Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Dentuman musik Electronic Dance Music (EDM) yang memekakkan telinga terasa menggetarkan lantai kaca VVIP kelab malam eksklusif The Eclipse. Cahaya lampu laser beraneka warna menyapu liar ke seluruh penjuru ruangan, menyorot ratusan manusia yang sedang menari seperti orang kesurupan di lantai dansa.
Di salah satu sofa kulit melingkar yang paling mewah, Marco Maverick duduk bersandar dengan segelas air mineral yang diberi perasan lemon. Ya, air mineral. CEO Wiliam Group yang terkenal flamboyan itu sama sekali tidak menyentuh alkohol malam ini. Matanya setengah terpejam, menahan kantuk dan kebosanan yang luar biasa.
"Ayolah, Marco! Wajahmu lesu sekali seperti orang yang baru bangkrut!" seru Declan, teman kuliahnya dulu yang malam ini sedang merayakan ulang tahun. Declan duduk di sebelah Marco, merangkul pinggang seorang model bergaun super mini. "Kau ini CEO perusahaan raksasa, muda, dan tampan. Tapi kau minum air putih di kelab malam? Serius? Pilih satu wanita di sini, Marco. Semuanya high class. Aku yang traktir!"
Marco membuka matanya, menatap sekumpulan wanita cantik yang sejak tadi melempar senyum menggoda ke arahnya. Wanita-wanita itu memakai gaun ketat, riasan sempurna, dan parfum yang baunya saling bertabrakan di udara. Marco tersenyum tipis—senyum konyol andalannya yang sering membuat orang tertipu.
"Terima kasih tawarannya, Declan yang sedang berulang tahun. Tapi pinggangku sedang agak encok belakangan ini. Terlalu banyak duduk meninjau laporan keuangan," tolak Marco dengan nada jenaka, memegang pinggangnya seolah ia kakek-kakek jompo. "Lagi pula, aku ini anak baik-baik. Jam sepuluh malam adalah waktu maksimal anak baik-baik berada di luar rumah. Selamat ulang tahun, Kawan. Hadiahmu sudah kukirimkan ke rekeningmu. Aku harus pulang sekarang."
Marco bangkit berdiri, menepuk pundak Declan, lalu berjalan menjauh tanpa mempedulikan tatapan kecewa dari para wanita di meja itu.
Saat Marco baru melangkah beberapa meter, sayup-sayup ia mendengar suara teman-temannya yang bergosip dari meja belakang.
"Astaga, si Maverick itu benar-benar aneh."
"Dia selalu menolak wanita cantik. Padahal, sebentar lagi usianya masuk tiga puluh lima, tapi dia tidak pernah terlihat menggandeng siapa pun."
"Sst, kudengar dari orang-orang di bursa saham... jangan-jangan CEO Wiliam Group itu penyuka sesama jenis? Kau tahu kan, dia terlalu lengket dengan Noah Alexander sebelum pria itu menikah."
Marco yang pendengarannya setajam kelelawar hanya memutar bola matanya malas. Ia terus berjalan menuju lorong belakang yang lebih sepi, tempat akses pintu keluar khusus tamu VIP berada.
Penyuka sesama jenis, matamu, batin Marco mendengus geli. Aku hanya terlalu malas berurusan dengan wanita cantik yang otaknya penuh dengan manipulasi. Lebih baik dikira belok daripada disuruh meladeni siluman berwajah malaikat.
Lorong menuju pintu keluar itu remang-remang, hanya diterangi beberapa lampu dinding bergaya klasik. Marco memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya, bersiul santai.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Dari arah belokan di depan, terdengar suara langkah kaki berlari dengan tergesa-gesa. Sebelum Marco sempat menghindar, sebuah tubuh menabraknya dengan sangat keras.
Bruk!
"Aduh!" Marco nyaris terjengkang ke belakang jika keseimbangannya tidak bagus.
Ia menunduk dan melihat seorang wanita bergaun merah marun satin sedang memegangi dadanya, terengah-engah hebat. Aroma parfum mewah—yang sialnya sangat wangi dan bercampur dengan aroma alkohol—langsung menyergap indera penciuman Marco.
