INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Langit masih berwarna hitam gelap dengan taburan bintang di langit.
Namun, adzan subuh sudah berkumandang, memecah kesunyian di subuh yang masih gelap gulita itu.
Udara masih lembab, karena hujan semalam yang cukup deras.
Langkah kaki berlari dari sepatu hak tinggi seorang wanita terdengar nyaring diantara kegelapan malam.
Seorang wanita dengan menggunakan kemeja putih, dan celana kulot formal warna hitam.
Rambutnya yang lurus bergelombang menjuntai tertiup angin, berlari terseok-seok di trotoar.
Darah mengalir dari tangan dan kakinya menetes di trotoar, dengan teriakan para polisi yang memburu komplotan Mafia.
"Hey berhenti!" teriak seorang polisi dari kejauhan.
Dor.
Dor.
Polisi menembakan peluru ke atas sebagai tembakan peringatan, burung-burung malam beterbangan dari pohon-pohon dan kabel listrik.
"Jangan lari lagi Nayla Malika! Anda Buronan!" ucap salah satu polisi.
Nayla malika membalikan tubuh sesaat tangannya terangkat menodongkan pistol ke arah aparat yang mengejarnya.
Tatapannya tajam tanpa gentar, Nayla juga menembak para rombongan aparat yang mengejarnya itu.
Tapi sialnya, tak ada peluru yang keluar.
"Oh Shitt!" umpat Nayla.
Nayla mengumpat pelan, dengan darah yang berceceran di trotoar, meski sudah dengan darah yang bercecer.
Gadis Mafia ini tetap kekeh tak mau tertangkap, bukan karena hukuman negara, melainkan kehancuran nama dan kekuasaan yang sudah susah payah di terimanya.
Tanpa ragu dirinya terus berlari, tak peduli timah panas yang menembus kakinya.
Dor!
Dor!
Satu mengenai lengan kirinya dan satu mengenai betisnya, tubuhnya hampir terjatuh karena banyak darah yang tercecer.
Nafasnya memburu kembang kempis, darah mengalir semakin deras.
Suara Adzan berkumandang.
Allahu Akbar...Allahu Akbar...
Nayla melihat kumpulan kontainer dan segera, bersembunyi disana.
Kontainer tempat penyuplai barang ke pesantren, seperti tempat tidur asrama, sprei, dan lainnya.
Beberapa meter dari sana, Gus Ali Mahendra berjalan tenang menuju masjid, mengenakan sarung dan baju koko putih.
Dengan peci hitam, juga sorban kotak-kotak merah putih melingkar di lehernya.
Wajahnya tampan teduh langkahnya mantap, bibirnya mengikuti lantunan adzan.
Gus Ali heran dengan beberapa pihak kepolisian yang berlari seperti mencari seseorang.
"Selamat pagi! Apa Anda melihat wanita mengenakan kemeja dan rok hitam berlari ke arah sini," tanya salah seorang polisi.
Gus Ali menjawab Tidak.
"Assalamualaikum bapak polisi yang terhormat, saya tak tahu, karena saya mau ke masjid untuk melaksanakan solat subuh."
"Baik terimakasih saudara."
"Ayo lanjutkan! Cari wanita itu!" lanjutnya.
Gus Ali hanya menggelengkan kepalanya, memang belakangan ini ekonomi Indonesia lagi lesuh.
Banyak orang meninggalkan agama hanya untuk mengikuti bisnis ilegal, seperti pornografi, narkoba, judi sekaligus prostitusi.
"Astagfirullah berikan hidayahmu pada warga negara ini," ujar Gus Ali lalu melanjutkan berjalan menuju masjid.
Nayla masih bersembunyi di balik kontainer di gang dekat pesantren, polisi berlari melewati tumpukan kontainer itu tanpa menyadari keberadaanya disana.
Sunyi.
Hanya ada suara adzan dan ceceran darah bersimbah di trotoar.
Gus Ali yang mau berjalan menyadari satu hal, bau amis darah.
Matanya menatap ke bawah kakinya.
