NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA

SUAMI PILIHAN PAPA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rahmania Hasan

Naura adalah putri semata wayang pak Malik, memiliki paras yang cantik, dia tumbuh tampa merasakan kasih sayang seorang ibu. Pak Malik yang khawatir dengan hidup putrinya kelak ketika dia sudah tiada lagi dunia ini, meminta teman lamanya ketika mereka menuntut ilmu di pesantren dulu.
Pilihannya jatuh pada sosok pria sederhana, namanya Hasan. Pria itu sebenarnya tidak pendiam tapi dunia mereka yang berbeda membuat mereka tidak mudah untuk saling dekat.
Perasaan itu mulai tumbuh diantara keduanya tapi tidak ada yang berani memulai. Sampai akhirnya Naura tak bisa lagi menahan perasaannya, dia mencoba mengambil inisiatif dan terus berupaya memberikan signal - signal cinta. Namun Hasan yang ragu dan takut salah mengartikan isyarat itu justru menghindar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

CAPTER 10

MALAM PERTAMA SEBAGAI SUAMI ISTRI

Hasan taba-tiba terbangun dari tidurnya, matanya melirik arloji di pergelangan tangan.

“Lah kok wes sore.” Gumannya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Matanya menoleh ke arah Naura yang sedang tertidur pulas di atas kasur empuk. Naura tidur dengan posisi meringkung sambil memeluk bantal guling dengan erat.

Hasan mendekatinya dan menyelimutinya, tangannya mengelus kepala Naura dengan lembut.

“Pas tidur imutnya bikin adem tapi kenapa bangunnya makan hati terus,” Guman Hasan.

Merasakan sesuatu bergerak dikepalanya, Naura menggeliat dengan imutnya dan tangannya meraba – raba rambutnya untuk memastikan sesuatu yang dirasakan tadi. Mendapati tingkah polos Naura ketika tidur timbul dibenak Hasan untuk menggodanya. Tangannya kembali menyentuh Naura, kali ini hidung menjadi sasarannya. Dia memencet hidung Naura supaya dia tidak bisa bernafas. Sontak nafas Naura pun megap-megap, Hasan tertawa geli namun dia segera melepaskan. Dia takut Nuara terbangun dan langsung menendangnya.

Dia mengamati setiap sudut kamar Nuara, matanya tertarik untuk melihat lebih dalam ruangan di seberang, sebuah ruangan tanpa daun pintu. Dia pun melangkah kesana, matanya tertegun tak kala melihat isi ruangan itu. Sambil menggeleng-gelengkan kepala dia mengamati satu persatu lemari dan rak yang tertata rapi.

“Ya Allah apakah hamba mampu membahagiakannya.” Gumannya sambil memegang salah satu koleksi tas Naura.

Satu pendapatnya mengenai Naura, yaitu warna kuning, bahkan dari semua yang tertata rapi di lemari dan rak

lebih didominasi dengan warna tersebut.

“Benar tebakanku...,” Gumannya lagi sambil tersenyum.

Hasan pun teringat dengan sesuatu disaku dalam jasnya. Dia berjalan keluar dari ruangan itu dan berjalan

ke arah sofa dimana dia meletakkan jasnya tadi siang. Dirabanya saku dalam jas untuk memeriksanya.

Mendengar suara ketukan pintu dari luar, dia segera berjalan kearah pintu dan membukanya. Senyum lebar tersemat ketika mendapati Hasan membuka pintu kamar itu. Bik Siti mengamati Hasan dari ujung atas sampai ujung bawah.

“Masih lumayan rapi." Batinnya.

“Iya bik ada apa?,” tanya Hasan menghentikan intimidasi bik Siti padanya.

“Ohh...iya Den ini.” Sambil menyerahkan tas.

“Apa ini bik?,” tanya Hasan penasaran.

“Tadi Bapak minta pak Supir buat ngambil pakaian Aden di rumah...sebelumnya Bapak mau nyuruh mas David buat belanja keperluan den Hasan tapi Bapak urungin soalnya belum tahu ukuran pakaian Aden.” Bik Siti menjelaskan dengan detail.

“Ohh....makasih Bik." Hasan tidak tahu harus bicara apa.

Setelah bik Siti tidak terlihat lagi Hasan segera menutup pintu kamar, dia meletakkan tas yang diserahkan bik Siti di sofa. Maklum lah dia bingung harus meletakkan dimana, apalagi sang  empunya kamar masih

tertidur pulas.

