Aroma kertas tua dan debu yang menari di bawah sela cahaya jendela selalu menjadi aroma favoritku. Bagi orang lain, perpustakaan kota di ujung jalan itu mungkin tempat yang membosankan dan berbau apak. Namun, bagiku yang introvert, tempat ini adalah sebuah tempat perlindungan. Di sini, di antara ribuan baris kalimat yang terjilid rapi, aku tidak perlu berpura-pura menjadi ramah. Aku tidak perlu bersusah payah mencari topik obrolan agar dianggap ada. Aku cukup duduk, membuka halaman pertama, dan hilang ke dalam dunia fiksi yang jauh lebih ramah daripada dunia nyata.
Sore itu hari Rabu. Seragam putih abu-abuku sudah sedikit kusut setelah seharian dihantam pelajaran matematika dan fisika. Aku mengambil posisi ternyaman di meja sudut, dekat rak fiksi remaja. Sebuah novel fantasi tebal sudah terbuka di hadapanku. Aku baru saja akan hanyut dalam bab ketiga ketika pintu kayu perpustakaan berdenting pelit.
Aku mendongak sekilas, refleks yang biasa kulakukan setiap kali ada langkah kaki masuk.
Namun, detik itu juga, jemariku yang hendak membalik halaman buku mendadak kaku.
Seorang laki-laki berjalan masuk. Dia mengenakan seragam sekolah yang berbeda dariku, tampak rapi meski hari sudah beranjak sore. Postur tubuhnya tinggi tegap, dengan garis rahang tegas dan sepasang mata yang teduh namun fokus. Sinar matahari sore yang menembus kaca jendela seolah sengaja jatuh tepat di pundaknya, memberi kesan dramatis yang berlebihan.
Dia seperti keluar dari halaman novel yang sedang kubaca, pikirku saat itu. Deskripsi tentang pangeran berkuda putih, ketua OSIS yang dikagumi satu sekolah, atau cowok populer yang dingin semua visualisasi itu mendadak menjelma nyata pada sosoknya.
Aku terpaku selama tiga detik. Jantungku memberikan satu hentakan kecil yang asing.
Namun, aku adalah Amara. Aku tahu persis di mana posisiku berada. Laki-laki seperti dia adalah pusat semesta, sedangkan aku hanyalah debu kosmik yang tidak terlihat. Menatapnya terlalu lama hanya akan membuatku tampak aneh. Jadi, aku menarik napas dalam-dalam, menundukkan kepala, dan memaksa mataku kembali menatap barisan huruf di buku. Aku sengaja menaikkan posisi buku sedikit lebih tinggi, menjadikannya tameng pelindung antara duniaku dan dunianya.
Dari balik pinggiran buku, indra pendengaranku mendadak menjadi jauh lebih sensitif. Aku mendengar langkah kakinya yang tenang melewati meja kasir, lalu berbelok. Bukan ke arah rak fiksi tempatku berada, melainkan ke koridor sebelah kanan area buku-buku nonfiksi yang berat.
Aku tidak menoleh lagi sampai petugas perpustakaan mengumumkan bahwa jam kunjung akan segera berakhir. Laki-laki itu sudah pergi entah sejak kapan. Aku menutup novelku, merapikan tas, dan pulang dengan sebuah memori visual baru yang lumayan menghibur. Aku mengira itu adalah kali pertama dan terakhir aku melihatnya. Sebuah simpati visual yang biasa terjadi pada remaja perempuan.
Aku salah.
Hari Jumat di minggu yang sama, denting pintu itu kembali berbunyi pada jam yang persis sama: pukul empat sore. Dan sosok yang sama kembali melangkah masuk dengan ketenangan yang persis sama.
Sejak hari itu, Rabu dan Jumat bukan lagi sekadar nama hari di kalenderku. Kedua hari itu bertransformasi menjadi sebuah rutinitas rahasia yang diam-diam kunantikan. Aku tetap duduk di sudutku, tetap memegang novel tebal, dan tetap berpura-pura tidak peduli. Namun, tanpa sadar, mataku selalu mencuri pandang ke arah koridor kanan setiap kali dia lewat.
Perlahan, aku mulai menghafal pola hidupnya yang terekam di perpustakaan ini. Dia tidak pernah menyentuh komik atau novel roman. Minggu pertama, aku melihatnya membawa buku tebal tentang improvisasi diri dan manajemen waktu ke meja baca. Dua minggu setelahnya, dia beralih ke biografi tokoh-tokoh bisnis dunia. Kadang, aku melihatnya mengerutkan kening dalam saat membaca buku psikologi populer tentang kesehatan mental dan ketahanan jiwa.
Dia adalah orang yang ambisius, atau mungkin seseorang yang sedang mencari banyak jawaban atas hidupnya. Aku tidak tahu pasti, dan aku tidak punya hak untuk mencari tahu.
