NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekad Azizah

Malam harinya, udara pegunungan turun membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Daun-daun teh di luar sana bergemerisik pelan disapu angin malam. Setelah merapikan pakaian mereka, Azizah dan Laksmi melangkah keluar rumah, menyeberangi pelataran tanah yang memisahkan tempat tinggal mereka dengan rumah berlantai keramik hijau milik Arif.

Pintu depan rumah itu sudah terbuka lebar, memancarkan cahaya lampu yang terang benderang. Bau harum tumisan bumbu khas kota dan aroma ayam goreng langsung menyergap indra penciuman begitu mereka mendekati ambang pintu.

“Assalamualaikum,” ucap Laksmi setengah berseru sambil mengetuk kusen pintu.

Azizah mengekor di belakang sang nenek, kedua tangannya merapatkan jaket rajut cokelat tua yang sudah agak pudar warnanya demi menghalau dingin.

“Waalaikumsalam! Eh, Mbak Laksmi, Azizah. Masuk, masuk!” sahut Arif ramah dari arah ruang tengah. Pria paruh baya itu tampak sedang menggelar karpet lipat di lantai, menyiapkan tempat duduk lesehan yang nyaman untuk mereka semua.

“Wah, aromanya wangi sekali. Kau masak apa saja, Dewi?” tanya Laksmi sembari melepas alas kakinya dan melangkah masuk ke dalam rumah.

Dewi muncul dari arah dapur dengan celemek yang masih terikat di pinggangnya. Kedua tangannya membawa sebuah mangkuk besar berisi sup ayam yang mengepul hangat, “Aku masak sup ayam pakai bumbu instan yang kubeli di supermarket kota. Ada juga ayam goreng krispi dan sambal korek. Ayo duduk, kita langsung makan selagi hangat!”

Azizah tersenyum lebar, matanya berbinar menatap hidangan yang tersaji di atas meja lipat pendek. Jemarinya bergerak lincah menyapa bibinya.

‘Wah, kelihatannya enak sekali, Bi.’

Dewi tertawa kecil walau masih agak terbata-bata mengingat gerakan isyarat wanita itu, “Pasti enak, Zah! Kau harus makan yang banyak malam ini.”

Mereka berempat kemudian duduk melingkar di atas karpet. Arif memimpin doa sebelum makan dengan khidmat. Begitu doa selesai, Dewi dengan cekatan menyendokkan nasi dan lauk ke piring Laksmi dan ayahnya, sementara Azizah mengambil bagiannya sendiri dengan sopan.

Di sela-sela denting sendok dan garpu, obrolan hangat mulai mengalir.

“Bagaimana pekerjaanmu di kota, Dewi? Majikanmu masih memperlakukanmu dengan baik?” tanya Arif di tengah kunyahannya, membuka percakapan yang sejak sore tadi mengganjal di hatinya.

Dewi menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab, “Alhamdulillah, Yah. Nyonya besar baik sekali padaku. Beliau itu orang kaya yang sangat dihormati di perumahan elite, tapi sifatnya sama sekali tidak sombong.”

Mendengar kata kota dan majikan, gerakan tangan Azizah yang sedang memegang sendok sempat tertahan sejenak. Ia mendengarkan cerita itu dengan saksama, sementara sepasang matanya menatap lurus ke arah Dewi, menunggu kelanjutan cerita tentang kehidupan di luar desa yang selama ini hanya bisa ia bayangkan.

Laksmi mengangguk-angguk takjub mendengar cerita keponakannya. Ia menyuap sesendok nasi hangat, lalu menatap Dewi dengan pandangan teduh penuh rasa syukur.

“Alhamdulillah kalau begitu. Zaman sekarang susah cari majikan yang punya hati baik dan tidak semena-mena pada orang kecil seperti kita,” sahut Laksmi tulus, “Semoga pekerjaanmu di sana selalu berjalan lancar dan dilindungi oleh Allah.”

Dewi tersenyum haru, matanya agak berkaca-kaca mendengar doa dari wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri setelah ibunya tiada, “Amin, amin ya Allah. Terima kasih, Bi. Doa Bibi itu yang paling membuatku kuat untuk bertahan di kota orang.”

Arif yang duduk di sebelah Dewi hanya bisa menghela napas panjang, tersenyum kecut sambil menepuk pelan bahu anaknya. Ada gurat rasa bersalah di wajah tuanya karena harus membiarkan anak perempuannya memikul beban kesalahan usahanya yang bangkrut.

