"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Beberapa menit kemudian, Azel tiba di depan daycare. Ia memarkirkan motornya, lalu berjalan masuk sambil membawa sebuah tote bag yang berisi laptop dan beberapa buku tugasnya.
Begitu membuka pintu ruang bermain, matanya langsung mencari sosok kecil yang sejak kemarin terus mengisi pikirannya.
"Arjun..."
Belum sempat Azel melangkah lebih jauh, terdengar suara kecil yang begitu antusias.
"Kak Azel!"
Azel menoleh.
Senyumnya langsung mengembang. Arjun berlari kecil ke arahnya sambil memeluk sebuah robot mainan berwarna biru di dadanya.
Wajah bocah itu yang tadi murung kini berubah cerah.
"Kakak dateng!"
"Iya kan Kakak udah janji."
Arjun langsung memeluk pinggang Azel erat-erat. "Aku kira Kakak lupa lagi."
Azel mengusap lembut kepala bocah itu. "Nggak. Kali ini Kakak nggak lupa."
Arjun tersenyum puas, lalu mengangkat robot yang sejak tadi dibawanya. "Kak! Ayo main robot sama Arjun. Robot ini kuat banget, loh."
"Oh ya?"
"Iya! Ini namanya Atlas. Dia pahlawan. Kalau ada robot jahat, Atlas yang ngelawan."
Azel berjongkok hingga sejajar dengan Arjun. "Wah... Kalau begitu Atlas hebat, ya."
"Iya! Atlas selalu menang."
Arjun lalu menarik pelan tangan Azel menuju karpet bermain. "Ayo, Kak. Arjun udah nungguin dari tadi."
Azel terkekeh kecil. "Iya, iya kakak ikut."
Mereka pun duduk di atas karpet. Arjun dengan semangat mulai menggerakkan robotnya sambil membuat berbagai suara.
"Bruumm... Dor! Atlas pukul robot jahat!"
Azel ikut memainkan robot lain yang ada di dekatnya. "Waduh... Robot Kakak kalah, nih."
Arjun langsung menggeleng cepat. "Nggak boleh kalah! Atlas baik."
"Robot Kakak juga baik."
"Kalau sama-sama baik bertemanan aja."
Azel tersenyum hangat. "Setuju. Nggak semua masalah harus diselesaikan dengan berantem."
"Iya. Temenan lebih seru."
Dari kejauhan, Bu Hesti memperhatikan mereka sambil tersenyum. Sejak Azel datang, tawa Arjun tak pernah berhenti terdengar.
Setelah beberapa menit bermain, Azel harus segera pulang karena masih ada tugas yang harus ia kerjakan.
"Arjun... Maaf ya, Sayang. Kakak nggak bisa lama-lama main sama kamu."
Arjun langsung mengerucutkan bibir. "Yah... Kenapa, Kak? Kita kan baru main sebentar."
Azel mengusap pelan kepala bocah itu. "Iya. Tapi Kakak harus pulang ke rumah Opa. Kakak juga masih ada tugas kuliah yang harus dikerjakan."
Arjun berpikir sejenak, lalu wajahnya kembali berbinar. "Kalau gitu, aku ikut ke rumah Opa Kakak aja, ya?"
Azel tersenyum geli mendengar usulan polos itu. "Nggak bisa, Sayang. Nanti kalau Ayah kamu datang jemput, terus Arjun nggak ada, gimana?"
Seketika senyum di wajah Arjun menghilang. Matanya mulai berkaca-kaca. Bibir mungilnya bergetar menahan tangis.
"Kakak ingkar janji."
Azel langsung menggeleng. "Bukan begitu, Arjun."
"Iya. Kakak ingkar janji." Suara Arjun terdengar lirih.
"Aku nggak punya teman main. Aku nyamannya cuma sama Kak Azel. Kalau Ayah selalu sibuk kerja. Nenek yang biasanya nemenin Arjun udah pulang ke rumah Allah."
Arjun menundukkan kepalanya. Air matanya mulai jatuh satu per satu.
"Dan... Arjun juga nggak punya Mama."
Kalimat terakhir itu membuat Azel terdiam. Dadanya terasa sesak melihat bocah sekecil itu mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak perlu ia rasakan.
Arjun mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata. "Aku cuma pengen main sama Kak Azel. Jangan tinggalin Arjun, ya..."
Azel menatap Arjun yang masih mengusap air matanya. Hatinya terasa ikut sesak.
"Kasihan sekali anak ini..." batinnya.
"Kayanya dia sering kesepian. Ayahnya sibuk bekerja... neneknya sudah meninggal. Lalu... mamanya ke mana?"
Banyak pertanyaan bermunculan di benaknya. Namun Azel tau, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menanyakannya. Ia kembali tersenyum hangat, lalu mengusap pelan pipi Arjun yang basah oleh air mata.
