NovelToon NovelToon
Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Kenapa Keluargaku Takut Pada Pacarku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.

Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.

Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.

Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2

Udara koridor lantai dua mulai terasa hangat ketika jam menunjukkan pukul 10.15 WIB. 

Dengung bel istirahat pertama masih bergema tipis di sudut-sudut plafon beton. 

Regina menaikkan lipatan lengan kemeja seragamnya hingga selengan bawah, lalu meletakkan pena ke atas meja kayu yang tepinya penuh goresan tipis.

​"Gin! Akhirnya selesai juga materi awal Bu Heni!"

​Shinta langsung menyambar lengan kiri Regina, menariknya berdiri sebelum Regina sempat memasukkan kotak pensilnya ke dalam ransel.

​"Ayo ke luar, sumpek banget di dalam. Aku mau cerita," desak Shinta, matanya berbinar dengan volume suara yang tidak dikecilkan sama sekali.

​Regina melangkah keluar pintu kelas 12 IPA 2. 

"Cerita apa?"

​"Banyak! Masalah wali kelas baru kita yang katanya killer, terus anak-anak IPA 4 yang dari tadi pagi heboh bahas jadwal piket, sama..." Shinta menahan napas sejenak, melirik ke kanan dan kiri koridor. 

"Soal anak-anak IPS di blok sebelah. Kamu dengar tidak, tadi pas jam kedua ada suara meja digeser keras sekali?"

​Regina menyusuri koridor dengan langkah stabil, matanya menatap lurus ke depan. 

"Dengar."

​"Itu kelas 12 IPS 3! Katanya gurunya belum masuk jadi mereka malah main lempar gulungan kertas," Shinta terus mengoceh, jari-jarinya sibuk merapikan kuncir kudanya yang agak melorot. 

"Terus ya, Gin, aku dengar-dengar ada anak pindahan dari Jakarta yang masuk IPS 1, tapi belum kelihatan dari pagi. Kamu penasaran tidak?"

​"Tidak," sahut Regina singkat.

​"Ah, kamu mah tidak pernah penasaran sama apa-apa," gumam Shinta sambil memiringkan kepala. 

Ia mendadak memegang bahu Regina, memutar arah jalan mereka menuju lorong belakang dekat area perpustakaan.

 "Sudah, kita ke taman belakang saja. Di bawah pohon beringin tua itu kan sejuk, tempat favoritmu kalau sedang malas mendengar orang teriak-teriak."

Mereka berjalan melewati area persimpangan koridor yang menghubungkan blok IPA dan IPS. 

Regina sengaja mengambil jalur paling pinggir, menyisakan jarak hampir satu meter dari sekat pembatas koridor tengah yang kini pintunya terbuka lebar.

​Taman belakang sekolah terasa lebih tenang. 

Angin pagi menjelang siang menggerakkan dedaunan pohon beringin tua di sudut lapangan, menciptakan bayangan bergetar di atas bangku-bangku semen bercat hijau yang mulai terkelupas. 

Regina duduk di salah satu bangku semen terluar, membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kayu yang agak dingin. 

Ia merapikan rok abu-abunya yang terlipat di bagian paha, lalu menarik napas pendek. 

​"Nih, minum dulu kalau haus," Shinta menyodorkan kotak susu rasa cokelat yang baru saja ia beli dari kantin kejujuran di dekat tangga.

​Regina menggeleng halus. 

"Tidak usah, terima kasih."

​"Yakin? Yaudah aku minum ya," Shinta langsung menyedot susu itu hingga menimbulkan suara seruputan nyaring. 

Srrrpt. 

"Oiya Gin, tadi pagi kamu berangkat jam berapa?​"

“Jam enam lewat seperenam," jawab Regina datar.

​"Aduh!  Apa tidak macet di Ir. H. Djuanda?"

​"Macet," Regina memutarkan gelang karet polos di pergelangan tangan kirinya. 

"Tadi ada motor memotong jalan."