Hasan mengambil pakaian dari dalam tas lalu berjalan menuju kamar mandi. Lupa tidak membawa handuk dan perlengkapan mandi, dia kembali keluar dan memeriksa apakah di dalam tas tadi ada handuk dan perlengkapan mandi. ternyata sesuai dengan dugaan, dia tidak mendapati barang yang dicarinya. Segera dia mengambil Hp untuk memesan beberapa barang yang dia butuhkan namun terdengar kembali suara pintu diketuk, Hasan segera membukanya. Dan sekali lagi bik Siti berdiri di depan pintu kamar.

“Maaf Den ini....”

“Apa ini bik?." tanya Hasan sambil memeriksa isinya.

“Perlengkapan mandi dan yang lainnya Den." Lalu pamit kembali ke bawah.

Hasan mengeluarkan perlengkapan mandi dan membawanya ke kamar mandi, setengah jam kemudian dia keluar dengan badan yang sudah segar. Dia menaruh pakaian kotornya menjadi satu di sofa, akhirnya sofa itu terlihat seperti rak pakaian.

Naura terbangun dari tidurnya, dia melihat Hasan tengah sholat. Sambil meraih telepon genggam dia turun dari kasur.

“Kenapa udah sore....” Gumannya sambil memijat bagian belakang kepala dengan tangan kiri.

Selesai mandi dan berganti pakaian Nuara berjalan menuju meja rias, namun sebelum dia duduk di hadapan meja

riasnya, sepintas matanya menoleh ke arah sofa. Hasan yang baru saja selesai sholat dibuat kaget dengan suara teriakan Naura yang melengking. Khawatir orang-orang di bawah mendengar teriakannya dan akan beranggapan yang tidak-tidak. Dia segera bangkit dan menghampiri Nuara.

“Mba-nya kenapa teriak-teriak?!," tanya Hasan.

“Itu lihat...ulahmu kan?!.” bicara dengan ketus sambil menunjuk kearah sofa.

Sambil menundukkan kepala dan mengusap rambutnya Hasan meminta maaf, dia melangkahkan kakinya menjauh dari Nuara.

“Heh...kamu mau kabur kemana?!,” sentak Naura.

“Mba-nya siapa yang mau kabur!," Seru Hasan.

“Cepat singkirkan barang-barangmu itu dari sofaku!,” Perintah Nuara galak.

Hasan tidak menggubris celotehan Naura, sebaliknya dia segera memindahkan semua barangnya ke bawah tepatnya ke lantai samping sofa. Naura memperhatikan Hasan ketika meletakkan barang-barang itu tapi dia sama sekali tidak peduli.

“Mba saya keluar bentar ya!.” Pamit Hasan.

“Keluar kemana?!,” tanya Naura ketus.

“Ada urusan bentar sama teman.” Terpaksa berbohong, tujuan sebenarnya adalah karena perutnya lapar.

“Ok tapi sebelum adzan magrib udah harus disini.” Naura mencoba mengontrol suaminya.

“Iya Mba inshaallah nggak lama kok,” Ucap Hasan.

Setelah memesan taksi dia keluar kamar dan menunggu grab dipintu gerbang sambil mengobrol dengan satpam yang berada di pos. Tak lama kemudian grab car tiba, setelah pamit pada pak Satpam dia segera masuk ke dalam mobil dan mobil itu pun melaju meninggalkan kediaman pak Malik. Hasan memesan grab untuk kembali ke rumahnya, mengambil beberapa buku dan juga sepeda motornya.

“Lho mas kok sendirian?.” sapa Ilham begitu Hasan turun dari mobil.

“Iya mana mba Nauranya Nas...kok nggak diajak.” Sembur Andik.

“Dia lagi istirahat.” Jawab Hasan dengan santainya.

“Wiuhhh langsung tancap gas pean Mas?.” Ledek Andik.

“Hehh kunyuk...bocah gendeng ngeres aja pikirannya!." Sembur Hasan sambil berjalan menuju kamar.

Setelah selesai mengemasi buku-bukunya dia keluar dan menemui Andik dan Ilham yang tengah duduk diteras rumah.

“Mas titip rumah ya...jaga yang bener dan jangan lupa harus dibersihkan tiap hari.” pesan Hasan.

“Mas nya beneran bakal tinggal disana?.” tanya Ilham dengan suara sedih.

“Hmmm....maaf ya sepeda motornya Mas bawa.”

“Lho disana kan mobilnya banyak Mas.” ujar Andik.

“Itu kan mobilnya mertuaku bukan punyaku kunyuk...apa kata orang kalau aku yang makek.”

“Paling orang bilangnya berentung banget ya dia.” Ilham berucap.

