Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A Very Unlucky Tea Party
Pagi harinya, berita mengenai pengangkatan Ye Xinyue sebagai Pengawas Perpustakaan Kerajaan meledak bagaikan gumpalan mesiu yang membakar seluruh Istana Dalam. Jabatan tersebut bukanlah posisi seremonial belaka; itu adalah akses eksklusif menuju pusat dokumen negara dan catatan hukum kekaisaran—sebuah wilayah yang bahkan tidak pernah diizinkan untuk diinjakan kaki oleh Permaisuri sekalipun, apalagi seorang selir tingkat rendah tanpa latar belakang keluarga berpengaruh.
Di Paviliun Anggrek milik Selir Liang, suasana terasa seakan-akan badai akan meletus setiap saat. Cangkir porselen bernilai tinggi hancur berkeping-keping di atas lantai batu setelah dihantamkan oleh Selir Liang sendiri.
"Pengawas Perpustakaan Kerajaan?!" desis Selir Liang dengan mata menyipit penuh amarah yang tertahan. Wajah cantiknya kaku oleh rasa kebiasaan memegang kendali yang mendadak runtuh. "Wanita murahan dari perbatasan itu benar-benar menyembunyikan taringnya di balik topeng penakut! Dia sengaja membuatku memberinya tugas menyalin sutra agar dia bisa bertemu Yang Mulia di Aula Doa semalam!"
"Kakak Selir Liang, ini tidak bisa dibiarkan," kompor Selir Chen seraya mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Jika dia dibiarkan memegang dokumen hukum wilayah selatan, posisi klan kita di wilayah perbatasan bisa terancam jika dia menemukan celah dalam catatan pajak lama!"
Selir Liang menarik napas panjang, merapikan selendang sutranya dengan gerakan patah-patah. "Dia berpikir bisa berlindung di balik jubah Yang Mulia? Jangan harap. Kirimkan undangan ke Kediaman Fenghua sekarang juga. Bilang padanya... Selir Liang ingin mengadakan 'Jamuan Teh Perpisahan' khusus untuk merayakan jabatan barunya sebelum dia resmi bertugas besok."
Xinyue berdiri di depan cermin, memandangi gaun sutra berwarna biru tua berpola awan perak yang baru saja diantarkan oleh kasim istana—gaun resmi yang menandakan posisinya sebagai Pengawas Perpustakaan Kerajaan.
"Yang Mulia Selir, undangan dari Selir Liang baru saja tiba," ujar Mingzhu dengan wajah sepucat kertas, memegang gulungan kertas merah beraroma dupa melati. "Ini jelas sebuah perangkap! Semua orang tahu Selir Liang murka besar atas keputusan Yang Mulia semalam."
Xinyue mengelus kain sutra biru tua itu, matanya berkilat dingin. Otak hukumnya mulai mengkalkulasi skenario persidangan informal yang akan dihadapinya.
"Tentu saja ini perangkap, Mingzhu," sahut Xinyue tenang. "Perjamuan teh ini dirancang khusus untuk menjebakku sebelum aku melangkah ke Perpustakaan Kerajaan besok. Jika aku menolak datang, dia punya alasan untuk menuduhku sombong dan tidak menghormati hierarki istana. Jika aku datang tanpa persiapan... mereka akan menjatuhkan jebakan yang merusak reputasiku hingga Yang Mulia terpaksa mencabut keputusannya."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Mingzhu cemas.
"Kita datang," jawab Xinyue seraya menyunggingkan senyum tipis. "Dan kita pastikan perjamuan teh ini menjadi hari paling tidak beruntung bagi mereka semua."
Taman Paviliun Anggrek telah disulap menjadi panggung jamuan mewah. Di tengah telaga buatan yang dipenuhi bunga teratai mekar, sebuah paviliun terapung berdiri megah, dikelilingi oleh belasan selir dan para pelayan kepercayaan mereka. Aroma teh melati yang mahal menguar kental di udara, bercampur dengan keharuman racikan minyak wangi para wanita istana.
Saat Xinyue melangkah masuk ke paviliun terapung tersebut, keheningan mendadak melingkupi seluruh ruangan. Semua mata tertuju pada gaun biru tua yang kenakannya sebuah pengingat visual akan status barunya yang kini berada di bawah Perintah Langsung Kekaisaran.
