NovelToon NovelToon
The Shadow For Revenge

The Shadow For Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aliet's

Di tempat semua orang yang sedang berjuang demi mengubah masa depan, hanya beberapa anak yang tengah berjuang demi membalaskan dendam. Ini adalah akademi bagi para bangsawan yang ingin mengubah masa depan dan memperjuangkan kemerdekaan mereka.

Pembantaian keji terhadap keluarga ternama dengan pasukan militer yang kuat, kini hanya tersisa nama. Sebagai satu-satunya yang terselamatkan, ia mengambil langkah untuk membalaskan dendam keluarganya. Panah api itu tak kunjung berhenti menembak, bangunan besar itu kini dilapisi oleh api, di setiap penjuru bangunan penuh dengan api dan asap.

Matanya membulat sempurna, wajahnya menegang, jari-jari kecilnya bergerak perlahan, kakinya melangkah ke depan, hanya satu langkah sebelum seseorang menahannya dari belakang. Satu tangannya terulur ke depan, berharap ini hanyalah mimpi. Kini pandangannya gelap setelah seseorang di belakangnya mulai menutup pandangan nya.

5 Tahun setelah Tragedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliet's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Tahun Pertama

Malam pesta penyambutan untuk para siswa tahun pertama telah usai dengan meninggalkan jejak penasaran bagi Elouis.

Kini, fajar hari telah menyingsing. Elouis berdiri di depan cermin yang berada di dalam kamar asramanya. Merapikan seragam dan juga merapikan ikat rambutnya sebelum ia melangkah menyusuri koridor.

Kedua bilah pedangnya tersimpan dengan rapi di sisi kiri pinggulnya, tangan kirinya membawa tas yang terisi buku akademi.

"Louis, sebaiknya kita harus cepat. Pemilihan kelas akan segera diumumkan," ia mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang sedang duduk di ranjang, sepasang mata indah itu menatap Elouis dengan penuh antusias.

Edith Franz Lancaster, adalah teman satu kamarnya, gadis bangsawan yang dielu-elukan sebagai murid tercantik di tahun pertama.

"Jika begitu ingin cepat, sebaiknya anda segera berdiri, Lady Lancaster" balas Elouis dengan datar.

Dengan segera Edith berdiri, merapikan ujung seragamnya sebelum berdiri sejajar di samping Elouis. "Aku harap kita satu kelas," ujarnya sambil tersenyum penuh harap ke arah Elouis.

"Entahlah, Lady... Semoga saja sesuai harapan Anda," Mereka pun melangkah keluar dari kamar asrama, berjalan berdampingan menuju gedung utama akademi.

Lorong menuju gedung utama semakin ramai, Elouis dan Edith terus berjalan berdampingan, tatapan mata mereka mengintimidasi para siswa yang sesekali melirik ke arah mereka berdua.

"Elouis Wolfyn."

Langkah Elouis terhenti, pandangannya tetap lurus ke depan, enggan untuk memastikan siapa yang berani memanggil namanya dengan nada yang menjengkelkan itu.

Sedangkan Edith yang berdiri di sampingnya, ia memutar kepalanya ke samping, sekedar memastikan siapa orang yang lancang memanggil teman sekamarnya.

"Hei, aku memanggilmu sialan!" Anak itu menggeram kesal saat diabaikan oleh Elouis, anak itu berjalan mendekat dengan angkuh.

Edith refleks semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Elouis, sedangkan Elouis hanya menghela napas berat sebelum menatap anak-anak itu dengan dingin.

Elouis sedikit memiringkan kepalanya ke samping, sedikit menaikan dagunya ke atas dengan angkuh, memberikan tatapan tajam dan dingin pada anak-anak itu.

"Apa aku mengenalmu?" Tanyanya dengan suaranya yang sedikit serak dan rendah, Edith menatap Elouis dengan sedikit terkejut, bahkan beberapa siswa yang lewat merasakan ketegangan yang sedang terjadi.

​"Tsk! Kau benar-benar sampah jika tidak mengenal siapa kami." Ucap lelaki berambut coklat dan memiliki bintik-bintik di wajahnya, ia tersenyum meremehkan.

​Sudut bibir Elouis sedikit terangkat menanggapinya. Ia memutar tubuhnya perlahan, melipat kedua tangannya di depan dada dengan gestur yang terkesan santai, namun matanya mengunci pergerakan mereka.

​"Oh, jadi.. siapa kalian? Bolehkah sampah ini mengingatnya?" tanya Elouis. Suaranya yang serak terdengar begitu tenang.

Carlo Adison— anak lelaki berambut coklat dan memiliki bintik-bintik di wajahnya, ia menggeram kesal, ia melangkah lebih dekat ke arah Elouis.

Matanya sedikit ke atas, sedangkan Elouis sedikit menundukkan pandangannya, ini adalah perbedaan tinggi di antara anak lelaki dan anak perempuan.

Setelah menyadari bahwa perbedaan tinggi mereka lebih jauh, wajahnya memerah karena emosi. "Kau lihat saja saat praktek di lapangan, aku akan membuatmu berlutut," ancamannya berapi-api.

Ujung bibir Elouis sedikit naik, ia meremehkan Carlo secara langsung. "Oh, buktikan saja. Anak kecil sepertimu tidak akan membuatku berlutut," balas Elouis, lalu ia meraih pergelangan tangan Edith dan menyeretnya pergi menuju aula akademi.

Mereka berdua mengabaikan Carlo yang tengah meledak-ledak saat mendengar balasan tajam yang dilontarkan oleh Elouis.

Langkah mereka kini mengantarkan mereka ke depan pintu masuk menuju aula utama akademi. Elouis merasa ketegangan tanpa sebab, sedangkan Edith tetap antusias.

Edith sedikit berjinjit ke arah Elouis, dan ia sedikit mencondongkan tubuhnya lalu membisikkan sesuatu di telinga Elouis. "Kamu benar-benar hebat, jangan biarkan anak bodoh itu mengusikmu!" bisiknya sambil terkekeh pelan.

