Kemala dan Satria
Penulis: Lili Aksara.
Kemala, begitulah orang-orang memanggilnya.
Usianya baru 19 tahun, dan ia memiliki seorang Adik yang berumur 16 tahun.
Namun, Kemala sangat membenci adiknya itu, karena Satria memiliki kelainan mental sejak lahir.
Orang tua Kemala—Bu Tika dan Pak Dimas lebih menyayangi Satria.
Kemauan Satria selalu dituruti.
Sementara Kemala, gadis itu selalu disuruh menjaga sang Adik.
"Kak Mala, kita main yuk!" ajak Satria.
"Lo itu bodoh atau apa, Satria? Gue ini lagi belajar, main sendiri gitu kek!" teriak Kemala.
Plakkk.
Kemala memukul wajah Satria dengan buku miliknya sampai jatuh.
"Ma-maafin Satria, Kak. Satria nggak tahu," ucap Satria.
"Pergi lo, Satria!" teriak Kemala.
Meskipun usia Satria telah 16 tahun, sikapnya memang masih seperti anak-anak, dan ia juga sangat sulit menangkap pelajaran.
Saat itu, Kemala dan Satria hanya berdua di rumah, karena orang tua mereka sedang bekerja di kota.
***Ketika Kemala sudah selesai belajar, ia memilih untuk bermain game di laptopnya.
"Ade lo nggak lo jagain, Kemala?" tanya salah 1 teman mabarnya, namanya Intan.
"Nggak lah, lagian gue nggak perduli sama dia," jawab Kemala.
"Hahaha, oh gitu, ya udah, biarin aja dia," ucap Lala, temannya yang lain.
Mereka semua pun tertawa terbahak-bahak.
Kemala tak peduli walaupun Satria adalah adiknya sendiri, karena hatinya telah tertutupi dengan kebencian yang mendalam.
Saat masih asyik bermain game, tiba-tiba saja Kemala mendengar seseorang menyalakan kompor gas di dapur.
"Bikin ulah apalagi anak sialan itu?" batin Kemala kesal.
Karena gadis itu sudah bisa menduganya, pastilah Satria yang menyalakan kompor itu.
Ya lagian siapa lagi kalau bukan dia?
Cuma ada mereka di rumah, dan Satria memang tidak tahu apa-apa, jadi ya begitulah, apalagi kalau nggak ada yang jagain dan ngawasin dia.
Dengan penuh amarah, Kemala berjalan menuju dapur.
Di atas kompor itu, terdapat telur yang belum dibuka dari cangkangnya.
Tanpa wajan, tanpa panci, telur itu diletakan begitu saja.
Kemala buru-buru mematikan kompor itu, lalu menatap tajam Satria yang sedang berdiri diam.
"Bisa nggak sih, sehari aja lo itu nggak bikin gue marah, hah? Gimana kalau rumah ini kebakaran? Pasti yang di salahin itu gue, karena gue nggak jagain elo!" teriak Kemala.
Satria berteriak, membuat kemarahan Kemala semakin menjadi.
"Aku minta maaf," ucap Satria.
"Maaf? Lo itu nyusahin tahu nggak? Harusnya Bunda itu nggak ngelahirin elo, bikin repot aja," ucap Kemala.
"Aku cuma mau makan, Kak," ucap Satria pelan.
Pemuda itu memang tak terlalu fasih dalam berbicara.
Kemala tak memperdulikan ucapan Satria itu, dia menyered Satria ke gudang, lalu mengurungnya di sana.
Satria berteriak, di pukul-pukulnya pintu itu.
Entahlah, mungkin dia sedang tantrum atau gimana.
Kemala tak mau ambil pusing, ia lanjut bermain game lagi.
Kring, kring, kring.
Ponsel milik Kemala berdering nyaring, menandakan ada telepon masuk.
Rupanya, sang Bunda lah yang menelepon.
"Ah, apaan sih Bunda ini? Ganggu aja, pasti juga nelepon buat nanyain si Satria sialan itu," gumam Kemala.
Dengan terpaksa, akhirnya Kemala mengangkat panggilan itu.
[Halo, assalamualaikum, Nak,] ucap Bu Tika.
