Status adik angkat tak pernah membuatku aman dari mereka."
Bertransmigrasi ke tubuh figuran yang diangkat anak oleh keluarga Sterling, Ceira berniat kabur dari alur novel. Namun, jiwa barunya yang tangguh justru memicu obsesi gelap Kaiser dan King Sterling.
Satu tubuh adik angkat, dua raga kembar, dan empat jiwa penguasa yang terobsesi mengunci hidupnya. Lari bukanlah opsi saat jerat liar mereka sudah mengunci mati.
"Mampukah dia lolos dari jerat liar mereka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Koridor Kampus, Tamparan Telak, dan Tiga Sekutu Tak Terduga
Pagi hari di Universitas Metropolitan seharusnya menjadi lembaran baru yang tenang bagi siapa saja yang menginjakkan kaki di gerbangnya. Namun, bagi Ceira, kebebasan semu yang ia dapatkan hari ini harus dibayar dengan harga yang mahal. Setelah turun dari mobil sedan mewah berkeamanan tingkat tinggi yang mengantarkannya pagi itu, dengan bibir yang masih sedikit membengkak, kebas, dan napas memburu akibat ulah brutal si kembar di dalam perjalanan, Ceira harus segera menghadapi kenyataan pahit lainnya. Statusnya sebagai primadona baru yang datang dengan pesona dingin yang memikat langsung memicu badai kecemburuan yang luar biasa dari orang-orang di sekitarnya.
Langkah kaki Ceira yang anggun namun penuh kehati-hati saat menyusuri koridor lantai dua fakultas hukum mendadak terhenti. Koridor yang tadinya ramai oleh lalu-lalang mahasiswa tiba-tiba terasa menyempit ketika jalurnya sengaja diblokir oleh dua sosok wanita yang paling ia kenal dan paling ingin ia hindari di dunia ini: Audrey dan Clara.
Audrey berdiri dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan aura permusuhan yang sangat kentara. Sorot mata birunya menatap Ceira dengan kebencian yang sudah mendarah daging, seolah-olah kehadiran gadis itu di kampus ini adalah sebuah kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkan. Di belakang Audrey, Clara berdiri bersidekap dengan senyuman meremehkan yang tersungging di bibirnya, menatap Ceira dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan menghina.
"Wah, lihat siapa yang akhirnya berani keluar dari sangkar emasnya," cetus Clara dengan nada suara yang sengaja dibikin nyaring dan melengking, menarik perhatian puluhan mahasiswa lain yang tengah berlalu-lalang di koridor fakultas. "Mentang-mentang sudah berhasil memperdaya Tuan Muda Sterling dengan trik murahan dan wajah polosmu itu, sekarang kamu berani tebar pesona, pasang sok jual mahal, dan berjalan di sini seolah-olah kamu adalah pemilik kampus ini, hah?"
Ceira menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak emosi di dadanya yang mulai memanas. Di balik kacamata berbingkai tipis yang membingkai wajah cantiknya, sepasang mata bundar Ceira menatap tajam tanpa menunjukkan secercah rasa takut pun.
"Kalau kalian sengaja datang ke sini cuma buat mencari keributan yang tidak penting, lebih baik cari tempat lain, Audrey," balas Ceira dengan suara dingin namun tenang. "Aku tidak punya waktu sedikit pun untuk meladeni omong kosong dan keirian kalian yang tidak berujung." Lanjutnya dengan nada santai dan tenang.
Mendengar jawaban yang begitu tenang namun telak dari Ceira, dada Audrey langsung naik-turun menahan amarah yang meledak-ledak. Harga dirinya sebagai seorang wanita dari kalangan elit yang posisinya sebagai tunangan digantikan terasa diinjak-injak begitu saja di hadapan banyak orang. Dengan langkah penuh amarah, Audrey maju beberapa langkah dan langsung mencengkeram lengan baju Ceira dengan kasar.
"Jangan sombong kamu, Ceira!" desis Audrey penuh racun, suaranya bergetar hebat menahan geram yang membakar ubun-ubun. "Kamu pikir Kaiser dan King benar-benar mencintaimu sepenuh hati? Sadarlah posisimu! Kamu itu cuma boneka peliharaan! Mainan kotor yang dipungut dari jalanan untuk memuaskan hasrat gelap mereka! Suatu saat nanti, kalau mereka sudah bosan dan muak denganmu, kamu pasti akan dibuang begitu saja ke jalanan kotor dengan cara yang paling mengenaskan!"
