menceritakan tentang seorang pemuda bernama royy yang tereinkarnasi menjadi entitas bayangan dan membangun peradaban serta menjadi raja iblis...
(Kage no Karada toshite Tensei Shita node, Saikyō no Danjon Ōkoku o Tsukurimashita!)
(reinkarnasi menjadi entitas bayangan, dan membangun kerajaan terkuat di dalam dungeon)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon royco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Takdir dan Kebangkitan sang Raja Iblis
Halo, namaku Roy. Aku hanya seorang pria lajang yang hidup dengan sangat tenang di kota metropolitan ini. Tidak punya pacar, tidak punya drama kehidupan, kehidupan yang biasa saja. Pagi ini, aku melangkah keluar dan menghirup udara segar Jakarta, Indonesia. Suasananya benar-benar damai, aman, dan tenteram.
"Aku harap ini semua bisa terus selamanya begini," ucapku pelan, tersenyum menatap langit pagi.
Namun... takdir tampaknya enggan mengabulkan keinginan sederhanaku.
Sore harinya, saat aku sedang berjalan-jalan santai menikmati suasana di pelataran Monumen Nasional (Monas), kedamaian itu pecah berkeping-keping. Tanpa peringatan, muncul sekelompok orang bersenjata lengkap yang membawa bom. Mereka melepaskan tembakan secara brutal ke segala arah.
DOR! DOR! DOR!
Jeritan histeris langsung menggema. Aku tersentak, mematung di tempat karena terkejut sejadi-jadinya. Otakku berteriak menyuruhku berlari, namun tubuhku lumpuh, menolak untuk merespons akibat syok yang teramat sangat. Sore itu, Jakarta yang kupuji damai tadi pagi tiba-tiba berubah menjadi neraka yang mencekam. Aku hanya bisa terdiam dan terpaku di tengah badai peluru.
Hingga tiba-tiba...
DORR!
Rasa sakit yang teramat sangat menghantam dadaku. Nafasku mendadak sesak, rasanya seperti dipukul dengan hantaman gada besi yang luar biasa keras, namun meninggalkan sensasi terbakar yang panas. Sebutir peluru nyasar telah bersarang tepat di dadaku.
Tubuhku ambruk ke paving blok Monas. Aku terbaring tak berdaya. Di sisa kesadaranku, suara teriakan orang-orang yang ketakutan perlahan-lahan menjauh, memudar, dan memudar... hingga akhirnya, hanya kesunyian gelap yang kudapatkan.
Wush...
Tiba-tiba, aku terbangun. Namun, ini bukan lagi Monas. Aku berada di dalam sebuah ruangan misterius yang serba putih dan sangat terang. Di hadapanku, melayang sebuah layar virtual bercahaya yang menampilkan teks dingin:
[Hidup Kembali atau Mati Selamanya]
Tanpa berpikir panjang, aku langsung memilih opsi untuk hidup kembali. Dalam benakku, aku akan terbangun di rumah sakit di Bumi. Namun, kenyataannya justru melempar waras ku jauh-jauh.
Saat membuka mata, aku malah berada di sebuah lorong bebatuan yang gelap gulita. Ketika aku menoleh ke sekeliling, yang kulihat hanyalah dinding batu kuno dan beberapa gugusan kristal yang memancarkan cahaya ungu dan biru yang berpendar terang.
"Aku... di mana?" ucapku linglung.
BZZZT—
Tiba-tiba, sebuah suara asing muncul dan bergema sangat keras langsung di dalam kepalaku. Suara itu datar, dingin, dan berwibawa, persis seperti sistem di dalam video game.
[Jawab. Anda berhasil dihidupkan kembali.]
Aku terlonjak. Benar-benar terkejut.
Aku mencoba memastikan keadaan sekitar dan berusaha untuk bangkit berdiri. Namun, saat aku mulai mengangkat tubuhku dari posisi duduk, ada sensasi aneh yang luar biasa. Tubuhku terasa sangat ringan, bagaikan kepulan asap. Ini bahkan jauh lebih ringan daripada selembar kertas, rasanya seolah aku bisa melayang kapan saja.
Penasaran, aku langsung memeriksa seluruh tubuhku. Ketika melihat ke arah kedua tanganku, aku berteriak sekencang-kencangnya karena syok yang teramat sangat.