Elouis hanya menganggukkan kepalanya samar, mereka berdua kini memasuki aula yang begitu megah, keduanya melihat ke sekeliling.

Di tengah kegiatannya yang sedang memperhatikan sekitar, matanya menangkap sesuatu, di barisan depan dengan dua pengawal yang berdiri tepat di belakang.

Lelaki berambut perak dengan mata merah— ia membalikkan badannya dan secara kebetulan mata mereka bertemu, ia tersenyum samar ke arah Elouis.

Tubuh Elouis menegang sesaat, tatapan matanya semakin tajam sebelum sedikit menundukkan kepalanya— membalas sapaan yang mengerikan itu. Kini, Elouis tahu kenapa perasaannya merasa tidak tenang, mungkin inilah salah satu sebabnya.

Edith menariknya untuk lebih dekat dengan papan yang menunjukkan kelas mereka, hal itu membuat lamunan Elouis buyar dan kembali fokus dengan apa yang sedang terjadi.

"Edith.. Edith.. Ketemu! Aku berada di kelas 1B- Strome." Ujar Edith, Elouis juga tengah mencari namanya yang berada di papan pengumuman.

"Ah! Kita satu kelas! Hahh... Syukurlah, kita tidak terpisah," helaan napas lega itu terdengar di telinganya, senyum itu merekah menghias wajahnya Edith, sedangkan Elouis hanya menatap papan pengumuman itu dengan serius.

Setelah mengetahui kelas masing-masing, suara dentuman keras sihir pun terdengar, mengarahkan setiap murid untuk segera memisahkan diri dan berkumpul sesuai dengan kelompok kelas mereka.

​Dengan begitu, mereka akan diarahkan oleh wali kelas menuju ruangan masing-masing untuk segera memulai pelajaran singkat serta pengenalan lingkungan baru.

Kini, mereka telah duduk di bangku kelas yang baru. Elouis memilih bangku di dekat jendela paling ujung belakang, sementara Edith duduk tepat di depannya.

Satu per satu siswa berdiri, memperkenalkan diri mereka beserta keunggulan sihir dan darah bangsawan yang mengalir di tubuh mereka. Lambat laun, kini giliran Elouis yang harus memperkenalkan dirinya.

Elouis berdiri dengan tenang, mengabaikan atmosfer kelas yang mendadak senyap.

​"Elouis Wolfyn. Saya unggul dalam dua bidang; seni pedang dan sihir. Dan saya berdarah campuran," ucapnya lantang dan dingin.

​Setelah perkenalan yang sangat singkat namun sukses mengejutkan seisi ruangan itu, Elouis kembali duduk. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, mengabaikan begitu saja kasak-kusuk dan tatapan tajam yang dilayangkan oleh para siswa di kelas.

Pelajaran pertama kini dimulai, Elouis memperhatikan setiap penjelasan yang diberikan oleh mentor.

Beberapa jam kian berlalu, Elouis mengambil tas miliknya dan kedua bilah pedangnya, Edith yang memperhatikan sekilas segera menoleh ke belakang.

"Kamu akan pergi kemana?" Tanyanya dengan rasa penasaran.

"Kelas pedang." Elouis membalas dengan datar. Edith menganggukkan kepalanya paham, lalu Elouis melangkah keluar dari kelas dan menuju ke ruang ganti.

Dalam perjalanan menuju ruang ganti, Elouis merasa seseorang sedang mengikuti dari belakang, namun ia menghiraukannya dan terus berjalan dengan tenang.

"Lou," saat nama panggilannya disebut, langkahnya mendadak berhenti dan memutar tubuhnya untuk memastikan siapa yang memanggil nama akrab nya.

Matanya membulat sempurna saat melihat orang yang telah memanggil nama panggilannya. "Kak Alecto..?"

Alecto Wolfyn— adalah anak dari Gelderland, yang berarti kakak sepupu Elouis saat ini. Alecto tersenyum ceria, kakinya yang panjang melangkah maju lebih dekat dengan Elouis.

"Lama tak berjumpa adik kecilku," Alecto menjeda kalimatnya dan menjulurkan tangannya, ia mengusap lembut kepala Elouis. "Maaf, karena aku tidak ada di sisimu saat itu..."

Elouis menatap Alecto datar. "Tidak apa-apa, aku sudah mulai menerima kenyataan itu," balasnya dengan dingin, yang kini tengah menyimpan gejolak emosi.

Sedangkan Alecto, ia memandang Elouis penuh ketulusan, sebenarnya dia mengerti perasaan Elouis yang kini dipenuhi oleh perasaan balas dendam.

Alecto mencondongkan tubuhnya, sejajar dengan Elouis. "Aku akan membantumu untuk terpilih di pelatihan khusus," bisik Alecto sebelum ia kembali menegakkan badannya.

Kalimat itu berdengung tanpa henti, namun  itu tidak mengganggu fokusnya selama mengayunkan pedangnya di udara kosong.

Rata-rata siswa di kelas ilmu pedang adalah lelaki, dari semua golongan. Elouis tidak memperdulikan tatapan mata para lelaki itu dan terus mengayunkan pedangnya sesuai dengan instruksi mentor.

Pelajaran berlangsung selama satu setengah jam, kini para murid diizinkan untuk beristirahat sejenak di sisi lapangan atau berteduh di bawah pohon.

Di saat murid lain berkerumun di tanah, Elouis dengan gerakan ringan melompat ke atas pohon, lalu duduk di salah satu batang pohon yang besar sambil meneguk air minumnya.

​Badannya bersandar pada batang utama pohon. Matanya terpejam sejenak, menikmati embusan angin siang yang menerpa wajahnya.

Namun sayangnya, kedamaian itu hanya bertahan sesaat. Ketenangan Elouis terusik ketika Carlo dan gerombolannya datang menghampiri. Dengan seringai kasar, salah satu dari mereka sengaja menendang batang pohon itu dengan keras, berusaha membuat Elouis yang berada di atas dahan kehilangan keseimbangan.

