Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHIDUPAN ANAK DAN ISTRI YUSUF SETELAH KEPERGIAN NYA
Pasca kejadian itu, Seruni dan anak-anak nya selalu saja mendapat perlakuan tidak baik oleh warga sekampung.
Setiap harinya, gunjingan, cacian, dan makian terhadap nama Ustad Yusuf terus saja terdengar di telinga Seruni dan juga Azka, Seruni hanya bisa pasrah, namun tidak dengan Azka, kadang dia mengamuk membela Ayahnya, walau pada akhirnya dia yang kalah. Dan Ibunyalah lagi yang tak pernah bosan menasehatinya supaya sabar.
"Nanti juga mereka lupa sendiri, nak. Nggak usah di lawan. Insyaallah, Allah selalu melindungi kita. Masih ingat kan nasehat Ayah?" Papar Seruni lembut. Azka mengangguk dalam tundukan kepalanya.
"Iya, Bunda."
Setia hari, Seruni makin di jauhi oleh tetangga-tetangganya, sambil terus di sindir sebagai wanita yang tak bermartabat, karena mau di nikahi oleh Ustad cabul.
"Ni! Kamu kok bisa sih dulu, nggak tau tabiat suamimu. Seharusnya kamu tu lebih teliti dan lebih peka menilai lelaki. Sekarang lihat, kamu terkena apesnya. Apa kamu nya aja yang bodoh ya? Hihi..." Ujar salah satu tetangga dekat rumahnya yang sedang meminta daun singkong di halamannya.
"Iya! Jadi wanita tu, harus pinter-pinter menilai lelaki, Ni. Sekarang kamu jadi malu sendiri kan? Aku aja ngeliat kamu rasanya jijik, Ni! Ih... bekas si ca-bul!" Sahut tetangga satunya.
Seruni hanya diam, dia yang memang wanita lemah lembut, dan taat akan ajaran agamanya, tak mau membalas ucapan-ucapan pedas dari tetangganya. Namun air matanya yang mengalir, menandakan betapa hatinya sangat teriris oleh perkataan-perkataan mereka.
"Cih! Di bilangin malah mewek." Suprih mencebikkan bibirnya menatap tidak suka kepada Seruni yang sedang menyuapi Wardah, makan.
"Yu, Suprih! Biasa, wanita gob-lok mah biasanya cengeng. Udah semua di petik kan, Yu. Ayo pulang! Aku eneg liat wanita bodoh seperti dia." Ujar Rina yang usianya sama dengan Seruni.
Keduanya pun pergi tanpa mengucapkan kata terimakasih kepada Seruni. Karena telah mengambil seluruh daun singkong tersebut. Yang dulu di tanam oleh Almarhum Ustad Yusuf.
Sedangkan Azka, mencoba mendekati teman-teman bermainnya. "Ran, aku ikut main ya?" Ujar Azka.
Randi teman dekatnya tiba-tiba menatap tidak suka.
"Kamu jangan dekat-dekat dengan kita deh, Az! Kata Mamak aku, kamu anak najis, kamu bakal membawa sial. Soalnya Ayah kamu kan penjahat, suka menghamili wanita. Aku nggak mau kena sial seperti kata Mamak. Pergi sana! Aku nggak mau main sama kamu lagi!" Cerca Randi kasar. Sambil mendorong Azka hingga Azka jatuh tersungkur.
Azka pun bangkit, sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangannya yang terkena tanah.
"Iya, Az! Pergi sana. Pergi!" Sahut yang lainnya.
Azka yang kesal pun mendorong Randi. "Aku bukan anak najis! Aku bukan anak sial! Ayahku orang baik! Ayahku nggak seperti itu. Itu semua bohong! Ayahku orang baik!" Teriak Azka kesal. Lagi-lagi Ayahnya di caci maki. Pikirnya.
Randi yang hampir jatuh karena di dorong pun, tiba-tiba menangis keras. "Mamak! Azka nakal, Mamak... huaahaaaa!" Tangisan Randi sontak membuat para Ibu-Ibu dari anak-anak tersebut yang sedang ngerumpi berdatangan.
"Ada apa, Randi?" Tanya Parmi, ibu dari Randi.
"Itu, Bi! Azka memukul Randi. Azka jahat, Bi!" Seno menjelaskan.
"Nggak kok! Aku cuma dorong pelan doang. Kamu jangan bohong, Seno. Kata Ayahku, bohong itu temannya setan. Di benci sama Allah." Azka menegaskan.
Namun, bukannya Ibu-Ibu itu memisah pertengkaran mereka, malah Parmi langsung menjewer telinga Azka.