“Ya Allah kalian ini...sudahlah mas capek mau ladenin kalian, Ham tolong belikan mas mie ayam geh sana.”

“Orang kaya kok makannya tetep mie ayam.” Guman Ilham sambil tertawa.

“Mau dibeliin nggak?!.”

“Asiappp bos ini juga mau berangkat." Sambil bangkit dari duduknya.

“Nihhh kunci motornya.” Melempar kunci motor ke Ilham.

“Dik ikut yuk!." Ajak Ilham.

Setelah beberapa menit lamanya Andik dan Ilham datang dengan membawa pesanan Hasan. Mereka berdua membeli empat bungkus mie ayam untuk dimakan bersama.

“Mas belum makan?.” tanya Ilham

“Hmmmm...” Hasan malas menjawab.

Dari luar Ilyas memasuki rumah dan segera bergabung dengan mereka tanpa menaruh tasnya terlebih dahulu.

“Hmmm...makan sama pengantin baru...moga segera nyusul.” Gumannya

“Pikirannya...kuliahmu itu lulusin dulu baru mikir yang lainnya.” Hasan menasehati.

“Tentu mas....” ujar Ilyas sambil menyendok mie ayam.

Hari sudah semakin gelap dan matahari mulai terbenam, ingat dengan ucapan Naura yang membatasinya. Hasan langsung bangkit, dengan tergesa-gesa dia berlari keluar dan segera menghidupkan sepeda motor. Sepeda motor itu melaju dengan kecepatan maksimal, menembus jalanan yang mulai padat dengan kendaraan-kendaraan yang ingin segera tiba dirumah sama seperti dirinya.

Dari balkon kamar dilantai dua Naura terus menatap keluar, hatinya gusar menunggu kedatangan Hasan. Namun senyumnya terlukis ketika melihat ke bawah dimana Hasan berjalan memasuki rumah dengan bawaan yang cukup berat ditangannya.

“Apa itu?." tanya Naura begitu tiba didalam kamar.

“Ohhh ini...bukan apa-apa mba cuma buku doang.”

“Boyongan nih ceritanya!.” Ledek Nuara.

“Iya mba?!.” berlagak tidak dengar.

“Boyongan kesini!."

“Maksud mba Naura apa ya?!." sedikit tersinggung.

“Maksudku dirimu boyongan kesini!.”

“Maaf mba sebenarnya aku nggak berniat tinggal disini, tadinya aku mau bawa mba Naura pulang kerumahku tapi bapak minta aku buat tinggal disini.”

“Iya iya nggak usah dijelasin, papa udah ngomong ke aku.”

Hasan diam seribu bahasa, dia tidak ingin menambah kesal hatinya dengan menjawab setiap ucapan Naura yang pedas. Dia meletakkan kardus yang berisi buku itu bersama dengan barang-barangnya yang lain. Semua barang ditumpuk menjadi satu dilantai sebelah sofa persis seperti tempat  pengungsian.

Adzan magrib berkumadang Naura dan Hasan segera turun kebawah untuk menunaikan sholat magrib berjamaah.

Diruang sholat tampak pak Malik sudah menunggu mereka berdua, tampak juga bik Siti dan pak supir juga sudah menunggu.

“Nak...ayo jadi imam.” Pinta pak Malik.

“Maaf Bapak yang lebih...,” Ucapan Hasan terpotong.

“Mulai sekarang mantuku yang ngimamin pak Said.” Ujar pak Malik memotong omongan Hasan.

Hasan tidak bisa menolak lagi, segera dia mengambil posisi paling depan untuk menjadi imam.

Setelah selesai sholat sambil menunggu sholat isya’ Hasan kembali ke atas untuk mengaji sebentar lalu memeriksa beberapa makalah yang diserahkan beberapa hari sebelum dia mengajukan cuti oleh muridnya di kampus.

Sementara itu pak Malik meminta Naura untuk membantu bik Siti menyiapkan makan malam di dapur. Pak Malik sengaja meminta putrinya itu dengan tujuan mengajarkan padanya tanggungjawab sebagai istri dan juga untuk mengingatkan pada putrinya kalau dia sudah menikah dan menjadi istri seseorang. Sebelum menikah biasanya Naura pergi keluar bersama dengan teman-temannya dan pak Malik kurang suka dengan kebiasaan itu.

“Na...bantu bik Siti sana didapur.”

“Ihhh males ah Pa!.”

“Jangan gitu...Nana kan udah nikah jadi harus belajar masak.” pak Malik menasehati.

“Kan udah ada bik Siti!.” Sanggah Naura.