Boom!

Pohonnya bergetar, mereka berharap dengan ini membuat keseimbangan Elouis terganggu. Namun mereka salah, Elouis mungkin akan membuka mata, menunduk ke bawah, dan menatap mereka seperti serangga pengganggu.

Elouis menghela napas berat. "Tuan muda satu ini, tidak bisa duduk manis saja ternyata, ya?" ujar Elouis dari atas dahan. Suaranya terdengar tenang, justru itu membuat senyum Carlo luntur.

Carlo menggeram, lagi-lagi dia harus mendongakkan kepalanya ke arah Elouis, egonya benar-benar terluka karena dipandang rendah untuk kedua kalinya oleh orang yang sama, di hari yang sama pula.

Satu tangannya yang menggenggam pedang kayu terulur menunjuk ke arah Elouis, "Turun kau, sialan!" bentaknya dengan penuh emosi.

"Jangan berlindung di atas pohon seperti tupai bodoh!" sorak salah satu temannya di belakang, ikut memanasi suasana, diikuti oleh tawa mengejek dari anggota gerombolan yang lain.

Elouis mengedipkan matanya beberapa kali sebelum melompat turun, ia merapikan sedikit seragamnya yang kusut sebelum memandang gerombolan itu. "Bahkan tupai lebih pintar daripada kalian," balasnya dingin, ia melangkah menuju kembali ke lapangan latihan.

Gerombolan Carlo itu menatap kepergian Elouis. Sedangkan Carlo menundukkan kepalanya, ekspresi wajahnya memerah padam karena emosi. Tangannya mencengkeram erat gagang pedang kayu hingga buku-buku jarinya memutih.

Saat Elouis sedang memilih pedang kayu di sisi lapangan, Carlo melangkah mendekat, perlahan-lahan. Anggota gerombolannya hanya diam dan saling lempar tatap, menyadari bahwa ketua mereka sudah kehilangan akal sehat.

Tanpa peringatan apa pun, Carlo mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga, mengarah tepat ke punggung Elouis. Namun, sebelum bilah kayu itu sempat menyentuh Elouis, sebuah dentingan keras terdengar. Seseorang telah menghadangnya.

TRACKK!

Lelaki itu berdiri di antara keduanya, menahan serangan dadakan dari Carlo, sedangkan Elouis masih santai memilih pedang kayunya.

"Ini berlebihan jika hanya di anggap sebagai candaan, kawan." ujar lelaki yang sedang menghadang Carlo.

"Minggir, sialan!" Bentaknya. Namun, bukannya menuruti perintah itu, lelaki misterius di hadapannya justru memberikan entakan kuat yang sukses memukul mundur tubuh Carlo beberapa langkah ke belakang.

Di saat yang sama, Elouis akhirnya selesai memilih pedang kayunya. Ia memutar tubuh, lalu menoleh ke belakang untuk menatap kekacauan kecil yang baru saja terjadi.

"Lagi pula, kami memang akan menjadi lawan sparring," sahut Elouis dengan nada santai, seolah-olah serangan dari belakang yang dilakukan Carlo tadi adalah hal yang sudah ia antisipasi.

Lelaki itu menoleh ke arah Elouis. "Baiklah, Nona. Jika itu kemauan Anda, maka saya persilakan," ujarnya sopan. Lelaki itu akhirnya melangkah mundur dan menurunkan bilah pedang kayunya, memberikan ruang terbuka bagi Elouis dan Carlo.

Tepat saat itu, sang Mentor tiba di lapangan. Tanpa membuang kesempatan, Carlo langsung berlari ke arah Mentor untuk melaporkan dan mendapatkan izin sparring resmi.

Sesaat setelah mendapatkan lampu hijau dari Mentor, Carlo berbalik dan menunjukkan ekspresi angkuhnya sekali lagi. Sementara itu, Elouis masih berdiri tenang di dekat rak senjata. Bukannya langsung maju, ia justru mengulurkan tangan dan mengambil satu pedang kayu lagi dari rak. Dua pedang kini berada di genggamannya.

​"Baiklah. Kalian berdua, segera berdiri di tengah lapangan!" titah sang Mentor lantang, memecah perhatian murid-murid lain.

"Aturannya mudah. Jika salah satu dari kalian keluar dari batas area lapangan atau melepaskan pedang kayu dari tangan, itu artinya kalian kalah. Mengerti?"

Elouis dan Carlo mengangguk serempak, menyetujui peraturan tersebut. Mereka kini berjalan saling berhadapan, mengambil posisi di tengah arena berpasir.

"Saya ingatkan ini, jangan menahan serangan Anda hanya karena saya seorang perempuan," ujar Elouis datar. Ia perlahan merendahkan tubuhnya, memasang kuda-kuda dua pedang yang begitu sempurna dan seimbang, siap untuk meluncurkan serangan dalam sekejap mata.

Satu sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyum dingin yang provokatif. "Ah, dan jangan terlalu kecewa... jika nanti bukan saya yang akan berlutut di tanah ini."

Wajah Carlo langsung mengencang, matanya membelalak penuh amarah yang mendidih. Seisi lapangan menahan napas, menunggu peluit mentor berbunyi.

Begitu sangat mentor memberi aba-aba, "Mulai!" Carlo segera menerjang maju dengan serangan membabi buta, Elouis berhasil menangkis semua serangan itu dengan kedua bilah pedangnya.

Dentingan kayu yang bertabrakan keras, geraman frustrasi Carlo, dan aroma tanah yang beterbangan di udara. Bagi Elouis, atmosfer pertarungan seperti ini sudah menjadi makanannya sehari-hari. Begitu melihat celah, Elouis memberikan entakan kuat yang sukses memukul mundur tubuh Carlo.

​Kali ini, giliran Elouis yang melangkah mendekat. Setelah beberapa saat hanya bertahan, ia akhirnya merendahkan tubuh, bersiap meluncurkan serangan balasan yang sesungguhnya.

