NovelToon NovelToon
Mencintaimu Menyakitkan

Mencintaimu Menyakitkan

Status: tamat
Genre:Patahhati / Lari Saat Hamil / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Indriani Sonaris

Aiden yang telah terbiasa menikmati rasa sakit karena mencintai Agneta. Ia sudah menutup hati untuk wanita manapun. Menjadi sosok yang dingin dan begitu tak tersentuh.
Sejak Agneta memilih Davero, ia memilih pergi menjauh meninggalkan Indonesia. Dan mulai menetap di Negara A tepatnya di kota N dan mulai merintis kariernya di sana.
Tetapi takdir mempertemukan dirinya dengan masalalunya. Masalalu yang merupakan kesalahannya...
Catherin....
Akankah Catherin meluluhkan hati Aiden, dan menggantikan posisi Agneta di dalam hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indriani Sonaris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Saat ini Aiden duduk di sofa yang ada di rumah keluarga Wiratama. Setelah

pemakaman Elena kemarin, Devara memaksanya untuk datang kemari, entah akan

membahas apa.

                “Kau sudah datang?”

tanya Dave yang baru saja datang dengan setelah casualnya dan duduk di atas

sofa yang ada di hadapan Aiden.

                “Ada apa kamu

memanggilku kemari?” tanya Aiden.

                “Bukan aku. Aku juga di

minta datang oleh Devara,” seru Dave dengan tenang.

                Aiden tidak menjawab

dan memilih diam saja. Suasana di sana menjadi begitu canggung. Dave duduk

dengan angkuh, sebelah kakinya ia angkat ke atas lututnya sendiri.

                Aiden hanya duduk

dengan tenang dan memalingkan wajahnya dari Dave.

                Ya, mereka berdua

memiliki karakter yang berbanding terbalik.

                “Jadi, bagaimana

kabarmu di sana, Kakak?” tanya Dave.

                “Baik. Semuanya jauh

lebih baik dari sebelumnya.” Aiden berucap dengan penuh penekanan.

                “Aku senang

mendengarnya.” Dave tersenyum kecil.

                Tak lama Devara datang

menghampiri mereka.

                “Kalian sudah datang

ternyata,” serunya dan duduk di antara mereka.

                “Langsung jelaskan

saja, Vara. Aku berniat akan langsung kembali sore ini,” ucap Aiden.

                “Kenapa buru-buru

sekali?” tanya Devara.

                “Ada banyak pekerjaan

di sana,” ucap Aiden.

                “Baiklah.” Devara

membuka berkas di tangannya. “Aiden, aku dan Dave sudah berunding dan pengacara

keluarga kita juga sudah mengetahuinya. Karena kebetulan pagi ini, Mr. Bramono

ada keperluan, jadi kita bicara ini tanpa ada pengacara.”

                “Apa ada masalah?”

tanya Aiden mengernyitkan dahinya. “Atau orang tuaku masih memiliki utang?”

                “Tenang dulu, Kakak

Sepupu. Kenapa kamu begitu emosional?” seru Dave dengan tenang menyeduh minuman

yang baru saja di sediakan oleh asisten rumah tangga.

                “Tidak ada utang

apapun, Aiden. Mengenai utangorang tua mu, perusahaan Wiratama sudah

melunasinya,” seru Devara. “Dan ini adalah sertifikat rumah keluargamu yang

sempat di sita bank. Kami telah menebusnya.”

                “Dan berkas ini adalah

berkas kepemilikan 40% saham PT Wiratama. Dan telah kami rubah atas namamu.

Kamu hanya perlu menandatangani nya saja.”

                “Apa ini sejenis

sumbangan bantuan?” seru Aiden menatap dua berkas di atas meja.

                “Eh?”

                “Ck, sudah aku bilang

Vara. Kakak sepupu mu ini hanya akan berpikiran negative pada kita. Dia mana

mau menerima semua kebaikan ini,” ucap Dave.

                “Diamlah Dave,” seru

Devara. “Ini bukan sumbangan, Aiden. Kamu adalah pewaris dari keluarga Wiratama

juga. Aku hanya ingin bersikap adil. Itu memang hak kamu,” ucap Devara.

                “Sahamku di Wiratama

adalah 30% begitu juga dengan Dave. Kami membagi seperti ini karena kamu adalah

Kakak kami. Cucu sulung dari keluarga Wiratama.” Jelas Devara.