"Anak nakal! Keturunannya Yusuf, ya begini ini! Seruni! Seruni! Sini kamu!" Teriak Parmi begitu kerasnya, hingga para tetangga pun keluar hanya untuk melihat. Azka terlihat sudah berlinangan air mata tanpa suara menahan sakitnya jeweran dari Parmi.
Seruni yang sedang memberikan ASI di dalam rumah pun tersentak dan segera menutup dadanya, lalu keluar sambil menggendong Wardah.
"Ada apa ini, Mbak Parmi?" Seruni mendekat lalu melepaskan tangan Parmi yang masih sangat kuat memelintir telinga anaknya hingga terlihat merah kehitaman.
"Azka!" Seru Seruni menahan sesak di dada melihat anaknya di aniaya. Kalau hanya cacian dan makian, dia sanggup menahan diri. Tapi, bila sudah menyangkut anak, Seruni sangat tidak terima.
"Azka baik-baik saja, nak?" Tanya Seruni sambil menghapus air mata di pipi anaknya yang mulus. Azka mengagguk, walau telinga masih terasa sakit dan panas.
"Seruni! Ajari anakmu itu sopan santun. Jangan mentang-mentang keturunan dari Ustad cabul dan gadungan, terus anaknya juga sama. Lihat anak saya kesakitan karena di pukul oleh anakmu!" Cerca Parmi kesal sambil menunjuk-nunjuk Azka dengan mata melotot.
"Azka mukul Randi?" Tanya Seruni ingin memastikan. Dia tau, anaknya tidak pernah berkata bohong.
"Nggak, Bunda. Azka hanya mendorong Randi pelan. Karena Azka kesal Randi bilang Ayah Azka itu orang nggak baik. Azka kesal kalau Ayah di hina terus." Papar Azka pelan. Sontak Seruni memeluk anaknya sambil mendongak menahan air matanya supaya tidak tumpah.
"Mbak Parmi! Anak Mbak nggak luka kan? Jadi sudahlah! Nggak perlu ribut-ribut lagi. Ini hanya pertengkaran anak-anak kecil saja." Ujar Seruni yang rasanya percuma bila beradu mulut dengan mereka.
"Halah...! Dasar wanita gundik nya cabul! Di kira semudah itu kamu ngomong! Ganti rugi dong...! Anak saya kesakitan gara-gara di pukul anak mu itu." Cecar Parmi masih tidak terima.
Seruni yang semakin kesal mendekati Randi. "Randi!
Apa benar kamu di pukul Azka? Jawab yang jujur!" Tegas Seruni.
Randi terlihat kebingungan.
"Heh, Seruni! Ngapain kamu nanyain anak saya begitu, hah!" Teriak Parmi tidak terima.
"Jawab Randi! Apa benar Azka memukul kamu?"
Randi yang percaya Ibunya akan membelanya pun mengangguk. Seruni yang tau Randi berbohong pun langsung melayangkan pukulan ke tubuh Randi.
BUUGGH!!!
"Karena kamu berbohong Azka memukul kamu, maka ini Bibi yang pukul. Impas kan? Sekarang kamu merasa sakit kan, Randi? Azka selalu baik sama kamu, tapi kamu sama seperti Ibu mu." Gertak Seruni yang puas melampiaskan kekesalan anaknya.
"Kurang ajar kamu! Itu anak saya!" Parmi yang tidak terima hendak memukul Seruni, namun Azka segera mengambil kayu lalu di lemparnya tepat di hadapan Parmi. Sontak parmi jatuh tersungkur.
Azka pun menyeret Ibunya masuk ke dalam rumah.
Karena kakinya keseleo, Parmi pun hanya bisa menahan amarahnya yang menumpuk tinggi bak gunung krakatau.
"Awas kamu Seruni! Aduh... sakit!" Teriaknya sambil memegangi kakinya yang tak bisa di gerakkan.
Parmi segera di bopong ke dalam rumahnya oleh suami barunya, yaitu Seno.
"Mas! Aku pengen memberi pelajaran sama si Seruni, itu." Ucap Parmi kesal.
"Mas, siap membantu istriku yang cantik. Mau di apain itu perempuan?" Ujar Seno yang sebenarnya sudah lama menyukai Seruni, namun tidak ada keberanian mengungkapkannya.
Baru saja hendak berdiskusi tentang rencana, Sulis tiba-tiba datang.
"Parmi! Kamu kenapa?" Tanya Sulis heran, yang memang maksud kedatangannya bukan karena Parmi sedang sakit.
"Eh, Embak Sulis. Iya ini kaki saya Keseleo Embak.
Gara-gara si Seruni." Parmi memasang wajah masam.