​"Saya sudah bilang, bukan saya yang akan berlutut, kan?" gumam Elouis dingin.

​Dalam satu gerakan kilat, ia menerjang maju dan memberikan rentetan serangan telak yang mengincar titik-titik pertahanan Carlo.

"Sialaann!" geram Carlo, ia mulai kewalahan menghadapi tekanan bertubi-tubi dari dua pedang Elouis. Bobot serangan Elouis begitu berat, memaksa kedua lutut Carlo perlahan menekuk dan menghantam pasir lapangan demi menahan dorongan pedang gadis itu.

Tak!

Wushh!

Satu tebasan menyilang yang sangat cepat dari Elouis sukses menghantam pergelangan tangan Carlo. Pedang kayu milik Carlo terlempar, melayang di udara, sebelum akhirnya jatuh berdenting di atas tanah.

Elouis telah meraih kemenangannya. Ia berdiri tegak, menurunkan kedua pedangnya dengan napas yang tetap teratur. Di hadapannya, Carlo masih terpaku berlutut dengan ekspresi wajah memerah padam penuh penolakan. Namun, meski hatinya menjerit tidak terima, Carlo tidak bisa berbohong bahwa seluruh jari-jemarinya kini sedang bergetar hebat karena syok.

Suara hiruk-pikuk terdengar hingga ke telinga sensitif nya, banyak dari mereka membicarakan bagaimana Elouis berhasil memberikan pukulan telak pada Carlo.

Hingga kelas berpedang usai, ia masih dapat mendengarnya dengan jelas. Hingga seseorang mulai berdiri di depannya lagi, kali ini bukan Carlo dan antek-anteknya.

​"Kau hebat, Nona Wolfyn," ujar seorang lelaki berkacamata. Pemuda itu memiliki rambut berwarna putih dengan beberapa helai hitam yang kontras, membingkai sepasang mata indah berwarna biru gelap.

"Ya, terimakasih." Balas Elouis datar.

​"Hey, hey... Bukan begitu cara menyapa yang benar, Saudaraku," sela sebuah suara dari arah belakang. "Nona, apakah Anda memiliki sedikit waktu untuk kami bertiga?"

Lelaki yang baru bersuara itu memiliki paras yang sangat mirip dengan orang pertama, namun dengan rambut yang dibiarkan sedikit lebih panjang.

​"Kami adalah tiga saudara kembar dari keluarga Orca. Saya Noah Shade. Lalu yang berkacamata ini adalah Nicholas Shade, dan yang terakhir adalah Nolan Shade," ujar Noah memperkenalkan diri, tampaknya ia adalah yang tertua di antara ketiganya.

Noah melangkah satu baris lebih dekat ke arah Elouis. Sepasang matanya menatap Elouis dengan binar penuh ketertarikan. "Saya merasa kemampuan pedang Anda sudah jauh berada di atas rata-rata murid baru pada umumnya. Tidakkah Anda tertarik untuk menaikkan tingkat kesulitannya?" tanyanya memancing.

Elouis menatap ketiganya bergantian secara sekilas, mempertahankan ekspresi wajahnya yang tidak terbaca. "Saya akan mempertimbangkannya. Terima kasih telah mengatakan hal tersebut."

Noah—yang ternyata adalah satu-satunya perempuan di antara kedua saudara kembar laki-lakinya—tersenyum tipis. "Jadi begini, sebaiknya kita berbicara dengan santai saja. Elouis, kami bertiga akan menunggumu di kelas berikutnya."

Elouis sedikit memiringkan kepalanya, "Kelas berikutnya?"

Senyum Nolan merekah indah. Ia melangkah maju dan berdiri di sisi Noah dengan gestur yang santai. "Yaa, kelas berikutnya.. Ini di khususkan untuk orang seperti kita,"

Nicholas ikut melangkah mendekat sembari membenarkan letak kacamata yang bertengger di hidungnya. "Para anggota elit di akademi ini memiliki hak untuk menarik siswa tahun pertama, guna menjadikan mereka sebagai kandidat kuat dalam seleksi Camp Pelatihan Khusus."

Elouis mengangguk paham dengan penjelasan Nicholas. "Saya mengerti, namun... saya bukan berdarah murni seperti kalian," ucapnya, sengaja menguji pandangan tiga bersaudara elit di hadapannya ini.

Nolan mengangkat sebelah alisnya dan sedikit memiringkan kepala, bereaksi senada dengan kedua saudara kembarnya. "Hei, hal semacam itu sama sekali tidak akan memengaruhi fakta bahwa kau adalah pengguna dua pedang yang hebat. Apa pun darah yang mengalir di tubuhmu, itu tidak akan menjadi masalah saat seleksi nanti."

​"Yang ia katakan itu benar, ada beberapa siswa sepertimu di kelas elit," Nicholas menjeda kalimatnya sejenak. Sepasang mata biru gelapnya melirik ke arah ujung lorong yang sepi, seolah memastikan tidak ada kuping asing yang mendengarkan, sebelum akhirnya kembali melanjutkan ucapan dengan suara rendah.

"Tapi... entah mengapa kami tidak ingin orang berbakat sepertimu justru direbut oleh orang-orang yang bodoh."

Noah pun menghela napas pelan. "Sudahlah, lagipula kami tidak akan membiarkan orang lain merayumu seperti yang kami lakukan sekarang"

Elouis menatap lurus ke arah Noah yang postur tubuhnya sedikit lebih tinggi darinya. Jika diperhatikan secara seksama, ada kemungkinan besar bahwa ketiga bersaudara kembar ini berusia sedikit lebih tua daripada Elouis.

​"Ahh," desis Elouis pelan, menjeda kalimatnya sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapan. "Saya yakin, hal tersebut tidak akan terjadi pada saya. Saya bukan orang gampangan, Lady Shade."