                “Sekarang ini Dave

sudah tidak mengurus WT corp lagi. Aku juga sebenarnya hanya ingin menjadi Ibu

Rumah Tangga. Kalau kamu mau, kamu bisa kembali WT Corp dan mengambil alih

posisi direktur utama.”

                “Aku datang ke sini

hanya untuk menemui Ibu ku. Aku tidak berminat menetap maupun kembali ke

perusahaan,” ucap Aiden.

                Devara dan Dave saling

bertatapan.

                “Apa kamu sudah bulat

dengan keputusanmu?” tanya Devara.

                “Ya Vara, aku merasa

kehidupanku sekarang adalah di sana,” ucap Aiden.

                “Begini saja, mungkin

kamu masih perlu memikirkannya. Untuk sementara aku yang akan mengambil alih

perusahaan. Sampai kamu datang dan siap kembali memimpin perusahaan.” Aiden

hanya terdiam saja.

                “Kenapa kalian

melakukan ini? Orangtuaku hampir membuat kalian celaka,” seru Aiden.

                “Karena kita ini

keluarga. Biarkahlah masalah mengenai orang tua kita. Mereka sudah tenang di

alam sana. Dan aku tidak ingin hubungan kekeluargaan kita pun jadi hancur

seperti mereka,” ucap Devara.

                Aiden masih terdiam.

                “Apa kamu masih

membenciku?” tanya Dave kembali bersuara membuat Aiden menoleh ke arahnya.

                “Masalah itu sudah

berlalu, Dave. Dan aku rasa tidak ada gunanya lagi aku membencimu,” ucap Aiden.

                “Baguslah kalau

begitu.”

                Aiden akhirnya

menandatangani berkas yang di berikan oleh Devara. Aiden tetap belum ingin

kembali ke perusahaan dan menetap di Indonesia. Entah kenapa hatinya tertuju ke

kota N dimana ada dua orang yang membuatnya selalu mengingat mereka.

                “Aku akan pergi sore

ini. Jadi sekarang aku pamit.”

                “Tidak ingin makan

siang bersama dulu?” ajak Devara.

                “Tidak. Lain kali

saja.”

                Aiden berdiri dari

duduknya diikuti Dave dan Devara. Ia berjabat tangan dengan kedua sepupunya

sebelum berlalu pergi meninggalkan rumah yang di tempati Devara itu.

                Langkah Aiden terhenti

saat berpapasan dengan seseorang di pintu utama.

                “Aiden...”

                “Neta...”

                “Ayah Aiden...!” itu

adalah suara Regan yang berlari dari belakang tubuh Agneta dan menerjang Aiden.

                Aiden mengalihkan

tatapannya pada Regan yang kini sudah tumbuh semakin dewasa.

                “Hallo Regan,” seru

Aiden mengusap kepala Regan yang kini tingginya sudah sebatas perutnya.

                “Kapan datang?” tanya

Regan.

                “Sudah tidak cadel

lagi, eh?” seru Aiden membuat Regan terkekeh.

                “Tidak,” kekehnya.

                “Sudah lama tidak

bertemu, kamu semakin tampan dan dewasa saja,” seru Aiden.

                “Iya dong, Ayah Dave

kalah tampannya sama aku,” seru Regan penuh percaya diri.

                Benar - benar putra Dave. Pikir Aiden.

                “Baguslah,” seru

Aiden. “Om tidak bisa berlama-lama disini. Aku akan kembali ke kota N. Kamu

sehat-sehat dan jangan nakal yah,” seru Aiden.

                “Siap!”

                “Aku pergi dulu,

Neta.”

                “Iya.”

                Aiden beranjak

melewati kedua orang yang pernah singgah dalam kehidupannya 5 tahun lalu.

                Tetapi rasa itu sudah

tidak ada. Debaran itu sudah hilang. Dan Aiden tidak merasakan sesak maupun

beban apapun lagi saat pergi meninggalkan semuanya kali ini, berbeda dengan 5

tahun yang lalu.

5 hariberlalu tanpa

Aiden membuat Catherine merasa tidak bersemangat. Aiden benar-benar

mempengaruhi dirinya. Sebelum bertemu kembali dengan Aiden, ia mampu berpijak

dengan kedua kakinya penuh ketegaran. Menghabiskan waktu selama 5 tahun fokus

pada putrinya juga pekerjaannya. Tetapi setelah kembali bertemu dengan Aiden,

hatinya kembali rapuh. Tembok yang ia bangun telah hancur dan membuatnya

kembali lemah. Tak bisa ia pungkiri lagi kalau ia kembali jatuh dalam pesona

juga cintanya Aiden.