​"Hah? Motor? Terus nabrak mobil mamamu?" Shinta membelalakkan mata, memajukan tubuhnya hingga bangku semen itu berderit pelan.

​"Hampir."

​"Aduh! Terus orangnya gimana? Marah-marah tidak? zaman sekarang banyak lho angkatan kita yang kalau salah malah galakkan dia!" Shinta menepuk pahanya sendiri dengan keras. 

Plak!

​"Tidak," jawab Regina santai. "Cuma minta maaf."

​"Gin? Kamu dengar aku tidak sih?" Shinta melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Regina.

​"Dengar," sahut Regina refleks. "Kamu bilang orangnya galak."

​"Bukan! Aku cerita soal anak IPS yang tadi pagi bawa motor knalpot bising ke parkiran belakang!" Shinta berdecak. 

"Katanya anak-anak cewek kelas 11 pada ngomongin dia karena gayanya tengil banget. Siapa ya namanya... Andreas atau siapa gitu."

Regina tidak merespons. 

Ia mengambil selembar tisu bersih dari saku roknya, lalu melipat tisu itu menjadi empat bagian yang sangat simetris di atas paha. 

Jarinya menekan setiap lipatan agar garisnya terlihat tajam dan rapi.

​Plok!

​Sebuah bola plastik warna merah-kuning yang sudah agak kusam mendarat tepat di tengah meja semen di antara Regina dan Shinta, memantul sekali sebelum jatuh ke tanah dan bergulir mendekati sepatu hitam Regina.

Suara langkah kaki yang ramai dan tidak beraturan menyusul dari arah koridor IPS. 

Tiga orang siswa berjalan santai membelah taman. 

Laki-laki yang berjalan di paling depan mengenakan seragam putih abu-abu dengan dua kancing atas yang terbuka, memperlihatkan kaus dalam berwarna hitam. 

Lengannya digulung asal-asalan sampai ke siku, dan dasi sekolahnya hanya terikat longgar di bawah kerah.

​"Aduh, sorry, Mbak! Bola kita lepas kendali," panggil laki-laki di depan itu dengan nada suara yang sengaja dibuat berat dan ceria.

​Itu Andreas Pratama. 

Di sebelah kirinya, Varen Alzio berjalan sambil menyeringai, mengetuk-ngetuk paha luarnya dengan penggaris plastik panjang. 

Sementara di sebelah kanan, Renan Altair berdiri menyandarkan bahunya ke batang pohon beringin, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

​Shinta langsung mendesis pelan, menarik siku Regina. 

"Tuh kan, Gin... anak IPS."

​Andreas melangkah mendekat, berhenti tepat dua langkah di samping meja semen Regina. 

Ia tidak langsung mengambil bola di dekat sepatu Regina, melainkan menunduk sedikit sambil memiringkan kepala, menatap papan nama yang terjahit di dada kiri seragam Regina.

​"Regina Anatasya... anak IPA 2," baca Andreas mengeja pelan, lalu terkekeh. 

"Santai banget di sini, Mbak. Muka kamu serius amat dari tadi, padahal cuma lagi duduk-duduk."

​Regina tidak mendongak. Tangannya merapikan lipatan tisu di pahanya, melipatnya sekali lagi menjadi bentuk segitiga kecil.

​"Bolamu di bawah," kata Regina datar, menunjuk ke arah tanah dekat sepatunya tanpa memandang wajah Andreas.

Andreas tidak langsung bergerak. 

Ia berkedip sekali, melirik ke arah Varen yang langsung menahan tawa di belakangnya, lalu menatap kembali ke atas kepala Regina.

​"Iya tahu di bawah," ujar Andreas, lalu secara spontan ia malah menarik kursi semen di seberang Regina dan mendudukinya tanpa izin, meletakkan kedua sikunya di atas meja. 

"Tapi kan bolanya mampir ke meja kamu dulu. Berarti ada hak milik sementara, ya gak, Ren?"