“Masakan istri itu bisa semakin menumbuhkan rasa cintanya suami.” Ujar pak Malik.

Dengan langkah berat Naura pergi ke dapur untuk membantu bik Siti masak. Pak Malik hanya tersenyum melihat sikap putrinya, sambil berharap suatu saat nanti Naura menjadi wanita yang lebih dewasa.

“Bibik lagi masak apah nih?!.”

Suara Naura mengagetkan bik Siti yang tengah menumis bumbu, ledatangan Naura mengingatkan bik Siti pada

jamu yang dia simpan dikulkas. Segera dimembuka kulkas dan mengeluarkan jamu itu.

“Ihhh bibik itu lagi!.” Protes Naura.

“Ini  baik buat kesehatan mba Naura, biasanya banyak yang ngedrop pas lagi jadi manten baru.” Ujar bik Siti.

“Bibik ngomongin apa sihh.”

“Iya deh Non...ayo sini kalo mau bantu bibik”

Sambil menahan kekesalannya Naura berjalan kearah bik Siti dan mulai membantunya menyiapkan makan malam.

Naura yang baru pertama kali datang kedapur untuk memasak terlihat bingung dan kesulitan.

“Makanya Non jangan cuma bantu beres-beres dapur aja.” Ledek bik Siti.

“Bibik diam dehh?!.”

“Iya iya bibik diam.”

Hasan yang sudah selesai segera turun kebawah dan bergabung dengan pak Malik yang duduk santai diruang

tengah sambil melihat berita bisnis di TV. Dari arah dapur terdengar kebisingan suara Naura yang terus meminta instruksi dari bik Siti.

“Dimaklumi aja Nak...ini pertama kalinya dia masak.” Ujar pak Malik yang mengetahui kalau Hasan menoleh ke dapur.

Hasan tidak merespon ucapan pak Malik, dia hanya tersenyum malu karena ketahuan mengamati sang istri. Dengan langkah pelan dia mengambil posisi duduk tak jauh dari pak Malik.

“Gimana ngajarnya dikampus?!." pak Malik mengawali.

“Lumayan padat Pak....” jawab Hasan

“Jangan panggil pak, panggil papa aja sama kayak Naura.” Pinta pak Malik.

“Iya Pak...ehh maksud saya Pa."

Sementara itu dari arah dapur terdengar kesibukan yang tidak seperti biasanya, bahkan bik Siti yang sudah

piawai dalam urusan masak memasak dibuat kalang kabut oleh Naura. Masakan yang harusnya sudah siap jadi berantakan semua. Mulai dari cara memotong yang salah, bumbu yang ditumis gosong hingga salah masukin bahan-bahan yang akan dimasak membuat kepala bik Siti mau pecah.

“Aduh Non!." Keluh bik Siti.

“Jangan gitu dong Bik...dikira aku nggak capek apa!.”

“Iya iya....” sambil memasukkan cumi yang sudah dibaluri dengan tepung kedalam wajan.

“Sini Bik aku yang goreng.” Pinta Naura.

“Hati-hati ya Non biar nggak kecipratan minyaknya” bik Siti mengingatkan.

“Iya Bik!."

Namun baru semenit bik Siti mengingatkan, Naura yang tidak tahu kalau spatula itu panas memegangnya dengan tangan telanjang. Seketika dia menarik tangannya dan membuat spatula jatuh mengenai betis dan juga cipratan minyak mengenai lengannya. Mendengar jeritan Naura seketika Hasan bangkit dan berlari ke dapur.

“Ada apa mba?!.” tanya Hasan panik.

Naura menunjuk lengan dan betis kakinya yang memerah akibat cipratan minyak dan spatula panas dengan wajah sedih. Dengan cekatan Hasan langsung mencari garam lalu mengoleskan garam dibetis dan lengan Naura yang memerah.

“Awwww...panas.” Teriak Naura sambil mencengkram lengan Hasan.

“Ditahan ya...kalau nggak dikasih garam entar melepuh.”

Mendengar kata melepuh Naura langsung menangis seperti anak kecil, Hasan yang tidak tega melihat air mata istrinya langsung membopongnya.

“Ini semua gara-gara kamu!.” Sambil menangis.

“Kok aku...aku kan nggak ikutan masak.” Timpal Hasan.

“Kalau aku nggak nikah...aku nggak bakal masak!."

“Iya iya mas yang salah." Mencoba menenangkan Nuara.

“Dudukkan disitu aja Nak.” ujar pak Malik sambil menunjuk kearah kursi yang mereka duduki sebelumnya.