"A-Apa-apaan iniii!!!"
Tanganku bukan lagi kulit dan daging, melainkan gumpalan asap hitam pekat yang bergerak-gerak mistis! Tepat di tengah kepanikanku, suara sistem kembali bergema memberikan informasi.
[Jawab. Anda telah tereinkarnasi menjadi Entitas Rusak. Ras Anda saat ini adalah Bayangan, dan Anda adalah Kebangkitan Raja Iblis. Kekuatan unik yang dimiliki sekarang: [Gluttony].]
Aku tertegun, mencoba mencerna rentetan kata gila itu ke dalam otakku.
"Bayangan? Entitas rusak? Kebangkitan Raja Iblis? Gluttony? Apa-apaan semua itu?! Dan... sebenarnya siapa kamu?" tanyaku bertubi-tubi pada kehampaan.
[Jawab. Aku adalah Sistem Pendamping. 'Entitas Rusak' adalah sebutan untuk virus atau suatu keberadaan anomali yang seharusnya tidak ada di dunia ini. Anda adalah 'Bayangan' karena Anda tidak memiliki wujud fisik manusia saat ini. Mengenai Raja Iblis... Maaf, informasi tersebut tidak dapat diberitahukan kepada Anda saat ini.]
Sistem menjeda kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan.
[Sedangkan [Gluttony] adalah skill khusus tingkat kuno yang tidak dimiliki oleh siapa pun di dunia ini, baik manusia maupun ras lainnya. Skill ini memiliki keahlian absolut, yaitu kemampuan untuk melahap segala hal, menyimpan objek yang ditelan di dalam ruang dimensi internal, menyerap pengetahuan, mempelajari skill dari target, serta menduplikasi benda yang telah dicerna.]
Mendengar penjelasan panjang itu, batin Roy seketika bergejolak.
Hmmm... Bisa mempelajari skill, menyimpan barang, bahkan menduplikasi? Berarti sakti banget dong skill yang kupunya ini!
Aku pun mencoba berinteraksi lagi dengan suara di kepalaku.
"Sistem... Apakah aku bisa menyimpan semua batu sihir yang bercahaya di dinding ini?"
[Jawab. Benar. Anda bisa menyimpan semua batu sihir tersebut dengan cara melahapnya menggunakan wujud bayangan Anda.]
"Ooh, menarik! Oke deh, mari kita coba!"
seruku penuh semangat.
Aku menggerakkan tubuh asap hitamku, mendekati dinding goa, lalu mulai melahap satu per satu batu sihir ungu dan biru itu ke dalam tubuh bayanganku. Tiba-tiba, layar sistem berdenting di depan mataku.
[Pemberitahuan. Efek batu magis berhasil dianalisis. Skill baru diperoleh dan berhasil dipelajari: [Penerangan Penglihatan / Night Vision].]
Wush!
Seketika itu juga, pandanganku yang tadinya terbatas langsung berubah menjadi terang benderang. Seisi goa yang luas ini terlihat sangat jelas layaknya siang hari. Namun, saat mengamati struktur bangunan di sekitar, aku baru menyadari sesuatu yang janggal. Tempat ini bukanlah goa alam biasa, melainkan sebuah struktur labirin buatan yang sangat masif.
Jangan-jangan... aku tereinkarnasi ke dunia lain dan berada di dalam sebuah Dungeon? gumamku dalam hati.
Aku memutuskan untuk tidak terlalu ambil pusing. Sembari berjalan menyusuri lorong, aku terus melahap setiap batu magis yang kutemui dalam jumlah banyak untuk menimbun pasokan. Namun, setelah terus berjalan tanpa arah dan tidak kunjung menemukan tanda-tanda jalan keluar, rasa kesalku mulai memuncak.
"Hoi, Sistem... Gimana nih? Sebenarnya aku ada di lantai berapa sih? Capek juga jalan terus di dungeon sialan ini..."
[Jawab. Saat ini kita berada di kedalaman Lantai 95 di dalam dungeon. Anda pertama kali bangkit di titik terdalam, yaitu Lantai 100. Berdasarkan kalkulasi kecepatan Anda, dibutuhkan waktu sekitar tujuh hari perjalanan untuk bisa sampai ke permukaan luar.]
