NovelToon NovelToon
Balas Dendam Sang Putri Buangan

Balas Dendam Sang Putri Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: novi niajohan

Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.

Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.

Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.

Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Kebenaran yang terungkap

Di saat tengah malam aku harus terbangun dari tidurku karena rasa haus dan buang air kecil yang datang bersamaan, membuatku harus keluar kamar padahal kedua mataku masih terasa berat.

Setelah ku penuhi semua keinginan tersebut kedua netraku lantas tertuju kepada sebuah ruangan tertutup dengan lampu masih menyala didalamnya.

Aku tahu betul tempat itu..

Tempat itu adalah ruang kerja ayahku saat ia meracik ramuan herbal, sekaligus tempat penyimpanan obat-obat langka dan juga mahal.

Aku sudah terbiasa keluar masuk ruangan itu, akan tetapi yang membuatku penasaran adalah kenapa didalam ruangan tersebut samar-samar terdengar suara perbincangan seseorang di tengah malam seperti ini.

Dengan rasa penasaran yang mengalahkan rasa kantukku, aku perlahan mendekat. Dan ku coba menguping walau aku tahu menguping pembicaraan itu dilarang keras.

Apakah ada seseorang yang sedang sakit parah sampai-sampai ayahku harus duduk serius dimeja kerjanya?

"Apa kau yakin ingin memberitahunya?" tutur tanya lembut suara seorang perempuan yang sangat ku kenali.

Dia adalah ibuku..

Tapi kenapa ayah dan ibuku berada di dalam ruangan ini padahal ini sudah waktunya untuk mereka beristirahat. Dan apa yang baru saja aku dengar? Ingin memberitahu siapa?

Aku meletakkan telingaku lebih lekat pada daun pintu agar bisa mendengar lebih jelas percakapan mereka didalam dan entah mengapa hatiku berdebar kencang saat keduanya mulai menyebut namaku.

"Kita tidak bisa terus menerus menyembunyikan kebenaran ini dari Qiuye, kita harus memberitahunya tentang kebenaran ini."

"Kau memang benar, kita memang harus memberitahu kebenaran ini. Tapi apa tidak bisa di tunda? Dia masih sangat muda dan aku belum siap berpisah dengannya jika suatu saat dia tahu akan semua ini," isak ibuku.

Nafasku seakan terhenti mendengar hal tersebut, pikiranku mulai menerka-nerka sesuatu. "Apa maksud mereka berkata seperti itu? Apa yang terjadi padaku? Apa aku akan mati muda?" pikirku dengan segala asumsiku sendiri.

Akan tetapi kelanjutan dari pembicaraan itu membuatku semakin lemas tidak berdaya.

Qiuye bukan putri kita!

"Apa! Aku bukan putri mereka? Lalu aku putri siapa?"

Aku mengepal erat kedua tanganku, dan terus menerus menguping pembicaraan tersebut walau aku tahu hatiku akan terasa sakit bila terus mendengarnya.

Aku sangat ingin tahu siapa sebenarnya diriku ini dan bagaimana aku bisa dibuang begitu saja oleh orang tuaku yang sebenarnya.

Istana adalah kata terakhir dari percakapan tersebut dan jenderal utama sebagai penutupnya.

Segera aku menjauh dari ruang kerja ayahku, bukan! Lebih tepatnya ayah angkatku. Dan bersembunyi disudut lain ketika keduanya berjalan keluar ruangan.

"Berjanjinya padaku, jangan katakan ini pada Qiuye sebelum waktunya. Aku benar-benar tidak ingin kehilangannya," ucap ibuku setelah ayahku menutup pintu.

"Baik, aku akan menurutimu. Tapi jika suatu hari dia tahu yang sebenarnya, maka yang bisa kita lakukan hanyalah melindunginya dan membawanya pergi sejauh mungkin dari kota ini," balas ayahku.

"Sudahlah jangan menangis, bagaimana kalau Qiuye sampai terbangun dan melihat kau menangis seperti ini. Dia pasti akan mencecar kita dengan beribu pertanyaan," sambung ayah menenangkan ibuku.

Ibuku mengangguk setuju dan pergi menuju kamar mereka, sebelum melihat keberadaanku. Sedangkan aku sendiri masih termangu disisi gelap sudut ruangan. Mencoba menelaah perkataan yang baru saja ku dengar.

Istana, jenderal utama, bahaya apa yang sebenarnya terjadi? Tapi yang lebih penting adalah kenapa orang tua kandungku sampai tega membuangku dan ingin membunuhku?

...----------------...

Keesokan paginya aku masih terpaku menatap cermin, pikiranku masih sibuk menelaah percakapan yang aku dengar kemarin malam.

Siapa sebenarnya diriku ini?

Pelan-pelan aku menyisir rambutku yang berwarna coklat agak kuning keemasan, warna yang aneh untuk semua orang karena hanya aku yang memilikinya seorang.

Apa aku ini adalah orang asing yang sering dibilang oleh orang lain? Penjajah barat?