"Hamba memberi hormat kepada Kakak Selir Liang dan Kakak-kakak sekalian," tutur Xinyue dengan keanggunan yang diatur sempurna, membungkuk sesuai aturan protokol istana tanpa cela sedikit pun.
"Berdirilah, Adik Ye," sapa Selir Liang dengan senyuman teramat manis, walau pandangan matanya begitu dingin. "Atau harus kusebut... Pengawas Ye? Sungguh pencapaian yang mengejutkan seluruh Istana Dalam."
"Hamba hanyalah pelayan yang menjalankan perintah Yang Mulia, Kakak Selir," balas Xinyue rendah hati, duduk di kursi kayu cendana yang telah disediakan khusus di sisi kiri paviliun.
"Menjalankan perintah?" cibir Selir Chen yang duduk tepat di seberangnya. "Atau mungkin menggunakan ramuan racikan dari perbatasan untuk memikat hati Yang Mulia di tengah malam? Sungguh kebetulan yang luar biasa, seorang selir yang baru kemarin mengaku ingatan kabur tiba-tiba diangkat mengawasi arsip hukum kekaisaran."
Langkah awal jebakan telah dimulai: menggiring opini publik bahwa Xinyue menggunakan sihir, racun, atau manipulasi haram untuk memengaruhi keputusan sang Kaisar.
Xinyue tidak menunjukkan kepanikan. Ia menatap cangkir teh porselen di depannya, lalu menatap lurus ke arah Selir Chen.
"Kakak Selir Chen sungguh pandai bergurau," ujar Xinyue dengan suara jernih yang memantul di atas permukaan air telaga. "Namun tuduhan bahwa Yang Mulia—seorang penguasa yang bijaksana dan tegas dapat dipengaruhi oleh ramuan atau tipu daya seorang selir lemah... bukankah itu secara tidak langsung meragukan kewibawaan dan kecerdasan Yang Mulia sendiri dalam mengambil keputusan kekaisaran?"
Kata-kata itu bagaikan sabetan cambuk tak terduga. Selir Chen langsung membeku, wajahnya berubah pucat pasi. Menuduh Kaisar dapat dimanipulasi adalah tindak kejahatan pengkhianatan tingkat tinggi.
"Kau... kau memutarbalikkan kataku!" gagap Selir Chen dengan nada panik.
"Hamba hanya menegaskan fakta hukum istana, Kakak Selir," jawab Xinyue datar tanpa emosi. "Setiap keputusan Yang Mulia adalah mutlak dan didasarkan pada analisis objektif. Menuduh adanya kecurangan dalam keputusan tersebut sama saja dengan mempertanyakan kedaulatan hukum Dinasti Tianyu."
Selir Liang mengetukkan jarinya ke meja, menetralkan ketegangan dengan dehaman halus. "Cukup. Adik Ye memang sangat pandai bersilat lidah. Tidak heran Yang Mulia memilihmu untuk mengurus dokumen hukum."
Selir Liang kemudian memberi isyarat mata kepada pelayan pribadinya. Pelayan itu melangkah maju membawa teko batu giok berisi cairan teh berwarna keemasan dan menuangkannya ke cangkir Xinyue.
"Teh ini adalah Bunga Salju Perak, ramuan langka yang dikirim langsung dari klan keluargaku di utara," tutur Selir Liang seraya mengangkat cangkirnya sendiri. "Ini adalah bentuk selamat dariku atas posisi barumu. Adalah suatu pelanggaran berat jika Adik Ye menolak meminum teh ucapan selamat ini dari tangan seorang Selir Kehormatan."
Xinyue memandangi cairan keemasan di cangkirnya. Dari jarak sedekat ini, panca indranya mencium aroma samar akar aconite—sebuah zat herbal yang jika diminum dalam jumlah kecil tidak mematikan, namun cukup untuk menyebabkan kram perut hebat, kejang otot, dan gangguan bicara sementara.
Jebakan kedua: jika ia meminumnya, ia akan jatuh sakit parah malam ini dan gagal melapor ke Perpustakaan Kerajaan besok pagi, yang akan dianggap sebagai bentuk pelanggaran Perintah Kekaisaran. Jika ia menolaknya terang-terangan, ia melanggar etika hierarki dan menghina klan Selir Liang.
