Dea merupakan putri tertua Pak Bani dan Alm. Bu Ida. Karena ditipu teman bisnis akhirnya Pak Bani bangkrut. Mereka menjual seluruh aset demi menutupi hutang di bank dan membayar gaji karyawan.
Suatu hari, Yudi yang merupakan mantan karyawan Pak Bani datang mencarinya. Karena Yudi merasa hutang budi kepada keluarga itu. Karena Pak Bani lah, dia bisa menjadi pengusaha mebel sukses.
Pak Bani meninggal dalam kecelakaan menuju tempat kerja, sebelum dia meninggal. Pak Bani menitipkan Dea kepada Yudi. Yudi seorang duda yang berpisah karena istrinya selingkuh. Hingga suatu rencana busuk dibuat mantan istri Yudi untuk memisahkan Yudi dan Dea.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yati suryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 10
Om Duda Teman Bapak
Part 10
Mengingat kejadian tadi siang kepalaku sakit, apa benar aku pelakor? Tidak, aku tidak mau jadi pelakor. Cocok ibunya nenek lampir, anaknya nenek gayung. Sama-sama nggak ada akhlak.
Gara-gara nenek gayung--si Ivi, aku nggak tau tujuan Om Yudi ngajak bertemu teman-teman bapak. Mau nanya sekarang, malas banget. Kesal aja dengannya.
Sudah tengah malam aku belum juga bisa tidur, malah mendengar bapak batuk-batuk di kamarnya. Apa bapak sakit?
Aku mengambil air putih hangat untuk diantar ke kamar bapak. Kebetulan pintunya tidak begitu tertutup rapat, masih ada celah untuk melihat apa yang terjadi di dalam kamar.
Terlihat bapak sedang memandangi poto mamak, sambil sesekali memegang dadanya saat batuk melanda, mungkin dada bapak terasa sakit.
"Assalamualaikum, Pak. Ini Dea bawakan air putih hangat."
"Waalaikum salam, masuk, Nak!"
Lelaki terhebatku, terlihat begitu lemah malam ini, mata itu basah seperti baru saja meneteskan air mata.
"Bapak kenapa? Bapak sakit?" tanyaku sambil memijit pundak bapak.
"Bapak nggak apa-apa, Nak. Cuma Bapak rindu Mamakmu. Seandainya mamak masih ada, dia pasti bahagia melihat anak-anak gadisnya tumbuh menjadi anak yang cantik." Suara bapak terdengar bergetar.
"Dea yakin, Pak. Mamak pasti melihat kami dari surga."
Setelah bapak meminum air putih yang kubawa, aku kembali ke kamar. Ku tengkurapkan badan di atas kasur. Wajah kutenggelamkan di dalam bantal agar tangisku tidak terdengar oleh Widi.
Aku juga merindukan mamak, dulu aku selalu menceritakan apapun kepada beliau, sekarang nggak ada lagi tempat aku bercerita. Kenapa di saat seperti ini aku mengingat Om Yudi, tidak bisa kupungkiri, rasa nyaman itu ada saat bersamanya.
***
"Pak, kalau masih sakit nggak usah kerja!" pintaku kepada bapak pagi ini.
"Bapak sehat, kok, Nak," kilah bapak.
"Gaji Dea cukup, Pak, untuk makan kita, Bapak nggak usah lagi kerja. Biar Dea aja yang kerja!" Aku tidak tega melihat Bapak yang sudah tua harus bekerja setiap hari di pabrik kayu.
Bisa jadi batuk bapak akibat terlalu sering menghirup serbuk kayu.
"Pak, seingat Dea, Dea nggak pernah minta macam-macam sama bapak. Sekarang Dea minta Bapak berhenti kerja," mohonku kepada bapak.
"Benar kata Kak Dea, Pak. Bapak nggak usah lagi kerja. Bapak sudah tua, Pak," Sambung Widi, mungkin dari tadi dia mendengar obrolan kami.
"Tapi kamu masih perlu biaya besar untuk sekolah,Wid," gumam bapak.
"Widi bisa nabung, Pak dari keuntungan jualan online," sahut Widi. "Ini batuk bapak tambah parah, baru minggu kemarin sembuh, sekarang sudah kumat lagi."
Kami seperti teletubies yang saling berpelukkan. Walaupun aku sedikit gamang, sebenarnya gaji yang kuperoleh tidak besar, demi orang tua tetap sehat aku akan mencari kerja tambahan.
"Ya sudah, hari ini terakhir Bapak kerja, Bapak pamit dulu pada bos," ucap bapak sambil mengusap kepala kami.
"Terima Kasih, Pak," jawab kami kompak.
Bapak dan Widi berangkat bersamaan, bapak akan mengantar Widi ke sekolah terlebih dahulu. Hari ini aku dapat shift malam, aku mulai membersihkan rumah, lanjut masak sambil memutar mesin cuci itu rencana yang ada di kepalaku.