Mendengar respons yang teramat lugas itu, suasana di antara mereka sempat hening sesaat sebelum akhirnya tawa renyah Nolan pecah. Bahkan Nicholas yang biasanya berwajah kaku pun tampak menyunggingkan senyum tipis di balik kacamatanya. Mereka bertiga jelas tidak menyangka akan mendapat penolakan seberani itu dari seorang murid baru tahun pertama.

Nolan terkekeh pelan mendengar ketegasan itu, sedangkan Noah hanya menyunggingkan senyum samar. Di seberang mereka, Elouis pun ikut tersenyum tipis. Ini adalah situasi yang benar-benar berada di luar rencana awalnya, namun entah mengapa, terasa cukup menarik.

​"Itu bagus jika kau bukan orang gampangan," ujar Noah, melangkah satu tapak mundur untuk kembali sejajar dengan kedua saudara kembarnya. "Kami, para Orca, memiliki insting predator yang kuat. Namun, kami juga memiliki insting yang mengatakan bahwa kau... jauh lebih berbahaya daripada sekadar peri kecil di dalam hutan."

Kalimat itu diucapkan Noah dengan penekanan yang lambat, seolah sedang mengirimkan sinyal bahwa mereka tidak bisa diremehkan begitu saja.

​"Sampai jumpa di kelas berikutnya, Elouis. Jangan terlambat," tambah Nicholas datar.

Tanpa menunggu balasan lagi, ketiga saudara kembar dari keluarga Shade itu berbalik serempak. Jubah elit mereka berkibar pelan tertiup angin saat mereka melangkah pergi meninggalkan Elouis yang masih berdiri di lorong.

Kelas hari ini telah sepenuhnya usai. Elouis segera mengambil tas serta dua pedang miliknya sebelum melangkah pergi meninggalkan area latihan. Di luar, langit sudah menunjukkan semburat warna keemasannya yang hangat, menandakan bahwa hari telah beranjak sore.

Elouis berniat untuk kembali lebih cepat ke asrama, guna membersihkan diri dari keringat dan mengambil jatah makan malamnya sebelum aula utama terlalu ramai.

Namun, dalam perjalanan melintasi lorong-lorong batu luar ruangan yang mulai sepi oleh bayangan sore, telinga sensitif Elouis menangkap riak langkah kaki lain. Seseorang—tidak, lebih dari satu orang—sedang mengikutinya dari belakang.

Elouis memutuskan untuk tidak terlalu memedulikannya. Ia tetap berjalan dengan santai, mempertahankan ritme langkahnya yang tenang di bawah siraman cahaya senja.

"Mm, hei! Apa kau juga dipilih oleh tiga Orca itu?" Sebuah suara pemuda terdengar berseru, memecah keheningan koridor. Langkahnya masih berada beberapa langkah di belakang Elouis.

​"Bisa dikatakan seperti itu," balas Elouis tanpa menghentikan langkah, bahkan tidak berniat untuk sekadar memperlambat jalannya.

Mendengar respons acuh tak acuh itu, dua sosok di belakang Elouis saling bertukar pandang sejenak. Sambil terkekeh pelan, mereka mempercepat langkah dan berlari kecil mendekat. Dalam hitungan detik, posisi mereka kini sudah berjalan berdampingan, mengapit Elouis tepat di tengah-tengah di bawah pilar-pilar gedung akademi.

"Ah, perkenalkan, kami dua bersaudara kembar. Aku Kael Vynloc, dan dia Kazel Vynloc. Kami dari ras rubah," ujar pemuda di sisi kanannya dengan nada bicara yang ramah namun menyimpan binar kecerdikan khas rasnya.

"Elouis Wolfyn." balasnya singkat, pandangannya tetap lurus menatap jalanan koridor di depan tanpa menoleh sedikit pun.

Kael dan Kazel bertukar pandang sesaat, lalu menyunggingkan senyum lebar hingga sepasang mata keemasan mereka menyipit jenaka.

​"Kau sangat formal ya? Kita semua di sini seumuran, jadi santai saja dengan kami," ujar Kael sambil terkekeh pelan.

​"Itu benar, santai saja," Kazel menimpali, sebelum wajah jenakanya sedikit berubah menjadi lebih serius. Ia mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Elouis, berbisik dengan nada spekulatif yang tajam.

"Orang yang menghadang serangan dadakan Carlo tadi, kalau tidak salah dia bukan ras campuran atau murni berdarah ras. Tapi anehnya... aku merasa ada kekuatan yang jauh lebih besar di dalam tubuh anak itu. Sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak sadari."

Satu alis Elouis terangkat samar, walau ia berhasil mempertahankan ekspresi wajahnya yang sedingin es. ​"Kenapa kau menceritakan ini padaku?" tanya Elouis dingin, melirik Kazel dari sudut matanya untuk membaca niat tersembunyi di balik senyum rubah pemuda itu.

Kael tersenyum jahil, tidak merasa terintimidasi sama sekali oleh tatapan menusuk Elouis. "Entahlah, aku berpikir itu akan berguna untukmu. Lagipula, mengamati hal-hal menarik bersamamu sepertinya tidak akan membosankan."

Kazel ikut mengangguk setuju, menghentikan langkahnya tepat di persimpangan jalan setapak yang memisahkan area gedung asrama putra dan putri. "Kami akan menjemputmu nanti malam, dua jam setelah makan malam selesai. Tunggu saja kami di depan lobi utama asramamu, Elouis."

Tanpa menunggu persetujuan dari Elouis, si kembar Vynloc berbalik serempak, melambaikan tangan mereka dengan santai tanpa menoleh ke belakang. Ekor khayalan mereka seolah bergoyang jenaka saat langkah kaki mereka menjauh, menghilang di balik koridor asrama putra.

Elouis berdiri diam sesaat di bawah temaram cahaya senja yang mulai digantikan oleh kegelapan malam. Ia menghela napas pendek, lalu berbalik menuju kamarnya sendiri.

