NovelToon NovelToon
SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

SETAHUN MENIKAH TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SenandikaMaret

Dijodohkan karena darah keraton yang mengalir dalam tubuh mereka, Raden Danendra Adipati dan Raden Ayu Kirana Ayodya menerima pernikahan tanpa protes. Satu tahun berlalu dalam ketenangan yang nyaris membosankan. Tidak ada pertengkaran, tidak ada pengkhianatan, bahkan tidak ada cinta. Mereka hidup layaknya dua orang asing yang kebetulan berbagi rumah dan nama belakang yang sama. Namun ketika keadaan memaksa mereka untuk saling mengenal lebih dekat, Kirana mulai menyadari bahwa di balik sikap dingin Danendra tersimpan perhatian yang tak pernah ia tunjukkan. Sementara Danendra perlahan memahami bahwa perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya. Di antara tradisi keluarga, tuntutan sebagai keturunan keraton, dan perasaan yang tumbuh terlambat, keduanya harus belajar bahwa cinta tidak selalu hadir sebelum pernikahan. Terkadang cinta justru datang setelah dua hati yang asing memilih untuk saling tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SenandikaMaret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PASANGAN IDEAL

Rumah Eyang masih ramai meskipun makan malam telah selesai hampir tiga puluh menit yang lalu. Piring-piring kotor sudah dibawa ke dapur oleh para asisten rumah tangga, sementara anggota keluarga yang lebih tua berkumpul di ruang tengah sambil menikmati teh hangat dan camilan. Sesekali tawa pecah memenuhi ruangan, membuat suasana malam itu terasa hangat dan hidup.

Kirana duduk di sofa panjang dekat jendela. Segelas teh melati hangat berada di tangannya, meski sejak tadi nyaris tidak berkurang. Pandangannya mengikuti obrolan para sepupu yang sedang bercanda di sudut ruangan.

"Jujur aja deh, aku iri sama kalian berdua." Suara itu datang dari sepupunya, Nisa, yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.

Kirana terkekeh kecil. "Iri kenapa?"

"Ya ampun, masih nanya. Setahun menikah tapi kelihatan adem ayem. Nggak pernah dengar gosip berantem, nggak pernah ada drama. Mas Danendra juga kelihatan perhatian banget."

Kirana refleks menoleh ke arah suaminya. Danendra sedang berbicara dengan pamannya di seberang ruangan. Kemeja hitam yang ia kenakan membuat tubuhnya terlihat semakin tegap. Sesekali ia menganggukkan kepala sambil mendengarkan lawan bicaranya dengan takzim.

Dari luar, laki-laki itu memang tampak sempurna. Sopan, mapan, bertanggung jawab, tidak pernah mempermalukan istrinya, dan tidak pernah membuat masalah.

Kirana tersenyum tipis. "Mas Danendra memang baik."

Nisa mengangguk berulang kali. "Nah, itu. Cowok baik sekarang langka. Apalagi yang setampan dia."

Kirana hanya tertawa kecil mendengar kalimat terakhir itu. Tidak lama kemudian, Tante Ambar ikut bergabung dengan mereka. Perempuan itu membawa sepiring buah potong yang kemudian diletakkan di atas meja.

"Kalian ngomongin apa?" tanya Tante Ambar penasaran.

"Ngomongin Mas Danendra," jawab Nisa cepat.

"Oh, kalau itu memang nggak ada habisnya." Nisa langsung tertawa mendengar respons bibinya. "Kan, Tante juga setuju."

"Tentu saja. Coba lihat itu." Tante Ambar menunjuk ke arah Danendra yang masih berbincang dengan beberapa anggota keluarga. "Ganteng, mapan, sopan. Lengkap."

Kirana menggeleng geli. "Tante lebay."

"Aku serius, Kirana."

"Mas Danendra juga manusia biasa, Tante."

"Manusia biasa yang premium," sahut Tante Ambar cepat.

Kali ini Kirana benar-benar tertawa. Percakapan mereka terputus saat Danendra berjalan mendekat. Laki-laki itu baru saja selesai berbicara dengan para sesepuh keluarga.