Sesuai instruksi pak Malik Hasan merebahkan tubuh Naura dikursi. Lalu meminta bik Siti membawakan garam

lagi.

“Aduhhh panas...aku nggak mau itu!.” Rengek Naura.

“Awalnya emang panas tapi nanti lukanya cepet kering nggak melepuh.” Hasan menjelaskan.

Naura tetap menangis meratapi kulit yang dia rawat dengan rajin, bahkan tidak membiarkan nyamuk menggigitnya sekarang malah kena air panas.

“Gimana ma kulitku....” Keluhnya.

“Kedokter ya.” Ajak Hasan.

Naura menggelengkan kepala, tangisnya sudah tidak senyaring sebelumnya.

“Pak maaf saya titip Adek sebentar...saya mau ke apotek dulu beli salep.”

“Iya Nak hati-hati ya dijalan."

Dengan mengendarai sepeda motor dia segera pergi ke apotek terdekat untuk membeli salep. Tak lama kemudian dia kembali dengan menenteng kresek kecil yang berisi salep. Lalu menerpakan salep itu dibagian tubuh Naura yang terkena minyak dengan sangat hati-hati.

Sementara itu bik Siti yang diminta pak Malik untuk kembali ke dapur sudah selesai menyiapkan makanan. Dia menata satu-persatu makanan diatas meja makan.

“Pak makan malamnya sudah siap.” Bik Siti datang untuk memberi tahu.

“Ohhh iya makasih Bik.” Jawab pak Malik.

Setelah selesai makan malam, Hasan pamit untuk kembali keatas. Sambil menuntun Naura dia berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka. Dengan sangat hati-hati Hasan membantu Naura merebahkan tubuhnya dikasur.

“Kalau besok nggak kering kita bawa ke dokter ya.” Ucap Hasan dan Naura mengangguk.

Lalu Hasan berjalan menuju sofa, membuka laptop dan mulai membenamkan diri dengan pekerjaannya. Sesekali dia menoleh ke arah Naura yang sedang terbaring.

Rasa kantuk mulai hinggap dan mulutnya beberapa kali menguap, mendapati matanya sudah berat dia pun mematikan laptop. Lalu bangkit dari sofa untuk mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur. Sebelum kembali ke sofa dia menoleh ke Naura, mengira gadis itu sudah tertidur pulas. Hasan melangkah mendekatinya, tangannya mengusap rambut Naura dengan lembut. Lalu pelan namun pasti dia membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya kearah kepala Naura dan memberikannya ciuman hangat.

Naura yang masih belum terlelap merasakan getaran disekujur tubuhnya ketika ciuman itu mendarat. Jantungnya berdetak hebat bahkan dia pun bisa mendengar suara detak jantungnya dari luar dan berharap Hasan tidak mendengarnya.

1
F2h 29
Lumayan
Bungatiem
aku baca udah ke 4x. tapi pas cerita nya udah mulai melintir ga karuan aku ga lanjutin lagi.
Triwoel Andari
Hasan ngasih mahar ke Naura d episod ke brapa yah.. apa aku yg kelewatan ngebaca nya atau gimana yah...???
Hani P Hani
soweet jadi penggen jadi naura😍😍😍
Hani P Hani
ahirnya mereka bersatu semoga ini menjadi awal yang baik
Hani P Hani
alhamdulilah
Myra Azmoro
Si naura kelewatan ,, Hadeeww episode ini banyak mengadung bawang bikin hati sesak
Yuni
i
나의 햇살
gimana cowok suka sama kamu, orang kamu aja calon pelakor karena kalah saing sama Naura
Jusmiati
enaknya Naura, masak suaminya terus yg berjuang, kalau sy jadi Hasan, sdh sy tinggalin tuh nauranya, cari wanita yg lebih berfikir dewasa....😔😔😔
Yeni Rubianti
berbagi ilmu
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Busyetttt dch nih novel bikin begadang,dtambah nangis lagi gue bacanya 😭😭😭
Linda Erma
Bagus bgt critanya,dr tadi bikin mewek mulu 😭😭😭
Linda Erma
Critanya bikin aku mewek bgt 😭😭😭
Linda Erma
Sedih bgt ya 😭😭😭
Linda Erma
Yahhh aku nangis,Naura harusnya bersyukur punya suami yg sabar kyk hasan
Muda MACMUDAH
bagus thor cm sayang kurang lengkap klo g ada ilham jg
Muda MACMUDAH
yg cewek kurang cantik kak soalnya yg cowok tampan abis🤭
Heny Purwati
naura knp egomu tinggi...sampai" tak menyakini ketulusan suami sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!