Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.
Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.
Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Narsum Gaje
Andrean telah tiba di tempat janjian dengan narasumber tiga puluh menit lebih awal. Narasumber kali ini adalah seorang CEO startup yang masih muda dan sedang viral, Darrel Bramastya Wijaya.
Darrel merupakan founder sekaligus CEO teknologi yang sedang digandrungi anak muda masa kini, HighTech. Baru-baru ini, HighTech meluncurkan aplikasi terbaru yang membuat nama perusahaan melejit.
Andrean tentu saja tak ingin melewatkan topik hangat yang sedang viral seperti ini. Tiga hari yang lalu, Andrean sudah menghubungi pihak HighTech untuk mewawancarai sang CEO. Andrean merasa sangat beruntung permintaan wawancaranya langsung disetujui. Menurut rumor yang beredar di kalangan media, CEO HighTech bukan orang yang mudah dimintai waktu untuk wawancara.
Andrean melirik kembali arloji di tangan kirinya. Jam 08.51. Masih sembilan menit sebelum wawancara. Roni juga masih belum terlihat batang hidungnya. Andrean mulai tak sabar. Dia mengetuk-ngetukkan jari di atas meja Cafe Ruang Tunggu, cafe tempat janjian wawancara mereka.
"Sorry," suara Roni mengehentikan ketukan jari Andrean.
"It's okay. Masih sekitar sembilan menit. Lo belum telat," kata Andrean datar.
"Syukur deh. Gue lupa nyalain alarm. Untung aja jam tujuh tadi Bu Kos gue heboh gegara kucing piaraannya mati ditabrak motor. Gue langsung bangun," cerita Roni.
"Lo bangun dari jam tujuh, kenapa dateng mepet?" tanya Andrean heran. Pasalnya, jarak antara kos Roni dan cafe tempat janjian hanya lima menit naik motor.
"Ke pemakaman dulu," jawab Roni sambil menyiapkan kamera dan perintilannya.
"Siapa yang meninggal?" tanya Andrean dengan raut sedih.
"Kan gue udah bilang. Kucing Bu Kos mati ditabrak motor. Lo tau sendiri Bu Kos gue gimana. Kalo sampe ada yang nggak dateng di pemakaman kucing kesayangan dia, bisa kena pemadaman listrik sebulan," kata Roni santai sambil menyetting kameranya. Andrean memutar bola matanya, malas.
"Kalo sampe kek gitu, lo kan tinggal issue-in aja Bu Kos lo yang bawel itu. Beres," kata Andrean dingin.
"Jangan. Tempat kos dia paling murah di kawasan itu. Udah gitu fasilitas juga oke. Sayang," kilah Roni.
"Maaf, sudah lama nunggu saya?" sebuah suara menghentikan perdebatan Andrean dan Roni tentang Bu Kos.
"Oh. Mas Darrel. Silakan duduk!" kata Andrean yang kemudian berdiri sambil menjabat tangan Darrel. Darrel membalas jabatan tangan Andrean.
"Saya masih kurang paham, mengapa orang-orang suka sekali menjabat tangan saat pertama kali bertemu?" tanya Darrel sambil menggeser kursi lalu duduk. Andrean menaikkan satu alisnya sambil melirik ke arah Roni.
"Ah! Lupakan, lupakan. Saya memang sering mempertanyakan hal-hal sepele, yang bagi sebagian orang mungkin itu hal yang wajar," kata Darrel sambil terkekeh.
Andrean tersenyum kikuk. Bayangannya tentang seorang CEO muda yang mengenakan setelan jas berdasi yang berwibawa, seketika runtuh. Dia memang sudah mendengar banyak tentang Darrel. Tapi, Andrean tak menyangka bahwa orang aselinya akan lebih eksentrik dan unik dari yang dirumorkan.
'Well, mari kita kupas habis tentang orang ini,'
***
Sesi wawancara...
Andrean : Bagaimana awal mula Anda mendirikan HighTech?
Darrel : Sama seperti awal mula bumi. Dari yang tidak ada menjadi ada.
Andrean mengerutkan kedua alisnya mendengar jawaban Darrel yang menurutnya sangat tidak menjawab pertanyaan. Andrean mencoba bertahan dan bersikap profesional.
Andrean : Menurut Anda, apa yang menjadi nilai plus dari HighTech dibandingkan dengan startup-startup yang lain?
Darrel : Sudah pasti. Saya. Tentu saja.
Andrean kembali mengerutkan alisnya. Ternyata, rumor yang beredar tentang Darrel bukanlah rumor. Tapi fakta!
Andrean memejamkan matanya kemudian menarik nafas perlahan untuk menekan emosinya.
