mata yang indah dan memancarkan daya tarik...
aku pun akan tertarik dengan cara mu memandang ku.
bukan perihal kau itu di agung kan, bukan pula karena kau di sanjung.
aku jatuh hati tepat pada pandangan pertama di antara pertemuan 2 mata yang indah.
mungkim, menurut mu pernikahan kita di lakukan karena perjodohan,
kau salah,
karena memang sudah takdirnya Tuhan kita mengikat aku dan kau dalam satu ikatan halal bernama kan pernikahan.
M. Faris Azam
** **
aku tahu,
mungkin memang begini lah takdir memberiku jalan terbaik. di balik senyum yang penuh dengan nada nyaring menyenangkan gendang telinga orang lain, ada tangis dan pilu tertahan dalam batin.
tertahan karena memang begitu lah aku melakukan nya.
aku pergi,
jangan cari aku lagi.
karena kebahagiaan mu bukan ada pada diriku lagi....
Amirah Jilan Fakhira
** **
Hai iiii,
ini cerita yang akan saya buat. tema nya mungkin sedikit sama dengan orang lain diluar...perjodohan.
namun, semoga dengan membaca novel ini ada banyak kisah dan pelajaran yang bisa di Terima readers semua,,,
so there,.... stay tune❤
salam hangat
Ismi hana rizky
@ismirizky9898
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana 9898, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lelaki tua
Amira sudah kembali dari kampong ke kota. Menunggu 2 bulan lagi untuk acara pernikahan kakaknya, dia akan kembali kesana.
Dikampung, masalah tentang kesehatan nya seolah olah hilang dan sirna, sedang dalam perjalanan kembali ke kota saja membuat dia sudah kepikiran dengan masalah kesehatan itu.
Dia sampai di rumah pada jam makan malam, masuk rumah dan langsung istirahat.
Tring…
“datang lah besok, hasil check body mu sudah keluar” jelas Miranda mengirim pesan pada amira
Rasa takut dan khawatir menyerang, tidak lupa panic, dia mengetik kan kalimat “ya” pada Miranda
“semoga saja dalam keadaan baik ya allah” batin nya memegang dada, berusaha mengusir panic juga berusaha untuk tertidur karena mungkin besok adalah hari yang melelahkan.
** **
Amira sudah di dalam mobil, bersiap untuk pergi kerumah sakit. Memakai penutup wajah, pun kacamata antiradiasi yang sudah menggantung di area gadis itu,
“do not panic amira” gumam nya berusaha menenagkan batin nya,
“apapun nanti keputusan nya, terima dengan lapang dada,,,” tekan nya sekali lagi dalam batin.
Amira bergerak ke rumah sakit sambil sebelumnya sudah mengabari hansel dan lira,
Masuk ke dalam rumah sakit dengan perasaan dag dig dug, apalagi saat dia bertemu dengan Miranda di koridor rumah sakit. Sepertinya wanita itu memang sengaja menunggu amira…
“jangan takut, apapun yang terjadi, kau pasti bisa melawan nya, menuntaskan nya” gumam Miranda berniat menenangkan amira
“tidak usah berusaha menenangkan aku Miranda, dengan senang hati aku akan menerima apapun hasil nya” jawab amira berusaha tegar, namun air mata sudah mau terjatuh.
Mereka duduk di ruangan Miranda, lalu mengeluarkan hasil pemeriksaan itu dan memberikan nya pada amira
“kau menderita kanker serviks ami” jelas Miranda tidak dengan kehati hatian
Amira pada dasarnya sudah bisa menebak, karena waktu terakhir ayah nya menyatakan kalau mamanya meninggal karena kanker Rahim.
Tidak tahu mau berbuat apa, hanya terdiam dan tetap membaca hasil diagnosis dokter yang sudah ada di tangan nya
Tes,
Air mata wanita itu jatuh tanpa di minta, seolah olah hati nya paling mengerti masalah ini. Bila fisik menyatakan tidak, ada hati yang selalu jujur melalui air mata
“ini obat yang sudah ku resep, makan lah 3x1 hari. Untuk menahan tumbuh kembang kanker itu. Ini masih stadium awal, masih ada waktu untuk mengobati nya… jangan takut ami” ucap Miranda memegang tangan amira yang sejak menatap kertas itu, sudah putih membisu
“mungkin, aka nada beberapa tanda yang mungkin hadir lebih serius akhir akhir ini, keram, sakit perut, darah haid yang tidak teratur…kita harus segera mengangkat nya. Harus…” lanjut Miranda meminta amira agar setuju permintaan nya
“kalau aku setuju pengangkatan kanker ini, apkah ada efek yang lebih serius?” Tanya amira mengangkat wajah nya, ada tangis di pipi nya
“kesulitan mendapat kan keturunan” jelas Miranda membuat amira menggeleng tidak mau
“tidak!” tolak nya tanpa berpikir
“aku tidak akan mau!” tambah nya kemudian berdiri dari sana. Tidak mau mendengar penjelasan lebih dari Miranda selaku dokter yang memeriksa nya. Miranda bisa paham kalau amira mendapat emosi yang tidak stabil karena masalah ini,
Namun Miranda juga tidak bisa memaksakan kehendak dari amira… biarkan dia meluapkan emosi sendiri.