[Waalaikumsalam. Ada apa, Bun?] tanya Kemala.
[Adikmu nggak papa kan, Mala?] tanya Bu Tika.
[Dia ada, Bunda. Lagi tidur, lagian nggak akan aku bunuh juga anak cacat mental itu,] jawab Kemala kasar.
[Astaghfirullah haladzim, bukan begitu maksud Bunda, Nak. Tapi, syukurlah kalau dia baik-baik saja,] ucap Bu Tika.
[Iya, Bun,] jawab Kemala.
"Ya sudah Kemala, Bunda masih harus kerja lagi. Udah dulu ya, assalamualaikum,] ucap Bu Tika.
[Waalaikumsalam,] jawab Kemala.
Panggilan itu pun berahir.
Sebenarnya, Bu Tika dan Pak Dimas telah mengetahui tentang Kemala yang sangat membenci Satria.
Kemala memang terang-terangan menunjukan pada kedua orang tuanya bahwa ia membenci Satria, karena ia tak berniat sok baik pada sang Adik di depan orang tuanya.
Bu Tika dan Pak Dimas memang sengaja meninggalkan kedua anak mereka hanya berdua di rumah.
Maksudnya supaya mereka lebih dekat dan Kemala mau menjaga Satria.
Tapi benci tetaplah benci, Kemala justru semakin membenci adiknya itu.
Sebenarnya, alasan Kemala membenci Satria itu bukan karena Kemala merasa Bunda dan ayahnya lebih menyayangi Satria saja, tapi juga karena Kemala merasa malu.
Orang lain memiliki Adik yang normal dan tidak disabilitas serta tak merepotkan, sementara adiknya Kemala, ia merasa sang adik sangatlah merepotkan.
"Hmmm, makan bakso kayaknya enak nih," ucap Kemala.
Kemala pun membeli bakso.
Tukang bakso itu tak jauh dari rumahnya, jadi mudah saja kalau dia lagi kepengen makan bakso.
"Mang, saya beli baksonya seporsi, ya. Makan di sini aja," ucap Kemala.
"Siap, Non Kemala," jawab Amang bakso.
Ibu Tika dan Pak Dimas adalah orang kaya di kampung itu, dan mereka memiliki kantor di kota.
Keluarga Pak Dimas memang terkenal baik dan dermawan, jadi keluarga mereka dihormati di kampung itu.
"Den Satria nggak ikut makan bakso, Non?" tanya Amang bakso.
"Dia nggak mau Mang, malah tidur lagian, makanya bisa saya tinggal," jawab Kemala.
"Oh, seperti itu. Non Mala hebat deh, Non pasti baik dan sayang banget sama Den Satria. Dia itu anak istimewa, Non," ucap Amang bakso.
Kemala hanya bisa tersenyum untuk menanggapi ucapan Amang bakso.
Sementara dalam hati, ia berkata: "Anak istimewa apanya, orang kerjaannya nyusahin aja,"
"Silakan baksonya, Non," ucap Amang bakso seraya meletakan mangkuk bakso ke atas meja.
Kemala mengangguk, ia segera memakan bakso miliknya.
***Lima belas menit berlalu, kini Kemala sudah selesai makan.
Setelah membayar, gadis itu segera pulang ke rumahnya.
Ia sangat mengantuk, jadi cepat-cepat pulang.
Dari gudang ke kamar Kemala memang cukup jauh, jadi Kemala bisa tidur dengan tenang.
"Perut udah kenyang, anak itu juga udah aku kurung di gudang, jadi nggak ada lagi yang bakal ganggu aku. Sekarang waktunya tidur," ucap Kemala.
Kemala pun segera jatuh terlelap di kasurnya yang empuk dan mewah.
***Sore harinya.
"Kemala, bangun kamu, Kemala!" teriak Bu Tika.
Kemala buru-buru membuka matanya karena mendengar teriakan sang Bunda.
"Apa, Bunda?" tanya Kemala.
"Kenapa kamu kurung adikmu, Nak? Satria salah apa sama kamu, Kemala? Padahal, Bunda sama Ayah sengaja ninggalin kalian berdua, supaya kalian lebih dekat," ucap Bu Tika sambil menangis.
