Di saat aku membuka mata untuk terakhir kalinya… aku tidak tahu, aku hidup atau mati.
Aku berjalan di atas tumpukan sampah yang berserakan dimana-mana, sejujurnya aku sendiri baru saja bangun dari rumah, dan terkejut mendengar suara teriakan yang memecah kaca di jendelaku, padahal… baru saja paketnya datang kemarin.
Oh iya, namaku Shaka.
Tanpa banyak bicara, aku memutuskan untuk berjalan melintasi trotoar kotor sambil memanggil-manggil ibuku, “Ibu! Ibu!” panggilku, “Kalian dimana??”
Kota hari ini tak seperti biasanya, langit mendung, bahkan orang-orang yang berlalu-lalang pun tampak mendung, maksudku… murung, “Halo mas, permisi…,” ucapku pada salah satu warga yang lewat, “Apa mas pernah lihat wanita yang perawakannya seperti ini?” Aku memperagakan pakaian yang ibu pakai, “Nggak tau ah, awas.” Jawab pria itu, ia malah mendorongku ke sisi yang penuh rumput, sial.
TONG!
Suara besi panjang yang jatuh dari tangan itu terdengar jelas, membuat orang-orang otomatis menoleh, “AAAAA!!” pria itu berteriak, “Dek, tolongin mas dek.”
Apa-apa? Aku harus apa agar bisa menolongnya, anehnya aku malah bingung seperti anak ayam, padahal aku ingin membantu… tapi tiba-tiba pria itu hilang, secara tragis, cairan merah meledak begitu saja di depanku, “Barusan itu apa?…” ucapku, “I-i-itu manusia kan? Iya kan?” suara teriakan makin banyak terdengar, semua orang yang berada di sekitarnya langsung meledak… suasana semakin mencekam, spontan aku berlari ke arah rumah dan… apa-apaan? Betapa terkejutnya aku saat melihat rumahku… kondisinya sangat buruk, orang-orang kini telah menjarah rumahku, riuh suara keramaian memenuhi seluruh isi rumah.
“Gak ngerti lagi dah ini kenapa sebenarnya?” tanyaku kebingungan, waktu seolah berhenti berputar, aku terjatuh di tanah, lututku menyentuh permukaan tanah, sungguh, aku tidak tahu apa yang terjadi… tanpa pikir panjang aku spontan berdiri dan, “Semuanya!! Diam!!!” teriakku menggema di komplek rumah, namun hasilnya nihil, semua orang nampak tidak mempedulikanku sama sekali, sial! Padahal aku sudah serak demi ini, tiba-tiba tangan keriput itu memegang pundakku, “Kakek?” Aku menoleh, “Oh, ternyata sama saja datarnya seperti orang-orang gila itu.”
“Apa maksud kamu?” Kakek menjawab, “Kamu harus ikut kakek sekarang.” Kakek langsung menyambar tanganku dan membawaku ke suatu tempat, sebuah lorong lembab penuh cipratan noda merah, letaknya… di belakang komplek, Kakek menunjuk ke arah sebuah benda tajam, tatapannya datar… tiba-tiba seekor kucing hitam datang, “Cari cahaya di tengah kota, kucing ini bakal kasih kamu petunjuk,” ucap kakek, aku masih kebingungan, menoleh ke kanan dan ke kiri, “Namanya Blanfors.”
“Tunggu, apa?” mataku menatap kakek, penuh tanda tanya, “Jangan banyak bicara! Cepat!” aku sempat kaget mendengar Kakek berteriak sambil memukulkan tongkatnya ke kepalaku.
***
Suasana sunyi kota membuatku bosan sungguh, “Hei kucing,” panggilku, Blanfors menoleh, “Apa petunjuknya?” Kesalnya aku saat kucing itu malah pergi begitu saja, “Kucing kurang ajar!” teriakku, tiba-tiba… dari kejauhan aku melihat seorang wanita yang nampak sedang kesusahan berlari dari kejaran seorang pria, tangannya menggenggam sepucuk kertas, “Hei ma!” Panggilku, “Jangan berdiri di tengah jalan begitu dong!”
“Omong kosong…,” wanita itu berbicara akhirnya, “Aku tak sanggup lagi suamiku!!” wanita itu spontan melempar kertas itu ke tanah, lalu di detik berikutnya ia berteriak sangat kencang, teriakannya membuat seluruh burung yang ada di pohon kabur, hawa dingin pun datang menggebu. Aku menutup mata sesaat, aku… tidak siap melihat apa yang terjadi selanjutnya.
Blanfors mendengkur dan berlari ke arah kertas itu, ia menggosok-gosokan pipinya apa maksudnya ya, “Apa cing?” Tanyaku heran, aku sempat menatap mata Blanfors lama sekali, curiga…, “Oke oke aku akan buka.” tanpa sadar, seorang pria tiba-tiba merebut kertas yang kupegang, matanya memburu ke segala arah, aku sebenarnya ingin mengambil itu, tapi sepertinya dia sensitif, “Ini… gara-gara kamu,” ucapnya sambil memeluk kertas itu, “Istriku… meledak!”
