NovelToon NovelToon
My Boss, My Past, My Sin

My Boss, My Past, My Sin

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Bad Boy / One Night Stand / CEO / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.

Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...

Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.

Keira Althea.

Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.

“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.

Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eclipse Club

Suara dentuman musik memenuhi ruang klub malam Eclipse. Lampu neon menari di udara—ungu, biru, merah—beradu dengan aroma alkohol dan parfum mahal.

Dari lantai VIP atas klub, seorang pria berdiri tenang dengan gelas whisky di tangannya—Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION.

Usianya delapan belas tahun malam itu. Wajahnya dingin, rahangnya tegas, mata abu-abu gelapnya memantulkan cahaya lampu klub. Ia biasanya tak tertarik dengan keributan. Tapi malam ini… berbeda.

Ethan menatap seorang gadis cantik yang sedang meneguk minumannya dengan wajah kusut. Gaun hitam pendek yang ia kenakan menempel di tubuhnya, membuatnya terlihat memikat di bawah cahaya redup. Tapi wajahnya… jelas bukan wajah orang yang sedang bahagia.

“Lupakan aja, Kei,” kata seorang gadis berambut pendek, sambil menepuk bahunya. “Declan itu brengsek. Udah lewat. Move on, please.”

Gadis cantik yang dipanggil Kei itu memutar gelasnya, matanya menatap kosong ke arah bar. “Brengsek? Nggak, Liv. Brengsek itu masih terlalu sopan buat dia.”

Ia meneguk lagi, kali ini langsung dari botol. “Dia bilang cinta. Tapi dua minggu kemudian, dia malah jadian sama si boneka plastik yang namanya Felicia itu.”

“Udah, Kei. Jangan minum terus—”

“Gue minum biar lupa, bukan biar inget!” potong Keira dengan suara keras hingga beberapa orang menoleh.

Ia berdiri setengah sempoyongan, menunjuk ke udara seperti orator mabuk. “Dengar semua! Jangan pernah pacaran sama cowok yang ngomongnya manis tapi hatinya kayak sepatu!”

Beberapa orang yang mendengar itu langsung ngakak.

Gadis berambut pendek yang berada di sisinya sampai menepuk jidat. “Astaga, Kei… lo lagi mabuk berat.”

Gadis cantik yang disapa Kei itu malah menaikkan suaranya. “Declan Rainer! Kalau lo ada di sini, keluar! Gue pengen tampar muka lo biar sadar, nggak semua cewek bisa lo permainkan!”

Ia memutar badannya, rambutnya terurai acak-acakan, matanya mulai basah tapi senyumnya tetap menantang. “Cowok kayak dia harusnya diikat di tengah jalan, disiram kopi panas, baru dikasih tiket nonton dirinya sendiri disumpahin orang.”

Gadis itu berteriak, mengumpat, tertawa, tapi juga nyaris menangis di waktu yang sama.

Dan entah kenapa, itu terlihat… lucu bagi Ethan.

Senyum tipis terbit di wajah pria tampan bermata tajam itu. “Berisik, tapi menarik,” gumamnya pelan.

Salah satu anggota gengnya, Rowan, ikut menoleh. “Bos, yang itu? Bar-bar banget. Lo yakin bukan jenis yang bakal ngebanting lo kalo salah ngomong?”

Ethan hanya menatapnya sekilas. “Mungkin,” jawabnya singkat, lalu memalingkan pandangan lagi ke arah gadis cantik itu.

Mata itu—berapi, hidup, dan jujur dalam kemarahannya. Seolah gadis itu menantang seluruh dunia sendirian.

Namun tiba-tiba tatapan Ethan menajam dengan rahang mengeras saat melihat gadis cantik itu digoda oleh tiga orang pria hidung belang.

Ethan meletakkan gelasnya ke meja dengan kasar, hingga beberapa anggota gengnya tersentak.

"Bos, kena_"

Ucapan Rowan terhenti saat Ethan sudah melangkah pergi menghampiri seorang pria yang sedang memegang tangan gadis cantik itu.

“Lepasin tangan lo.”

Suara berat dan dalam itu terdengar jelas di tengah musik yang berisik.

Ketiga orang itu menoleh.

Ethan berdiri di belakang mereka, menatap dingin. Sorot matanya cukup untuk membuat siapapun berhenti bernapas.

