Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Suara raungan mesin empat silinder memecah keheningan pagi di kawasan perumahan elit Jakarta. Sebuah Kawasaki Ninja ZX-25R berwarna hitam matte melesat lincah, membelah kemacetan dengan presisi yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah menganggap aspal sebagai sahabat karib. Di atas joknya, seorang gadis dengan jaket kulit oversized dan celana kargo hitam tampak begitu menyatu dengan tunggangannya.
Alexa, gadis itu, sama sekali tidak peduli dengan tatapan ngeri ibu-ibu yang sedang menyapu halaman atau bapak-bapak yang sedang memanaskan mobil. Baginya, pukul 07.45 adalah waktu yang sangat krusial. Bukan karena dia rajin, tapi karena dosen mata kuliah Hukum Perdata pagi ini adalah "Si Macan Kemayoran" yang tidak segan-segan mengunci pintu kelas tepat saat jarum jam menunjukkan pukul 08.00.
"Dikit lagi, Lex. Jangan sampe telat atau lo harus ngulang tahun depan!" gumamnya di balik helm dark smoke.
Begitu sampai di parkiran kampus, Alexa melakukan manuver stopie tipis sebelum memarkirkan motornya dengan standar samping yang mantap. Ia melepas helm, membiarkan rambut model wolfcut-nya yang sedikit berantakan tertiup angin. Dengan cuek, ia menyisir rambutnya hanya menggunakan jari, memperbaiki beberapa helai yang menutupi matanya yang tajam.
"Woy, Lex! Gila lu, hampir telat lagi!" teriak Rio, sahabatnya yang sudah stand-by di depan koridor.
"Santai, Yo. Motor gue kan bukan siput kayak punya lo," sahut Alexa sambil nyengir, menunjukkan deretan giginya yang rapi. Ia menyampirkan tas selempangnya yang penuh dengan tempelan stiker band grunge.
Hari itu, Alexa mengira tantangan terbesarnya hanyalah menghadapi soal kuis dadakan. Ia tidak tahu bahwa di belahan kota yang lain, di sebuah gedung pencakar langit yang dingin dan kaku, nasibnya sedang digodok dalam sebuah rapat keluarga yang lebih horor daripada ujian skripsi.
Di lantai 57 gedung perkantoran pusat Zyan Group, suasana sangat berbeda. Jika di kampus Alexa penuh dengan teriakan dan tawa, di sini hanya ada suara gesekan pena di atas kertas dan denting halus cangkir kopi porselen.
Zyan Arsalan, pria berusia 32 tahun dengan setelan jas custom-made seharga satu unit motor Alexa, duduk dengan punggung tegak. Wajahnya datar, seolah dipahat dari batu marmer. Matanya yang dingin menatap tumpukan laporan keuangan, namun pikirannya sebenarnya sedang tidak di sana.
"Zyan, kamu dengar Mama?"
Suara lembut namun tegas itu datang dari wanita paruh baya yang duduk di hadapannya. Bu Ratna, sang ibu, sudah kehilangan kesabaran melihat putra tunggalnya hidup seperti robot sejak bercerai setahun yang lalu.
"Dengar, Ma. Menikah lagi. Dijodohkan. Dengan anak teman lama Papa. Klise," jawab Zyan tanpa mengalihkan pandangan dari dokumennya. Suaranya rendah, bariton, dan tanpa emosi.
"Ini bukan klise, Zyan! Ini supaya kamu punya kehidupan. Kamu itu manusia, bukan mesin penghasil uang. Sejak cerai dari wanita itu, kamu makin kaku. Mama takut kamu lupa cara senyum."
Zyan akhirnya mendongak. "Aku belum tertarik, Ma. Fokusku sekarang adalah ekspansi perusahaan ke Singapura. Cinta itu distraksi yang mahal dan tidak efisien."
"Nggak ada penolakan. Namanya Alexa. Dia masih mahasiswi. Papa kamu sudah janji sama ayahnya. Lagipula, dia gadis yang unik. Mungkin dia satu-satunya yang bisa bikin kamu 'hidup' lagi," tegas Bu Ratna.