Bagi duniaku yang sepi, kehadirannya setiap Rabu dan Jumat hanyalah sebuah tempat singgah untuk rasa suka sesaat yang biasa. Seperti mendengarkan lagu bagus yang tidak sengaja terputar di radio; kamu menikmatinya saat terdengar, tetapi kamu tidak akan repot-repot mencari tahu judulnya atau membelinya. Dia adalah pangeran dalam bayanganku, tokoh utama pria dalam sebuah draf novel yang hanya kutulis di dalam kepalaku sendiri.
Aku tidak pernah berniat menyapanya. Aku tidak pernah sengaja menjatuhkan buku di depannya agar dia mengambilkannya. Dan aku sangat yakin, dia bahkan tidak pernah tahu bahwa ada seorang perempuan berkacamata yang selalu duduk di pojok ruangan, menghafal jenis buku apa yang dia baca setiap minggu.
Hingga akhirnya, masa sekolah usai. Undangan kelulusan dari sebuah universitas di kota seberang memaksaku untuk mengemas seluruh hidupku ke dalam koper besar. Hari Rabu terakhir sebelum keberangkatanku, aku sengaja datang ke perpustakaan untuk mengembalikan buku terakhir.
Laki-laki itu ada di sana, duduk di tempat biasanya, membaca sebuah buku tebal tentang perencanaan masa depan. Aku menatap punggungnya untuk yang terakhir kali dari balik rak fiksi. Tidak ada rasa sedih yang menggebu, tidak ada air mata, dan tidak ada penyesalan. Dia bukan patah hati terhebatku. Dia bukan bagian penting dari masa laluku yang akan membuatku gagal melangkah. Dia hanya satu bab pendek yang tidak sengaja lewat dalam proses pendewasaanku.
"Selamat tinggal, Pangeran Perpustakaan," bisikku dalam hati, sangat pelit bahkan untuk sekadar mengucapkan nama yang tidak pernah kuketahui itu.
Aku berbalik, melangkah keluar pintu, dan membiarkan angin kota membawa ingatan tentangnya menguap bersama waktu. Aku yakin, lembaran cerita tentangnya sudah selesai dan terkunci rapat di perpustakaan ini.
Aku tidak pernah tahu, bahwa takdir ternyata gemar menyimpan kejutan, dan cerita kami sesungguhnya baru akan dimulai tujuh tahun kemudian dengan cara yang sama sekali tidak romantis.
Tujuh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk mengubah banyak hal. Kota ini bukan lagi kota kecil dengan perpustakaan tua yang beraroma kertas apak. Di sini, di jantung ibu kota, segalanya bergerak secepat kilat. Aroma yang kuhirup setiap pagi bukan lagi debu buku, melainkan aroma kopi instan pekat dan AC sentral yang dingin di lantai dua puluh gedung konsultan multinasional tempatku bekerja.
Aku juga bukan lagi Amara yang mengenakan seragam putih-abu-abu dengan rambut dikuncir kuda asal-asalan. Kini, aku adalah Amara si staf analis data; mengenakan kemeja kerja rapi, sepatu hak tahu, dan membawa ID card yang tergantung di leher. Sifat introvertku tidak hilang, aku hanya belajar memakainya sebagai topeng profesionalisme yang efisien. Aku tetap pendiam, tetapi sekarang aku tahu kapan harus berbicara dalam rapat.
Pagi itu, suasana kubikel lantai dua puluh terasa lebih sibuk dari biasanya. Gosip menyebar lewat pesan singkat antar-staf.
"Direktur regional yang baru datang hari ini," bisik Citra, rekan kerja di sebelah kubikelku, sambil memutar kursi rodanya mendekat. "Katanya dia lulusan terbaik dari Inggris, masih muda, dan mukanya mirip aktor fiksi. Tipe-tipe bos dingin di aplikasi bacaan digital, Ra."
Aku hanya tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor yang penuh dengan angka spreadsheet. "Baguslah, yang penting dia tidak hobi menyuruh kita lembur di hari Jumat malam."
Bagi orang seperti Citra, kedatangan atasan tampan adalah sebuah hiburan. Namun bagiku, atasan tetaplah atasan. Seseorang yang akan memeriksa laporan, menuntut target, dan berada di kasta yang jauh berbeda dengan staf level bawah sepertiku. Aku tidak pernah tertarik dengan fantasi romansa kantor.
Pukul sepuluh pagi, seluruh tim divisi analisis diminta berkumpul di ruang rapat utama. Ruangan berdinding kaca itu mendadak terasa sempit karena semua orang ingin memberikan kesan pertama yang baik. Aku memilih duduk di barisan belakang, dekat dengan pintu keluar posisi aman favoritku sejak zaman sekolah dulu.
Pintu kaca ruang rapat terbuka. Pak Hermawan, kepala divisi senior kami, masuk mendampingi seorang pria.
"Selamat pagi semuanya. Hari ini saya ingin memperkenalkan Direktur Regional baru kita yang akan memimpin proyek restrukturisasi mulai bulan ini," suara Pak Hermawan menggema.
