*Judul: Retak di Sela Jari*
_Genre: Romance Angst | Slow Burn | Tsundere x Tengil_
---
### *BAB 1: Kosan Neraka dan Surga*
Arjuna Arkana benci satu hal di dunia ini: Yudistira Yogendra.
Mahasiswa Teknik semester 5, IP 4.00, ketua lab, dijuluki "Si Es Batu" sama satu angkatan. Dingin, pemarah, rapihnya kebangetan.
Tapi takdir bercanda. Dia sekamar sama Yudis.
Yudistira Yogendra. Mahasiswa Seni, IP pas-pasan, tapi muka tengilnya 9,8/10. Kerjanya rebahan, main gitar, gangguin Arjuna, dan nempel kayak perangko basah.
*Aturan Kosan Arjuna:*
1. Lampu mati jam 10 malam.
2. Meja gue jangan disentuh.
3. DILARANG KERAS NEMPEL.
4. Kalau stress, teriak di kamar mandi. Jangan ke gue.
Yudis baca aturan itu, terus nambahin pake stabilo:
`Poin 3 bisa dinego pake martabak keju. -Y`
Arjuna robek. "TENGIL!"
Tapi tiap Arjuna begadang TA, pasti ada kopi anget di meja. Tanpa suara. Tanpa pamit.
Tiap Arjuna demam, pasti bangun-bangun udah ada bubur dan obat.
Tiap Arjuna mimpi buruk jam 2 pagi... pasti ada selimut yang ketarik nutupin kakinya.
Tsundere level dewa. Marahnya kenceng, perhatiannya lebih kenceng.
---
### *BAB 2: Jahil yang Kebablasan*
Yudis hobi utamanya: bikin Arjuna stress.
"Jun, pinjem pipi dong. Buat referensi gambar."
"Jun, gue demam. Peluk 3 detik aja biar cepet sembuh."
"Jun, lo kalau senyum ganteng banget. Sayang ditutup mulu."
Arjuna: "OTAK LO YANG DEMAM! JAUH!" _lempar penghapus_
Tapi lama-lama... Arjuna kebiasa.
Kebiasa ada yang ngerecokin pas dia diem.
Kebiasa ada yang ketawa garing jam 1 pagi.
Kebiasa ada badan anget yang nebeng di kasurnya pas mati lampu.
Dia nggak sadar. Sampai hari itu.
---
### *BAB 3: Retaknya*
Semester 7.
Yudis dapet tawaran pemain gitar tunggal di Belanda. 1 tahun. Sponsor penuh. Ini mimpi dia dari SMP.
Masalahnya: dia nggak berani bilang ke Arjuna.
Karena seminggu sebelum itu, Arjuna demam tinggi. Yudis yang begadang 3 malam.
Pas Arjuna sadar, hal pertama yang dia bilang: "...jangan pergi kemana-mana, ya."
Pelan. Lirih. Kayak anak kecil.
Yudis langsung nyerah. Dia nggak jadi ngajuin visa.
Tapi dosennya maksa. "Ini kesempatan sekali seumur hidup, Yudis."
Akhirnya dia ngajuin. Diam-diam.
H-3 keberangkatan, koper udah di bawah tempat tidur.
Malamnya, Arjuna beli martabak keju. Duduk di lantai. "Nih. UAS lo lancar. Gue traktir."
Yudis diem. Tangannya gemetar megang martabak.
Arjuna ngerasa. "Lo kenapa? Kalah lomba gitar?"
Yudis ketawa, tapi suaranya pecah. "Jun... gue ke Belanda. Lusa."
Martabak jatuh. Keju lumer di lantai semen yang dingin.
Arjuna diem. Lama banget. Sampai Yudis mau gila.
Terus Arjuna berdiri. Masuk kamar. Kunci pintu.
Cuma ada satu kalimat yang keluar, datar, tanpa emosi:
"...Selamat."
Malam itu kosan nggak ada suara ketawa. Cuma ada suara hujan. Dan suara Arjuna nahan napas di balik pintu.
---
### *BAB 4: 1 Tahun Tanpa Tempelan*
Kos jadi kuburan.
Bantal Yudis nggak dibuang. Masih di pojokan.
Gitar lama Yudis yang biasanya dipakai masih di easel. Banyak debu yang menutupinya.
Martabak yang tumpah itu dikeringin Arjuna. Dibingkai. Ditaruh di meja belajar.
Temen nanya: "Jun, lo kenapa? Lebih diem dari biasanya."
Arjuna: "Sibuk."
Dia jadi lebih pemarah. Lebih gila kerja. Tidur 3 jam sehari.
