Sembilan tahun berlalu.
Jeruji besi yang dingin tidak mampu membersihkan bau darah dari ingatan Joko. Namun, hukum manusia terkadang terlalu longgar. Atas dalih berkelakuan baik dan menyerahkan diri, vonis lima belas tahun miliknya dipangkas menjadi sembilan.
Joko menghirup udara bebas sebagai manusia mati. Ayahnya telah wafat beberapa bulan sebelum ia keluar, meninggalkan Joko sebatang kara. Seluruh harta keluarga telah habis terjual untuk biaya pengobatan sang ayah yang meninggal dalam kesendirian. Sanak saudara membuang muka; bagi mereka, nama Joko adalah aib yang sudah membusuk.
Frustrasi dan luntang-lantung di rumah putih peninggalan ayahnya yang kini kosong melompong, sepasang mata Joko yang cekat kembali melirik ke arah barat desa. Ke sebuah tanah gersang yang dikelilingi pohon-pohon Wanyi. Tempat di mana ia menanam dosa sembilan tahun lalu.
Garis kuning kepolisian yang memudar dan rapuh masih melintang di depan halaman. Menggunakan sebilah pisau karat yang ia temukan di semak-semak, Joko menyabet plastik itu hingga putus.
Rumah kayu ulin yang dulunya megah, kini tampak seperti peti mati raksasa yang terbengkalai. Catnya mengelupas seperti kulit yang membusuk. Saat Joko melangkah masuk, debu tebal beterbangan. Dan di sana, di lantai papan dekat pintu kamar, noda hitam kecokelatan berdiameter besar masih tercetak jelas. Darah kakak iparnya.
Anehnya, bau manis buah Wanyi dari luar tidak mampu menembus masuk. Udara di dalam rumah itu pengap dan samar-samar menyebarkan bau amis besi yang pekat.
Joko mencoba menolak rasa takutnya. Ia mengambil berember-ember air dari sumur tetangga yang jauh. Dengan sikat dan sabun, ia menggosok lantai itu dengan beringas hingga jemarinya memar. Namun, sedalam apa pun ia menyikat, bayang-bayang noda hitam itu seperti telah menyerap masuk ke dalam serat-serat kayu.
Ketika menggeledah lemari tua yang lapuk, keberuntungan picik memihak padanya. Ia menemukan sebuah dompet usang berisi beberapa lembar uang ratusan ribu—peninggalan kakak iparnya yang luput dari pemeriksaan polisi. Senyum serakah Joko kembali merekah. Uang itu ia gunakan untuk membeli rokok ketengan dan kopi, mencoba menikmati "rumah barunya".
Namun, setiap kali ia menatap ranjang besi di dalam kamar, bulu kuduknya berdiri. Sumpah kakaknya sebelum tewas kembali terngiang, berbisik di telinganya seperti dengung lalat.
“Kalian semua akan menemui ajal di atas ranjang ini...”
Ketakutan memaksa Joko melangkah ke rumah seorang dukun tua di ujung kampung. Di sana, ia bersimpuh, meminta pelindung dari arwah kakak dan iparnya yang ia sebut sebagai "gangguan".
Dukun itu menatap Joko dengan mata lamur yang dingin, lalu menyerahkan segelas air mantra dan segumpal kain hitam yang diikat benang merah.
"Suntakno banyu iki nang pojokan kamar kae. Lan gantungno moro iki nang nduwur kusen lawang ngarep omahmu. Ojo pisan-pisan kok copot," bisik si dukun, suaranya berat dan penuh teka-teki.
Yang memiliki arti "Siramkan air ini di sudut kamar itu. Dan gantung kain ini di atas kusen pintu masukmu. Jangan sekali-kali kau lepas,"
"Matur nuwun, Mbah..."
Joko pulang dengan dada yang sedikit lega. Ia melakukan semua instruksi itu. Satu bulan, dua bulan, hingga bulan keempat, rumah itu mendadak sunyi. Joko mengira jimat itu berhasil.