"Mas, sini duduk," panggil Tante Ambar ramah.

Danendra mengangguk lalu mengambil tempat kosong di samping Kirana.

Laki-laki yang baru saja duduk tanpa banyak bicara itu tiba-tiba mengulurkan tangan. Ia memindahkan gelas teh Kirana yang berada terlalu dekat dengan ujung meja nakas, menggesernya sedikit lebih ke tengah.

"Nanti jatuh," ucap Danendra pendek.

Hanya itu yang ia katakan sebelum kembali menoleh dan melanjutkan obrolannya yang tertunda dengan paman. Kirana sendiri bahkan tidak sempat bereaksi. Ia terpaku menatap jemari suaminya yang kembali menjauh, meninggalkan kehangatan samar yang tertinggal di permukaan gelas.

Tak berselang lama, asisten rumah tangga datang membagikan mangkuk-mangkuk kecil berisi puding mangga sebagai makanan penutup. Danendra, tanpa mengalihkan pandangan dari obrolan politik bersama paman, meraih sendoknya lalu dengan gerakan kasual memindahkan potongan buah mangga segar dari atas pudingnya ke dalam mangkuk Kirana.

Ia tahu Kirana sangat menyukai buah itu. Sebuah kebiasaan kecil yang bahkan mungkin tidak Danendra sadari sendiri, tetapi sukses membuat dada Kirana berdesir aneh.

Suasana kembali hangat. Obrolan berpindah dari satu topik ke topik lain, sampai sebuah pertanyaan yang sangat familiar akhirnya muncul ke permukaan.

"Ngomong-ngomong..." Tante Ambar menatap mereka bergantian. "Kapan kami dikasih cucu?"

Seketika ruangan menjadi lebih riuh.

"NAH!"

"Akhirnya ditanya juga."

"Ini yang ditunggu-tunggu dari tadi."

Kirana yang sedang minum teh hampir tersedak. Ia buru-buru meletakkan cangkirnya dengan tangan yang sedikit gemetar.

Pertanyaan itu sebenarnya sederhana. Namun bagi Kirana, rasanya seperti seseorang baru saja meletakkan cermin tepat di depan wajahnya. Detak jantungnya mendadak terasa bertalu lebih cepat, memicu rasa perih yang samar di ulu hati. Karena untuk memiliki seorang anak, mereka seharusnya menjadi sepasang suami istri yang sesungguhnya terlebih dahulu. Dan terkadang, Kirana sendiri tidak yakin apakah mereka sudah sampai di tahap itu.

"Kalian kan sudah setahun menikah," lanjut Tante Ambar. "Masa belum ada kabar baik?"

Kirana memaksakan senyum kaku, jemarinya saling bertautan erat di atas pangkuan.

"Kalian jangan bikin anak-anak ini tertekan," tegur salah satu paman, mencoba menengahi.

"Lho, aku cuma tanya," bela Tante Ambar.

"Kalau ditanya terus ya tetap saja jadi tekanan."

Beberapa orang tertawa, namun topik itu ternyata belum selesai. Eyang yang sejak tadi diam di kursi rodanya tiba-tiba ikut berbicara. "Eyang sebenarnya tidak memaksa." Semua langsung memperhatikan perempuan tua itu. "Tapi kalau memang Allah memberi rezeki dalam bentuk cicit, tentu Eyang akan sangat bahagia."

Nada suaranya lembut, tidak menghakimi, dan tidak memaksa. Namun, justru karena itulah Kirana merasa semakin tidak nyaman.

Secara refleks ia menoleh ke arah Danendra. Di saat yang sama, Danendra juga sedang menatapnya. Hanya sebentar, sangat sebentar. Namun untuk sesaat, pandangan mereka bertemu. Tidak ada senyum, tidak ada kode rahasia, tidak ada percakapan tanpa suara seperti yang sering terjadi pada pasangan yang saling memahami. Mereka hanya saling memandang dalam kebingungan yang sama, lalu buru-buru mengalihkan tatapan.