                Kenapa dirinya begitu

lemah. Sedangkan Aiden masih terlihat acuh tak acuh pada dirinya. Kenapa harus

merasakan rasa sakit karena cinta bertepuk sebelah tangannya.

                “AH!”

                Catherine memekik

kaget karena tarikan seseorang. Ia melihat sebuah mobil box pengangkut barang

hampir saja menabrak dirinya. Saat itu Catherine memang tengah berjalan-jalan

sediri untuk menghilangkan penat di kepalanya.

                “Kenapa tidak

berhati-hati!” seruan itu membuatnya menoleh ke sumber suara.

                “Aiden? Ka-kamu sudah

kembali?” serunya menatap wajah tampan pria di depannya.

                “Kamu tidak apa-apa?”

tanyanya menyadarkan keterpakuan Catherine. Ia melepaskan pelukan Aiden dan

berjalan mundur.

                “Aku baik-baik saja,”

ucap Catherine.

                “Mobil itu

mencurigakan. Sepertinya dia memang sengaja ingin menabrakmu,” ucap Aiden

menghubungi pihak kepolisian untuk menyelidiki kasus ini.

                Catherine menatap

Aiden yang sibuk menghubungi seseorang. Rasa rindunya kini terobati. Ia pikir

Aiden tidak akan pernah kembali lagi ke sini setelah menemui wanita itu.

                “Ayo sebaiknya kita

tinggalkan tempat ini,” ucapnya menarik Catherine menuju mobilnya.

                “Pihak polisi akan

menyelidiki kasus ini. Aku sudah memberikan plat nomor mobil tadi,” seru Aiden.

                “Kapan kamu kembali?”

tanya Catherine tidak memperdulikan ucapan Aiden.

                “Semalam aku baru sampai.

Apa ada masalah selama aku tidak ada?” tanya Aiden dan Catherine menggelengkan

kepalanya.

                Ingin sekali Catherine

menanyakan beberapa hal selama Aiden di sana tetapi Catherine merasa itu

terlalu lancang.

                “Ibu ku meninggal,”

ucap Aiden membuat Catherine memekik kaget dan menoleh ke arahnya.

                “Tante Elena?”

                “Iya, dia meninggal

karena penyakit jantung,” seru Aiden.

                “Aku turut berduka

cita,” ucap Catherine.

                Suasana pun menjadi

hening kembali tak ada yang membuka suara.

                Apa Aiden bertemu dengan wanita itu...? batin Catherine.

                Aiden baru saja sampai

di apartemen miliknya. Ia memilih duduk di kursi dekat pembakaran. Di tangannya

ada berkas yang di berikan Devara saat itu.

                Helaan napas keluar

dari mulutnya. Ia menyandarkan punggungnya ke kepala kursi dan memejamkan

matanya.

                Kali ini tidak ada

beban apapun yang dia bawa dalam hatinya. Semuanya telah sembuh dan hilang.

Agneta pun tampak bahagia bersama Dave. Mungkin benar mereka sudah di takdirkan

untuk bersama.

                Tetapi kenapa... Aiden

masih merasa takut akan menjalin sebuah hubungan. Ia masih begitu trauma.

                Dering handphone

menyadarkan dirinya. Ia menatap layar handphone nya kemudian mengangkatnya.

                “Hallo...”

                “....”

                “Benar.”

                “....”

                “Sudah menemukan

pelakunya?”

                “....”

                “Baik, aku segera ke

sana.”

                Aiden menutup

sambungan telponnya dan bergegas mengambil mantel hitamnya juga kunci mobilnya

kemudian bergegas meninggalkan apartemennya.

                Kantor Kepolisian...

                Saat ini Aiden baru

saja sampai di kantor kepolisian, ia bergegas masuk ke dalam sana.

                “Selamat malam. Saya

Pengacara Aiden. Dimana pelaku tabrak lari itu?” tanyanya.

                “Silakan masuk ke

dalam ruangan di sana.” Seru petugas yang berjaga di depan.

                Aiden masuk ke dalam

ruangan itu.

                “Catherine? Kau di

sini?”

