Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. Terbangun Dalam Kehinaan
Rasa sakit yang menghujam dada malam itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya.
Ratu Victoria, penguasa Kerajaan Elisia yang digdaya, melepaskan napas terakhirnya di atas ranjang emas setelah meminum anggur beracun yang disuguhkan oleh orang yang paling ia percayai.
Pengkhianatan adalah akhir yang tragis bagi seorang wanita yang menghabiskan seluruh hidupnya di atas takhta, memimpin pasukan, dan menundukkan musuh-musuh politiknya dengan kecerdasan yang dingin.
Namun, kegelapan kematian yang ia harapkan ternyata tidak berlangsung lama. Sengatan rasa dingin yang menusuk tulang, diikuti oleh rasa sesak yang luar biasa di paru-parunya, memaksa matanya terbuka dengan sentakan hebat.
Victoria terbatuk-batuk, memuntahkan air jernih dari tenggorokannya. Napasnya memburu, pendek dan rapuh. Alih-alih mencium bau dupa gaharu mewah khas kamar istananya, hidungnya justru disengat bau antiseptik yang tajam.
Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun tubuhnya terasa sangat lemas, seolah-olah seluruh energinya telah dikuras habis. Kelemahan ini asing baginya. Sebagai seorang penguasa yang terlatih, tubuhnya selalu berada dalam kondisi prima. Keadaan ini membuatnya murka.
"Clarissa! Ya Tuhan, kamu akhirnya sadar!"
Sebuah suara melengking penuh kecemasan artifisial memecah keheningan ruangan. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian mewah namun tampak berantakan langsung mendekat ke sisi ranjang, mencoba meraih jemari Victoria.
Victoria menarik tangannya dengan cepat. Tatapan matanya yang semula sayu langsung berubah menjadi setajam belati, dingin dan menusuk.
Wanita paruh baya itu tersentak, menghentikan gerakannya di udara. Ia belum pernah melihat tatapan seperti itu dari sepasang mata yang biasanya selalu dipenuhi ketakutan dan air mata.
"Siapa kau?" suara Victoria keluar, namun itu bukan suaranya. Suara ini terlalu lembut, terlalu tinggi, dan terdengar gemetar tanpa bisa ia kendalikan. Kedengarannya seperti suara seorang gadis muda yang penakut.
"Clarissa, ada apa denganmu? Ini Mama, Nak! Apa kepalamu terbentur sangat keras saat tenggelam di danau belakang?" Wanita itu tampak panik, namun Victoria bisa menangkap kilatan kepalsuan di balik mata wanita yang mengaku sebagai ibunya tersebut.
Sebelum Victoria sempat membalas, rasa sakit yang luar biasa mendadak menyerang kepalanya. Potongan-potongan ingatan asing merangsek masuk ke dalam benaknya seperti air bah. Itu bukan ingatan tentang Kerajaan Elisia, melainkan ingatan tentang dunia yang sama sekali baru.
Dunia modern yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, lampu-lampu neon, dan kendaraan tanpa kuda. Dan di pusat ingatan itu, ada seorang wanita muda bernama Clarissa Pratama.
Clarissa adalah istri dari Dominic Pratama, pewaris tunggal dari klan Pratama, salah satu keluarga paling berpengaruh dan terkaya di negeri ini.
Namun, alih-alih dihormati sebagai Nyonya Pratama, Clarissa hidup dalam penderitaan. Ia memiliki kepribadian yang sangat lemah, penakut, dan naif. Ia menikahi Dominic karena perjodohan bisnis yang diatur oleh mendiang kakek Dominic, sebuah pernikahan tanpa cinta di mana Dominic memperlakukannya dengan pengabaian yang dingin.
Di dalam kediaman Pratama yang megah namun beracun, Clarissa menjadi sasaran empuk perundungan. Orang yang paling gencar menindasnya adalah Helena, seorang wanita sosialita ambisius yang merupakan cinta masa lalu Dominic dan selalu merasa bahwa posisi Nyonya Pratama seharusnya menjadi miliknya.
Helena dengan cerdik memanfaatkan kelemahan Clarissa, memfitnahnya berulang kali di hadapan keluarga besar dan Dominic, hingga citra Clarissa hancur total. Ia dianggap sebagai noda terbesar di klan Pratama, seorang istri yang tidak kompeten, tidak tahu malu, dan histeris.
Ingatan terakhir Clarissa sangat menyakitkan. Helena menjebaknya di tepi danau dalam sebuah pesta malam keluarga, berbisik tentang betapa tidak bergunanya hidup Clarissa, sebelum akhirnya mendorongnya ke dalam air dingin.
Clarissa yang tidak bisa berenang hanya bisa berjuang sia-sia sementara Helena tersenyum puas di atas dermaga, berpura-pura panik dan berteriak seolah-olah Clarissa mencoba bunuh diri karena depresi.
*‘Jadi, aku berada di tubuh wanita malang ini?’* batin Victoria.
Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin, sebuah pemandangan yang membuat bulu kuduk ibu tirinya merinding.
Jiwa seorang Ratu yang telah menaklukkan puluhan wilayah kini bersemayam di dalam tubuh yang paling hina di klan Pratama.