Andrean : Menurut kacamata Anda, bagaimana perkembangan HighTech lima tahun ke depan?
Darrel tersenyum. Andrean ikut tersenyum, merasakan kali ini jawaban yang akan meluncur dari mulut Darrel akan sedikit berbobot.
Darrel : Seperti halnya jodoh saya, saya belum bisa melihat kapan datangnya. Apakah lima tahun lagi, dua tahun lagi, atau sebentar lagi? Ah! Lena!
Kata terakhir yang diucapkan Darrel tentu saja membuat Andrean terkejut.
"Lena?" gumam Andrean sambil mengerutkan alisnya.
"Sorry, Mas, gue telat," sebuah suara yang begitu akrab di telinga Andrean sontak membuat Andrean menoleh seketika.
"Lo?" kata Andrean dan Lena bersamaan. Keduanya, seperti biasa, saling bertukar tatapan sinis. Darrel tersenyum sambil menatap Andrean dan Alena bergantian.
"Gawat nih," gumam Roni, sambil menjepretkan kamera ke arah Andrean dan Alena.
"Mari kita lanjutkan wawancaranya," kata Darrel sambil tersenyum tanpa menyadari bahwa dua jurnalis di depannya adalah musuh bebuyutan yang nyata.
"Maaf, Mas Darrel, sebelumnya. Bukankah janji hari ini adalah wawancara dengan saya?" tanya Andrean mencoba mengkonfirmasi jadwalnya.
"Oh! Ya. Hari ini saya wawancara dengan Hotnews.com. Kalian dari Hotnews kan?" tanya Darrel dengan entengnya.
"Bener, Mas," jawab Alena cepat.
"Tapi..."
"Waktu saya mepet ini. Kalo bisa agak dipercepat ya," pinta Darrel memotong kalimat yang akan Andrean ucapkan.
"Beres, Mas," sahut Alena. Andrean melirik kesal ke arah Alena.
"Lanjut ya, Mas," kata Alena.
"Ya, silakan,"
"Menurut Mas Darrel, kalo HighTech itu manusia, dia tipe yang kek gimana? Introvert? Extrovert? Modern? Kuno?" tanya Alena dengan gaya santainya seperti biasa. Andrean hanya dapat menaikkan alisnya melihat dan mendengar gaya wawancara Alena.
"Wah, pertanyaan langka ini," puji Darrel. Andrean dengan cepat menoleh ke arah Darrel yang terkekeh.
"Kalo manusia, HighTech ini tipe yang ambivert, bisa menyesuaikan keadaan. Modern jelas. Dan tentu saja, fleksibel," jawab Darrel.
Andrean terkejut mendengar jawaban Darrel. Selama sesi wawancara dengannya, Darrel tak pernah benar-benar menjawab pertanyaan Andrean. Sedangkan, dengan Alena, dengan gaya bahasa yang —menurut Andrean— tidak sesuai kode etik jurnalistik, Darrel malah dengan santai menjawabnya.
"Wah! Keren! Pantesan HighTech seviral ini sekarang," puji Alena yang terdengar sangat tulus.
"Trus, gebrakan apalagi nih yang akan HighTech luncurkan selain kemarin sudah meluncurkan aplikasi anti distraksi yang viral banget?" tanya Alena, lagi-lagi dengan gaya bicaranya yang santai.
"Gimana kalo kita nikah?" tanya Darrel, yang seketika membuat Andrean menoleh ke arahnya dengan mata membulat.
"Ide bagus tuh, Mas. Ahahahahaha..." kata Alena cepat, terlihat sama sekali tak terkejut dengan kalimat yang dilontarkan Darrel. Darrel ikut tertawa bersama Alena.
"Aduuuh Mas Darrel ini. Bikin saya sakit perut aja," komentar Alena sambil tertawa kecil.
"Bagus dong. Daripada bikin sakit hati," kata Darrel. Alena dan Darrel tertawa bersama lagi.
"Maaf," sela Andrean.
"Ya?" tanya Darrel.
"Satu pertanyaan penting," kata Andrean. Darrel berubah menjadi mode serius.
"Darimana Anda mendapat inspirasi untuk menciptakan aplikasi anti distraksi yang viral itu?" tanya Andrean.
Hening.
"Karena patah hati," jawab Darrel denga nada dingin. Cafe Ruang Tunggu seketika hening.
"Ahahahaha..." tawa Darrel pecah.
"Ahahahaha..." Alena ikut tertawa.
Andrean yang bingung hanya mampu menatap Alena dan Darrel bergantian.
'Sesi wawancara macam apa ini?'
***
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