Sulis yang memang datang untuk membujuk Parmi membuat fitnah kepada Seruni pun senyumnya makin mengembang. Kebetulan sekali.
Memang nasib mujur itu hanya buat aku seorang.
"Kalau begitu balas aja, Parmi. Nih uang segepok, bikin dia menyesal telah membuatmu sakit." Sulis menaruh uang di dekat Parmi.
Mata Parmi dan Seno membola sempurna menatap uang yang begitu banyak.
"Wah... kalau begini, saya siap, Embak Sulis." Ujar Parmi langsung setuju.
"Ingat! Hanya kita bertiga yang tau." Sulis menatap Parmi tajam. Parmi dengan yakin menyanggupi keinginan Sulis.
"Ya sudah, cepet sembuh. Saya pulang dulu." Sulis berbalik sambil melirik Seno dengan mengedipkan mata sebelah. Seno pun sontak berdebar jantungnya sekaligus salah tingkah.
Sambil berjalan, Sulis menyelipkan kertas kecil ke tangan Seno. Seno pun menerimanya dengan wajah terlihat kaku.
"Wah, rezeki nomplok. Mas, siap beraksi kan malam nanti, buat Seruni jera dan seumur hidup tidak melupakan kejadian itu. Biar dia gila!" Seru Parmi tersenyum miring.
Seno pun mengangguk setuju.
***
Malam pun tiba. Tepat satu bulan sudah kematian suaminya. Seruni tak punya apa-apa lagi untuk di masak. Semua tanaman yang di tanam Yusuf, telah habis di jarah oleh tetangga-tetangganya. Seruni hanya melamun di dapur.
"Bunda, Azka lapar. Apa bunda punya makanan?"
Azka bertanya dengan penuh sopan.
Seruni menatap anak sulungnya dengan deraian air
mata.
"Maaf ya, nak. Malam ini nggak ada makanan lagi."
Seruni menunduk merasa teramat pilu. Satu bulan, dia mencoba mencari pekerjaan apa saja, namun tidak seorang pun mau memakai jasa nya, malah cacianlah yang dia dapat.
Azka yang paham, segera merubah mimik wajahnya menjadi ceria. "Bunda, nggak apa-apa, azka sebenarnya nggak lapar, Bun. Azka cuma iseng nanya-nanya saja kok. Bunda nggak perlu nangis." Azka menghapus air mata Ibunya dengan penuh kasih sayang.
"Bunda, kita pindah aja yu? Biar mereka tidak menjahati, Bunda lagi." Usul Azka yang sedih melihat Bunda nya selalu menangis setiap malam. Dia pun tahu kalau Bundanya selalu di hardik dan hina oleh para tetangga nya.
Seruni memeluk anaknya erat. "Iya, besok kita pindah. Kita bawa barang seadanya saja ya nak? Yu kita berkemas."
Demi masa depan anak-anak nya, Seruni rela meninggalkan rumah yang menjadi kenangan satu-satunya dengan Almarhum suaminya. Sungguh berat, namun hanya itu supaya hidup anak-anak nya terjaga mental nya.
Namun, baru saja selesai bebenah dan hendak tidur, pintu belakang rumah mereka di dobrak keras oleh beberapa orang pria, yang semuanya Azka kenali. Mereka adalah anak-anak muda yang sering nongkrong di jalan perempatan. Azka tau karena suka di bawa Ayahnya mengisi pengajian, dan pulang pasti larut, dari situlah Azka mengenal wajah-wajah mereka.
BRUAK!!! Pintu pun di jebol sempurna, Azka meringkuk di pelukan Ibunya ketakutan.
"Bunda." Lirihnya.
"Azka jangan takut ya? Biar Ibu yang mengahadapi
mereka, kalau ada apa-apa, Azka cepat lari ya bawa adik kamu pergi." Ujar Seruni yang mempunyai firasat buruk.
Seruni segera keluar. "Siapa kalian! Mengapa kalian mendobrak rumah kami!" Seru Seruni memberanikan diri.
"Wah... cantik juga ternyata istri si c4-bul itu. Untung kita terima tawaran dari Mbak Parmi. Nggak rugi kita, selain dapat duit, kita juga dapat enak. Haha...!"
"Betul!"
"Heh, kalian! Cepat keluar dari rumah saya. Kalau tidak, akan saya teriaki maling kalian!" Ancam Seruni.
Tapi, bukannya takut malah mereka semakin tertawa terbahak-bahak.
"Haha...! Kalian ini sampah, Seruni. Mana ada warga yang mau menolong kamu! Sudah, lebih baik kamu yang diam, Seruni. Suaramu hanya membuat kami makin kesal saja." Tawa mereka pecah.
