pedangnya dan mengambil posisi siap bertarung.
Tetapi belum saja dia akan bergerak, dia kembali merasakan sesuatu yang mendekat kearahnya dengan kecepatan tinggi.
' groooar' macan kumbang yang kelaparan itu berlari kearah Li Hui dengan sangat cepat membuat Pemuda berambut putih itu tersandung kakinya sendiri karena terkejut akan serangan mendadak itu.
'swuuuush' saat rahang besar macan kumbang itu tepat didepan wajah Li Hui, terlihat sebuah pedang yang bergerak cepat keleher binatang buas tersebut hingga memisahkan kepala dari tubuhnya.
'craaat' cipratan darah berserakan dimana-mana bahkan wajah dan tubuh Li Hui juga terkena.
"kau tidak apa-apa?" terdengar suara pria yang membuat Li Hui sadar dan mengalihkan pandangannya kearah pria tersebut. Dia adalah seorang pemuda yang berusia sekitar 20 tahunan, memiliki rupa yang tampan dengan rambut warna hitamnya.
Li Hui bisa merasakan dan melihat dari auranya bahwa senior didepannya ini sudah menembus Pulse Condensation Stage ke 5 sama dengan dirinya..
"aku baik-baik saja senior..terimakasih atas bantuannya" balas Li Hui sambil berdiri lalu membungkukkan tubuhnya.
"kakak Yan! tunggu aku..!" teriak seseorang disaat pemuda bernama Zhu Yan itu ingin kembali bertanya kepada Li Hui.
Dan beberapa saat kemudian, seorang pemuda yang terlihat seumuran dengan Li Hui tiba ditempat mereka dengan nafas terengah-engah sambil bersandar kebatang pohon "ka..k Yan, kau l.ari terlalu cepat" ucap pemuda itu dengan nada terengah-engah.
Terlihat dari auranya pemuda itu masih berada di Pulse Condensation Stage Ke 1
"ah, aku lupa. Perkenalkan namaku adalah Zhu Yan dan ini adalah adikku Zhu Fian" ucap Zhu Yan kepada Li Hui.
"namaku Li Hui senior."
"Maka aku akan memanggilmu junior Hui" sambut Zhu Yan sambil sedikit melirik kearah Zhu Fian yang masih belum bisa mengatur nafasnya. "tapi, bagaimana kau bisa sampai ketempat ini? Bukankah patriak mengatakan bahwa tempat ini adalah daerah terlarang?" ucapnya lagi. Sebenarnya dia tidak bisa merasakan aura kultivasi dari tubuh Li Hui sehingga dia tidak mengira bahwa kultivasi anak muda seusia adiknya itu sebenarnya sudah menyamai dirinya.
"aku hanya ingin mencari udara segar senior" jawab Li Hui, dia memasukkan katananya kesarungnya yang masih dia genggam.
"tempat ini memang bagus tetapi terlalu berbahaya bagimu. Hm. Bagaimana jika kita berjalan-jalan kedesa? Kebetulan saat ini desa sedang ada sayembara untuk memilih suami putri kepala desa."
"itu rencana yang sempurna! Sebentar lagi seleksi untuk menerima murid baru akan diadakan jadi aku butuh sedikit referensi untuk memperbaiki kemampuan bela diriku!" potong Zhu Fian dengan penuh semangat.
"bagaimana junior Hui?" tanya Zhu Yan tidak menghiraukan perkataan adiknya.
Li Hui ingin menolak, tetapi dia harus melihat desa terdekat setidaknya sekali seumur hidup. "aku ikut senior" ucap LI Hui.
"pilihan yang bagus saudaraku!" sambut Zhu Fian dengan semangat. lalu Zhu Yan menyerahkan 1 set pakaian beserta jubah kepada Li Hui, karena pakaian yang dia pakai telah dikotori oleh darah.
*
Sekitar 1 jam berjalan, akhirnya Li Hui dan yang lainnya tiba didepan gerbang desa yang bertuliskan Desa Bintang. Menurut perkataan Zhu Yan, sekitar 30 tahun lagi, kemungkinan besar desa ini akan berubah menjadi sebuah kota. karena memang desa ini terbilang cukup luas dan memiliki banyak warga yang tinggal menetap.
Terlepas setiap 2 tahun sekali sekte Bintang Biru akan mengadakan seleksi penerimaan murid baru, membuat desa ini akan semakin ramai pengunjung dari berbagai desa lain seperti sekarang ini. Apalagi saat ini, kepala desa yang terkenal akan pemborosannya, sedang mengadakan sayembara untuk memilih calon suami putrinya dari istrinya yang kelima.
"ayo kesana, kita masih memiliki banyak waktu sebelum sayembara dimulai" ucap Zhu Yan sembari menunjuk sebuah tempat seperti pasar yang dikunjungi lumayan banyak orang.
*
ayo author semangat.