"Yaudah, Arjun boleh ikut."
Mata Arjun langsung membulat. "Serius, Kak?"
"Iya. Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Kita harus izin dulu sama Bu Hesti. Nanti kalau Ayah kamu datang jemput ke daycare, Bu Hesti bisa kasih tau kalau Arjun lagi main ke rumah Opa Kak Azel."
Senyum Arjun langsung mengembang lebar. "Iya, Kak! Aku mau!"
Azel terkekeh melihat perubahan ekspresi bocah itu yang begitu cepat.n"Ya sudah. Tunggu di sini sebentar, ya. Jangan lari-lari."
"Iya!" Arjun mengangguk semangat.
Azel pun menghampiri Bu Hesti yang sedang merapikan beberapa mainan di sudut ruangan.
"Bu Hesti."
"Iya, Ning."
"Arjun boleh ikut saya ke rumah Opa sebentar? Nanti kalau Ayahnya datang menjemput, tolong sampaikan ya, Bu."
Bu Hesti tersenyum lega. "Tentu boleh, Ning. Justru Arjun kelihatan sangat senang kalau bersama Ning. Nanti saya yang akan memberi tahu Pak Ibrahim kalau Arjun sedang ikut ke Ning."
"Terima kasih banyak, Bu."
"Sama-sama."
Begitu mendengar izin itu, Arjun langsung berlari kecil menghampiri Azel. "Kak! Ayo berangkat!"
Azel tertawa kecil. "Iya, iya. Sabar. Lihat tuh, air matanya belum kering, tapi semangatnya udah balik lagi."
"Hehe."
Arjun menggenggam tangan Azel erat-erat, seolah takut gadis itu berubah pikiran.
***
Begitu memasuki kawasan perumahan tempat Opa Athar tinggal, Azel mengurangi kecepatan motornya.
Arjun yang duduk di depan Azel tiba-tiba mendongak. "Kak."
"Iya?"
"Rumah Arjun di sini juga."
Azel sedikit terkejut. "Hah? Serius?"
"Iya."
"Lho, rumahnya yang mana?"
Arjun mengangkat telunjuknya ke depan. "Kakak lurus aja dulu. Nanti di perempatan belok kanan."
Azel terkekeh pelan. "Lho... jadi selama ini rumah Arjun sama rumah Opa Kakak satu perumahan?"
"Iya."
"Ya Allah, Kakak baru tau."
Arjun tersenyum bangga. "Besok-besok Kakak nggak usah jauh-jauh nganter."
"Iya. Nanti Kakak antar langsung sampai rumah Arjun."
"Oke!"
Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah percabangan jalan. Ke arah kiri menuju rumah Opa Athar. Sedangkan ke arah kanan adalah rumah Arjun. Ternyata jaraknya memang tidak jauh, hanya berbeda beberapa blok.
Motor Azel akhirnya berhenti di depan rumah bercat putih dengan halaman yang dipenuhi berbagai macam bunga.
"Wah..." Arjun langsung terpukau. "Rumah Opa Kakak bagus banget. Banyak bunga."
Azel tersenyum sambil mematikan mesin motor. "Iya. Dulu yang merawat bunga-bunga ini Oma Kakak. Sekarang Opa yang melanjutkan."
Arjun menoleh polos. "Oma Kakak ada?"
Azel tersenyum lembut. "Ada. Di rumah Allah."
Wajah Arjun berubah sendu. "Oh... Maaf ya, Kak."
Azel mengusap pelan kepala bocah itu. "Nggak apa-apa."
"Berarti Oma Kakak sama Nenek Arjun udah ketemu di surga Allah, ya?"
"Insya Allah. Kalau mereka orang-orang yang beriman dan dirahmati Allah, semoga Allah pertemukan mereka di surga."
Arjun tersenyum kecil. "Aamiin."
"Yuk, kita masuk."
Azel menggandeng tangan mungil Arjun menuju teras rumah. "Assalamu'alaikum, Opa!"
"Wa'alaikumussalam."
Pintu rumah terbuka. Athar yang sedang membaca Al-Qur'an di ruang tamu langsung tersenyum melihat cucunya datang.
"Cucu Opa sudah pulang kuliah?"
"Udah, Opa."
Azel mencium tangan sang opa dengan hormat.
Athar kemudian memperhatikan bocah kecil yang berdiri di samping Azel. "Itu siapa?"
Azel tersenyum. "Oh iya. Arjun, salim dulu sama Opa. Jangan malu. Opa. kakak orang yang baik sekali."
Arjun langsung mengulurkan tangannya. "Assalamu'alaikum, Opa."
"Wa'alaikumussalam." Athar membalas salaman itu sambil mengusap lembut kepala Arjun.
"Masya Allah. Anak saleh."