"Orang gila! Anjirlah, satu minggu di tempat begini bisa-bisa stres aku!" rutukku kesal. Namun, sedetik kemudian, aku menyeringai di dalam wujud asapku. "Tapi... dipikir-pikir, ini kesempatan bagus. Aku bisa berburu skill monster dan mencari perlengkapan langka di sepanjang jalan. Yasudahlah, mau bagaimana lagi... Nyahahahahaha!"
Maka, dimulailah petualangan gilaku. Selama lima hari penuh tanpa istirahat, aku terus bergerak naik sambil membantai setiap monster kuat yang menghadang jalanku, lalu melahap mereka menggunakan skill Gluttony untuk merampas kemampuan unik mereka.
Hingga akhirnya, di hari kelima, aku berhasil menginjakkan kaki di Lantai 50—titik tengah dari dungeon ini. Berdasarkan informasi dari Sistem, nanti setelah mencapai Lantai 30, barulah akan ada portal sihir yang bisa langsung memindahkan diriku ke Lantai 1 untuk keluar dari dungeon ini.
Namun, tepat saat aku hendak melangkah masuk ke area utama Lantai 50, indra pendengaranku menangkap suara benturan logam yang sangat nyaring.
TINGGG! CLANG!
Aku langsung menghentikan gerakan melayangku dan bersembunyi di balik bayangan dinding batu untuk mengintip. Di sana, tampak seorang petualang manusia sedang bertarung mati-matian melawan seekor monster raksasa yang menyemburkan cairan beracun. Kondisi petualang itu sudah sangat parah; tubuhnya kritis, dipenuhi luka robek akibat cakaran brutal monster, dan racun hijau mulai menyebar di kulitnya.
TRAKK!
Hantaman keras dari monster itu membuat senjata milik sang petualang terhempas beberapa meter menjauh. Saat monster itu bersiap melakukan serangan pamungkas untuk menghabisi si petualang yang sudah terpojok, aku tidak bisa tinggal diam. Aku melesat keluar dari kegelapan.
"Elemen Tanah! Sihir Golem, [Peluru Batu]!" seruku mengaktifkan salah satu skill monster yang sudah kupelajari.
DOR! DOR! DOR!
Proyektil batu padat melesat cepat dan menghujani tubuh monster beracun itu hingga terkapar tak bernyawa. Setelah monster itu tumbang, aku mendekati sang petualang yang terbaring lemah di tanah, lalu menyapanya dengan santai.
"Yo... Aman?"
Petualang itu terbatuk, menatap wujud asap hitamku dengan tatapan sayu yang nyaris kehilangan harapan. "Heh... Nggak mungkin aman lah. Lagian... luka dan racun kayak begini... udah nggak bisa disembuhkan lagi..." ucapnya terbata-bata.
Aku terdiam, merasa iba melihat kondisinya yang berada di ambang maut. Aku berniat menggunakan sihir penyembuh yang kupunya, namun layar Sistem tiba-tiba berkedip merah dengan nada peringatan.
[Perhatian! Dilarang memberikan sihir pemulihan kepadanya. Jiwanya sudah terkikis racun mutlak, dia sudah ditakdirkan untuk tiada dalam hitungan detik.]
Aku terpaksa menuruti peringatan Sistem. Aku hanya bisa berdiri mematung di sana, menyembunyikan wajah bayanganku, menyaksikan petualang itu menghembuskan nafas terakhirnya dengan perlahan—sama persis seperti momen kematianku di Monas kala itu.
Suasana menjadi hening. Tepat setelah petualang itu benar-benar tiada, Sistem kembali bersuara.
[Perhatian! Tidak ada tempat yang layak untuk menguburkan jasadnya di lantai ini. Jika didiamkan begitu saja, energi kutukan dungeon akan membangkitkan jasad ini menjadi makhluk mengerikan (Undead). Pilihan terbaik saat ini: Lahap jasadnya!]
Aku tersentak. "Ehhh... Haruskah? Agak ekstrem ya... Apa yang bakal aku dapat kalau melahapnya?"
[Jawab. Jika melahapnya dalam kondisi segar, Anda akan mendapatkan satu Skill Tersembunyi secara acak dari rekam jejak jiwanya.]
Aku menatap jasad itu lama, lalu menghela nafas panjang. "Hmm... Baiklah. Daripada jasadnya nanti berubah jadi Undead dan jiwanya malah nggak tenang, lebih baik aku amankan."