Azka mendekap Adik nya yang terbangun karena kebisingan.
"Dasar kalian! Pasti kalian berniat jahat kan! Pergi kalian! Tolong...! Tolong...!" Teriak Seruni yang mempunyai firasat buruk, mulai panik. Namun, tidak ada satu pun tetangga yang mau datang. Padahal rumah mereka jarak nya paling jauh hanya 300 meter. Teriakan Seruni yang keras, pasti mereka dengar.
Seruni mencoba melawan, tapi tetap tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan mereka.
Seruni menatap mereka penuh ketakutan. "Mau apa
kalian. Tolong jangan sakiti kami."
"Halah...! Janda dari seorang c4-bul, tidak perlu di kasihani, juga tidak perlu di hormati! Lagian, semua warga inginkan kamu lenyap seperti suamimu yang bejad itu." Ujar Jaka, salah satu dari pemuda itu.
"Sudahlah Seruni, jangan buang-buang energimu untuk berteriak seperti itu."
"Hahaha...!" Tawa dari keempatnya pun menggema.
Seruni sudah sangat ketakutan.
"Jangan...! Jangan...! Saya mohon!"
Keempat pun melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan.
Azka yang melihat ibunya akan di sakiti tidak bisa apa-apa karena adik nya yang mulai menangis.
"Hua...! Unda... Unda!" Azka menutup mulut Adik nya, takut menjadi sasaran keempat pemuda itu juga." Jangan nangis ya, Dek." Ucap Azka lirih sambil terisak di sudut tempat tidur tak berani menatap keluar.
Seruni menangis sesenggukan sudah tidak punya harapan hidup lagi.
Azka menghapal satu persatu wajah keempat pria itu dari celah pintu papan kamar. Lalu ia pun keluar dengan membawa adiknya, dari jendela kamar.
"Bunda... maafkan Azka, Bunda. Bunda..." azka pun meletakkan adiknya dan kembali, tapi matanya membulat sempurna kala Ibunya yang telah bersimbah d4rah memb4kar dirinya sendiri di depan keempat lelaki yang terlihat kelelahan sehabis berulang kali m3ny3tubuhi Seruni.
"Bunda!" Pekiknya kala kobaran api sudah menelah tubuh Seruni. Keempat pria itu sontak kabur melarikan diri takut ikut terbakar juga.
Azka menatap keempat lelaki itu dengan tatapan penuh kebencian.
"AKU AKAN BALAS KALIAN SEMUA!" Azka kembali ke tempaat Adiknya yang ia sembunyikan.
***
Seno yang awalnya ingin ikut ke rumah Seruni, ia urungkan. Dia memilih mengikuti intruksi dari kertas kecil yang di selipkan oleh Sulis Sore tadi.
"Keberuntungan pisan, eh! Di ajak ketemuan sama
putri juragan kaya. Eh, ini kan tempatnya ya? Ini mah penginapan mahal. Wah... seneng bisa masuk kesini." Seno memasuki penginapan yang terkenal sangat mahal dan hanya orang-orang berduit saja yang mampu masuk kesana.
Di depan penginapan, Seno menunggu di luar, karena Sulis bilang suruh tunggu kedatangannya.
Sulis pun datang dan langsung mengajak Seno masuk.
***
"Huaa...hua...! Unda! Unda!" Panggil warda yang mungkin tau kalau Bunda nya mengakhiri hidupnya sendiri.
"Kita udah nggak punya Ayah dan Bunda Dek. Kita hidup sendiri sekarang. Abang janji akan menjaga adek. Dan membalaskan dendam kita. Adek jangan nakal ya?"
Azka memeluk Wardah dengan erat sambil terus menangis sesenggukan.
Malam semakin larut, suara jangkrik tak hentinya saling bersautan. Azka terus melangkah, tak tau arah mana yang harus ia tuju. Kaki kecilnya sudah terasa kesemutan karena kelelahan.
Dia pun berhenti di bawah pohon besar. Wardah pun akhirnya tertidur di gendongannya karena kelelahan.
Dia pun kembali terisak. "Ayah, Bunda, Azka harus apa sekarang? Azka nggak punya susu seperti Bunda. Azka juga nggak tau bagaimana mendapatkan rumah. Adek gimana Yah, Bun." Di tengah kebingungannya, Azka pun mendengar suara aneh yang terdengar jelas di telinganya.
"Jangan... menyerah...!!! Tetaplah hidup! Balas semua sakit hati itu. Hihihi...balas...! Balaslah!!! Hihi... hihii...!" Suara menyeramkan dengan lengkingan tawa yang sangat menakutkan membuat tubuh Azka gemetaran.