"Aku benci sama Satria, Bunda. Selama ini sejak dia lahir, Bunda sama Ayah cuma peduli sama dia. Semua kemauan dia selalu kalian turutin. Aku juga malu punya Adik kayak dia, Bunda, Ayah," ucap Kemala.
"Adikmu itu beda, Nak. Tapi Bunda sama Ayah sayang sama kamu," kata Bu Tika.
Kemala yang kesal pun pergi, gadis itu berlari ke dapur.
"Bunda, Satria pergi dulu, ya," ucap Satria.
"Mau ke mana, Satria?" tanya Bu Tika.
"Ke Kakak, Bunda," jawab Satria.
"Jangan ya, Kakak Kemalanya lagi marah, emang Satria nggak marah sama Kak Kemala?" tanya Bu Tika.
"Enggak, Satria nggak marah sama Kakak, Satria kan sayang sama Kakak Kemala," jawab Satria.
"Bunda, kenapa ya, Kak Kemala sering bilang Satria bodoh? Bodoh itu apa, Bunda?" tanya Satria.
Mendengar pertanyaan itu, Bu Tika menghela napas panjang.
"Satria nggak perlu tahu soal itu, ya. Nanti kalau udah besar, baru deh Satria boleh tahu," ucap Bu Tika.
"Iya deh, Bunda," jawab Satria.
Satria pun pergi, menyusul Kemala yang berada di dapur—sedang makan.
"Bagaimana ya Yah, makin hari Kemala semakin benci sama Satria," ucap Bu Tika.
"Entahlah Bun, apa kita kasih tahu aja tentang siapa Kemala sebenarnya?" jawab Pak Dimas.
"Bunda nggak tega ngasih tahu dia, Yah," ucap Bu Tika.
Kembali kepada Kemala, saat ini gadis itu sedang menikmati sepiring nasi.
"Kak Kemala, Kakak masih marah ya sama Satria?" tanya Satria.
"Denger ya Satria, gue itu nggak akan pernah bisa baik sama elo," ucap Kemala.
"Kak, Satria minta maaf soal tadi," jawab Satria.
"Gue dulu emang mau punya Adek, tapi bukan Adek yang cacat kayak elo," ucap Kemala.
"Kemala, sudah, Nak. Mala, Satria, Bunda sama Ayah udah sepakat, besok kita akan liburan," ucap Bu Tika.
"Liburan ke mana, Bunda?" tanya Kemala.
"Ke puncak," jawab Bu Tika.
"Iya deh Bunda, baiklah," ucap Kemala.
Kemala pun pergi ke kamarnya, karena ia telah selesai makan.
***Keesokan harinya.
Matahari telah terbit di ufuk timur, menyinari bumi dengan sinarnya yang hangat.
Burung-burung berkicau merdu, seolah bernyanyi menyambut pagi.
"Kak Malaaa, bangun yuk," ucap Satria.
"Apaan sih lo Satria, gue bisa bangun sendiri tanpa harus elo bangunin," jawab Kemala sembari beranjak berdiri.
"Kamu langsung mandi aja, Kemala, soalnya Bunda udah mandi," ucap Bu Tika.
"Iya, Bunda," jawab Kemala.
***Mobil milik keluarga Pak Dimas melaju, meninggalkan kampung Ci bambu yang ramai.
Sepanjang jalan, mereka melambaikan tangan ke arah para warga.
"Kak, indah ya pemandangannya," ucap Satria.
"Dah diem, aku ngantuk, mau tidur," jawab Kemala.
"Jangan gitu dong Mala, Satria kan cuma ngajak kamu ngobrol, kamu jawab yang baik dong," ucap Bu Tika.
Tapi Kemala tak memperdulikan ucapan sang Bunda, ia memilih untuk tidur saja.
"Satria, kamu mau makan cilor itu, Nak?" tanya Pak Dimas.
"Mau, Yah," jawab Satria.
Mobil pun berhenti di tukang penjual cilor.
"Bunda, itu ada yang jualan cilok, Kak Mala kan suka. Satria pergi dulu ya buat bangunin Kakak," ucap Satria.