"Astagfirullah apa ini?!" teriaknya di tengah adzan.
Gus Ali Mahendra tak sadar, jika darah itu akan menjadi takdirnya bertemu seorang wanita.
Nayla keluar dari tumpukan kontainer dengan langkah lunglai, seketika tubuhnya ambruk.
Brak!
Tubuhnya jauh di dekapan seseorang, namun kedua tangan Gus Ali dengan sigap menahan tubuh Nayla yang sudah penuh dengan darah.
Posisi mereka setengah berpelukan, wajah Nayla tepat di depan dada Gus Ali.
Mata keduanya saling bertatapan.
"Mas...Tolong," suara Nayla dengan lirih menahan sakit.
"Astagfirullah! Mbak! Mbak bangun!" ucap Gus Ali menepuk-nepuk pipi Nayla yang sekarat.
Mata Gus Ali menatap wajah cantik Nayla, yang ada wajah Arabnya.
"Astagfirullah, tunggu Mbak saya bawa ke klinik!" ucap Gus Ali beristigfar melihat kecantikan gadis Mafia ini.
Waktu berdetak berhenti, tubuh Nayla sudah di bopong oleh Gus Ali menuju klinik.
Diantara komat, subuh yang dingin aroma darah yang sabar, mata Gus Ali berniat menolong perempuan itu.
Tak ada rasa takut.
Tak ada rasa curiga.
Entah mengapa hatinya terketuk menyelamatkan wanita itu.
Sementara Nayla, biasanya dingin tak tersentuh bahkan kejam.
Matanya menatap samar Gus Ali, pria di hadapannya berbeda menolongnya.
Wajahnya bersih karena terkena air wudhu, sorot matanya lembut.
Darah dari tangan Nayla menodai lengan baju koko Gus Ali, yang putih.
"Antum terluka, tenang Ane akan bawa antum ke klinik," ucap Gus Ali membopong tubuh Nayla ke klinik.
Langkahnya menuju klinik dan di urungkan niat ke masjid, hanya untuk menyelamatkan nyawa manusia.
Tak ada bentakan, tak ada tuduhan, hanya rasa empati dan kemanusiaan.
Gus Ali menuju klinik yang buka 24 jam, dan meminta perawatan.
Dokter yang mengenal Nayla Malika langsung merawatnya.
Dokter menatap Gus Ali dan Nayla secara bersamaan, bagaimana keduanya bisa bertemu.
Seorang putra Kiyai dengan Gadis Mafia di subuh seperti ini.
"Assalamualaikum Dokter, tolong ente bantu mbak ini kasian!" ucap Ali dengan panik.
"Ane tadi ketemu saat mau jalan solat subuh," lanjutnya.
Tubuh Nayla di baringkan---diatas Brangkar klinik, luka-luka segera diobati.
Nayla hanya menjerit saat terasa luka jahitan.
Lalu Gus Ali membayar biayanya dan pergi menuju Masjid tanpa sadar darah Nayla menempel di lengannya.
Sementara Nayla tengah di tangani oleh Dokter, timah panas dari betisnya sudah di keluarkan.
Dan sudah di perban.
Matanya masih pusing karena kekurangan darah, menatap sekitar rasanya mau berdiri saja sangat sulit.
"Dokter...siapa tadi...yang nolongin saya?" tanya Nayla dengan nada yang parau.
Dokter hanya menelan salivanya, karena dirinya tahu siapa Nayla.
Seorang gadis Mafia, yang terlibat dalam prostitusi dan eksploitasi gadis-gadis muda---sekaligus penjualan manusia.
Dan Nayla terkenal kejam dalam melancarkan bisnis gelap di desa ibunya---di Jawa Barat.
Tak ada yang berani mengusik bisnisnya, jika tak mau kepala mereka terpotong.
Sifat biadab dan kejamnya karena masa lalunya---hinaan, caci maki, dan cemooh.
Tapi hari ini takdir mempertemukannya dalam lantunan adzan, senjata, dan darah. Ini akan membuat segalanya berubah---dan apa yang akan terjadi pada Nayla Malika.
*
*
*