Zyan mendengus pelan. "Mahasiswi? Paling-paling gadis manja yang hobi koleksi tas mewah dan shopping di mall. Ma, aku butuh partner diskusi, bukan anak asuh."
"Lihat saja nanti malam. Kita makan malam bersama keluarga mereka. Pakai baju yang bagus, jangan cuma jas hitam membosankan ini," perintah ibunya sebelum meninggalkan ruangan.
Zyan kembali menyandarkan punggungnya. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Dalam bayangannya, Alexa adalah tipikal cewek kampus yang centil, memakai skincare berlapis-lapis, dan bicara dengan nada yang dibuat-buat. Mengingatnya saja sudah membuat Zyan ingin membatalkan semua jadwal rapatnya seumur hidup.
Malam harinya, di sebuah restoran mewah yang sudah dipesan secara privat, suasana terasa tegang. Keluarga Alexa sudah tiba lebih dulu. Ayah Alexa, Pak Surya, adalah sahabat lama almarhum ayah Zyan. Mereka tampak berbincang akrab, sementara Alexa duduk di pojokan dengan wajah cemberut.
Alexa merasa seperti ikan yang dipaksa keluar dari air. Malam ini, atas paksaan ibunya, ia harus memakai dress selutut berwarna navy. Namun, bukan Alexa namanya kalau tidak memberi "sentuhan" pribadi. Di balik dress itu, ia tetap memakai sepatu sneakers kotornya dan menolak memakai make-up tebal. Rambut wolfcut-nya dibiarkan jatuh alami tanpa dicatok.
"Lex, berhenti mainin garpu. Malu-maluin!" bisik ibunya tajam.
"Ma, ini tuh tahun berapa sih? Masih aja ada jodoh-jodohan. Emangnya aku nggak laku?" Alexa balas berbisik dengan nada protes.
"Bukan nggak laku, tapi perilaku kamu itu yang bikin cowok-cowok normal pada kabur! Siapa yang mau sama cewek yang tiap minggu masuk bengkel dan hobi balapan?"
Belum sempat Alexa membalas, pintu ruangan terbuka. Seorang pria masuk dengan aura yang begitu dominan hingga seisi ruangan seolah kehilangan oksigen. Zyan Arsalan tiba dengan langkah tegap. Rambutnya tertata rapi, wajahnya bersih dari kumis maupun jenggot, dan tatapannya... oh, Alexa langsung tahu pria ini adalah tipe pria yang akan memberikan ceramah panjang lebar kalau ada orang yang telat satu detik.
Zyan berhenti tepat di depan meja. Matanya memindai ruangan dan berhenti pada sosok gadis yang sedang memegang garpu seperti sedang memegang senjata tajam.
luJadi ini bocahnya? batin Zyan. Ia memperhatikan rambut berantakan Alexa dan sepatu sneakers yang tampak kontras dengan suasana restoran. Benar-benar berantakan.
Sementara itu, Alexa menatap Zyan dari bawah ke atas. Gila, ini orang atau manekin? Kaku banget. Pasti kalau tidur pun dia pake dasi, pikir Alexa geli.
"Silakan duduk, Zyan," ujar Pak Surya ramah.
Makan malam pun dimulai dengan penuh basa-basi antar orang tua. Zyan hanya berbicara jika ditanya, itu pun dengan jawaban yang sangat singkat. Sementara Alexa, ia lebih sibuk memotong daging steak-nya dengan tenaga ekstra sampai piringnya berdecit nyaring.
"Jadi, Alexa, apa hobi kamu di kampus?" tanya Bu Ratna mencoba mencairkan suasana.
Alexa menelan dagingnya, lalu menjawab dengan santai, "Main gitar, bongkar mesin motor, sama kadang-kadang ikut touring ke luar kota, Tante."
Zyan tersedak air putihnya secara elegan. Ia menaruh gelasnya dengan pelan dan menatap Alexa dengan dahi berkerut. "Bongkar mesin motor? Bukankah itu pekerjaan mekanik?"