Ia tak perlu berteriak—auranya saja sudah membuat dua pria itu mundur satu langkah.

“Masalah lo apa?” tanya salah satu pria dengan nada menantang.

Ethan tak menjawab. Ia hanya melirik tangan pria itu yang masih mencengkeram gadis cantik itu, lalu menatap matanya tajam. “Lepas.”

Nada suaranya datar, tapi berisi ancaman yang jelas.

Pria itu menelan ludah, lalu buru-buru melepaskan tangan gadis cantik itu. “Santai, bro. Kita cuma bercanda.”

Ia pun segera kabur sebelum Ethan bicara lagi.

Gadis cantik itu mendongak, matanya sedikit sayu karena alkohol. Begitu melihat wajah Ethan dari jarak sedekat itu—garis rahang tegas, mata kelabu tajam, dan ekspresi tenangnya yang nyaris tak terganggu—senyum bodohnya langsung muncul.

“Lo…” katanya sambil menunjuk dada Ethan dengan jari gemetar. “Lo ganteng banget sih!”

Ethan menatapnya datar. “Lo mabuk.”

Gadis cantik itu malah tertawa keras, suaranya nyaris menenggelamkan musik. “Iya, gue mabuk! Tapi mata gue masih bisa liat yang ganteng!” Ia mengedip nakal.

Ethan ingin menjauh, tapi tangan gadis cantik itu tiba-tiba naik menyentuh rahangnya. Hangat, lembut, dan tak terduga.

Ethan menegang sesaat, tatapannya berubah—sedikit lebih dalam.

“Lo ganteng banget,” ulang gadis cantik itu pelan, kali ini suaranya lirih tapi penuh keyakinan. “Beneran, deh. Gila… muka lo kayak dosa yang harus gue ulang-ulang.”

Ethan sempat menarik napas untuk membalas, tapi gadis cantik itu sudah lebih dulu bergerak.

Tanpa peringatan, ia menumpu di ujung kakinya, lalu mencium bibir Ethan.

Ethan terdiam kaku mendapatkan serangan tiba-tiba itu.

Ciuman itu awalnya asal, berantakan, seperti gadis mabuk yang hanya ingin melupakan rasa sakit.

Tapi Ethan... tidak menolak.

Dalam sekejap, genggaman tangannya di pinggang gadis cantik itu mengeras.

Ia membalas ciuman itu—lebih dalam, lebih tegas.

Semua kebisuan dan dinginnya seolah mencair, berubah menjadi panas yang tak tertahankan di antara mereka.

Ketika akhirnya ciuman itu terlepas, Keira terengah, wajahnya memerah.

Ethan menatapnya lekat, napasnya berat tapi suaranya tetap rendah dan dingin. “Jangan salahin gue,” katanya pelan, nada suaranya nyaris seperti desahan peringatan. “Lo yang mulai lebih dulu.”

Sebelum gadis cantik itu sempat bicara, Ethan meraih tubuhnya—membopong gadis itu tanpa ragu.

Gadis cantik itu terpana, tangannya refleks melingkar di leher Ethan. “Lo… lo ngapain?” gumamnya, masih setengah sadar.

Ethan hanya menjawab singkat, datar tapi sarat makna. “Bawa lo pergi dari sini.”

...----------------...

Suara ketukan ringan di meja membuat Ethan tersentak dari lamunannya.

Ia baru menyadari kalau pandangannya sejak tadi kosong menatap jendela kaca besar di ruang kerjanya yang menghadap ke pusat kota.

Rowan berdiri di depannya, melambaikan tangan di depan wajah sang CEO. “Pak…?” panggilnya pelan, sedikit canggung. “Anda melamun lagi.”

Ethan mengerjap pelan, menarik napas dalam, lalu menegakkan duduknya di kursi kebesaran dari kulit hitam itu.

Tatapannya dingin kembali seperti semula—dingin, tegas, tak tersentuh. “Ada apa?”

Asisten itu cepat-cepat merapikan map di tangannya. “Ini laporan terbaru dari kantor cabang, Pak. Dan—eh, jadwal kunjungan Anda ke pabrik besok pagi sudah dikonfirmasi.”

Ethan mengangguk pelan, jarinya mengetuk meja sekali, tanda pikirannya belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata.

Suara Rowan sayup, seperti bergema di pikirannya.