"Bunuh diri?" Victoria berbisik pelan, menguji nama dan suara barunya. "Mereka bilang aku mencoba bunuh diri?"
"Ya, Clarissa! Helena bilang kamu histeris karena Dominic mengabaikanmu di pesta, lalu kamu melompat ke danau! Dominic sangat marah sekarang. Dia menganggap tindakanmu memalukan nama baik keluarga di depan para kolega bisnis!" Ibu tirinya, yang ternyata hanya peduli pada uang saku dari klan Pratama, terus mengoceh tanpa menyadari bahwa wanita di depannya bukan lagi domba penakut yang bisa disetir.
Victoria menarik napas dalam-dalam, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya yang lemah. Kelemahan fisik ini bisa dilatih, pikirnya, namun otoritas dan kecerdasan adalah sesuatu yang melekat pada jiwa.
Jika Helena mengira perangkap amatir seperti ini bisa menghancurkannya, maka wanita jalang itu telah salah menilai lawan.
Pintu kamar perawatan VIP itu mendadak terbuka dengan kasar. Langkah kaki yang berat dan penuh wibawa terdengar mendekat. Victoria menoleh dan matanya langsung tertuju pada sesosok pria yang baru saja masuk.
Pria itu tinggi, mengenakan setelan jas hitam tiga potong yang sangat pas di tubuh tegapnya. Wajahnya tampan dengan rahang tegas ala pria Korea, namun matanya sedingin es kutub. Auranya dominan dan mengintimidasi, membuat ibu tiri Clarissa langsung mundur beberapa langkah dengan wajah pucat. Dialah Dominic Pratama. Sang suami.
"Keluar," perintah Dominic dengan suara berat yang mutlak. Ia bahkan tidak memandang ibu tiri Clarissa. Merasa terancam oleh aura Dominic, wanita paruh baya itu segera keluar dari kamar tanpa pamit, meninggalkan Dominic dan Victoria dalam keheningan yang mencekam.
Dominic berjalan hingga berhenti tepat di samping ranjang. Ia menatap Victoria dengan pandangan penuh jijik dan kekecewaan yang mendalam. Di matanya, Clarissa tidak lebih dari sebuah masalah yang terus-menerus mencoreng nama baik yang dibangun keluarganya.
"Apakah drama bunuh diri ini membuatmu merasa puas, Clarissa?" Dominic bertanya, nadanya datar namun sarat akan ancaman.
"Jika kamu berpikir dengan melompat ke danau akan membuatku bersimpati atau melepaskan Helena, kamu sangat keliru. Tindakan bodohmu malam ini membuat saham perusahaan turun dua persen di pembukaan pagi ini karena rumor domestik."
Victoria menatap pria di hadapannya tanpa berkedip. Di masa lalunya, pria-pria dengan jabatan jenderal dan raja sering mencoba mengintimidasinya dengan cara yang sama, dan mereka semua berakhir berlutut di bawah kakinya. Dominic memang memiliki karisma seorang pemimpin, tetapi di mata seorang Ratu Victoria, pria ini hanyalah seorang pria yang matanya telah dibutakan oleh manipulasi murahan seorang wanita jalang.
Alih-alih menangis, histeris, atau memohon ampun seperti yang biasa dilakukan Clarissa, Victoria justru menyandarkan punggungnya pada bantal rumah tangga dengan gerakan yang sangat anggun.
Gerakannya lambat, penuh perhitungan, dan memancarkan wibawa yang membuat Dominic mengernyitkan alisnya. Ada yang aneh dengan istrinya malam ini.
"Saham turun dua persen?" Victoria mengulang kalimat itu dengan nada meremehkan yang sangat kentara.
Ia menatap Dominic langsung pada manik matanya, sebuah tindakan pembangkangan yang belum pernah dilakukan Clarissa sebelumnya.
"Dan kau menyalahkan istri sahmu yang hampir tewas tenggelam karena kelalaian sistem keamanan di rumahmu sendiri, Tuan Pratama?"
Dominic terpaku sejenak. Panggilan 'Tuan Pratama' yang keluar dari bibir istrinya terdengar begitu asing dan dingin.
Biasanya, Clarissa akan memanggilnya dengan suara bergetar penuh kerinduan yang mengganggu. Tatapan mata wanita itu kini tidak lagi memiliki ketakutan.
Di dalam sana, Dominic melihat sebuah kedalaman yang pekat, dingin, dan sangat berkuasa.
"Apa katamu?" Dominic menyipitkan matanya, suaranya merendah berbahaya.
"Aku bilang, kau adalah seorang pemimpin bisnis yang buruk jika kau membiarkan opini publik disetir oleh narasi sepihak dari seorang wanita seperti Helena," ujar Victoria tenang, jemarinya yang kurus bermain dengan ujung selimut rumah sakit dengan keanggunan seorang bangsawan sejati.
"Aku tidak mencoba bunuh diri. Seseorang mendorongku. Dan jika kau lebih peduli pada nilai sahammu daripada mencari tahu kebenaran di balik percobaan pembunuhan istrimu, maka kau tidak lebih dari seorang pengecut yang berlindung di balik setelan jas mahalmu."