​"Louis, kamu terlambat datang," sapa Edith yang sedang berbaring santai di ranjang sembari membaca sebuah novel bersampul tebal. Gadis itu melirik sekilas dari balik bukunya. "Cepatlah mandi, dan bersiap untuk makan malam sebelum antrean aula penuh."

​"Baiklah, baiklah. Lain kali aku tidak akan terlambat lagi," balas Elouis pelan.

Tanpa membuang waktu, ia segera mengambil pakaian ganti dari dalam lemari kayu. Sebuah kaus hitam polos, kemeja putih longgar, dan celana kulit nyaman yang biasa ia gunakan saat waktu santai.

Di dalam kamar mandi, setelah melepas seluruh pakaian dan menyalakan keran, Elouis mengisi wastafel hingga penuh. Tanpa ragu, ia membenamkan seluruh wajahnya ke dalam air dingin, membiarkan rasa dingin itu menusuk kulitnya selama beberapa menit demi membungkam riuh di kepalanya.

Di bawah permukaan air yang sunyi, pikirannya berkelana ke mana-mana. Ini baru hari pertama, namun ritme takdir seolah sengaja mempermainkannya dengan menyuguhkan terlalu banyak kejadian di luar rencana. Elouis merasa melangkah terlalu jauh ke dalam sorotan yang seharusnya ia hindari.

Tanpa sadar aku malah menarik perhatian klan Orca, batin Elouis, jemarinya mencengkeram tepi wastafel dengan erat hingga memutih.

Juga... apa masalahnya dengan bocah nakal Carlo itu? Aku bahkan tidak merasa memiliki masalah dengannya sebelumnya. Kenapa dia harus menargetkan ku di depan semua orang?

Gelembung-gelembung udara keluar dari sela bibirnya seiring dengan napasnya yang terasa semakin berat di dalam air. Pikirannya beralih pada sosok yang paling tinggi di rantai makanan akademi ini.

Lalu Pangeran Kedua... kenapa orang sepertinya harus menaruh perhatian padaku sejak malam pesta? Apa dia menyadari sesuatu tentang identitasku? Ketakutan itu berdesir pelan di dadanya. Berurusan dengan pihak kerajaan di fase awal seperti ini adalah bencana besar bagi rencananya.

Dan yang terakhir, dua rubah itu... Kael dan Kazel. Mereka terlalu ikut campur dalam urusanku.

Byur!

Elouis akhirnya menarik wajahnya keluar dari permukaan air, meraup oksigen sebanyak-banyaknya dengan napas yang sedikit terengah. Air menetes deras dari ujung dagu dan helaian rambutnya yang basah, jatuh membasahi lantai kamar mandi. Ia menatap pantulan matanya sendiri di cermin yang kini sedikit berembun.

Sesaat setelah Elouis selesai membersihkan diri. Ia keluar dengan rambutnya yang masih setengah basah, ia melirik sekilas ke arah Edith yang masih bersantai dengan novelnya.

"Edith, apa kau tau tentang anggota elite? Juga kelas khusus, dan si kembar tiga orca itu," tanya Elouis sembari menarik kursi yang berada di dekat ranjang. Tangannya bergerak sibuk mengeringkan rambut dengan selembar handuk.

"Ahh," desis Edith pelan sebelum menjawab. Ia menutup novelnya dengan bunyi plak kecil, lalu memposisikan dirinya duduk menghadap Elouis. "Ternyata kau terlambat karena tiga Orca itu, ya?"

​"Jawab saja pertanyaanku tadi," sahut Elouis datar, tidak berniat mengalihkan pembicaraan.

Edith sedikit terkekeh pelan sebelum menjawab. "Kau sangat tidak sabaran sampai tidak bersikap formal seperti sebelumnya, tapi itu bagus. Aku lebih suka versi dirimu yang seperti ini."

​Ia mengetuk-ngetuk dagunya sejenak, mengingat-ingat informasi yang ia punya. "Mm, jika aku menjabarkan para anggota saat ini, bisa dikatakan ada sepuluh anggota Elit termasuk tiga Orca itu. Untuk pemimpin mereka... rumornya adalah Sang Putra Mahkota sendiri. Lalu tepat di bawahnya, kau tahu sendiri, adalah para Orca dari klan Shade Galactus."

Edith menghentikan kalimatnya sejenak, ekspresi wajahnya berubah sedikit ngeri saat menyebutkan nama berikutnya. "Di posisi ketiga, jika aku tidak salah ingat, ada senior kita yang bernama Lucifer. Dia adalah keturunan murni dari klan Naga. Orang-orang sangat takut padanya karena dia sering kehilangan kesadaran akibat insting naganya yang terlalu mendominasi tubuhnya. Jika dia sudah mengamuk, bahkan para Orca pun harus berpikir dua kali untuk menghentikannya."

Gerakan tangan Elouis yang sedang mengeringkan rambut menggunakan handuk langsung terhenti. Sepuluh anggota Elit. Putra Mahkota. Klan Naga murni yang tidak stabil.

Edith sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Elouis, menurunkan volume suaranya seolah takut dinding kamar mereka bisa mendengar. "Lalu, dari klan Cheetah, ada satu perempuan yang sedikit—ralat, sangat agresif. Kalau aku tidak salah ingat namanya adalah Cleona. Dia dan Lucifer benar-benar sering bentrok karena ego ras mereka sama-sama tinggi."

Edith menghela napas, menyandarkan punggungnya kembali ke bantal. "Dan masih ada empat orang lagi yang harus kau tahu, singkatnya saja... mereka berempat ini bukan dari ras binatang murni, mereka hanya manusia biasa namun memiliki kapasitas kekuatan yang sangat abnormal. Nama mereka adalah Chase, Arthur, Damian, dan... Alecto."

Deg!

Gerakan tangan Elouis mendadak membeku total. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama satu sekon penuh. Sepasang mata yang biasanya sedingin es itu kini membulat samar, menatap Edith dengan intensitas yang tidak biasa saat nama terakhir itu meluncur dari bibir teman sekamarnya.