Ceira merenggut lengannya, menepis tangan Audrey dengan gerakan tegas dan penuh wibawa. Sorot matanya berubah semakin dingin menusuk. "Simpan saja rasa iri dan kebencianmu itu untuk dirimu sendiri, Audrey. Sekalipun aku dianggap boneka di mata mereka, kenyataannya saat ini kamulah yang terus merengek-rengek tidak terima karena tidak pernah diizinkan menyentuh mereka lagi."
Plak!
Suara tamparan nyaring nyaris saja menggema di udara koridor yang mulai senyap oleh ketegangan. Namun, sebelum telapak tangan Audrey sempat mendarat di pipi mulus Ceira, sebuah tangan lain dari arah samping dengan sangat sigap bergerak maju dan mencekal pergelangan tangan Audrey dengan cengkeraman yang kuat.
"Wah, wah... pagi-pagi buta begini hobinya malah main fisik aja nih dua ular betina kurang kerjaan," sebuah suara celetukan santai namun terdengar tegas memecah keheningan koridor.
Ceira menoleh dengan mata sedikit membelalak kaget. Seorang mahasiswi berambut sebahu dengan gaya penampilan yang modis dan penuh percaya diri—Viona—berdiri tepat di sampingnya. Sementara itu, di sebelah Viona, dua orang gadis lainnya yang juga merupakan mahasiswi baru, Bella dan Rara, langsung merapat untuk melindungi tubuh Ceira dari kerumunan mahasiswa yang kini mulai berkerumun menonton drama tersebut.
Viona menghempaskan pergelangan tangan Audrey dengan ekspresi jijik yang sangat jelas, lalu menatap tajam bergantian ke arah Audrey dan Clara.
"Mau jadi ratu drama sinetron atau apa kalian berdua hah? Nggak malu bikin keributan murahan di tengah koridor kampus elit seperti ini? Kalau iri bilang, bos! Jangan jadi orang yang norak dan memalukan di depan umum," semprot Viona tanpa filter.
Clara mendengus geram, wajahnya memerah karena malu mendapati diri mereka diserang balik di hadapan banyak mahasiswa. Ia buru-buru menarik lengan Audrey yang masih tertegun syok akibat intervensi tak terduga itu. "Lihat saja kalian! Urusan kita belum selesai di sini, Ceira!" ancam Clara penuh emosi sebelum akhirnya berbalik dan menyeret Audrey pergi dari koridor dengan langkah tergesa-gesa.
Begitu kedua pengganggu itu lenyap di balik tikungan lorong, ketegangan yang tadinya mencekam perlahan-lahan mencair. Viona langsung membalikkan badannya, memasang senyuman lebar yang hangat ke arah Ceira sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Kenalin, aku Viona. Ini sahabatku Bella, dan itu Rara," sapa Viona ramah tanpa ada kecanggungan sedikit pun. "Tadi aksi pembelaan diri kamu keren banget, dingin tapi nusuk langsung ke jantung lawan. Mulai sekarang, kamu resmi temenan sama kita bertiga ya! Biar nggak ada lagi makhluk-makhluk julid yang berani main-main atau menindas kamu di kampus ini."
Ceira tertegun sejenak di tempatnya. Selama bertahun-tahun hidup dalam isolasi, ancaman, dan kurungan tanpa belas kasihan dari keluarga Sterling, tidak pernah ada satu pun orang yang dengan tulus mau membelanya dan melindunginya seperti ini. Sebuah senyuman tulus yang sudah sangat lama tidak pernah muncul akhirnya terukir indah di bibir Ceira, membuat pesona alaminya kian terpancar nyata di hadapan ketiga gadis itu.
"Aku... Ceira," balasnya pelan dengan suara lembut, menyambut uluran tangan Viona.
Hari itu, di tengah himpitan rantai gelap pengekangan yang mengurung hidupnya, Ceira untuk pertama kalinya merasakan secercah kehangatan persahabatan yang tulus, meski ia tahu betul bahwa badai besar dari si kembar dan Audrey pasti akan segera menghantam hidupnya begitu malam tiba.
aku tunggu👍👍👍👍
semangat......
gak jdi tuker tempat ma kamu ah..atutt 🤣🤣🤣🤣 jiwa halu ku meronta 😩😩
aahhh...gak sabar up lgi..👏👏👏
Semangat