Belum Bu Tika menjawab, Satria sudah berlari ke jalan raya, maksudnya hendak pergi ke mobil untuk membangunkan Kemala.
Sebenarnya bisa saja dia meminta bundanya untuk membelikan cilok itu untuk Kemala, cuma ya gitu, namanya juga Satria.
Saat itulah, ada truk yang sedang melaju kencang.
Truk itu cepat sekali.
Semua orang hendak berteriak awas, dan Bu Tika pun mau menolong Satria.
Bruk.
Tapi terlambat.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, mobil truk itu menabrak Satria.
"Satria, anakku!" teriak Bu Tika seraya berlari menghampiri Satria yang sudah tak sadarkan diri.
Orang-orang pun ramai sekali di situ, mereka semua berbondong-bondong mengerumuni tubuh Satria.
Sementara itu, di dalam mobil milik keluarga Pak Dimas.
Kemala membuka matanya karena mendengar suara ramai banyak orang.
Karena penasaran, Kemala pun keluar dari dalam mobil.
Saat melihat Bunda dan ayahnya, Kemala pun buru-buru menghampiri mereka.
"Satria kenapa, Bunda?" tanya Kemala.
"Dia kecelakaan, Kemala, hiks," jawab Bu Tika.
Bu Tika menangis sesenggukan.
Suara ambulans terdengar keras, dan Satria segera dimasukan ke dalam ambulans itu, dia dibawa ke rumah sakit.
"Bunda, ikutlah di mobil ambulans. Biar Ayah sama Kemala ngikutin dari belakang pakai mobil kita," ucap Pak Dimas.
Ibu Tika mengangguk pelan, setuju dengan suaminya.
Dan mereka pun segera masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan antara Pak Dimas dan Kemala, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
***Sesampainya di rumah sakit, Satria segera ditangani oleh Dokter.
"Bunda, Ayah, sebenarnya kenapa dia bisa kecelakaan begini?" tanya Kemala.
Sejujurnya, sedari tadi Kemala ingin tahu, hanya saja, gengsinya terlalu tinggi, apalagi selama ini ia tak peduli sama adiknya itu.
"Tadi di jalan, kami melihat tukang cilor dan juga tukang cilok. Mobil pun berhenti di pedagang cilor. Di situ, Satria melihat ada tukang cilok, dan bilang kalau kamu suka banget sama cilok. Dia bilang, katanya mau ngebangunin kamu buat ngasih tahu kalau ada tukang cilok. Kami nggak sempat mencegah dia, Kemala. Dia lari ke jalanan, dan dia...." Bu Tika tak sanggup melanjutkan ceritanya.
"Sekarang apa kamu puas, Kemala?" tanya Pak Dimas.
Kemala jatuh terduduk, air matanya jatuh tanpa diminta.
"Maafin Kakak, Satria. Maafin Kakak," kata Kemala.
"Bunda, lebih baik kita beritahu Kemala sekarang saja. Mungkin, ini sudah saatnya dia tahu. Toh, sekarang ataupun nanti sama saja," ucap Pak Dimas.
"Baiklah Yah, jika memang itu yang terbaik, maka beritahulah," jawab Bu Tika.
"Kemala, mungkin ini terlalu cepat, Nak. Tapi mau bagaimanapun, kamu harus tahu soal ini. Mala, sebetulnya, kamu itu bukanlah anak kandung kami. Delapan belas tahun yang lalu, ibu kamu menitipkan kamu pada kami. Kedua orang tuamu dulunya pekerja kami. Saat itu, saat kamu lahir, bertepatan dengan kematian ayahmu akibat serangan jantung. Lalu, saat usiamu 3 bulan, ibumu juga meninggal karena sakit berkepanjangan. Kami merawat Ibu kamu, Kemala, karena orang tuamu sudah kami anggap seperti orang tua sendiri. Sebelum Ibu kamu meninggal, beliau memohon dengan sangat supaya kami mau merawat dirimu. Karena Bunda kamu juga terlanjur sayang sama kamu, akhirnya kami pun setuju untuk merawatmu," ucap Pak Dimas panjang lebar.