Arjun tersenyum malu-malu.
"Ayo, masuk."
Mereka bertiga pun memasuki rumah. Begitu duduk di ruang tamu, Azel langsung bertanya,
"Arjun udah makan belum?"
"Udah. Tadi Ayah bekalin makanan banyak."
Azel tertawa kecil. "Bagus. Berarti sekarang tinggal ngemil aja. Kakak ambilin minum sama cookies dulu ya."
"Oke, Kak."
Azel berjalan menuju dapur. Sementara itu, Athar memperhatikan Arjun yang duduk rapi di sofa.
"Siapa nama lengkapmu, Nak?"
"Aku Arjuna Mahendra, Opa."
"Masya Alla namanya bagus. Kamu masih TK?"
Arjun mengangguk.
"Iya, Opa."
"Masya Allah."
Tak lama kemudian Azel kembali membawa nampan berisi dua gelas air putih dan sepiring cookies buatan Mbak Ratna kemarin.
"Ini asa cookies. Enak kok, cobain ya, Arjun."
"Makasih, Kak." Arjun langsung mengambil satu dengan sopan.
Azel kemudian duduk di samping Opa Athar. "Opa, Arjun ini salah satu anak yang dititipkan di daycare Uma. Hampir setiap hari kalau aku selesai kuliah, aku main sama dia di sana."
Athar mengangguk sambil mendengarkan.
"Dia baru sekitar dua bulan di daycare. Awalnya nggak mau ditinggal sama sekali, sering tantrum. Alhamdulillah sekarang udah mulai betah."
Athar tersenyum. "Mungkin karena ada kamu."
Azel terkekeh kecil. "Entahlah, Opa. Pokoknya dia maunya main sama aku terus. Tadi pas aku mau pulang, dia nggak mau pisah."
"Lalu orang tuanya bagaimana?"
Azel menjawab, "Yang biasa jemput ayahnya. Eh, ternyata ayahnya dosenku."
Athar mengangkat alis. "Oh ya?"
"Iya terus baru tau juga kalau rumah mereka ternyata masih satu perumahan sama Opa. Kata Arjun, dari perempatan belok kanan."
Athar mengangguk pelan. "Kalau begitu nanti kamu antar dia pulang sampai rumah."
"Iya, Opa."
Azel lalu berdiri sambil membawa tas kuliahnya. "Aku kerjain tugas dulu di kamar, ya. Opa temenin Arjun dulu."
Athar tersenyum geli. "Memangnya Opa bisa diajak main mobil-mobilan?"
Azel terkekeh. "Bisa lah. Anggap aja lagi main sama Shofi. Cicit Opa yang jauh itu."
Athar menggeleng sambil tertawa kecil. "Dasar kamu."
Azel hanya nyengir sebelum berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Opa Athar dan Arjun yang mulai mengobrol akrab di ruang tamu.
***
Opa Athar tersenyum hangat sambil menutup buku kisah para nabi yang sejak tadi ia bacakan.
"Nah, begitu kisah Nabi Yusuf a.s. yang tetap sabar meskipun diuji berkali-kali."
Arjun yang duduk bersila di atas karpet langsung bertepuk tangan kecil. "Wah... keren banget."
"Iya. Makanya kita harus mencontoh akhlak para nabi."
Arjun mengangguk semangat. "Iya, Opa."
Athar mengusap lembut kepala bocah itu. "Kamu suka cerita seperti ini?"
"Suka banget."
"Kenapa?"
Arjun tersenyum lebar. "Karena seru. Soalnya..." Senyum di wajah mungil itu perlahan memudar. "Di sini hangat."
Athar mengernyit lembut. "Hangat?"
Bocah itu menundukkan kepalanya. "Iya. Kalau di rumah Arjun sepi."
Hati Athar seketika terasa sesak. Ia dapat menangkap kesedihan dalam mata anak sekecil itu.
Athar tersenyum lembut. "Rumah Opa dekat dengan rumah Arjun. Kalau Arjun ingin bermain ke sini, silakan saja. Asal sudah izin sama Mama dan Ayah, ya."
Arjun terdiam. Lalu menggeleng pelan. "Tapi... Aku nggak punya Mama, Opa."
Athar tertegun.
"Hanya ada Ayah. Arjun cuma tinggal sama Ayah."
Ruangan mendadak hening. Athar menatap wajah polos itu cukup lama. Barulah kini ia mengerti.
"Pantas sejak tadi anak ini terlihat begitu haus akan perhatian. Tak heran ia begitu antusias setiap kali ada yang mengajaknya berbicara. Dan tidak heran pula ia begitu dekat dengan Azel." batinnya.
Anak-anak yang tumbuh dengan kekosongan kasih sayang sering kali akan melekat kepada siapa pun yang membuatnya merasa aman.