Yang masih jelas hanya satu bayangan—gadis berambut panjang, dengan tawa berantakan dan bibir merah yang dulu menciumnya lebih dulu.

Tujuh belas tahun berlalu, tapi malam itu di Eclipse Club masih menempel di benaknya seperti cap yang tak bisa hilang.

Ethan mengembuskan napas pelan. “Tujuh belas tahun…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.

Rowan sempat menoleh. “Maaf, Pak?”

“Bukan apa-apa,” jawab Ethan singkat, lalu memeriksa beberapa berkas.

Rowan masih berdiri di depan meja, tampak ragu sebelum akhirnya membuka suara lagi. “Pak… ada satu pesan dari Nyonya Helena.”

Ethan mengangkat alis tipis tanpa menatap. “Apa lagi kali ini?”

Nada suaranya datar, tapi Rowan tahu — biasanya kalau sudah menyangkut ibunya, sang CEO yang biasanya setenang es bisa sedikit kehilangan kesabarannya.

Rowan menelan ludah sebelum menjawab. “Beliau meminta Anda pulang ke Mansion malam ini. Katanya, kalau Anda masih berani lembur dan tidak makan malam di rumah… beliau akan datang langsung ke kantor membawa panci.”

Ethan menatapnya perlahan.

Diam. Dingin.

Lalu menghela napas pelan. “Panci?” ulangnya datar.

Rowan menunduk sopan, menahan senyum. “Beliau bilang gini, Pak. ‘Aku sumpahin anakku itu nanti makan besi beneran kalau nggak pulang malam ini.’”

Ethan menutup map di mejanya dengan suara pelan—thap!

“Suruh sopir siapkan mobil.”

“Baik, Pak.”

Rowan menunduk dan melangkah keluar, tapi sebelum menutup pintu, suara dingin Ethan kembali terdengar:

“Dan Rowan…”

“Ya, Pak?”

“Kalau Mamaku menelepon lagi, katakan aku sudah dalam perjalanan. Jangan biarkan beliau bawa panci ke sini.”

Rowan menahan tawa kecil. “Baik, Pak Ethan.”

Ethan hanya menghela napas tipis.

Kadang, menghadapi dunia bisnis rasanya lebih mudah dibanding menghadapi ibunya sendiri.

...****************...

1
Pa Muhsid
membaca karyamu tor seperti karya yang udah level diamond
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪
Yudi Chandra: huhuhu....makasi atas pujiannya.🙏🙏🙏😍😍😍
semoga selalu suka sama ceritanya.
kalo ada kritik dan saran bilang aja ya. biar cerita ini semakin berkembang dam banyak yang baca🤭🤭🤭🤭
salam kenal sebelumnya....
total 1 replies
Bu Dewi
seruu, lanjut kak
Yudi Chandra: okeeee👍👍👍👍
total 1 replies
Rohana Omar
1 bab lg la thorr
Yudi Chandra: besok yaaaa🤭🤭🤭🤭🤭🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Rohana Omar
buat la 2 bab 1 ari thorr
Yudi Chandra: hihihi🤭🤭🤭🤭 iya. diusahain💪💪💪
total 1 replies
Rohana Omar
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣bawa panci tu buat aq tergelak.....
Yudi Chandra: sama...🤭🤭🤭 namanya juga biar pinter🤣🤣🤣
total 5 replies
Pa Muhsid
anak anak anak 👨‍👩‍👧
Yudi Chandra: hahaha....anaknya siapa?🤣🤣🤣
total 1 replies
Pa Muhsid
anak lo
Yudi Chandra: hihihi....kan ethan nggak tau🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak,, hehehhehe
Yudi Chandra: pasti sayang. jangan lupa kasih bintang ya🤭🤭🤭.
biar semangat buat nulis lagi.😄
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak
Yudi Chandra: pasti. jangan lupa kasih bintang 5 ya. 😁😁😁😁
total 1 replies
Akira Akira
lanjutttt
Akira Akira
lanjuttttttt
Felipa Bravo
Keren banget nih cerita, semangat terus author!
Yudi Chandra: huhuhu....makaciiiiiih😍😍😍
ini novel pertamaku di sini. biasanya di aplikasi oyen.

kasih kritik dan saran ya... biar aku makin semangat. terima kasih😍😍😍🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!