"Siapa kamu! Siapa kamu!" Teriak Azka, menoleh kesana kemari mencari si pemilik suara mengerikan itu.
Hingga akhirnya.
"Siapa kamu!" Teriak Azka. Lalu Azka tersentak kaget. Ternyata Azka bermimpi barusan. Dia pun melihat adiknya yang masih tenang di alam mimpinya.
Waktu hampir pagi pun tiba. Terdengar kumandang Adzan di telinga Azka. Segera Azka menggendong Adiknya lagi menuju mushola terdekat.
"Alhamdulillah, Dek, ada mushola kecil. Abang sholat di sini dulu ya? Adek jangan nangis." Azka pun meletakkan adiknya di dalam mushola, lalu dia segera mengambil air wudhu.
Di tempat wudhu, dia pun bertemu dengan seorang pria paruh baya.
"Adek ini, kok Abah baru liat. Adek bukan orang kampung sini ya? Wah, Ayah Adek hebat sekali mau membawa anaknya sholat berjamaah." Ujar pria paruh baya itu.
Azka hanya diam lalu menunduk. Tanpa menjawab, dia segera kembali di mana adiknya di letakkan. Wardah terlihat tidur kembali. Azka pun tersenyum lega, adiknya tidak rewel lagi. Dia mulai mengikuti sholawatan, terdengar dia sangat mahir dalam bersholawat dan sangat merdu suaranya. Persis seperti suara Yusuf yang tak hanya parasnya yang tampan, suaranya pun sangat merdu kala melantunkan sholawatan juga saat membaca ayat-ayat Alquran.
Sholat subuh pun selesai. Anak kecil berusia 6 tahun itu pun, berpikir keras bagaimana caranya dia memberi makan adiknya yang masih berumur 1 tahun setengah itu.
Dia berinisatif bertanya ke para warga terdekat. Dia berkeliling, namun semua tidak ada yang menanggapinya. Sampai pada satu rumah kecil sederhana berhalaman luas, Azka pun memberanikan diri lagi untuk bertanya.
"Bu, apa ada pekerjaan buat saya? Saya bisa kok di suruh apa saja. Saya butuh makan bu, Adik saya juga butuh makan." Azka bertanya di rumah terakhir di desa yang hanya berpenghunikan beberapa warga saja. Terlihat wajahnya sudah pucat, Wardah pun terlihat terus merengek sambil menghisap jempolnya.
"Astagfirullahhalazim. Kamu sekecil ini nyari kerjaan, Dek? Di mana kedua orang tuamu?" Tanya sang ibu yang iba melihat sosok kecil yang wajahnya sudah pucat pasi karena kelelahan dan kelaparan.
"Saya sudah nggak punya orang tua Bu." Ujar Azka menunduk sedih.
"innalilahi wainna ilaihi rojiun. Sini nak, sini." Si Ibu segera membawa keduanya masuk, lalu menyiapkan makanan.
"Sini nak, makan dulu." Azka dan wardah yang sangat kelaparan pun makan dengan lahap nya.
Si Ibu menatap begitu iba.
"Makan yang banyak ya, Nak? Nggak usah sungkan-sungkan. Ibu tinggal dulu, soalnya hari mulai gelap, Ibu mau lanjut nyapu lagi." Ujar si Ibu. Azka mengangguk.
Selesai makan, Azka mencuci semua piring dan membereskan sisa nya di meja.
"Bu, saya titip adek saya sebentar ya? Saya mau ambil sesuatu." Ucapnya sopan.
Si Ibu yang masih sibuk menyapu tersenyum ramah.
"Iya nak, cepat kembali. Tinggal sama Ibu saja di sini. Kebetulan Ibu nggak punya anak. Eh iya, emang rumah adik di mana?"
Azka sangat terharu, baru kali ini dia bertemu orang yang sangat baik. Apa mungkin karena si Ibu tidak tau kalau dia anaknya Ustad Yusuf. Pikirnya.
"Iya Bu, rumah saya di dalam hutan sana." Ujarnya berbohong.
"Ya udah. Hati-hati ya nak. Cepat kembali, hari sudah mulai gelap." Azka mengangguk lalu segera berlari ke dalam hutan sambil menangis.
"Dek, maafin abang ya? Abang nggak bisa bawa adek ikut. Adek baik-baik di sana ya? Abang sayang sama adek."
Azka memutuskan meninggalkan adiknya bersama orang baik.
Niatnya kini, dia harus bisa belajar sesuatu, agar dia bisa membalaskan dendamnya.