Menikah? Yeah!
Berumah tangga? Nanti dulu.
Begitulah kisah Inara Nuha (21 tahun) dan Rui Naru (25 tahun). Setelah malam pertama pernikahan mereka, kedatangan Soora Naomi mengguncang segalanya. Menghancurkan ketenangan dan kepercayaan di hati Nuha.
Amarah dan luka yang tak tertahankan membuat gadis itu mengalami amnesia selektif. Ia melupakan segalanya tentang Naru dan Naomi.
Nama, kenangan, bahkan rasa cinta yang dulu begitu kuat semuanya lenyap, tersapu bersama rasa sakit yang mendalam.
Kini, Nuha berjuang menata hidupnya kembali, mengejar studi dan impiannya. Sementara Naru, di sisi ia harus memperjuangkan cintanya kembali, ia harus bekerja keras membangun istana surga impikan meski sang ratu telah melupakan dirinya.
Mampukah cinta yang patah itu bertaut kembali?
Ataukah takdir justru membawa mereka ke arah yang tak pernah terbayangkan?
Ikuti kisah penuh romansa, luka, dan penuh intrik ini bersama-sama 🤗😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02 Jauh dari riuh intrik
...Jauh dari riuh intrik gelap Naomi, suasana berbeda menyelimuti kamar yang kini menjadi kamar pengantin. Warna monokrom mendominasi ruangan yang begitu luas. Abu-abu dan putih tulang yang menenangkan....
...Sstt!! Tarian intim untuk ritual suci ini diciptakan khusus untuk dua hati yang akhirnya dipersatukan. 😉❤...
Nuha duduk gugup di ujung ranjang, jemarinya saling menggenggam erat. Sementara Naru, yang selalu tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam, mendekatinya perlahan.
“Nuha,” bisiknya lembut, “malam ini… kita jalani pelan-pelan, ya? Kamu cuma perlu bilang kalau ngerasa nggak nyaman.”
"Um," Nuha mengangguk kecil, wajahnya memanas. Ia lebih terbiasa menyembunyikan perasaannya daripada mengungkapkannya. Tapi malam ini, ia memberanikan diri menatap suaminya.
Dada Naru menghangat. Ia mengangkat wajah istrinya dengan kedua tangan, membingkainya seakan sedang memegang sesuatu yang sangat berharga. “Terima kasih… sudah memilih aku.”
"Chup!"
Ciuman bibir itu begitu lembut, ringan dan hati-hati. Seolah Naru sedang memohon izin di setiap sentuhan. Dan Nuha, yang awalnya kaku, perlahan mulai membalas. Rasa gugupnya berubah menjadi nyaman.
Saat akhirnya mereka menyatukan diri, "Emh... Naru..." Nuha sempat menahan napas dan memegang dada suaminya, meminta waktu.
“Sakit ya?” tanya Naru penuh perhatian.
Nuha menggeleng cepat. “Sedikit… tapi aku nggak takut. Kamu bikin semuanya terasa… baik.”
Naru tersenyum lega, “Kalau gitu, kita lakukan sama-sama. Kamu nggak sendirian.” Perlahan pria itu mulai menggerakkan pinggulnya.
"A-- Akkhh~"
"Sayang, ini lembut," kata Naru sambil mencium keningnya, matanya penuh kasih sayang. Tanpa tergesa, tanpa menuntut apa pun. Hanya membimbing, menenangkan, dan memastikan istrinya merasa aman. Dan perlahan, rasa sakit itu berubah menjadi kehangatan.
Nuha menggenggam tangan suaminya lebih erat, tubuhnya gemetar karena malu sekaligus takjub dengan perasaan baru yang mengalir melewati dirinya. “Naru… aku bingung…”
“Gini nggak apa-apa,” bisik Naru sambil tersenyum lembut. “Bahkan gemetarmu pun… cantik.”
Pipi Nuha merah padam. Ia menutup wajah dengan lengan kiri, tapi Naru langsung menariknya pelan. “Jangan sembunyi,” katanya, suaranya hampir seperti senandung. “Aku pengen lihat kamu. Kamu yang sebenarnya.”
Suasana berubah hangat, intim, tanpa harus terburu-buru. Semua rasa yang tertahan selama bertahun-tahun. Rndu, kagum, cinta yang terjaga dalam diam akhirnya mengalir bebas malam itu.
Meski malu,
Nuha tak lagi menghindar. Ia tak pernah menyangka bahwa keintiman bisa terasa seperti ini. Bukan soal fisik, tapi soal kepercayaan yang sepenuhnya ia serahkan pada seorang lelaki yang selalu menjaganya.
Naru mencium jemari Nuha satu per satu. “Kamu tau nggak… liat kamu deg-degan gini malah bikin aku jatuh cinta lagi. Dan lagi.”
“Dasar Naru…” Nuha mencubit pelan pipinya, membuat Naru tertawa kecil.
Tawa itu berubah menjadi bisikan ketika ia meraih pinggang sang istri dan memeluknya. “Aku janji, selama hidupku… aku bakal bikin kamu selalu nyaman sama aku. Bahkan kalau aku nakal sedikit pun.”
