NovelToon NovelToon
Gelora Cinta Dalam Dendam

Gelora Cinta Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:774
Nilai: 5
Nama Author: yourladysan

Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.

Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rhanu Widitama Tedjakusuma

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore saat Amaia keluar dari gedung universitas. Catatan revisi draf proposal skripsi membuat kepala perempuan 23 tahun itu terasa berat. Memikirkan saja bikin Amaia ingin cepat-cepat pulang dan merebahkan tubuh ke kasur empuk.

Namun, ia setengah yakin tidurnya bakal nyenyak malam ini. Amaia menghela napas dan berhenti tepat di depan koridor pelataran halaman depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis universitas Dharma. Sebuah universitas swasta yang beberapa tahun belakangan sangat populer di ibu kota. Pun Amaia akan segera angkat kaki dari sana.

"Hah, udah tau masuk musim penghujan. Kenapa aku nggak bawa payung?" Amaia mengeluh dan merutuki dirinya sendiri.

Gerimis mulai terjatuh membasahi setiap sudut kampus. Sedangkan Amaia bersama beberapa mahasiswa lain menepi di dekat koridor menuju tempat parkir.

"Mai!" Sebuah seruan dari arah belakangnya membuat Amaia menoleh.

Seorang gadis berambut pendek bergaya bob terlihat berlari menghampirinya. Sama seperti Amaia, gadis itu juga membawa tas map berisi beberapa dokumen untuk proposal skripsi.

"Lo mau langsung balik?" tanyanya. Dialah Cassie, teman baik Amaia di kelas.

"Iya, nih. Tapi lihat sendri, kan, hujan begini."

"Mau gue ajak bareng, tapi gue nggak bawa jas ujan lebih." Cassie mencebikkan bibir.

"Nggak apa-apa, Cas. Aku tunggu hujannya reda aja."

"Beneran, nih?" tanya Cassie tampak merasa bersalah.

Amaia membalas dengan anggukan yakin. Sepeninggal Cassie dari hadapannya, Amaia kembali mengamati hujan yang semakin jatuh deras di pelataran kampus. Mau tidak mau, Amaia harus menunggu. Sementara menunggu, pikiran gadis itu fokus pada satu orang; lelaki yang belum mengabarinya sejak tiga hari perdebatan mereka.

Ponsel di saku celana jins longgarnya bergetar. Amaia mengejap saat mendapati pesan masuk dari grup keluarga Tedjakusuma. Ia memang belum resmi menjadi bagian dari keluarga itu, tapi nyonya besar keluarga tersebut sudah mengundang ke grup obrolan.

Tante Sasti: Malam ini kita makan malam bersama sekalian membahas rencana pernikahan kalian.

Ada tag yang menyebut nama Amaia dan calon suaminya. Pipi Amaia sedikit menghangat ketika mengingat pria yang sudah lama dikenal baik oleh keluarganya. Amaia tak bisa memungkiri bahwa dirinya telah lama jatuh hati.

Ia tak sempat membalas pesan itu tatkala sebuah Land Rover berhenti tepat di depan pelataran yang mulai basah oleh hujan. Beberapa pasang mata memfokuskan tatapan mereka ke sana. Tak terkecuali Amaia.

Seorang pria berperawakan agak kekar dengan setelan kemeja putih turun dari sana. Bersama payung putih transparan, dia mendekati Amaia. Alis Amaia bertaut karena kehadiran pria itu. Ia jelas mengenalnya. Tapi mengapa pria tersebut ada di kampus?

"Selamat sore, Amaia. Kegiatamu udah selesai? Saya ke sini untuk menjemput kamu ke rumah utama," katanya.

"Em, kenapa Mas Edgar yang menjemput saya?" tanya Amaia agak kebingungan. Kehadiran pria itu membuat Amaia melirik ke arah mahasiswa lain. Dia merasa sedikit tak nyaman diperhatikan begitu. "Tante Sasti maupun Kak Rakha nggak pernah ...."

Senyum tipis Edgar membuat Amaia menahan kalimat. "Mari ikut saya. Karena saya memang sengaja diminta menjemput kamu. Malam ini ada makan malam bersama, 'kan? Sopir juga sudah menjemput ibu kamu."