Athar memandang ke arah kamar tempat Azel sedang mengerjakan tugas. Senyum tipis terukir di wajahnya. Tiba-tiba sebuah kenangan kembali hadir dalam benak Athar.
Beberapa bulan yang lalu...
Di sebuah kamar rumah sakit. Suasana begitu sunyi. Hanya terdengar bunyi alat monitor yang sesekali memecah keheningan. Seluruh keluarga telah berkumpul mengelilingi ranjang Arsyila.
Opa Athar menggenggam tangan istrinya.
Azzura, sang putri, berkali-kali mengusap air mata. Azzam juga berusaha untuk kuat.
Arshaf dan Aryan berdiri tak jauh dari ranjang, berusaha tegar meski berkali-kali menundukkan kepala. Begitu juga keluarga yang lain.
Sedangkan Azel, sejak tadi berlutut di samping ranjang sang oma sambil menggenggam tangan keriput itu erat.
"Oma..."
Oma Arsyila tersenyum tipis. Tangannya yang mulai dingin mengusap pelan pipi cucu kesayangannya.
"Azel."
"Iya, Oma."
"Nanti kalau Oma sudah nggak ada. Jangan sering menangis."
Azel langsung menggeleng. "Azel nggak mau Oma pergi."
Arsyila tersenyum penuh kasih. "Semua yang hidup pasti akan kembali kepada Allah. Kita hanya menunggu giliran."
Air mata Azel kembali jatuh. Arsyila mengusapnya dengan ibu jari yang mulai gemetar.
"Ning... Ada satu pesan Oma."
"Apa?"
"Kelak kamu akan menjadi seperti Tante kamu."
Azel mengernyit. "Seperti Tante Aira?"
"Iya. Menjadi tempat pulang, menjadi penenang, menjadi penyembuh."
Azel masih belum memahami maksud perkataan itu. "Penyembuh?"
Arsyila mengangguk pelan. "Suatu hari nanti... Allah akan mempertemukanmu dengan seorang anak kecil. Anak itu membawa luka yang tidak terlihat oleh mata. Bukan luka di tubuhnya melainkan di hatinya."
Ruangan menjadi hening. Semua orang ikut mendengarkan ucapan Arsyila.
"Kalau saat itu tiba, jangan pernah menolak untuk mengulurkan tanganmu. Karena mungkin, Allah memang menjadikanmu sebagai jalan kesembuhan untuknya."
Air mata Azel semakin deras. "Oma..."
Arsyila tersenyum lembut. "Lalu setelah itu..."
Ia berhenti sejenak untuk mengatur napasnya. "Siapkan hatimu. Karena setelah pertemuan itu mungkin Allah juga sedang menyiapkan takdir lain untukmu."
Azel menggenggam tangan sang oma semakin erat. "Takdir apa?"
Arsyila menatap cucunya dengan penuh kasih sayang. "Kelak akan datang seseorang yang mengubah jalan hidupmu. Saat hari itu tiba, jangan biarkan rasa takut membuatmu berpaling. Karena tidak semua takdir indah datang sesuai waktu yang kita inginkan."
Azel mengernyit bingung. "Mengubah jalan hidupku? Maksud Oma apa?"
Arsyila hanya mengusap lembut pipi cucunya. "Nanti kamu juga akan mengerti."
Azel menggeleng pelan sambil menggenggam tangan sang oma semakin erat. "Tapi Azel masih pengen kuliah, Oma. Masih banyak cita-cita yang belum Azel capai. Azel takut kalau hidup Azel berubah terlalu cepat."
Arsyila tersenyum penuh kasih. "Tidak ada yang salah dengan memiliki cita-cita, Ning. Justru kejarlah selama Allah masih memberimu kesempatan. Oma tidak pernah meminta kamu meninggalkan impianmu. Oma hanya ingin, kalau suatu hari Allah benar-benar mengubah jalan hidupmu, jangan melawan takdir-Nya hanya karena itu berbeda dari rencanamu."
Air mata Azel kembali jatuh. "Iya, Oma. Azel akan berusaha."
Lamunan Athar buyar. Pandangannya kembali tertuju kepada Arjun yang sedang tertawa kecil karena berhasil menyusun balok-balok mainan di ruang tamu.
Athar mengembuskan napas pelan. "Cila... apakah ini anak yang pernah kamu maksud?"
Namun ia segera menggeleng pelan. "Tidak... aku tidak boleh mendahului takdir."
Namun ia segera menggeleng. Ia tidak ingin terburu-buru menghubungkan pesan terakhir istrinya dengan keadaan yang sedang terjadi.
Bagaimanapun juga semua adalah urusan Allah. Manusia hanya bisa berikhtiar dan menunggu bagaimana takdir-Nya benar-benar terwujud.
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
amiiiin
bnyak hikmah dlm stiap critamu
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah