Melintas di bab Remaja
Aroma kertas tua dan debu yang menari di bawah sela cahaya jendela selalu menjadi aroma favoritku. Bagi orang lain, perpustakaan kota di ujung jalan itu mungkin tempat yang membosankan dan berbau apak
0
2
Hyper
Angin berembus pelan, layaknya sapaan lembut sebelum pelukan hangat. Lalu hujan turun deras, memeluk bumi dengan rintik-rintik yang membawa kesejukan. Terlihat dibawah atap sekolah yang sudah tua, wan
0
1
Rintihan Jiwa Tanpa Nama
Mereka menamainya ketenangan, aku menamainya pelupaan. Ibu tidak pernah tahu bahwa di balik dinding rahim yang hangat itu, aku sempat memiliki detak jantung yang berdegup kencang seperti genderang kec
5
4
Tanah Terkutuk #2: Amis yang Menolak Bilas
Sembilan tahun berlalu. Jeruji besi yang dingin tidak mampu membersihkan bau darah dari ingatan Joko. Namun, hukum manusia terkadang terlalu longgar. Atas dalih berkelakuan baik dan menyerahkan diri
0
6
Menyudut untuk menyendiri
Hari itu ternyata hari terakhir untuk kita. Sejenak meluapkan segala hal yang menyesak didada. Tanpa pesan tanpa kata, hanya diam seperti karang yang kokoh ditengah samudra Membius keheningan. Bersama
1
6
Kemala dan Satria
Kemala dan Satria Penulis: Lili Aksara. Kemala, begitulah orang-orang memanggilnya. Usianya baru 19 tahun, dan ia memiliki seorang Adik yang berumur 16 tahun. Namun, Kemala sangat membenci adiknya
0
0
Retak disela Jari [Yudistira x Arjuna]
*Judul: Retak di Sela Jari* _Genre: Romance Angst | Slow Burn | Tsundere x Tengil_ --- ### *BAB 1: Kosan Neraka dan Surga* Arjuna Arkana benci satu hal di dunia ini: Yudistira Yogendra. Mahasisw
0
1
Saxosa
saxosa Pengenalan Saxosa adalah sebuah negara semenanjung yang menghadap ke samudera Atlantik. Saxosa mempunyai tiga negara saxosa timur, barat, dan tengah. Awal mula Pada tahun 1917-1919 terja
0
0
Sampah
Di saat aku membuka mata untuk terakhir kalinya… aku tidak tahu, aku hidup atau mati. Aku berjalan di atas tumpukan sampah yang berserakan dimana-mana, sejujurnya aku sendiri baru saja bangun dari r
0
1
Rahasia Dibalik Hati Seorang CEO
Hujan deras malam itu membuat jalanan kota tampak berkilau oleh lampu-lampu mobil. Aria berdiri di depan gedung tinggi milik perusahaan besar—tempat di mana hidupnya akan berubah. Ia hanya seorang kar
0
0
Berdamai dengan Diri Sendiri
Pagi itu, matahari terbit dengan cahaya yang begitu tenang, seolah langit sedang mengajarkan bahwa terang tak pernah lahir tanpa melewati malam. Aku memandang bayanganku yang memantul di permukaan d
0
0
Hujan Bulan Juni
Langit bulan Juni seharusnya teduh. Musim telah lama mengeringkan dedaunan, dan angin berembus pelan membawa aroma tanah yang menanti hujan berikutnya. Namun, pagi itu, rintik-rintik jatuh tanpa aba-a
0
1
Mengharapkan Dia yang Tak Kunjung Kembali
Hujan turun perlahan, seolah langit sedang belajar menangis tanpa suara. Di sudut beranda rumah tua itu, aku masih setia memandang jalan yang pernah menjadi saksi perpisahan. Jalan itu tetap sama—panj
0
0
“Ia Terbangun Sebagai Villain”
Tidak ada cahaya. Tidak ada surga. Tidak ada suara Tuhan. Hanya rasa jatuh—lalu bangun. Gadis itu membuka mata di kamar asing yang terlalu mewah untuk disebut mimpi. Cermin besar di dinding memantulka
0
0
“Tatapan Tuan Muda
Tidak ada yang tahu sejak kapan tuan muda Arvian mulai memperhatikan gadis itu. Ia anak tunggal keluarga terpandang—tenang, sopan, berprestasi. Senyumnya selalu tepat, sikapnya selalu terkendali. Tida
0
0
Cerita Horor: “Suara di Balik Kunci Hotel Laksana”
Dulu, banyak tamu yang bilang Hotel Laksana di Padang itu nyaman. Tapi sejak renovasi lama, desas-desus aneh mulai muncul… Di suatu malam hujan deras, Rizal, mahasiswa perantau dari Medan, datang chec
0
0
Sampai Hujan Berhenti Mengingatmu
Di bangku paling belakang kelas, Qesya selalu duduk di samping Rizky. Awalnya mereka hanya teman yang sering saling meminjam pulpen, lalu berubah menjadi dua orang yang tak pernah melewatkan hari tanp
0
1
PERANGKAT KASIR YANG BERBICARA
Suara klik-klik pelan dari mesin kasir tua itu terdengar tepat pukul dua belas malam, padahal toko kelontong kecil "Rahayu Jaya" sudah tutup sejak jam sembilan. Pak Adi yang sedang membersihkan rak
0
0
Aku yang Tak Bisa Mendapatkannya
Senja turun pelan, seolah enggan meninggalkan langit yang masih menyimpan semburat jingga. Angin berembus lembut, membawa aroma tanah yang baru saja diguyur hujan. Di sudut taman yang mulai lengang,
0
1
"Ketika Waktu Berhenti Menunggumu"
Langit menggantungkan mendungnya seperti selembar kain kelabu yang enggan disingkap. Hujan turun perlahan, menabuh atap-atap kota dengan irama yang syahdu. Di sebuah halte tua yang mulai dimakan usia,
0
1