Aku mendongak, bersiap memberikan anggukan hormat formal seperti yang dilakukan rekan-rekan di sekitarku. Namun, saat mataku menangkap sosok pria yang berdiri di ujung meja panjang itu, napasku mendadak tertahan di tenggorokan.
Jantungku yang biasanya berdetak dengan ritme konstan yang membosankan, tiba-tiba memberikan satu entakan keras. Entakan yang sama persis seperti hari Rabu di perpustakaan kota tujuh tahun yang lalu.
Itu dia.
Garis rahang tegas itu, sepasang mata teduh yang kini terlihat jauh lebih tajam, dan pembawaan tenang yang dulu sering kuamati dari balik rak buku fiksi. Dia tidak lagi mengenakan seragam sekolah yang berbeda warna, melainkan setelan jas formal abu-abu gelap yang dijahit sempurna, jam tangan mewah, dan rambut yang tertata rapi. Laki-laki dari hari Rabu dan Jumat itu kini berdiri nyata, hanya berjarak beberapa meter dariku.
"Selamat pagi. Saya Adrian Dewangga. Mohon kerja samanya untuk memajukan divisi ini," ucapnya singkat, lugas, tanpa senyum yang berlebihan. Suaranya berat dan penuh wibawa, tipe suara yang biasa dimiliki oleh orang-orang yang terbiasa memimpin.
Adrian. Jadi itu namanya. Setelah tujuh tahun, aku akhirnya mengetahui nama sang pangeran fiksi dari masa remajaku.
Saat Pak Hermawan mulai menjelaskan agenda kerja, aku memundurkan sedikit posisi dudukku. Aku menatapnya dari kejauhan, persis seperti yang kulakukan di perpustakaan dulu. Bedanya, kali ini tamengku bukan lagi sebuah novel fantasi tebal, melainkan sebuah tablet kerja digital.
Aku mengamati bagaimana dia mendengarkan presentasi. Dia sesekali mengetukkan jarinya di meja saat berpikir kebiasaan lama yang ternyata tidak berubah. Pikiranku mendadak memutar kembali memori masa lalu. Buku-buku nonfiksi yang dulu dia baca tentang bisnis, manajemen, dan investasi; kini aku sadar bahwa dia tidak sedang mencari jawaban hidup. Dia sedang membentuk dirinya untuk menjadi pria yang ada di depannya saat ini. Dia telah berhasil mengeksekusi bab demi bab rencana masa depannya dengan sempurna.
Sedangkan aku? Aku tetaplah Amara yang senang mengamati dari sudut ruangan.
"Amara? Tolong bagikan berkas rangkuman data triwulan ke Pak Adrian."
Suara Pak Hermawan membuyarkan lamunanku. Aku tersentak kecil, namun dengan cepat menguasai diri. Aku mengambil tumpukan berkas di tengah meja, berdiri, dan melangkah mendekat ke arah ujung meja tempat Adrian duduk. Setiap langkah terasa sedikit lebih berat, tetapi aku menolak untuk terlihat gugup.
Aku berhenti di samping kursinya, lalu meletakkan berkas itu dengan sopan. "Ini datanya, Pak."
Adrian mendongak. Mata teduh namun tajam itu menatapku langsung. Untuk pertama kalinya dalam hidup, jarak kami hanya sekian sentimeter. Untuk pertama kalinya pula, sepasang matanya benar-benar merekam eksistensiku.
"Terima kasih, Amara," ucapnya formal setelah membaca sekilas name tag yang tergantung di dadaku. Tidak ada binar pengenalan di matanya. Tidak ada kilas balik adegan romantis di mana dia mendadak ingat perempuan berkacamata di pojok perpustakaan dulu.
Tatapan itu adalah tatapan seorang profesional kepada bawahannya. Dingin, berjarak, dan asing.
Aku mengangguk sopan, "Sama-sama, Pak," lalu kembali berjalan ke kursiku di sudut belakang.
Saat aku duduk kembali, aku mengembuskan napas panjang yang terasa lega sekaligus menenangkan. Aku tersenyum sangat tipis pada diriku sendiri. Ini adalah realitas, dan aku menyukainya. Ini bukan novel romansa picisan di mana seorang Cinderella akan langsung dikenali oleh sang pangeran dalam sekali tatap. Dunia kami hari ini terpisah oleh pembatas tak terlihat bernama hierarki jabatan dan status sosial.
Aku tidak kecewa karena dia tidak mengenalku. Aku tidak berharap dia tahu bahwa dia pernah menjadi bagian dari imajinasi masa mudaku. Bagiku, kenyataan bahwa dia tumbuh menjadi pria hebat sesuai dengan buku-buku yang dibacanya dulu sudah lebih dari cukup.
Biar saja dunia bisnis ini berjalan dengan kaku. Bagiku, pangeran dalam bab masa mudaku biarlah tetap tinggal di perpustakaan tua itu, sementara pria di depan ini adalah bos yang harus kuhadapi dengan laporan kerja yang rapi besok pagi.