“Pak apa apaan bapak ini?” cetus ku kesal, “Aku kan baru saja lewat.” Segala cara aku pakai untuk membujuk pria itu, namun hasilnya kosong, pria itu masih saja berteriak dan menyalahkanku, apa sih aku juga ingin sekali-kali berteriak…, “Pak! Aku juga kehilangan orang!” tegasku sambil melangkah pergi meninggalkannya, “Dan… aku nggak salah ya, titik!.”
Beberapa detik kemudian…, suara ledakan itu mulai terdengar lagi, gelombang yang kurasakan lebih kuat, angin pun seperti kilat yang menyambar, di detik itu juga kertas lusuh tadi sudah mendarat pas di kepalaku.
Aku menoleh, dan terpaku saat melihat pria itu sudah hilang dari hadapanku, aku menghela nafas panjang namun berat, sungguh… sesak, aku menyadari satu hal
manusia selalu butuh seseorang untuk disalahkan, “Jadi ini bukan kebetulan?” aku mulai menyadari ada sesuatu yang jujur janggal.
BOOM!
Ledakan lagi, kali ini lebih dari kata besar, gelombang yang dihasilkan nya membuat badanku bergeser sedikit demi sedikit ke belakang, “Blanfors! Kamu gapapa kan?” aku menyempatkan diri untuk menggendong kucing itu, sambil berusaha menahan angin yang terus datang.
Tiba-tiba sebuah cahaya meluas ke seluruh gedung pencakar langit, “Itu dia!” aku melompat kegirangan, Blanfors tiba-tiba mencakar kakiku, ia menggeram dan menggigit seperti bantalnya, “Apa!? Apa!?” wajahku memerah karena sedikit kesal pada kucing ini, aku ingin membuang dulu kertas ini karena terasa membebani perjalanan… “Ah, ngehalangin!” cetusku kesal, di detik berikutnya saat hendak melempar, jantungku berdetak sangat kencang hingga membuat bulu kuduk merinding, melihat tempat hilangnya pria itu membuatku menjauhkan kertas itu dari tanah. Anehnya, saat aku berjalan menyusuri trotoar itu, aku melihat sesosok pria tua di atas gedung pencakar langit, ia menunjuk ke arah pusat cahaya, karena… aku bingung ingin kemana, aku memutuskan untuk berlari sekencang tenaga ke arah pusat cahaya itu sambil membawa sepucuk kertas itu.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai bisa melihat kerumunan warga seperti biasa, berjalan di trotoar dengan muka murung seperti biasanya, perjalanan ku hampir sampai! Tapi seorang anak kecil tiba-tiba muncul di depanku, sambil memegang es krim, ia langsung melemparnya ke tanah, tepat…. didepan mata ku.
Aku berusaha menyingkirkan tangan kecilnya sambil mengangkat dagu berusaha melihat cahayanya, “Dik awas dulu dik!” namun tanpa disangka-sangka, semua warga yang ada disitu juga membuang sampah ke tanah, dengan bebasnya…, membuat tumpukan sampah lebih… tebal, “Awas!” aku terpaksa mendorong anak kecil dan berlari, nafas ku semakin ngos-ngosan, dan benar saja teriakan terdengar, aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang…, “Eh di-dia buang itu? Ke tanah?” salah satu warga menghampiri pria yang membuang itu,
“I-ini bukan salahku!” teriaknya, “Aku sudah diberi wahyu oleh kakek-” suara retakan samar-samar mulai terdengar suara, dan benar saja… ledakan itu lagi yang muncul. Semua orang mulai panik berlarian, berteriak bahkan ada yang menyerang satu sama lain, ledakan itu membuat aku dan Blanfors terhempas sangat jauh dan mendarat tepat di dekat cahaya itu, “Ce-cepat!!!” aku berteriak, lalu tiba-tiba kilatan cahaya itu langsung membuat semua warga terkejut sekaligus terpana.
***
Di saat aku membuka mata untuk terakhir kalinya… setelah cahaya muncul, aku tidak tahu, aku hidup atau mati. Aku bangkit dari pingsanku, mendapati seluruh keadaan kota masih sama, warga menatapku, sementara aku menatap ke arah Kakek yang berada di ujung jalan trotoar, semuanya saling menatap satu sama lain, cahaya itu bukan datang dari langit… tapi dari mereka yang akhirnya berhenti menyalahkan. Dan untuk pertama kalinya aku tidak melempar apapun lagi,
Kakek tampak cemas saat semua warga menatapnya serius, “Ini bukan salah aku! Semua orang juga buang!” perlahan… semuanya berbisik, dan mulai mempercayai Kakek, Apa maksudnya ini…? batinku, aku diam sejenak sambil mengingat momen-momen bersama ibu, sungguh itu membuatku tersenyum. Dan untuk terakhir kalinya…
kota itu tetap berdiri, tapi tidak lagi sama, orang-orang masih berlari, masih berteriak, masih menyalahkan sesuatu yang bahkan… tidak mereka ketahui. Dari kejauhan… Kakekku itu masih berbicara, suaranya tak pernah benar-benar hilang, namun, di antara semua itu, ada yang perlahan mulai berhenti, untuk pertama kalinya, aku sadar… yang perlu dihentikan bukan dunia ini atau cahaya yang datang dari langit… tapi diri kami sendiri.
TAMATLAH SUDAH ALKISAH KAMII