Di sudut lain karpet, Azizah kembali terdiam. Sambil mengunyah pelan ayam goreng krispi di piringnya, tatapan wanita itu bergerak lurus menatap ubin keramik hijau di bawahnya.

Mendengar doa Laksmi untuk Dewi justru membuat dada Azizah kembali berdenyut perih. Di dalam hatinya, sebuah gejolak kecil mulai tumbuh dan menuntut jawaban.

Lalu bagaimana dengan nasibku dan Nenek? Sampai kapan kami harus bergantung pada hasil petikan teh yang harganya semakin murah? Batinnya.

Azizah mengangkat wajahnya, menatap lekat ke arah Dewi yang kembali sibuk mengobrol dengan Arif. Keberanian yang sejak sore tadi ia pendam, perlahan-lahan mulai naik ke permukaan.

Setelah acara makan malam yang hangat itu selesai, Azizah dengan cekatan membantu Dewi mengangkut piring dan peralatan makan kotor ke dapur. Sementara itu, Arif dan Laksmi masih asyik melanjutkan obrolan mereka di ruang tengah, ditemani sisa teh hangat yang mulai mendingin.

Di depan bak cuci piring, suasana mendadak senyap. Hanya ada bunyi gemercik air kran dan denting sendok yang beradu. Azizah menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang sejak sore tadi menggunung di dadanya. Ia menyenggol pelan lengan Dewi untuk menarik perhatian wanita itu.

Begitu Dewi menoleh, jemari Azizah bergerak dengan lincah namun hati-hati.

‘Bi, apakah pekerjaan Bibi di kota sangat sulit? Maksudku... apakah sulit bagi orang sepertiku, yang tidak bisa bicara, untuk bekerja di sana?’

Gerakan tangan Dewi yang sedang memegang spons sabun seketika terhenti. Ia tampak bingung sekaligus terkejut. Pandangan Dewi langsung melirik cemas ke arah ruang tengah, memastikan bibinya tidak mendengar.

“Zah...” Dewi berbisik pelan, “Nenekmu tahu kau menanyakan hal ini?”

Azizah menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tangannya kembali bergerak menerangkan.

‘Nenek tidak tahu. Aku hanya ingin bertanya saja. Kalau memang tidak terlalu sulit, aku ingin mencoba peruntunganku di kota. Hasil dari buruh petik teh sekarang benar-benar tidak cukup untuk kebutuhan kami. Aku melihat Bibi bisa bekerja dengan lancar di sana, jadi aku juga ingin mencoba.’

Mendengar kejujuran keponakannya, Dewi menghela napas panjang. Gurat kesedihan membayang di wajahnya. Ia mematikan kran air, mengelap tangannya yang basah, lalu menyentuh lembut bahu Azizah.

“Maafkan Bibi ya, Zah,” ucap Dewi dengan suara bergetar menahan haru, “Jika saja bukan karena beban utang Ayah yang sangat besar, Bibi pasti sudah menyisihkan sebagian gaji untuk membantu kau dan Bibi Laksmi di sini.”

Azizah menggelengkan kepalanya dengan cepat, wajahnya menyiratkan rasa tidak enak. Jemarinya bergerak lincah menenangkan sang bibi.

‘Jangan bicara seperti itu, Bi. Tentu saja tidak apa-apa. Kita kan sudah memiliki urusan rumah tangga masing-masing. Aku tidak ingin membebani Bibi.’

Dewi menatap lekat sepasang mata jernih keponakannya itu. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, ia akhirnya bersuara, “Zah, sebenarnya... baru-baru ini ada salah satu pembantu di rumah majikanku yang terpaksa keluar karena harus pulang kampung mengurus orang tuanya yang sakit. Sampai sekarang posisinya masih kosong.”

Mata Azizah seketika membelalak, ada binar harapan yang mendadak tumpah di sana.

“Nanti, Bibi akan coba tanyakan kepada Nyonya besar, apakah beliau mau menerima pekerja dengan kondisimu yang tidak bisa bicara. Tapi kau jangan berharap terlalu tinggi dulu, ya?” lanjut Dewi pelan.

Senyum Azizah merekah begitu lebar. Baginya, ini adalah sebuah kesempatan emas yang dikirimkan Allah. Ia mengangguk antusias lalu menggerakkan tangannya cepat.