Walaupun agak sangsi, Amaia mengangguk. Ia tak bisa bertanya lebih jauh. Apalagi sedang hujan begini dan ia butuh segera menjauh dari kampus untuk melupakan sejenak tugas akhirnya.

Toh, Amaia juga mengenal Edgar dan tuannya. Jadi, dia tak menaruh curiga sedikitpun.

Land Rover yang dikendarai Edgar menjauh dari area kampus. Meskipun Amaia sudah duduk di sama, tapi perasaan belum juga tenang. Jarang-jarang seorang Edgar diminta untuk menjemputnya ke kampus. Sang calon suami selalu menugaskan sopir lain. Apalagi setahu Amaia, Edgar hanya setia bekerja untuk seseorang—seseorang yang sudah enam bulan ini tak bertegur sapa dengan Amaia.

Amaia mengirim pesan pada sang calon suami. Tentu saja menanyakan tentang jemputan Edgar. Namun, seperti tadi pagi, pesannya tak menjawab balasan. Amaia berusaha mengerti kesibukan sang calon suami. Walaupun di sisi lain Amaia merasa sedikit terganggu karena belum ada kabar darinya. Apa lelaki itu marah? Karena Amaia ingin menikah setelah lulus kuliah?

Ia terkesiap. "Tunggu, Mas Edgar kita mau ke mana?" Amaia baru menyadari mobil yang dikendarai Edgar tidak melintasi jalan menuju kediaman keluarga Tedjakusuma. Perasannya mendadak gelisah. "Mas?!" pekik Amaia.

Gadis itu mulai berasumsi tak karuan. Ada gundah yang tiba-tiba menghampiri ketika ucapannya tak dapat balasan.

"Pak Widi ingin bertemu kamu," jawab Edgar menyebut nama sang bos.

"Mas, jangan macam-macam! Kamu tau kan kalau sampai berbuat yang nggak-nggak, Kak Rakha nggak akan tinggal diam," kata Amaia setengah mengancam.

Namun, ia tahu ancaman seperti itu tak akan mempan. Karena Edgar lebih patuh pada tuannya ketimbang Amaia atau Rakha.

Percuma! Amaia tak bisa memberontak lagi. Mobil perlahan memasuki area sebuah hotel besar di bilangan Jakarta Selatan. Dari tempat duduknya, di balik kaca mobil, Amaia melihat beberapa pria berjas rapi keluar dari sana. Salah satu di antara mereka mengenakan coat panjang berwarna hitam.

Amaia menelan ludah. Enam bulan terlewat dan ia tak pernah mendengar kabar pria itu. Namun, hari ini, detik ini, ia melihat pria itu berjalan dipayungi oleh Edgar yang entah sejak kapan sudah tidak berada di depan kemudi.

Kian dekat langkah pria itu, degup jantung Amaia semakin terasa tak aman. Bukan semacam gugup saat bertemu calon suaminya, tapi kali ini ada sedikit rasa takut yang terpercik.

Pintu mobil terbuka, kaki kiri yang panjang masuk lebih dulu, lalu menyusul si pemilik tubuh kekar dengan tinggi 188 sentimeter itu. Amia meringkuk di kursi sebelah sembari membulatkan mata setengah kaget. Aroma parfum yang familiar menusuk indra pembaunya.

Dari dulu pria itu tidak perna berubah; auranya seperti dipenuhi kabut hitam, tatapan matanya tajam, dan sorot tegas itu selalu membuat Amaia merasa dikuliti habis-habisan.

"Wah, lihat siapa yang akhirnya masuk ke mobil saya?" Pria itu menangkap keberadaan Amaia dibarengi senyum penuh kemenangan.

Suara berat Rhanu Widitama Tedjakusuma membuat Amaia semakin mundur sampai punggungnya membentur kaca mobil. Seringai Widitama mengingatkan Amaia tentang masa-masa yang telah lewat.

"A-aku dengar Mas Widi mau ketemu aku," kata Amaia tergagap. Ia merasa tubuhnya akan menyusut tatkala mata Widitama menatapnya tanpa henti.

Sang putra tertua keluarga Tedjasukmana mengangguk. Ia menepuk pundak Edgar agar si pengawal segera melanjutkan perjalanan. "Tapi pertama-tama, bagaimana kabarmu, Mai Kecil?"

Amaia tertegun. Sudah lama sekali dia tak mendengar panggilan itu dari bibir Widitama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!