"Kau... sungguh mengatakan nama itu? Alecto?" tanya Elouis, suaranya sedikit tertahan di tenggorokan.

Edith mengangguk polos, sedikit bingung dengan perubahan drastis aura Elouis. "Tentu saja, memangnya ada apa dengan nama itu? Dia salah satu manusia paling mengerikan di The Abyss Class..."

Kalimat Edith mendadak terputus. Otaknya berputar cepat, menghubungkan reaksi ganjil Elouis dengan marga atau garis keturunan yang mungkin saling terikat. Detik berikutnya, Edith ikut membulatkan matanya, menatap Elouis dengan ekspresi shock yang luar biasa.

"Tunggu! Jangan bilang..." Edith menutup mulutnya dengan kedua tangan, memekik tertahan. "Dia saudaramu?!"

Elouis langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela, menyembunyikan kilatan emosi kompleks yang sempat melintasi netranya. Ekspresi wajahnya kembali mengeras, bertukar menjadi topeng dingin yang tak tersentuh seperti biasanya.

​"Sayangnya... benar," sahut Elouis pelan, namun nadanya sedalam jurang.

Edith menatap Elouis dengan tatapan penuh akan rentetan pertanyaan yang sudah menggunung di kepalanya. Namun, sebelum satu pun pertanyaan itu sempat meluncur dari mulut teman sekamarnya, Elouis sudah bergerak lebih cepat. Ia berdiri dari kursinya, meraih jubah hitam khas akademi miliknya, lalu memakainya dengan satu gerakan anggun yang efisien.

"Sebaiknya kita segera pergi ke aula dan mengambil jatah makan malam sebelum terlambat," ujar Elouis datar.

Tanpa menunggu respons, ia langsung berbalik dan berjalan ke arah pintu, bersiap untuk memutar knopnya. Melihat itu, Edith tersentak. Ia buru-buru bangkit dari ranjang hingga novelnya terlempar ke kasur. Dengan gerakan setengah panik, ia menyambar jubah akademinya sendiri dan memakainya secara terburu-buru sembari setengah berlari mengejar Elouis.

"Kau sungguh akan mengabaikan seluruh pertanyaanku yang sudah di ujung lidah ini, ya?" gerutu Edith dengan napas sedikit terengah saat berhasil menyejajarkan langkahnya di samping Elouis yang sudah membuka pintu kamar.

Elouis tidak menjawab, hanya menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat. Ia melangkah keluar menuju koridor asrama yang kini mulai dipenuhi oleh murid-murid lain yang memiliki tujuan sama: aula makan malam.

Aroma sup hangat dan daging panggang langsung menyambut mereka begitu menginjakkan kaki di aula utama yang megah. Kini, Elouis dan Edith bergabung dalam barisan antrean bersama puluhan murid lainnya untuk mengambil jatah makan malam dengan tertib.

Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Keheningan sore segera pecah ketika kebisingan mulai terdengar dari arah sudut meja tengah. Suara makian kasar menyalak, disusul oleh bunyi prak! yang nyaring saat beberapa murid mulai saling dorong hingga menumpahkan nampan kayu mereka di atas meja. Kuah sup panas dan potongan daging berhamburan ke lantai, memicu lingkaran tontonan baru yang riuh.

Edith berbisik pelan, matanya masih terpaku menatap anak-anak dari ras berdarah campuran yang tengah berkelahi memperebutkan wilayah kursi tersebut. "Kekacauan di hari pertama benar-benar tidak ada habisnya, ya? Semua orang seperti binatang kelaparan yang ingin pamer taring."

Elouis mengangguk samar, setuju dengan perkataan Edith. "Sifat alami semua orang seperti itu, jika mereka ingin dipandang hebat oleh para elit," sahutnya pelan, mengabaikan baku hantam di ujung ruangan dan tetap fokus memajukan langkahnya dalam antrean.

Setelah berhasil mendapatkan porsi makan malam mereka tanpa hambatan, keduanya segera mencari meja yang cukup tenang. Mereka berdua makan dengan perlahan, menikmati hidangan yang sederhana.

Namun, ketenangan mereka tidak bertahan lama. Di tengah-tengah momen makan malam itu, dua pemuda berambut hitam juga putih tiba-tiba muncul membawa nampan makanan di tangan mereka masing-masing. Tanpa memedulikan tatapan heran dari murid-murid di sekitar, Kael dan Kazel langsung menarik kursi kosong di samping Edith dan Elouis tanpa mengucapkan kata permisi sedikit pun.

Elouis langsung menghentikan suapannya. Sepasang matanya menyipit, menatap tajam kedua saudara kembar klan rubah tersebut yang kini sudah duduk dengan santai di dekatnya.

​"Apa-apaan kalian berdua? Bukankah perjanjiannya masih ada dua jam lagi?" celetuk Elouis dengan nada dingin yang kentara, menuntut penjelasan dari tingkah laku impulsif mereka.

Kael hanya terkekeh pelan sembari menancapkan garpunya ke potongan daging, sementara Kazel menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil tersenyum jahil.

​"Kami hanya ingin makan malam, Elouis. Lagipula, tidak ada meja yang tenang lagi di aula ini selain di sini," jawab Kazel dengan nada polos yang dibuat-buat, mengabaikan fakta bahwa kehadiran mereka justru membuat meja itu kini menjadi pusat perhatian baru.

Edith yang duduk di sebelah Elouis mendadak membeku. Matanya bergerak bergantian menatap Elouis, lalu ke arah Kael dan Kazel dengan ekspresi shock yang tertahan. Otaknya mencoba mencerna situasi: bagaimana bisa teman sekamarnya yang misterius ini sudah membuat janji rahasia dengan dua bangsawan klan Vynloc dalam waktu kurang dari satu hari?

​"Kau... berutang cerita banyak padaku," bisik Edith dengan nada penuh penekanan di telinga Elouis.