‘Iya, Bi, tidak apa-apa. Terima kasih banyak ya, Bi!’

Dewi tersenyum haru melihat binar bahagia itu. Ia mengangguk, lalu mengulurkan tangannya untuk mengelus lembut kepala Azizah yang tertutup jilbab kainnya yang rapi.

“Kau ini anak yang sangat salehah, Zah. Berbakti sekali pada orang tua,” puji Dewi tulus, lalu sedetik kemudian ia menunduk menatap pakaiannya sendiri sambil tersenyum kecut, “Beda sekali dengan Bibi... sampai sekarang pun Bibi belum bisa memantapkan hati untuk menutup aurat dengan baik seperti kamu.”

Azizah tersenyum teduh, tatapannya begitu menyejukkan. Jemarinya bergerak perlahan, menyampaikan pesan yang menyentuh hati.

‘Semua ini bersumber dari niat dalam hati, Bi, bukan karena paksaan orang lain. Pelan-pelan saja, suatu saat Bibi pasti juga akan siap.’

Dewi menurunkan tangannya, senyumnya kini terasa lebih ringan. Ia sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh keponakannya itu. Rasa kagumnya pada kedewasaan Azizah semakin bertambah.

“Iya, Zah. Doakan Bibi, ya,” ucap Dewi sambil menepuk pelan punggung Azizah, “Ya sudah, yuk kita selesaikan cuci piringnya sekarang, sebelum nenekmu curiga karena kita terlalu lama di dapur.”

Azizah mengangguk ceria, lalu mereka berdua kembali kompak membersihkan sisa alat makan malam itu dengan hati yang jauh lebih lega.

......................

Waktu berputar dengan cepat. Setelah menyelesaikan salat subuhnya yang khidmat, Azizah melipat sajadah dan mukenanya dengan rapi, lalu mengembalikannya ke tempat semula. Langkah kakinya yang ringan kemudian membawanya keluar kamar menuju dapur untuk membantu sang nenek.

Di dekat bak cuci piring, Azizah bisa melihat punggung ringkih Laksmi yang tampak sedikit membungkuk, sedang fokus membersihkan beras di dalam wadah baskom aluminium. Ia melangkah mendekat, menyentuh pelan pundak wanita tua itu, lalu memberi isyarat meminta agar ia saja yang melanjutkan pekerjaan itu.

Laksmi tersenyum teduh, lalu memberikan baskom berisi beras itu kepada Azizah. Sementara cucunya melanjutkan mencuci beras, Laksmi mulai mengenakan jaket rajut hangat dan hijab jadulnya, bersiap pergi ke pasar yang terletak tidak jauh dari desa mereka untuk membeli sayuran.

“Zah, kau mau dibelikan lauk atau jajan pasar apa?” tanya Laksmi setengah berseru sebelum melangkah ke pintu.

Azizah menoleh cepat. Ia buru-buru mengibas-ngibaskan tangannya yang basah, lalu jemarinya bergerak lincah menanggapi.

‘Nek, biar aku saja yang pergi ke pasar. Lagipula, kupikir Nenek tidak akan ke pasar hari ini karena kita masih punya nangka muda yang belum dibelah di belakang. Kukira kita akan mengolah itu saja.’

Laksmi menggeleng pelan sambil merapikan letak hijabnya, “Nangka mudanya buat besok-besok saja, Zah. Nenek hari ini ingin membeli kangkung, kacang panjang, sama tauge untuk membuat lalapan segar.”

Bahu Azizah seketika meluruh pelan. Ada rasa sesak yang kembali menggelitik dadanya. Keterbatasan ekonomi yang membuat mereka tidak memiliki lemari pendingin, memaksa mereka harus bolak-balik ke pasar setiap hari karena tidak bisa menyetok banyak sayuran. Semuanya harus dibeli secukupnya agar tidak telanjur membusuk dan terbuang sia-sia.

Laksmi mengencangkan ikatan jaketnya, “Ya sudah, Nenek berangkat sekarang, ya. Sekalian Nenek ingin mampir menemui tetangga depan yang beberapa hari lalu menawari Nenek jadi buruh tanam cabai di ladangnya. Nenek ingin memastikan hari apa mulai kerjanya.”