​Renan dari pinggir pohon hanya bersiul pelan. 

"Terserah lu, Ndra. Jangan bikin gara-gara, bentar lagi bel."

Varen melangkah maju, memukul bahu Andreas dengan penggaris plastiknya. 

Puk! 

"Udah elah, ambil aja bolanya. Lu sok asik banget dari tadi pagi."

​"Diam dulu, Var. Gua lagi bermasyarakat ini, menyapa tetangga blok sebelah," sahut Andreas dengan cengiran lebar. 

Tangannya meraih bola plastik di tanah, lalu memutar-mutarnya di atas telunjuknya seperti bermain bola basket. 

"Mbak Regina, anak IPA kalau istirahat emang hobinya ngelipat tisu ya?"

​Shinta yang duduk di samping Regina sudah memasang wajah masam, tangannya mencengkeram kotak susunya yang sudah gepeng. 

"Apaan sih, Res? Ambil aja bolanya terus pergi, jangan mengganggu."

​"Galak amat temannya," Andreas tertawa pelan, lalu matanya kembali tertuju pada Regina yang masih bersikap seolah-olah tidak ada orang di depannya.

​Regina akhirnya mendongak. Tatapannya menatap lurus ke arah mata Andreas—dingin, rata, dan tanpa ketegangan fisik sama sekali.

"Sudah selesai bicaranya?" tanya Regina. Suaranya halus namun memotong keributan kecil di meja itu secara instan.

​Andreas menghentikan putaran bola di jarinya. Cengirannya sedikit surut, berganti dengan alis yang terangkat sebelah.

​"Sudah... sih," jawab Andreas lambat.

​Regina berdiri dari bangku semen, membenarkan letak tali ranselnya di bahu kiri, lalu menatap Shinta. 

"Ayo masuk ke kelas, Shinta. Udara di sini sudah tidak sejuk lagi."

Andreas mengangkat tangannya, mencoba menahan dengan gestur melambai pelan di udara, tetapi tangannya terhenti di udara dan kembali turun saat Regina berjalan melewati celah di antara dirinya dan Varen tanpa menoleh sedikit pun.

Varen mundur setengah langkah memberi jalan, matanya memperhatikan cara jalan Regina yang lurus. 

Andreas membalikkan badannya di atas kursi semen, menatap punggung Regina yang mulai menjauh menuju lorong tangga lantai dua.

​"Batu banget mukanya," gumam Varen sambil menendang kerikil di tanah.

 "Lu diacuhin mentah-mentah, Ndra."

​Andreas tidak menjawab cemoohan Varen. Ia menatap bola plastik di tangannya, memutarnya sekali lagi, lalu tersenyum tipis sambil mengacak rambut belakangnya yang sedikit berantakan.

Dari arah atas tangga koridor IPA, seorang siswa laki-laki berjaket jeans belel—yang tudung abu-abunya kini sudah dilepas—berjalan turun sambil membawa dua kaleng minuman dingin. 

Langkahnya terhenti di bordes tangga saat matanya berselisih jalan dengan Regina yang sedang menaiki anak tangga.

​Laki-laki itu berhenti melangkah, menatap Regina sejenak, lalu melempar satu kaleng minuman ke arah Andreas yang berdiri di bawah taman.

​Cles!

​Andreas menangkap kaleng itu dengan satu tangan tanpa menoleh. "Lama banget lu dari kantin!"

​Laki-laki berjaket jeans itu tidak menjawab Andreas. 

Matanya masih menatap ke arah Regina yang terus berjalan melaluinya di anak tangga tanpa menyapa, meninggalkan aroma samar sabun mandi yang bersih di udara koridor yang mulai panas.

1
Fitria Sumer
lanjut ka cerita ny
ayunda: btw di quarterfull juga ada loh kak, ga kalah seru sama yang ini, yoo mampir
total 1 replies
Fitria Sumer
llanjut cerita ny lg seru😄💪
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!