​Sedangkan yang dibisiki hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah, tahu betul bahwa ia tidak akan bisa lari dari interogasi Edith begitu mereka kembali ke kamar nanti.

Suasana di meja sudut itu sempat menghening selama beberapa saat, hanya diisi oleh denting pelan alat makan yang beradu. Kael yang menyadari atmosfer canggung tersebut akhirnya mendongak, lalu memasang senyum ramahnya yang paling menawan.

​"Selamat makan, teman-teman," ujar Kael dengan nada ringan, berusaha memecah keheningan di antara mereka berempat.

​"Siapa yang kau panggil teman itu?" celetuk Edith tanpa sadar.

Begitu kalimat itu lolos dari bibirnya, Edith langsung membulatkan mata dan membeku seketika. Kesadarannya baru berputar penuh bahwa pemuda yang baru saja ia ketusi adalah Kael Vynloc—salah satu dari elit klan rubah yang sangat disegani di akademi ini. Edith buru-buru menunduk, pura-pura sangat tertarik dengan potongan sayur di nampannya demi menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah karena panik dan malu.

Mendengar respons ketus yang tidak terduga dari Edith, Kael dan Kazel sempat saling bertukar pandang selama satu detik. Namun, alih-alih tersinggung atau marah seperti bangsawan arogan pada umumnya, sepasang saudara kembar itu justru kompak menyemburkan tawa kecil.

​"Ah, sepertinya teman sekamarmu ini jauh lebih galak darimu, Elouis," sahut Kazel sembari menopang dagunya dengan sebelah tangan, matanya berkilat jenaka menatap Edith yang makin salah tingkah. "Tapi tidak apa-apa, aku suka orang-orang yang jujur dan tidak bermuka dua di depan kami."

Elouis hanya menghela napas pendek, tetap menyuap makanannya dengan tenang seolah-olah ia tidak sedang duduk bersama dua rubah licik yang paling gemar memancing keributan.

"Cepat habiskan makanan kalian. Jika kalian terus mengoceh dan membuat meja ini menarik perhatian, aku bersumpah tidak akan datang ke tempat yang kalian janjikan nanti."

Mendengar ancaman dingin yang keluar dari mulut Elouis, Kael dan Kazel secara serempak langsung bungkam. Keduanya segera menatap ke arah piring mereka masing-masing dan menyantap makanannya dengan patuh tanpa berkomentar satu patah kata pun lagi. Suasana meja yang tadinya penuh pancingan jahil mendadak berubah menjadi sangat tenang dan fokus pada makanan.

Edith yang menyaksikan pemandangan itu melotot samar di balik nampannya. Ia merasa sangat heran sekaligus takjub dengan dua rubah terpandang di depannya yang bisa segera menurut hanya karena ancaman sederhana dari seorang Elouis. Di dalam kepalanya, Edith semakin yakin bahwa teman sekamarnya ini bukanlah orang sembarangan. Jika bangsawan tinggi klan Vynloc saja bisa dijinakkan secepat ini, siapa sebenarnya Elouis Wolfyn?

Makan malam pun berakhir dalam keheningan yang efisien. Elouis menjadi orang pertama yang meletakkan sendoknya, diikuti oleh Edith, lalu si kembar rubah yang membersihkan mulut mereka dengan saputangan formal.

​"Dua jam dari sekarang. Kami akan menunggu di tempat yang sama, Elouis. Jangan terlambat," bisik Kael dengan nada yang kini kembali serius, memberikan anggukan hormat kecil sebelum ia dan Kazel berdiri membawa nampan mereka dan menghilang di antara kerumunan murid.

Begitu dua rubah itu pergi, Edith langsung mencengkeram lengan baju Elouis. "Bagus, sekarang mereka sudah pergi. Kau utang penjelasan besar padaku, Elouis! Apa maksud dari 'tempat yang dijanjikan' itu? Dan kenapa mereka berdua bertingkah seperti peliharaan penurut di depanmu?!"

Elouis hanya menghela napas panjang, menatap pintu keluar aula. "Ayo kembali ke kamar. Aku akan menceritakan apa yang terjadi sebelumnya.."

1
Three Flowers
syukurlah dia tidak bertanya lagi
Three Flowers
untung ada sahabat yang sangat pengertian
Xlyzy
mereka terlihat berbahaya, kalian harus hati hati extra hati hati kalau bisa
Miu.Nuha
yaahh selesai deh, padahal lagi tegang2nya...
Miu.Nuha
mereka bisa bercakap2 dgn saling batin begitu? hebat juga ya 👍 seperti esper gitu...
Miu.Nuha
ada untungnya ya El
tpi kamu harus tetap waspada dn jaga dirimu baik2 👍
-Thiea-
dia udah siap sepenuhnya menghadapi ujian apapun. udah ditempa dari kecil soalnya.
-Thiea-
terlalu banyak basa-basi. mending langsung mulai aja. udah gak sabar di elouis.
Filan
kak, ini panjang banget. apa 2500?
ali: tambah 3 kak.. aku kebablasan nulisnya
total 3 replies
Mingyu gf😘
Ayoo, kamu pasti bisa, demi membalas darah kedua orang tuamu
Filan
tegang sekali saling mengintai
Mingyu gf😘
Bersyukur masih ada pengawal setia yang mau menolong satu satunya anggota keluarga yang tersisa
Filan
waduh, berburu
Filan
mau ngapain bocah malam-malam. sibuk amat bukannya tidur.
Myz Pena
semoga aja kael dan kezil kawan yang baik untuk elois
Myz Pena
Vincent ternyata kemampuannya hebat juga ya...
ginevra
iya sih kalian terlalu lama tatap2an. ayolah gas dimulai kelasnya
ginevra
terus gimana Lou? mending di tengah2 kan ya
Xlyzy
yey kalian satu kelas aman deh kalau gutu
Three Flowers
banyak yang kembar karena lahir dari ras binatang ya?
ali: iyaa kakk, aku riset dulu sebelum bikin cerita ini hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!