Karena kalau diem, kepalanya kebisingan. Isinya Yudis semua.
Yudis dari Belanda kirim email tiap hari. Foto pameran, video jalanan Amsterdam, voice note ketawa garing.
Judul emailnya selalu: `Untuk Si Kepiting Mateng`
Arjuna nggak pernah bales. Tapi semua email dibaca. Sampai hafal koma-nya.
Folder di laptopnya namanya: `Sampah`
Isinya: 365 email dari Yudis.
Malam tahun baru di Belanda, Yudis VC.
Arjuna reject.
Yudis chat: `Jun... gue kangen. Peluk bantal gue ya. Itu gue titipin aroma.`
Arjuna liatin layar 20 menit. Terus dia ambil bantal Yudis. Dipeluk.
"...Bodoh." bisiknya.
---
### *BAB 5: Pulang*
Setahun kemudian. Bandara Soekarno-Hatta.
Yudis kurusan. Rambutnya panjang. Tapi senyum tengilnya masih sama.
Dia nyari satu orang di kerumunan.
Arjuna di sana. Lebih kurus. Lebih dingin. Tapi matanya... merah.
Begitu liat Yudis, Arjuna langsung jalan cepat. Napasnya nggak beraturan.
Yudis buka mulut mau ngomong. Mau minta maaf. Mau jelasin.
Arjuna nggak ngasih. Dia langsung narik kerah jaket Yudis. Nempelin jidat ke jidat Yudis.
Di tengah bandara yang rame.
"Lo janji apa?" Suara Arjuna bergetar. Marah. Tapi mau nangis.
"Lo bilang jangan pergi kemana-mana. Kenapa pergi, ha? Bodoh."
Yudis nggak ngelak. Dia cuma peluk. Kenceng banget. Kayak mau nyatuin tulang rusuk mereka.
"Maaf... maaf, Jun. Gue takut. Takut lo ngelarang. Takut gue nggak bisa liat lo marah-marah 1 tahun."
Arjuna mukul punggung Yudis. Sekali. Dua kali. Terus tangannya melemah... dan malah megang erat.
"...Gue stress. Gue stress banget setahun ini." Akunya. Jujur. Untuk pertama kali.
Yudis ketawa di bahu Arjuna. Nangis. "Gue juga, Jun. Kos gue kosong banget tanpa omelan lo."
Jarak mereka cuma 3 sentimeter. Napas mereka campur.
Arjuna mundur dikit. Natap mata Yudis. "Denger ya. Sekali lagi lo pergi tanpa bilang... gue sumpah gue kunci lo di kamar. Seumur hidup."
Yudis nyengir sambil nangis. "Iya. Tempel gue. Seumur hidup. Gue mau."
---
### *BAB 6: Epilog - Bayar Utang 365 Hari*
Sebulan setelah Yudis balik, kos 3B jadi lebih berisik dari sebelumnya.
Karena Yudis punya misi: bayar lunas 365 hari kangen.
Tiap hari dia nempel 24 jam. Makan nempel. Nonton nempel. Tidur... apalagi.
Arjuna udah nyerah. Dia cuma bisa ngomel: "BERAT! TURUN!"
Tapi tangannya malah nggak pernah ngelepas Yudis.
Malam terakhir bulan itu, Arjuna ngerobek kertas "Aturan Kosan" yang lama.
Ganti sama yang baru, tulis tangan:
*PERATURAN KOSAN 3B - FINAL VERSION*
1. Lampu mati jam 10.
2. Meja jangan diacak.
3. WAJIB NEMPEL SEBELUM TIDUR. HUKUMAN: TIDUR DI LANTAI.
4. DILARANG PERGI TANPA PAMIT. HUKUMAN: DIKUNCI SEUMUR HIDUP.
Ttd: Arjuna Arkana, yang udah kalah.
Yudis baca itu sambil nangis ketawa. Terus dia peluk Arjuna dari belakang.
"Jun... makasih udah nunggu."
Arjuna diem lama. Terus dia balik badan. Nyeruduk ke pelukan Yudis.
"Gue nggak nunggu. Gue marah. Tapi... gue nggak bisa hidup tanpa lo bikin gue stress. Jadi... di sini aja. Terus."
Di luar hujan lagi. Sama kayak setahun lalu.
Tapi kali ini, nggak ada yang dikunci di balik pintu.
Cuma ada dua orang. Satu pemarah tsundere. Satu tengil nempel.
Yang akhirnya berani ngaku kalau... retak paling sakit itu pas orang yang paling berisik, tiba-tiba diem.
---
*END.*
gimana ceritanya pemuja SunNote? garing nggak? 😭