Amira masuk kedalam mobil dari berlari tidak jelas di lorong rumah sakit. Dia membawa kertas diagnose, sambil bertabur air mata, tanpa bisa terisak,,,
Ia menancap gas mobil nya, pergi dari sana, dan berharap tidak pernah kesitu lagi,
Berat memang mendapat pernyataan begitu. Tapi,,, begitu lah takdir berkehendak…
Amira melajukan mobil nya dengan laju kecepatan tinggi, melewati area hutan lindung yang sangat sepi, hanya ada beberapa mobil yang berlalu lalang. Dia hendak pergi ke apartemen nya,
Namun di depan rumah nya ada mobil hansel yang terparkir.
Panggilang telepon dari hansle berulang ulang di tolak,
Seperti nya hansel tau kalau amira sedang tidak baik baik saja, firasat seorang teman?
Lira, asisten pribadi nya pun ikut menelepon amira berkali kali, atau ada sesuatu yang lebih penting?
Amira mengabaikan nya,
Di perjalanan dengan laju yang cepat itu, tidak sengaja amira melihat seorang kakek tua yang terjatuh dari kursi roda. Berniat untuk naik ke kursi rodanya, namun sulit.
Awalnya amira acuh pada kakek itu, tapi…
Amira masih memiliki rasa kemanusiaan, dia memundurkan mobil nya. Melap air mata yang jatuh begitu saja, keluar lalu membantu kakek itu
“mari saya bantu kek” begitu gumam amira pada lelaki renta yang tampak sulit bernafas
Amira berkali kali melihat sekitar, area perumahan yang snagat sepi. Bahkan satpam nya saja sedang tidak di tempat…mungkin sedang ada pekerjaan lain
“kakek….” Panggil amira berkali kali, berusaha membalikkan tubuh kakek itu
“emm, maaf. Kakek…?” panggil amira sekali lagi lalu melihat kea rah wajah lelaki tua itu, kemudian tampak lah wajah yang sangat pucat dan sulit bernafas.
Amira syok, tidak bisa melakukan apa apa selain membopong lelaki tua itu ke mobil nya. Satu satu nya cara adalah membawa kakek itu ke rumah sakit.
“tapi dimana?” panic nya bergumam terhadap dirinya sendiri
Mau tidak mau, amira membawa lelaki tua tadi ke rumah sakit tempat dia check tadi.
“calm amira… ini hanya rumah sakit!” tegas nya dalam diri kemudian memanggil salah satu staff medis untuk membawakan bed untuk kakek itu
“tolong saya!” pinta amira pada seorang perawat wanita kemudian menjelaskan apa yang terjadi
Tampak perawat itu panic setelah melihat apa yang terjadi dengan kakek kakek itu.
“apakah anda keluarga nya?” Tanya perawat itu, sambil mendorong bed nya
“tidak, saya tidak ada ikatan keluarga dengan kakek ini. Saya menemukan nya di jalan” jelas amira menahan tangis, ikut panic akibat perawat itu
“kami butuh membawa kakek ini ke ruang ICU,” jelas si perawat
“berapa pun biaya nya, tolong kakek ini!” ucap amira tidak segan, membuat perawat dan dokter yang baru datang mengangguk
Entah lah, perasaan nya sangat kacau.
Oleh dirinya sendiri, juga karena sikap kemanusiaan nya…
**
**
**
Salam hangat
Ismi hana rizky
maaf ya
karena udah beberapa hari ga update,
minggu lalu saya ujian akhir, jadi fokus kesana dulu.
sekalian nabung episode, Terima kasih sudah membaca,
ismi hana rizky 💚💚💚
tetap semangat berkarya buat author..
semoga amira sembuh dan semua berakhir bahagia 💖💖💖