Ruangan itu mendadak terasa seperti kekurangan udara. Dominic mengepalkan tinjunya.
Perubahan sikap Clarissa yang drastis ini benar-benar di luar dugaannya. Wanita di depannya ini tidak tampak seperti sedang bersandiwara atau mencari perhatian. Aura dingin yang memancar dari tubuh ringkih itu terasa begitu nyata dan menuntut kepatuhan.
Sebelum Dominic sempat membalas, pintu kamar kembali terbuka. Kali ini, seorang wanita dengan gaun hitam yang elegan masuk dengan langkah tergesa-gesa yang dibuat-buat.
Wajahnya cantik, dengan riasan sempurna ala sosialita kelas atas, namun matanya langsung memancarkan kilatan kecemasan saat melihat Clarissa tidak hanya sadar, tetapi juga sedang menatap suaminya dengan tenang.
Helena telah datang.
"Dominic, syukurlah Clarissa sudah sadar," Helena berkata dengan nada lembut yang dipenuhi kebohongan, langsung berjalan mendekati Dominic dan menyentuh lengan pria itu dengan posesif. Ia kemudian menatap Victoria dengan mata yang berkaca-kaca, akting yang sangat sempurna.
"Clarissa... maafkan aku. Aku tidak tahu kalau pembicaraan kita di tepi danau akan membuatmu begitu tertekan hingga nekat melompat. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa tidak pantas mendampingi Dominic..."
Victoria memperhatikan setiap gerak-gerik Helena dengan tatapan geli yang tidak disembunyikan. Di istana lamanya, pelayan tingkat rendah sekalipun memiliki teknik memanipulasi yang lebih rapi dari ini. Bagi Ratu Victoria, trik Helena ini sangat amatir dan menjijikkan.
Victoria melepaskan tawa kecil—sebuah tawa yang terdengar sangat merdu namun dingin, memotong kalimat Helena seketika. Baik Dominic maupun Helena tersentak mendengar tawa itu.
"Gaun hitam yang indah, Helena," ucap Victoria, matanya menyapu penampilan Helena dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang membuat Helena merasa telanjang dan terhina.
"Apakah kau sengaja mengenakan pakaian berkabung hari ini karena kecewa mendapati aku masih bernapas?"
"C-Clarissa, apa yang kamu bicarakan? Aku hanya mencemaskanmu!" Helena terbata-bata, wajahnya menegang. Ia menoleh pada Dominic, mencari perlindungan.
"Dominic, lihat dia... sepertinya kondisi mental Clarissa masih belum stabil setelah kejadian semalam. Dia mulai berhalusinasi dan menuduhku yang bukan-bukan."
Dominic tidak langsung menjawab. Matanya bergantian menatap Helena yang tampak panik dan Clarissa yang duduk di ranjang dengan ketenangan seorang penguasa yang sedang menonton pertunjukan komedi sirkus.
Ada sesuatu yang salah, dan insting bisnis Dominic yang tajam mulai menyadari bahwa dinamika di antara kedua wanita ini telah berubah sepenuhnya.
"Cukup, Helena," Victoria memotong dengan nada suara yang rendah namun memiliki daya tekan yang luar biasa. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Helena lurus-lurus.
"Permainan kekanak-kanakanmu berakhir di sini. Kau mendorongku ke danau itu dengan harapan aku akan mati dan kau bisa mengambil alih posisiku sebagai Nyonya Pratama. Tapi sayangnya bagi dirimu, Tuhan tidak mengizinkan tempat ini dipimpin oleh seorang pelacur emosional berselubung wanita terhormat seperti kau."
"Clarissa! Jaga bicaramu!" Dominic membentak, namun ada nada keraguan dalam suaranya yang tidak bisa disembunyikan.
"Kau yang harus menjaga matamu, Dominic," balas Victoria tanpa rasa takut sedikit pun, menatap suaminya dengan wibawa mutlak seorang Ratu Victoria.
"Buka matamu dan lihat dengan jelas siapa yang berada di sampingmu. Mulai hari ini, Clarissa Pratama yang bisa kau abaikan dan bisa kau tindas telah mati di dasar danau itu. Aku telah kembali, dan aku akan memastikan setiap orang yang berutang darah dan air mata pada tubuh ini akan membayar semuanya hingga sen terakhir. Terutama kau, Helena."
Helena melangkah mundur, wajahnya memucat pasi. Aura intimidasi yang memancar dari Clarissa yang "baru" ini begitu kuat hingga membuatnya gemetar ketakutan.
Dominic sendiri terdiam, terpaku oleh sepasang mata istrinya yang kini berkilau penuh karisma, kemarahan yang anggun, dan kecerdasan yang mematikan.
Mahkota klan Pratama mungkin belum berada di atas kepalanya secara hukum, tetapi malam itu, di dalam kamar rumah sakit yang sunyi, Ratu Victoria telah mengumumkan kepada dunia bahwa takhtanya telah kembali. Dan perang di klan Pratama baru saja dimulai.
sangat menarik sekali