Dua jam berlalu, baru membersihkan rumah yang kuselesaikan karena disambil balas chatting dari konsumen yang ingin menanyakan daganganku. Aku sama seperti Widi, menyambi jualan pakaian online, barangnya aku ambil dari teman SMA dulu, sekarang dia mengelolah konveksi milik orang tuanya.
Pintu depan terdengar digedor sambil memanggil-manggil namaku. Aku sedikit berlari, sebelum membuka pintu aku mengintip dari jendela, itu yang selalu bapak ingatkan kepada kami.
"Apa sih, Om. Kayak orang kesurupan?" tanyaku dengan nada jutek.
Raut wajah Om Yudi terlihat panik.
"Apa om?" Kembali kumembrondong dengan pertanyaan.
"Hmmm ... Bapak kecelakaan."
"Astafirullah Alhazim, bapak siapa, Om?" Pertanyaanku bodoh sekali.
"Pak Bani--bapak kamu."
Duaarrrrr
Seperti ada petir menyambar tubuhku saat itu. "Om jangan becanda!" isakku.
"Ayuk De, kita kerumah sakit." Om Yudi menarik tanganku. "Kita jemput Widi dulu, ya?" sambumg Om Yudi.
"Kenapa jemput Widi? Apa Bapak parah, Om?" tanyaku bercampur tangis.
Om Yudi tidak menjawab, hanya tangan kirinya mengusap lembut kepalaku.
'Om ...,' panggil hati kecilku.
Setelah menjemput Widi, kami langsung menuju rumah sakit. Kami berlari ke ruang IGD.
Bapak, Bapak sudah terbaring di atas brankar. Telinganya mengeluarkan darah. Namun, luka yang lain tidak kulihat di sekujur tubuhnya. Kenapa bapak tidak sadar sedangkan tubuhnya tidak terluka?
Seorang dokter mengatakan, kesadaran bapak mulai menurun. Widi meraung di sebelah bapak. Ia memegang tangan bapak dengan ke dua tangannya.
"Bapak anda harus segera masuk ruang ICU!" tutur dokter pria yang menangani bapak.
"Biayanya?" tanyaku lirih.
"18 sampai 20 juta semalam," terang dokter itu.
"Tapi saya nggak bawa uang, Dokter."
"Jangan Ibu pikirkan itu dulu. Biaya kita urus keesokkan harinya. Sekarang kita selamatkan Bapak dulu.
Bagaimana?"
Aku mengangguk tanda setuju. Bapak kembali didorong oleh beberapa perawat disusul dengan dokter. Menunggu lift pasien terbuka rasanya sangat lama, sebenarnya tidak. Aku, Widi dan Om Yudi ikut naik di lift pasien.
Sesampai di ruang ICU, langkah kami tertahan, kami hanya diperbolehkan mengantar sampai pintu, tenaga medis akan melakukan tindakan.
Widi terduduk di lantai sambil memeluk lutut. Badanku lemah, memikirkan kondisi bapak dan memikirkan biaya yang harus ku tanggung.
Walaupun asuransu Jasa Raharja bisa ku klaim tetapi pasti tidak cukup. Jika korbannya selamat hanya mendapakan 25 juta, sedangkan biaya ICU bapak 20 juta semalam.
"Om, kanapa dibawa kemari? Disini nggak terima BPJS," keluhku kepada Om Yudi.
"Rumah sakit ini yang penanganannya cepat, De. Masalah biaya biar saya yang nanggung. Kamu jangan pikirkan itu!" Om Yudi merangkulku.
Bapak mengalami luka dalam, saat bapak jatuh dari motor, helm yang bapak gunakan terlepas karena bapak tidak memasang pengait helm dengan benar. Hal itu mengakibatkan kepala bapak terbentur ke aspal sehingga merusak syaraf di kepalanya. Begitulah penjelasan polisi yang menangani Lakalantas ini.
Om Yudi menemani orang kepercayaannya, dia menjadi saksi peristiwa tabrak lari tersebut saat akan menuju pabrik tempat kerja bapak.
Aku dan Widi masuk ke ruang ICU untuk menemani bapak karena sudah diperbolehkan oleh Dokter. Aku tidak mengerti alat-alat apa saja yang terpasang di tubuh bapak. Sudah sebanyak itu alat yang terpasang tetapi bapak tidak juga terbangun.
"Ya Allah selamatkan Bapak, aku tidak mau kehilangan bapak. Beri ia kesembuhan agar kamu bisa bersama lagi," doaku diaminkan oleh Widi.
"Bantu dengan doa, ya!" Dokter menyerahkan dua buku yasin kepada kami.
Pekanbaru, 06 Mei 2020
Ada sepenggal kisah di dalam part ini diambil dari kisah nyata yang saya alami.
Terima kasih untuk teman-teman yang telah setia mengikuti cerita Om Duda Teman Bapak.
Salam sayang dari saya, Outhor yang sedang berjuang. ❤❤❤