"Kami belum memikirkan ke arah sana," jawab Danendra akhirnya. Suaranya tenang dan terkontrol, seperti biasa.

Tante Ambar mengangguk paham. "Oh, masih mau menikmati masa berdua, ya?"

Danendra tidak langsung menjawab. "Kurang lebih begitu."

Jawaban aman yang cukup untuk membuat topik tersebut perlahan bergeser ke pembahasan lain. Kirana diam-diam mengembuskan napas lega, meskipun rasa sesak di dadanya tidak sepenuhnya hilang.

Malam semakin larut. Satu per satu anggota keluarga mulai berpamitan pulang. Saat Eyang meminta foto bersama sebelum semua bubar, seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah. Kirana berdiri di samping Danendra.

Fotografer keluarga mengangkat kamera. "Ayo semuanya senyum!"

"Kirana, dekat sedikit lagi sama suamimu," suara Tante Ambar kembali terdengar mengarahkan dari balik barisan.

Kirana menahan napas sejenak, lalu bergeser pelan setengah langkah. Danendra yang menyadari hal itu tidak menjauh, ia justru ikut bergerak mendekat hingga bahu mereka kini saling bersentuhan dengan kokoh.

Dari luar, di depan lensa kamera yang berkedip, mereka tampak seperti pasangan serasi yang sedang dimabuk cinta. Namun lucunya, sentuhan sederhana itu justru terasa begitu asing bagi Kirana. Kulitnya bisa merasakan kehangatan tubuh Danendra yang menembus kain pakaian mereka, tetapi di saat yang sama, ia tersadar betapa lebarnya jarak emosional yang masih membentang di antara mereka.

Setelah sesi foto selesai, Danendra mengambil kunci mobil dari meja dekat pintu. "Ayo pulang."

Kirana mengangguk. Mereka berpamitan kepada seluruh keluarga sebelum berjalan beriringan menuju halaman depan. Udara malam terasa lebih sejuk dibanding beberapa jam lalu.

Saat memasuki mobil, Kirana menyandarkan tubuhnya ke kursi dan memandang keluar jendela. Meski acara berjalan lancar, pikirannya masih dipenuhi oleh sisa-sisa percakapan tadi.

Mobil mulai bergerak meninggalkan rumah Eyang, membelah jalanan malam Jakarta. Lampu-lampu kota berpendar di sepanjang jalan, menciptakan bias cahaya kemerahan di dalam kabin mobil yang sunyi.

Kirana kembali menoleh ke arah laki-laki yang duduk di sampingnya. Danendra masih fokus menyetir, sama seperti biasanya.

Sulit ditebak.

Sulit dibaca.

Dan entah sejak kapan, Kirana mulai ingin tahu apa yang sebenarnya ada di balik ketenangan itu.

1
Wawan
Satu kembang buatmu Thor 💪✍️
Wawan
Wow... Why? 😍💪✍️
SenandikaMaret: kinapa yaa kira-kiraa yuk terus pantengin kisah kirana 🤭🥰
total 1 replies
Wawan
Nah lo 😍
SenandikaMaret: hayolooo 🤣
total 1 replies
Wawan
kembang mawar buatmu Kirana ✍️
SenandikaMaret: 🌹🌹 mawar juga untukmu kak, dari kirana 🤭
total 1 replies
Wawan
🤭🤭🤭 .... ngapain aja selama ini?
SenandikaMaret: hanya kirana dan tuhan lah yang tau 🤣
total 1 replies
Wawan
Naaaah.... 🤭
SenandikaMaret: nah loh 🤭
total 1 replies
Wawan
mawar buatmu thor 💪✍️
SenandikaMaret: 🌹 makasih
total 1 replies
Wawan
Wow bahaya clue-nya sangat ✍️🤭
SenandikaMaret: bikin penasaran kan 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Kirana
SenandikaMaret: haloo salam kenal juga 😇 dan selamat berkelana di dunia kirana💫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!