"Ma—maaf," bisik wanita itu dengan suara gemetar. Ia menoleh ke belakang dengan panik. Suara derap langkah sepatu pria-pria bertubuh besar terdengar makin mendekat dari arah ujung lorong. "Tolong... tolong sembunyikan aku. Mereka mengejarku."
Marco mengernyit. Ia tidak suka ikut campur urusan orang lain. Namun, melihat wajah wanita itu yang pucat pasi, insting pelindungnya bekerja lebih cepat dari otaknya. Saat bayangan tiga orang pria berotot mulai terlihat di ujung dinding, Marco langsung menarik pinggang wanita itu.
Ia menyudutkan wanita itu ke tembok yang agak gelap, membelakangi arah datangnya para pengejar. Marco membuka sisi jas mahalnya, menekan kepala wanita itu ke dada bidangnya, lalu menundukkan wajahnya seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara dan tak ingin diganggu.
"Jangan bergerak!!"
Suara kasar dan berat menggema di lorong. Tiga pria berwajah preman, memakai jas hitam yang kesempitan karena otot mereka yang terlalu besar, berhenti tepat di belakang punggung Marco.
"Hei, Bos!" tegur salah satu pria itu sambil menepuk bahu Marco dengan kasar. "Kau lihat ada perempuan pakai gaun merah lewat sini?!"
Marco menghentikan 'akting' ciumannya. Ia menoleh ke belakang, menyipitkan mata dengan gaya orang mabuk yang terganggu. Wajah kocak-nya langsung terpasang sempurna.
"Hah? Cewek pake baju merah? Maksudnya, kuntilanak merah?" sahut Marco melantur, tertawa garing. "Tidak ada, Tuan. Sejak tadi, Aku hanya sibuk bersama pacarku di sini. Kalian ini hanya mengganggu orang yang sedang kasmaran saja. Cari tempat lain sana, hus, hus."
Preman bermata juling di tengah menyipitkan matanya, curiga melihat ujung kain merah yang menyembul dari balik jas Marco. "Jangan bohong kau, Keparat! Coba minggir, aku mau lihat wajah perempuan yang kau peluk itu!"
Preman itu mengulurkan tangannya yang kasar, berniat menarik rambut wanita di pelukan Marco.
Dalam sepersekian detik, atmosfer di lorong itu berubah drastis. Senyum konyol di wajah Marco menghilang. Matanya menajam seperti elang yang mengunci mangsa. Tangan kiri Marco masih memeluk kepala wanita itu dengan protektif, sementara tangan kanannya melesat cepat ke udara.
Krek!
Marco mencengkeram pergelangan tangan preman itu dan memelintirnya dengan sudut yang tidak wajar hingga terdengar bunyi tulang bergeser.
"AARGHH!" Preman itu menjerit kesakitan dan berlutut di lantai.
"Aku bilang," desis Marco dengan suara bariton yang dingin dan mematikan, "kalian mengganggu waktu pacaranku, Sialan."
Dua preman lainnya langsung murka melihat temannya dilumpuhkan. Mereka menerjang maju secara bersamaan. Marco berdecak sebal. Sambil tetap menyembunyikan wanita itu di belakang punggungnya, Marco bergerak dengan kelincahan yang mustahil.
Ia menendang lutut preman kedua hingga pria itu tersungkur menabrak dinding, lalu menangkis pukulan preman ketiga dan membalasnya dengan sebuah pukulan telak tepat di ulu hati.
Hanya butuh kurang dari sepuluh detik, ketiga pria berotot besar itu sudah mengerang kesakitan di lantai lorong.
Marco merapikan kerah kemejanya yang sedikit miring. "Astaga, kalian ini tidak punya tata krama. Lihat? Jas Tom Ford-ku jadi lecek karena harus menghajar kalian. Sana pergi sebelum kupatahkan leher kalian satu per satu!" ancam Marco, kembali memasang wajah konyol namun dengan sorot mata psikopat.
Ketiga preman itu ketakutan setengah mati. Tanpa berani menoleh lagi, mereka tertatih-tatih melarikan diri ke arah mereka datang.
Lorong kembali sunyi. Marco menghembuskan napas panjang, lalu berbalik menatap wanita yang baru saja ia selamatkan.