Wujud asap hitamku langsung melebar, menyelimuti seluruh jasad petualang tersebut, lalu menelannya utuh ke dalam pusaran dimensi Gluttony. Proses pencernaan berjalan instan, dan denting sistem yang dinantikan akhirnya berbunyi.
[Perhatian! Proses ekstraksi jiwa selesai. Skill khusus: [Peniru / Mimicry] berhasil dipelajari!]
"Skill Peniru? Skill macam apa itu, Sistem?" tanyaku penasaran.
[Jawab. Skill [Peniru] adalah kemampuan khusus yang memungkinkan Anda untuk meniru wujud fisik dari benda mati, hewan, maupun manusia yang telah Anda analisis. Namun, skill ini memiliki batasan atau kekurangan tertentu.]
"Apa kekurangannya?"
[Jawab. Pertama, saat Anda menyamar menjadi benda mati, kecepatan bergerak Anda akan turun drastis atau bahkan tidak bisa bergerak sama sekali. Kedua, saat menjadi hewan biasa, Anda tidak bisa menggunakan sihir penyerang kecuali jika Anda meniru wujud Hewan Suci atau Monster Tingkat Tinggi. Ketiga, saat Anda mengaktifkan wujud manusia, kekuatan dahsyat Anda akan terkunci karena tubuh fisik manusia memiliki batasan kapasitas energi yang rendah.]
Aku terdiam sejenak, merenungkan ucapan Sistem. Jadi ini yang disebut Entitas Rusak... Aku benar-benar makhluk anomali yang tidak seharusnya ada di dunia ini. Sangat berbahaya kalau sampai identitas asliku ketahuan oleh orang luar.
Setelah memantapkan hati, aku pun memberikan perintah mutlak pada asisten di kepalaku.
"Sistem... Terapkan skill Peniru, ubah aku menjadi wujud manusia."
[Diterima. Aktivasi skill [Peniru]: Ras Manusia. Memulai proses pemadatan partikel bayangan di sekitar inti jiwa. Entitas manusia tiruan... telah berhasil terlahir.]
Wush—
Kepulan asap hitam yang menjadi tubuhku perlahan-lahan memadat, menyatu, membentuk struktur tulang, daging, dan kulit yang nyata. Namun... karena dasarku adalah entitas bayangan murni yang tidak memiliki konsep biologi, wujud manusia baruku ini terlahir dengan sangat estetik namun tidak memiliki gender sama sekali—bukan pria, juga bukan wanita.
Aku membuka mata manusiaku, merasakan sensasi berat tubuh yang sudah lama hilang. Pandanganku beralih pada pedang kuno milik petualang tadi yang tergeletak di dekatku. Aku berjalan mendekat, lalu memungut senjata tersebut. Di bilah pedangnya, samar-samar terukir sebuah nama kuno yang memancarkan aura magis.
"Senjata ini... Ah, ada namanya. A...nu...bis? Nama yang bagus, Anubis. Mulai sekarang, senjata ini resmi jadi milikku, haha!" ucapku.
Namun, saat angin dungeon berhembus melewati kulit telanjangku, aku tiba-tiba merinding dan menyadari satu hal yang memalukan.
"Eh... tunggu dulu. Aku kan nggak pakai baju sama sekali setelah berubah jadi manusia begini! Waduh! Sistem, cepat bikinkan aku pakaian yang layak dari manipulasi energi bayanganku!"
[Diterima. Pembuatan pakaian berbasis material bayangan telah selesai. Apakah Anda ingin langsung menerapkannya pada tubuh?]
"Tentu saja iya! Buruan!" seruku panik.
[Diterima. Pakaian berhasil diterapkan.]
Sring!
Dalam sekejap mata, partikel bayangan hitam di sekelilingku merayap naik dan memadat, membentuk setelan jubah hitam legam yang sangat pas dan terlihat luar biasa keren di tubuh manusiaku.
Aku berkaca pada pantulan kristal ungu di dinding, tersenyum puas melihat penampilanku yang kini tampak seperti seorang misterius yang gahar.
"Bagus juga nih baju, haha! Kalau begitu, persiapanku sudah selesai. Mari kita lanjutkan perjalanan naik ke atasss!"