Nuha menunduk, “Dasar mesum,” gumamnya pelan lebih terdengar seperti manja daripada protes.
Naru hanya tersenyum, lalu mencium bibirnya lama.
Dan malam itu, tanpa kata-kata berlebihan, tanpa tergesa, mereka benar-benar menjadi satu. Dalam cinta yang matang, lembut, dan penuh penghargaan.
Tiga hari berlalu dalam tawa, bisikan, pelukan, dan rasa syukur bahwa mereka akhirnya menjadi suami-istri yang sesungguhnya. Hingga tibalah malam pesta pernikahan resmi, dengan cinta yang sudah mereka rayakan diam-diam di balik pintu kamar yang tertutup rapat.
Lampu kristal menggantung berkilauan di setiap sudut aula besar kediaman Rudi Hartono. Musik klasik lembut mengiringi langkah para tamu undangan yang berjalan anggun dengan balutan gaun mewah dan setelan jas rapi. Topeng kupu-kupu beraneka warna menutupi wajah mereka, menyisakan hanya mata yang berkilau di bawah cahaya lampu.
Nuha berdiri di sisi Naru, jemari mereka saling bertaut, seolah genggaman itu adalah jangkar yang menahan Nuha agar tidak terhanyut oleh keramaian. Nafasnya sedikit memburu, dada terasa sesak oleh campuran gugup dan canggung.
“Aku tahu kamu nggak menyukai ini,” suara Naru lembut, penuh pengertian, telinganya mendekat agar hanya Nuha yang bisa mendengarnya. “Tapi tolong bertahanlah, Nuha. Ini demi kita, dan juga kebahagiaan kedua keluarga kita.”
Nuha mengangguk pelan. Senyum tipis tercipta, meski jelas ada gugup yang mengendap. “Aku mengerti, Naru.”
Ketika pengumuman pembukaan pesta terdengar, sorot lampu tertuju pada pasangan pengantin. Semua mata, meski tersembunyi di balik topeng tertambat pada mereka. Tepuk tangan bergemuruh, memenuhi ruangan yang megah itu.
Nuha menelan ludah.
Musik berganti menjadi alunan lembut, biola dan piano menyatu dalam harmoni yang meresap ke dada. Lampu-lampu kristal meredup perlahan, digantikan oleh permainan cahaya 3D yang memenuhi aula: bayangan kupu-kupu beterbangan, paus biru berenang anggun di atas langit-langit, dan kelinci kecil melompat-lompat di lantai seolah hidup.
Nuha menatap sekeliling, matanya berkilau kagum. Dunia nyata terasa perlahan memudar, digantikan imajinasi yang menari-nari. Ia memang selalu lebih betah bermain dengan khayalannya daripada menghadapi tatapan banyak orang.
Naru meraih pinggang Nuha dengan hati-hati, menuntun tangan istrinya ke dadanya. "Kita dansa ya," mulai bergerak perlahan, satu dua langkah mengikuti alunan musik. Gaun putih brokat Nuha berayun ringan setiap kali ia berputar dalam bimbingan tangan Naru. Jemarinya masih kaku di genggaman, tapi Naru meremas lembut, memberi sinyal bahwa semua baik-baik saja.
Bayangan kupu-kupu menari di sekeliling mereka, seolah-olah ikut merayakan cinta yang baru saja terikat. “Nah, lihat,” suara Naru rendah, penuh kebanggaan. “Kamu bisa. Dan kamu cantik sekali malam ini.”
Wajah Nuha memerah. Hatinya berdentum-dentum, karena merasa benar-benar dilihat, benar-benar dihargai, benar-benar dicintai.
Nuha tampak seperti gadis yang nyaris sempurna. Meski sang ayah telah tiada, ia masih dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang yang penuh kasih. Dalam hidupnya, pun akhirnya Nuha menemukan cinta sejati. Lelaki yang dulu menjadi pacar, kini resmi menjadi suami yang sepenuh hati mencintai dan menjaganya.
Kedua orang tua Naru juga sangat menerima kehadiran gadis manis nan baik hati itu. Rui Dina sangat senang akhirnya dia memiliki seorang kakak ipar yang sangat cantik jelita. Ramah dan selalu nyambung dengan obrolannya meski Nuha tetap dengan ketenangannya.
Di tengah riuh tawa, tiga sahabat Nuha datang, menyalami dan mendoakan kebahagiaan pengantin baru. Wajah Nuha berbinar menerima doa mereka. Lalu, sosok yang paling ia rindukan pun muncul: Ibu dan Kak Muha bersama istrinya.
Namun di balik semua keceriaan, momen bahagia itu terpantul di manik mata cokelat kemerahan Naomi. Rasa iri menjalar, menusuk batinnya seperti duri yang tak kenal ampun.
.
.
.
. ~Bersambung...
Itu teknik grounding real-world. Super accurate 🥰❤❤❤
bumil beneran ngalamin mental fatigue kayak gini, huhu syedih 🤧🤧🤧
Tetangga: “Dek sehat? Rumornya…”
Padahal sambil mata ngintipin realita kayak CCTV 😒😒😒 Mereka tuh kayak “concern” tapi sebenarnya update timeline duluan 😩
I just need my comfort place pls 🥺