Di bawah cahaya lampu temaram, wanita itu berdiri tegak. Ketakutannya sudah menguap entah ke mana. Ia merapikan rambut panjangnya yang bergelombang. Wajahnya... luar biasa cantik. Begitu memukau, elegan, dan memancarkan aura dominan yang anehnya sangat kontras dengan kondisinya saat dikejar-kejar tadi.
Wanita itu melangkah maju, menipiskan jarak di antara mereka. Ia menatap Marco dari atas ke bawah, menilai pria di depannya dengan senyum penuh arti. Sebuah senyum yang sudah ratusan kali Marco lihat dari wanita-wanita manipulator.
"Kau lumayan juga untuk ukuran pria yang bertingkah bodoh," ucap wanita itu dengan suara serak yang menggoda. Ia menyentuh dada Marco dengan ujung jarinya. "Kau sudah menyelamatkanku. Jadi... apa imbalan yang kau inginkan? Kau ingin uangku? Atau..."
Wanita itu semakin mencondongkan tubuhnya, menatap bibir Marco dengan tatapan lapar. "...kau menginginkan tubuhku? Sama seperti pria-pria hidung belang di luar sana?"
Alih-alih terpesona, tersipu, atau membalas tatapan menggoda itu, raut wajah Marco justru berubah horor. Sorot matanya menunjukkan rasa jijik yang luar biasa nyata.
"Hah?" Marco membeo dengan wajah bodohnya.
Sedetik kemudian, Marco menepis jari wanita itu dan mendorong bahunya dengan ujung telunjuk, seolah wanita itu adalah virus mematikan.
"Menjauh dariku! Astaga, kau gila, ya?!" seru Marco heboh. Ia mundur dua langkah dan mulai menepuk-nepuk jasnya sendiri dengan panik, persis seperti orang yang baru saja kejatuhan kotoran burung. "Lihat ini! Ya Tuhan, wangi parfummu nempel semua di bajuku!"
Wanita cantik itu mematung, senyum menggoda di bibirnya langsung membeku. "A-apa?"
"Kau sadar tidak parfummu ini terlalu menyengat?! Belum lagi bau alkoholnya!" Marco mengomel panjang lebar, wajahnya benar-benar panik. Ia mengendus lengan jasnya sendiri dan mengerang frustrasi. "Mampus aku! Seraphina pasti akan mencincang ku besok! Dia pasti mengira aku baru saja bermain gila dengan wanita malam! Kalau dia sampai melarang ku bermain dengan Leo karena bau alkohol dan wangi parfum murahan ini, aku akan menuntut mu, Wanita Sinting!"
"Parfum... murahan?" ulang wanita itu, suaranya tercekat tak percaya. Parfum yang dipakainya adalah edisi terbatas dari Paris yang harganya setara dengan mobil sport bekas.
"Kalau kau memang mau menjual diri, sana tawarkan pada pria tua bangka di dalam kelab! Jangan dekat-dekat aku, dasar aneh!" Marco memelototinya, memberikan tatapan jijik sekali lagi, sebelum akhirnya berbalik dan melenggang pergi begitu saja menyusuri lorong. Mulutnya masih terus menggerutu tentang Leo, Seraphina, dan deterjen pembersih jas.
Di lorong yang sunyi itu, sang wanita hanya bisa berdiri kaku seperti patung es. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya menatap punggung tegap Marco yang semakin menjauh.
Baru kali ini. Baru kali ini dalam hidupnya, pesona dan kecantikan absolut yang selalu membuat pria mana pun bertekuk lutut, ditolak mentah-mentah. Bukan cuma ditolak, tapi diabaikan, diprotes, dan dianggap menjijikkan.
Tidak ada setitik pun gairah di mata pria itu. Yang ada hanyalah kepanikan memikirkan seseorang bernama Leo dan kemarahan pada wangi parfumnya.
Bibir wanita itu perlahan melengkung, membentuk senyum yang jauh lebih tulus namun berbahaya. Matanya berkilat penuh ketertarikan.
Pria yang menarik, batinnya, menyimpan wajah Marco baik-baik di dalam ingatannya.
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣
semangat Marco ,,
semangat liaa or Isabella ,,
kejam banget sih itu memang cewek 😡
jgn bermimpi bisa dapetin Marco Alana ,, pawang skarang ganas meski belum resmii ,, tp ttap hati2 ,,