Alexa menoleh, menantang tatapan dingin Zyan. "Emang kenapa, Om? Daripada cuma bisa nyetir mobil mewah tapi nggak tahu caranya ganti ban kalau bocor di jalan?"
Suasana langsung hening. Orang tua mereka saling pandang dengan panik. Alexa baru saja memanggil Direktur utama Zyan Group dengan sebutan "Om" dan menyinggung harga dirinya.
Zyan menyipitkan mata. "Panggil saya Zyan. Dan untuk informasi saja, saya tahu teknis kendaraan saya. Tapi saya membayar orang untuk melakukan hal-hal kotor seperti itu. Itu namanya efisiensi."
"Itu namanya manja, Om Zyan," balas Alexa dengan senyum miring yang sangat menyebalkan bagi Zyan. "Kesenangan itu ada di prosesnya, bukan cuma di hasil akhirnya. Tapi ya maklum sih, orang sibuk kayak Om mana paham soal kesenangan."
Zyan merasa darahnya sedikit mendidih. Belum pernah ada mahasiswi ingusan yang berani bicara seperti itu di depan wajahnya. "Saya tidak punya waktu untuk berdebat soal 'kesenangan' dengan seseorang yang bahkan belum lulus kuliah."
"Oke, kalau gitu jangan nikahi saya. Simpel, kan?" Alexa mengangkat bahu, merasa menang.
"Alexa!" tegur Pak Surya. "Maaf ya Zyan, anak ini memang agak... blak-blakan."
Zyan menarik napas panjang. Anehnya, meskipun ia kesal, ada sesuatu yang menarik dari keberanian gadis ini. Dia tidak seperti wanita-wanita yang biasanya mencoba menjilatnya demi harta. Gadis ini justru terlihat sangat ingin menjauhinya.
"Tidak apa-apa, Om Surya," ujar Zyan dengan suara yang tiba-tiba tenang namun tajam. Ia menatap Alexa lurus-lurus. "Justru karena dia masih perlu banyak belajar tentang sopan santun, sepertinya pernikahan ini akan menjadi proyek yang menarik."
Alexa tersedak udangnya. "Proyek?! Lu pikir gue jembatan layang?"
"Bahasa kamu, Alexa!" kali ini ibunya yang mencubit lengan Alexa.
"Pernikahan ini akan tetap dilaksanakan bulan depan," putus Bu Ratna dengan final. "Zyan sudah setuju, dan Papa kamu sudah tanda tangan kesepakatan dengan Pak Surya."
Alexa merasa dunianya runtuh. Ia menatap Zyan dengan penuh dendam, sementara pria itu hanya membalasnya dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat—senyum kemenangan yang dingin.
"Gue bakal bikin lu nyesel udah setuju sama perjodohan ini, Om Kaku," gumam Alexa pelan, namun masih bisa didengar oleh Zyan.
Zyan sedikit memajukan tubuhnya ke arah Alexa, lalu berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar gadis itu, "Silakan coba, bocah. Kita lihat siapa yang akan menyerah duluan."
Malam itu, di bawah lampu kristal restoran yang mewah, perang dingin resmi dideklarasikan. Alexa dengan jiwa pemberontaknya, dan Zyan dengan otoritas mutlaknya. Mereka tidak tahu bahwa di balik kebencian di pandangan pertama ini, takdir sedang menuliskan skenario yang akan mengacak-acak hidup mereka hingga tak bersisa.
Alexa melirik kunci motor di dalam tasnya. Ia sudah tidak sabar untuk pulang, berganti pakaian dengan kaos favoritnya, dan menggeber ZX-nya di jalanan Jakarta yang sepi, mencoba membuang bayangan wajah kaku Zyan yang mendadak memenuhi pikirannya. Sementara Zyan, ia memperhatikan Alexa yang berjalan keluar restoran dengan langkah lebar yang sama sekali tidak anggun.
Wolfcut, ya? batin Zyan sambil menyesap kopi terakhirnya. Ini akan jadi sangat melelahkan, atau justru... sangat seru.
Bersambung........