                Panggilan itu membuat

Catherine menoleh ke belakang.

                “A-aiden?” tubuh

Catherine tampak membeku di tempatnya.

                “Kenapa kamu di sini?”

tanya Aiden.

                “Itu aku...” bibir

Catherine tampak kelu.

                “Selamat malam Mr.

Aiden. Kami telah menangkap pelaku yang hampir menabrak Ny. Catherine dan

penculikan pada Jasmine.”

                “Jasmine?” seru Aiden

dan tatapannya kini kembali tertuju pada Catherine yang membeku.

                “Kamu mengenal

Jasmine? Aku rasa, aku tidak melaporkan kasus mengenai penculikan Jasmine.”

                “Untuk laporan kasus

penculikan Jasmine, memang Ny. Catherine yang membuat laporan.” Catherine

menghela napasnya karena polisi itu terlalu banyak berbicara.

                Aiden menatap ke arah

Catherine yang sepertinya tidak ingin mengatakan apapun.

                “Saya akan mengantar

kalian melihat pelakunya,” seru Polisi itu.

                Aiden dan Catherine

akhirnya sama-sama berjalan mengikuti polisi itu.

                Tak lama mereka pun

sampai  di salah satu sel dimana pria itu

berada. Sel itu memang di peruntukan untuk orang jahat yang baru di tangkap dan

di interogasi sebelum akhirnya

di pindahkan ke dalam sel yang lebih mengerikan.

                “Kau?” pekik Catherine

saat melihat siapa sosok itu.

                “Kamu mengenalnya?”

tanya Aiden.

                “Dia adalah adik dari

suaminya Marinka. Jadi kamu yang selama ini ingin mencelakaiku dan emm

Jasmine?” tanya Catherine sedikit melirik Aiden.

                “Aku muak denganmu,

wanita sialan! Karena ulahmu, Kakakku jadi masuk penjara!” amuk pria itu

mendekati Catherine dan berteriak.

                Spontan Aiden

merangkul pundak Catherine seraya melindunginya. Catherine melirik ke arah

tangan Aiden di pundaknya. Entah kenapa rasanya begitu hangat.

                “Jadi ini merupakan

kejahatan yang di rencanakan,” seru Aiden.

                “Kau pengacara itu!

Semua juga karena ulahmu yang sok pintar!”

                “Jaga sikapmu!” seru

polisi memukul jeruji besi dengan tongkatnya.

                Setelah mengetahui

motif penjahat itu. Aiden dan Catherine bersedia menjadi saksi saat di

pengadilan nanti.

                Saat ini mereka berdua

berjalan bersama keluar dari kantor polisi.

                “Jadi, siapa Jasmine

itu?”

                Deg

1
Siarsazkia Siarsazkia
setelah bertahun ku tunggu akhirnya
Elok Pratiwi
tidak menarik
Amrisa Simatupang
jgn macam macam Aiden,ntar ada mine yg kedua Lo.. nikahi mommy mine dulu
Amrisa Simatupang
ayo mine jgn menyerah... ayo Aiden berjuanglah 🙏😁
Amrisa Simatupang
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
bunda R2
lanjut up lg kak thor,,,udah lama baru up lg😁
bunda R2
👍👍
Amrisa Simatupang
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹😂🌹
Rinnie Hassan Azhoeri
thor ini kenapa di ulang lagi....
maunya sih extra part nya saja thooor....
hehehe maaf yaa....
Susi Yanti
udah , cuma sampai dsn critanya ?
Tulip
Aiden sdh mulai nih mesumnya mau kumat
Tulip
🤣🤣🤣🤣
Tulip
🤣🤣🤣🤣yok kita bentur kepala aiden
Tulip
masak gak tau dg isi hati sendiri aiden... dulu gimana waktu sm agneta terbakar gak lihat agneta sm varo. pengen tak getok tu si aiden
Tulip
e. e. e. masih kok cemburu kan cath kamu anggap sahabat
Tulip
dasar gak peka aiden, masak gak tau alasan cathetrin pergi.
Tulip
merasa ya aiden tersindir. samalah dgmu aiden saat sm cathren menyebutkan nama wanita lain.
Tulip
masak lupa dg kesalahan masa lalu ketika bersama ageta. sungguh terlalu
Tulip
mmmm anknya aiden dg masa lalunya kali ya
faa
bener banget takdir d dunia novel ada d tangan autor😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!