"Tapi demi Allah, Nak. Jika dirimu merasa kami pilih kasih dan lebih menyayangi adikmu, sesungguhnya itu bukan karena kamu bukan anak kami. Bunda sama Ayah sayang banget sama kalian berdua. Kami minta maaf kalau mungkin selama ini kami terlalu pilih kasih," ucap Bu Tika menimpali.
Mendengar fakta itu, Kemala semakin menangis tergugu.
Ia tidak menyangka, selama ini Ayah dan bundanya bukan orang tua kandungnya.
"Maafkan aku, Ayah, Bunda. Selama ini, ternyata aku bukan anak kalian. Ternyata, memang Satria yang pantes dapetin kasih sayang Ayah dan Bunda," ucap Kemala.
Pak Dimas memeluk Kemala dengan erat.
"Ayah sayang sama kamu, begitupun Bunda. Kami cuma mau, kamu belajar sayang sama Satria. Kamu itu udah dewasa, Nak," ucap Pak Dimas.
"Iya Yah, Kemala akan berusaha. Dan terima kasih udah mau ngerawat Kemala selama ini, Ayah, Bunda," ucap Kemala.
"Sudah, kamu itu anak kami," jawab Bu Tika.
Tiba-tiba saja, seorang Dokter keluar dari ruang IGD.
Pak Dimas segera berdiri.
"Bagaimana kondisi anak kami, Dok?" Pak Dimas bertanya serius.
"Dia sudah sadar, untung saja kalian cepat membawanya ke rumah sakit," jawab Dokter itu.
"Alhamdulillah!" Bu Tika, Pak Dimas, dan Kemala berseru kompak.
"Terima kasih, Dok. Apakah kami boleh masuk sekarang?" tanya Pak Dimas.
"Sama-sama, Pak. Dan boleh, kalian bisa masuk," jawab Dokter.
Mereka pun segera masuk ke dalam ruangan itu.
"Halo, adiknya Kakak," sapa Kemala sambil tersenyum
"Satria ada di mana?" tanya pemuda itu.
"Kamu ada di rumahnya Ibu Dokter," jawab Bu Tika.
"Kak Kemala udah nggak marah lagi sama Satria, kan?" tanya Satria polos.
Kemala tersenyum sembari mengangguk.
"Udah nggak, dong. Kan kamu anak baik, jadi Kakak udah nggak marah lagi," kata Kemala.
"Mala, Bunda sama Ayah mau ke kantin rumah sakit dulu ya, kamu mau kan tunggu bentar?" tanya Bu Tika.
"Iya, Bunda," jawab Kemala.
Bu Tika dan Pak Dimas pun keluar dari ruangan.
"Satria, kalau di jalanan itu jangan lari-lari, ya. Bahaya, ntar di bawa ke sini lagi kamunya," ucap Kemala menasihati.
"Iya deh, Kak. Satria kan tadi cuma mau kasih tahu Kak Kemala aja," jawab Satria.
"Iya Kakak paham, tapi lain kali jangan sendirian, ya," ucap Kemala.
"Siap, Kak," jawab Satria.
"Satria hari ini seneng banget loh, Kak," ucap Satria.
"Seneng kenapa emangnya?" Kemala bertanya heran.
"Dari dulu, Satria pengen Kakak baik sama Satria. Dan sekarang Satria seneng banget Kak, soalnya Kakak udah nggak marah-marah lagi,"
Kemala yang mendengar itu, hatinya pun menjadi tersentuh.
"Ya Allah, aku jahat banget sama dia. Padahal, dia begitu baik, bahkan nggak marah sama aku," batin Kemala.
"Maafin Kakak ya, dulu Kakak sering marah-marah sama kamu," ucap Kemala.
"Satria udah maafin Kakak kok. Satria sayang Kakak," jawabnya.
Dan begitulah, mereka pun kini akur 1 sama lain.
Tak ada lagi teriakan penuh amarah, tak ada lagi hinaan dari Kemala.
Mereka berdua saling menyayangi sekarang.
Quotes: "Jangan terlalu membenci sesuatu atau seseorang, karena bisa jadi, kelak sesuatu itu adalah orang yang paling berharga dalam hidupmu."
Tamat.