Di dalam otaknya, skenario pembelaan hukum langsung terbentuk. Xinyue tersenyum sangat tipis.
"Hamba sangat tersanjung atas kebaikan Kakak Selir Liang yang begitu luar biasa," kata Xinyue seraya mengangkat cangkirnya dengan kedua tangan. "Namun, sesuai dengan Hukum Etika Istana Pasal 4 tentang Penghormatan Hierarki... barang berharga dan langka seperti Teh Bunga Salju Perak ini seharusnya dinikmati terlebih dahulu oleh sosok yang paling dihormati di panggung ini."
Xinyue berdiri dengan anggun, memegang cangkirnya dengan sangat hati-hati, lalu melangkah ke arah pilar utama paviliun—tempat di mana sebuah patung giok leluhur klan kekaisaran dipajang sebagai simbol perlindungan.
"Hamba ingin mempersembahkan cangkir pertama teh berharga ini kepada para Leluhur Dinasti Tianyu, sebagai bukti bahwa kedamaian dan keharmonisan di antara para selir selalu terjaga di bawah naungan Kakak Selir Liang," tutur Xinyue dengan nada penuh dedikasi yang tak terbantahkan.
Sebelum ada yang sempat menghentikannya, Xinyue menyiramkan seluruh isi teh beracun itu ke wadah dupa perunggu di depan patung leluhur.
Ceeeeesss!
Begitu cairan teh menyentuh bara dupa yang membara, asap tebal berwarna abu-abu kehijauan mendadak membumbung tinggi, mengeluarkan bau menyengat yang tajam dan aneh reaksi kimia spontan antara racun aconite dan serbuk dupa perunggu.
Seluruh selir di paviliun langsung menutupi hidung mereka seraya terbatuk-batuk panik.
"Bau apa ini?! Ini bau racun aconite!" teriak salah seorang selir muda dari faksi lain yang mengenali aroma medis tersebut.
Suasana tenang jamuan teh mendadak hancur berantakan menjadi kekacauan murni. Selir Liang berdiri dari kursinya dengan wajah pucat bagai mayat, sementara pelayan yang menuangkan teh itu langsung menjatuhkan dirinya ke lantai dalam ketakutan yang luar biasa.
Xinyue berbalik perlahan, menatap Selir Liang dengan mata yang memancarkan ketenangan murni seorang jaksa di ruang sidang.
"Kakak Selir Liang..." panggil Xinyue dengan suara yang dapat didengar oleh semua orang di paviliun. "Sepertinya ada pihak tidak bertanggung jawab yang telah mencemari Teh Bunga Salju Perak milik klan Anda dengan racun berbahaya. Ini adalah ancaman keselamatan tingkat tinggi di dalam Istana Dalam!"
Xinyue merapatkan tangannya dan membungkuk tegas. "Demi keselamatan Kakak Selir dan seluruh penghuni istana, hamba merasa wajib untuk melaporkan temuan racun di perjamuan teh ini secara langsung kepada Pengawal Bayangan dan Yang Mulia Kaisar sore ini juga."
Pernyataan itu bagaikan petir di siang bolong. Selir Liang mengepalkan tangannya begitu keras hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit telapak tangannya sendiri. Niat awalnya untuk menjebak Xinyue justru berbalik menjadi senjata yang siap menghancurkan reputasi dan klannya sendiri.
"Adik... Adik Ye, tunggu dulu!" panggil Selir Liang dengan suara yang mulai goyah dari keangguhan biasanya.
Namun Xinyue sudah berbalik, mengibaskan gaun resmi biru tuanya dengan sangat anggun, dan melangkah keluar dari Paviliun Anggrek tanpa menoleh lagi.
Permainan catur Zhao Fengting mungkin sangat berbahaya, tetapi Ye Xinyue baru saja membuktikan bahwa ia bukan sekadar pion mati yang mudah dihancurkan. Perang politik di Istana Dalam telah resmi dimulai, dan jamuan teh yang tidak beruntung ini hanyalah permulaan dari perlawanannya.