Namun, memasuki bulan kelima, tanah gersang itu mulai menagih janji.
Suasana rumah berubah menjadi sangat dingin, bahkan di siang hari yang terik. Setiap kali Joko memejamkan mata di atas ranjang besi itu, ia selalu terbangun dalam keadaan tersedak. Ia bermimpi kakaknya duduk di atas dadanya, dengan mata melotot dan tangan pucat yang mencekik lehernya kuat-kuat hingga Joko terbangun dengan leher dipenuhi bekas merah yang nyata. Joko mulai gila karena kurang tidur.
Malam itu, hujan gerimis tipis membuat malam terasa makin senyap. Joko berjalan pulang dari warung kopi, menjinjing sebungkus gorengan dan segelas kopi hitam panas yang ditutup plastik.
Saat kakinya melangkah melewati pintu depan, jimat kain hitam di atas kusen mendadak jatuh tepat di bahunya. Bersamaan dengan itu, bau amis darah yang luar biasa pekat menyerbak, menusuk hidung hingga membuatnya mual. Bau itu datang dari arah kamar.
Tangan Joko gemetar hebat hingga kopi di genggamannya bergoyang. Langkah kakinya berat, terseret-seret mendekati ambang kamar. Kegelapan di dalam kamar itu tampak pekat, seolah menyedot cahaya lampu teplok di ruang tengah.
Krak.
Kaki Joko menginjak kotak rokok kosong yang licin di lantai. Tubuhnya oleng. Dalam hitungan detik, Joko kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terpelanting ke depan.
Sreeet! Pyarrr!
Kopi hitam yang masih mendidih itu menyiram habis seluruh wajah dan matanya. Joko menjerit kesakitan saat kulit wajahnya melepuh. Namun jeritan itu terputus ketika kepalanya menghantam sudut ranjang besi tua yang sudah berkarat dan tajam. Sisi besi itu merobek kulit kepalanya, mengucurkan darah segar yang hangat menyusuri pelipisnya.
Joko mengerang, pandangannya kabur oleh darah dan luka bakar. Dengan sisa tenaganya, ia mencoba merangkak mundur menghadap pintu kamar.
Di sanalah ia melihatnya.
Sesosok wanita dengan gaun putih yang dipenuhi noda darah berdiri di kegelapan. Wajahnya hancur, matanya melotot lurus ke arah Joko. Di lengannya, wanita itu menggendong seonggok daging kecil hitam seukuran botol—janin yang dulu ia bunuh di dalam rahim.
Mahluk itu melesat tanpa suara, mendekat dengan kecepatan yang tak masuk akal.
Joko yang dirundung histeria luar biasa mencoba menghindar, melemparkan tubuhnya ke belakang. Namun sial, tubuhnya justru mendarat telak di atas ranjang besi tua yang lapuk tersebut.
KRETEK... JLEB!
Beban tubuh Joko membuat struktur ranjang besi yang karatan itu patah dan ambruk. Salah satu tiang besi penyangga yang patah mencuat tajam ke atas, bertindak bak tombak yang siap menyambutnya. Besi karat itu menembus punggung Joko, menembus paru-parunya, dan mencuat keluar dari dadanya.
Joko terpasak di atas ranjang. Darah segar menyembur dari mulutnya, menetes ke atas kasur usang yang kini kembali basah oleh darah dari keluarga yang sama.
Dengan sisa kesadaran yang perlahan meredup, Joko menatap langit-langit kamar. Bayangan kakaknya berdiri tepat di sisi ranjang, menatapnya tanpa rasa iba.
"Kak... maa... fan... a... ku..." bisik Joko, parau dan putus-putus.
Tidak ada maaf. Hanya ada keheningan malam dan suara tetesan darah yang jatuh ke lantai gersang di bawah ranjang. Joko meregang nyawa di tempat yang sama, di atas ranjang yang sama, persis seperti sumpah yang telah digariskan sembilan tahun lalu.
Kutukan Tanah Wanyi baru saja dimulai.