Mereka menamainya ketenangan, aku menamainya pelupaan. Ibu tidak pernah tahu bahwa di balik dinding rahim yang hangat itu, aku sempat memiliki detak jantung yang berdegup kencang seperti genderang kecil. Aku sempat bermimpi tentang bagaimana rasanya memiliki nama yang dipanggil dengan kasih, tentang bagaimana rasanya disentuh oleh jemari hangat yang kini hanya bisa kupandangi dari balik bayangan dunia yang abu-abu.
Aku adalah Frans. Nama itu kuberikan sendiri untuk diriku saat aku mulai menyadari bahwa aku terasing dari semesta. Ibu tidak pernah memberikannya karena baginya, aku hanyalah gumpalan daging yang harus segera disingkirkan agar hidupnya kembali "normal". Ketika aku "gugur" di bulan ketiga, aku tidak langsung menghilang menuju keabadian.
Aku tertinggal di dunia ini, terperangkap di antara keinginan untuk memeluk Ibu dan kebencian yang mendidih karena telah dibuang layaknya sampah yang tak lagi bernilai.
Selama bertahun-tahun, aku mengikuti Ibu seperti bayang-bayang yang kehilangan pemiliknya. Aku melihatnya menangis saat itu, namun tangisan itu bukan karena kehilanganku; ia menangis karena merasa terbebani oleh kondisinya. Namun, lihatlah dia sekarang. Ibu telah membangun kehidupan yang begitu sempurna, sebuah potret keluarga utuh yang hangat dan bahagia.
Aku sering berdiri di sudut ruang tengah, menyaksikan Ibu tertawa bersama suami dan anak-anaknya yang lain. Mereka makan bersama, berbagi cerita, dan menyelimuti satu sama lain dengan kasih yang tumpah ruah. Aku mencium aroma bedak bayi yang ia beli untuk anak lainnya yang lahir dengan selamat; bau itu tajam dan manis, sementara aku sendiri tak pernah merasakan sentuhan hangat di kulit sawo matangku yang kian memucat.
Setiap malam, aku mencoba menyentuh pipinya saat ia terlelap di samping suaminya. Namun, setiap kali jemariku yang samar nyaris bersentuhan dengan kulitnya, Ibu akan menggigil hebat. Ia menarik selimut lebih erat, matanya terpejam rapat, dan ia menggumamkan doa agar "gangguan" di rumahnya segera sirna. Ia tidak tahu itu adalah aku.
Baginya, aku hanyalah hawa dingin yang mengganggu kehangatan keluarga kecilnya.
Rasa sakit itu tumbuh seiring waktu, membusuk di dalam jiwaku. Cintaku yang murni teracuni oleh dendam yang merambat seperti akar pohon tua. Mengapa dunia begitu tidak adil? Mengapa mereka berhak memiliki keluarga yang utuh dan hangat, sementara aku harus menjadi rintihan jiwa yang mati di balik dinding rumah ini, terasing oleh ibu kandungku sendiri?
Aku mulai menunjukkan kemarahanku melalui cara-cara yang mengerikan. Aku menyeret langkahku ke dapur, membiarkan jemariku yang tak berwujud menabrak gelas-gelas kristal, membiarkannya berdenting hancur di lantai hingga Ibu terbangun dengan napas terengah dalam kegelapan. Aku memadamkan lampu tanpa alasan, membiarkan Ibu merasakan ketakutan yang kurasakan setiap kali ia melupakanku.
"Kenapa kau tidak mencintaiku, Ibu?" bisikku tepat di telinganya saat ia terbangun karena ketakutan. Suaraku parau beradu dengan detak jantungnya yang memburu. Ibu tidak bisa mendengar suaraku; baginya, itu hanyalah suara desis angin. Ia semakin pucat, semakin sering berdoa, dan itu membuatku semakin benci karena ia lebih memilih memohon perlindungan daripada mengenali anak yang ia buang.
Suatu sore, aku melihat Ibu duduk di teras dengan sebuah bola kaki di pangkuannya. Ia mengelusnya seolah itu adalah anak laki-lakinya yang paling berharga. Bola itu berwarna hitam putih, sedikit kusam karena sering dimainkan. Aku berlutut di hadapannya, mencoba meraih tangan itu dengan seluruh sisa tenagaku. "Lihat aku, Bu. Aku anakmu. Lihat lesung pipit ini. Tidakkah kau merasakannya? Tidakkah kau ingat bahwa aku pernah ada di sana?" isakku.
Tentu, ia tidak merasakannya. Ia justru membuang muka, menatap ke kejauhan dengan tatapan kosong, seolah jiwanya pun sudah lama pergi meninggalkan rumah ini untuk lari dari dosa masa lalunya.
Aku menyadari satu hal yang menyakitkan: horor sesungguhnya bukanlah penampilanku yang mulai membusuk karena amarah, melainkan kenyataan bahwa aku hanyalah sebuah memori yang ia buang ke tempat paling gelap di hatinya.
Namun, di tengah kebencian yang membakar itu, ada secercah rasa hangat yang tersisa. Aku melihat Ibu tersenyum—sebuah senyum tulus yang tidak pernah ia berikan padaku—kepada kehangatan keluarga yang ia miliki sekarang. Di sanalah aku sadar, keberadaanku hanyalah rantai yang menariknya ke masa lalu yang ingin ia lupakan. Jika aku terus menuntut cinta, aku hanya akan menjadi benalu yang merusak kedamaian keluarga utuhnya.
Aku menatap tanganku yang perlahan memudar. Aku sudah menghabiskan seluruh jiwaku untuk membenci, namun tidak ada satu detik pun yang tersisa untuk memaafkan. Aku ingin Ibu bahagia. Jika keberadaanku hanya bisa menjadi hawa dingin dan rintihan yang menakutkan, maka sudah saatnya aku berhenti menjadi bayangan yang menyakitkan.
Aku mendekat sekali lagi, bukan untuk menakuti, tapi untuk terakhir kalinya. Aku tidak mencoba menyentuh pipinya agar ia kedinginan. Aku berdiri di sana, membiarkan aroma bedak bayi yang selalu ia hindari itu menguar lembut, memberikan ketenangan yang seharusnya ia dapatkan sejak dulu. Aku mencium wangi itu sekali lagi, mengunci kenangan itu dalam ingatan terakhirku.
"Selamat tinggal, Ibu. Maaf karena aku pernah membencimu," bisikku pelan, sebuah bisikan yang kali ini membawa keikhlasan.
Perlahan, sosokku yang dulu penuh amarah mulai kehilangan wujudnya. Kegelapan yang mengurungku selama bertahun-tahun perlahan digantikan oleh cahaya yang hangat, cahaya yang tidak pernah kutemui di rumah ini. Aku tidak lagi menginginkan nama, tidak lagi menginginkan pelukan. Aku hanya ingin Ibu menemukan kedamaian yang selama ini kami berdua lewatkan. Dan untuk pertama kalinya, rintihan jiwa yang mati ini berubah menjadi doa yang tulus.
Aku pergi, bukan karena aku kalah, tapi karena aku akhirnya memilih untuk mencintai dengan cara yang paling sulit: dengan melepaskan. Akhirnya, aku pun pulang, bukan ke rumah yang dingin itu, melainkan ke pelukan keabadian yang selama ini menungguku dengan sabar.