Akan tetapi wajahku menepis semuanya, aku memang kelahiran Tiongkok asli dan ayahku sudah membuktikannya di depan semua orang.

Ibuku juga sudah memberitahuku karena ia salah meminum ramuan sewaktu hamil, dan makanya aku terlahir dengan rambut seperti ini.

Aku menghela nafas panjang, perbincangan semalam membuatku ragu dengan semua perkataannya.

"Aku jelas bukan putrinya, lalu kenapa mereka menyembunyikan semua ini dariku?"

Akhirnya aku tidak dapat membendung emosiku dan aku tidak kuasa menahan tangis, kembali aku teringat dengan kata-kata istana dan juga jenderal utama.

Apa mungkin aku ada kaitannya dengan mereka? Atau paling tidak mereka pasti mengetahui dimana keberadaan keluarga asliku.

Segera aku menghapus air mataku, ketika aku mendengar suara ibuku memanggil.

"Ye, kenapa belum bersiap?" tanya ibuku.

"Ya ibu, sebentar lagi."

"Hm, mana sini ibu bantu merapihkan rambutmu. Kau harus cepat karena kau tahu sendiri bagaimana sifat ayahmu kan? Dia tidak suka menunggu," ucap ibu membantuku bersiap.

"Ya ibu benar," balas aku dengan suaraku sedikit serak.

"Kenapa denganmu, Nak? Kenapa suaramu parau seperti ini dan matamu terlihat bengkak?" selidik ibu cemas.

"Tidak apa-apa ibu, aku sehat. Semalam hanya bermimpi sedang berkelahi dan aku menangis karena kalah," jawabku sekenanya dan mencoba menenangkan ibuku agar tidak cemas.

"Benarkah?" tanya ibuku memastikan.

"Ya benar," jawabku menggangguk pasti.

"Hei Qiuye cepatlah!" pekik suara ayah dari luar.

"Ya ayah baik!" sahutku.

"Sudah ya ibu, aku berangkat."

"Ya, pakai penutup rambutmu dan jangan sampai kau melepasnya," ucap Ibu sebelum aku pergi.

"Baik Bu," patuhku.

Aku meraih tasku dan segera berlari menuju ayahku yang sudah menunggu.

"Jangan lupa minum obatmu!" sahut ibuku dari jauh.

"Baik Bu," balasku sambil melambaikan tangan. Lalu aku dan ayah pergi menuju toko.

...----------------...

Toko Obat Cina.

Hari-hari ku jalani seperti biasa, membantu ayah berjualan obat herbal. Toko obat keluarga ini sudah berdiri ratusan tahun dan sudah terkenal dengan kemanjurannya dalam mengobati berbagai penyakit.

Dari tangan ajaibnya mampu mengobati ratusan pasien, bahkan para menteri dan juga bangsawan lainnya selalu memanggil ayahku ke kediaman mereka.

Ayahku dulunya seorang tabib kerajaan dan entah mengapa ia malah memilih untuk berhenti dengan alasan ingin meneruskan usaha ini menggantikan sang kakek yang sudah tiada.

"Ye, apa kamu sudah minum obat?" tanya Ayahku disela pekerjaannya.

"Sudah Ayah," balasku tanpa debat.

"Bagus," balas Ayahku lalu kembali bekerja.

Aku pernah bertanya tentang obat apa itu, namun ayah selalu menjawab untuk tidak menanyakannya dan obat itu harus ku minum setiap hari agar penyakitku tidak kambuh.

Aku sudah bosan sekali meminumnya dan kali ini aku ingin tahu obat apa yang selalu ayah berikan untukku.

Akan tetapi, sebelum aku sempat mencari tahu, anak buah ayahku berlari tergesa dan mencari ayahku.

"Nona, dimana tuan Jiang?" tanya anak buah ayahku cemas.

"Ayah ada di ruang obat," balasku. "Ada apa paman Li?" tanyaku ingin tahu.

"Putri perdana menteri tiba-tiba jatuh sakit, dan tuan perdana menteri ingin tuan Jiang datang ke kediamannya segera," balas paman Li.

Sejenak aku berpikir, sepertinya aku harus ikut ayahku kesana.

...Bersambung....

1
Noviyanti
terima kasih sudah membaca karyaku, jangan lupa berikan like dan komen ya.
Joan
keren thor satu persatu mulai terungkap. gk sabar sama reaksi qiuye pas dia tahu guan yu ngerawat dia🤣
Joan
semakin seru lanjut thor
Joan
semakin pnasran. lanjut thor💪
Joan
parah banget kaisarnya /Panic/
Joan
makin seru thor, lanjutkan💪
Joan
lanjut thor
Noviyanti
Selama menunggu kelanjutan cerita ini, kalian bisa baca karya yang lain dulu ya
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak Nov.... selamat aktif menulis kembali ya.
total 3 replies
Joan
ceritanya bagus dan cukup menarik. terus semngat
Noviyanti: terima kasih semangatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!