Mendengar ucapan itu, dada Azizah bagai dihantam palu besar. Rasa bersalah yang teramat dalam langsung melingkupi seluruh hatinya. Bagaimana bisa ia membiarkan neneknya yang sudah setua itu masih harus membungkuk di ladang cabai demi upah yang tidak seberapa?

Saat Laksmi berbalik dan berniat keluar melewati pintu dapur, dengan gerakan cepat Azizah mengusap tangannya yang basah ke kain lap, lalu mengejar langkah sang nenek. Ia menyentuh punggung ringkih itu dengan sedikit desakan, membuat wanita tua itu terkejut dan menoleh ke belakang dengan raut heran.

Azizah menatap lekat sepasang mata keriput neneknya. Napasnya naik turun, menahan gejolak emosi sebelum akhirnya jemarinya bergerak dengan sangat mantap, menyuarakan keputusan terbesar dalam hidupnya.

‘Nek, aku mau bekerja di kota,’ isyarat Azizah, matanya berkaca-kaca namun menyiratkan tekad yang bulat, ‘Semalam aku sudah bertanya pada Bibi Dewi soal pekerjaannya. Kata Bibi, baru saja ada pembantu di rumah majikannya yang keluar, dan mungkin ada kesempatan besar bagiku untuk menggantikan posisi itu di sana.’

Laksmi sontak membulatkan matanya terkejut. Gurat penolakan langsung tergambar jelas di wajah tuanya yang mulai keriput.

“Tidak, Zah! Nenek tidak setuju! Kota itu keras, apalagi dengan keterbatasan yang kau miliki. Bagaimana kau bisa bertahan di sana?”

Namun Azizah tidak berhenti begitu saja dalam membujuk sang nenek. Alih-alih mundur, wanita itu melangkah maju. Ia meraih kedua tangan Laksmi yang terasa kasar karena puluhan tahun bekerja keras, lalu menggenggamnya dengan sangat erat.

Setetes air mata lolos ke pipinya saat jemarinya mulai bergerak kembali, menyampaikan isi hati yang paling dalam.

‘Nek, di sana ada Bibi Dewi yang bisa menjagaku. Aku tidak akan sendirian,’ isyarat Azizah dengan tatapan memohon yang begitu kuat, ‘Aku hanya ingin Nenek bisa menikmati hari tua di rumah tanpa harus kelelahan lagi. Dari aku kecil, Nenek sudah bekerja keras membiayai hidupku. Sekarang giliran aku yang membuat Nenek hidup makmur.’

Azizah menghela napas pendek yang terasa sesak. Jemarinya kembali bergerak dengan gemetar.

‘Aku tidak tega, Nek... Aku tidak tega setiap malam melihat Nenek memijat punggung sendiri diam-diam di kamar, sementara di depanku Nenek selalu berlagak seolah semuanya baik-baik saja.’

Laksmi tertegun, tenggorokannya mendadak tercekat mendengar kalimat cucunya. Ia baru saja hendak membuka mulut untuk menyahut, namun Azizah langsung maju dan memeluk tubuh ringkih itu dengan erat. Wanita itu menenggelamkan wajahnya, menangis sesenggukan di ceruk leher sang nenek. Bahunya berguncang hebat, meluapkan seluruh rasa sayang dan kekhawatiran yang selama ini ia pendam sendiri.

Melihat ketulusan yang begitu besar dari sang cucu, pertahanan Laksmi runtuh. Air matanya ikut meleleh. Ia melingkarkan tangannya, mengusap punggung Azizah dengan penuh kasih sayang.

“Zah... Nenek tidak peduli bagaimana hidup Nenek berjalan,” bisik Laksmi dengan suara parau dan bergetar, “Nenek tidak butuh hidup makmur. Nenek hanya ingin kau hidup layak seperti anak-anak biasa lainnya. Nenek hanya ingin kau bahagia, Nak.”

Azizah perlahan melepaskan pelukannya. Ia menghapus air mata di pipinya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata sang nenek dengan binar yang sarat akan kesungguhan.

‘Aku baru bisa bahagia kalau melihat Nenek baik-baik saja dan tidak perlu bekerja keras lagi,’ jawabnya tegas lewat isyarat tangan.

Laksmi seketika terdiam. Hatinya terasa begitu mengganjal, diselimuti kebimbangan yang teramat dalam antara melepaskan cucu semata wayangnya ke kota besar atau menahannya di desa yang serba terbatas ini.

1
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!