Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Sarang Kronos dan Kepunahan Naga
Rasa dingin yang menusuk tulang adalah sensasi pertama yang merayap kembali ke dalam kesadaran Kala. Dia tidak tahu sudah berapa lama dirinya terjatuh. Ketika kelopak matanya yang putih pucat terbuka dengan susah payah, pemandangan di sekitarnya tertutup oleh kabut ungu pekat yang berbau belerang dan pembusukan. Udara di tempat ini begitu berat, seolah setiap jengkal atmosfer mengandung racun korosif yang siap melelehkan paru-paru manusia fana.
Kala mencoba menggerakkan jemarinya. Sentuhan pertamanya bukan pada tanah atau lumpur, melainkan pada permukaan yang keras, kering, dan rapuh.
KRAKK.
Itu adalah suara tulang manusia yang patah. Kala meraba sekelilingnya dengan panik. Di mana pun tangannya mendarat, yang ada hanyalah tumpukan kerangka. Ribuan, atau mungkin jutaan jasad budak dan musuh Perguruan Pedang Langit telah dibuang ke tempat ini selama berabad-abad, menciptakan lautan tulang-belulang yang mengerikan di dasar Jurang Kematian.
"Uhukk!" Kala memuntahkan seteguk darah hitam.
Fisiknya hancur. Tulang kakinya patah akibat hantaman jatuh dari ketinggian ribuan meter. Anehnya, dia tidak mati. Sesuatu yang tidak kasat mata—seperti bantalan energi yang sangat tebal—telah memperlambat laju jatuhnya di detik-detik terakhir sebelum menyentuh dasar jurang.
Tik... Tok... Tik... Tok...
Detak jam di dalam kepalanya tidak lagi terdengar konstan. Suara itu berdentang liar, seolah-olah ditarik oleh magnitudo energi raksasa yang tertanam di dalam kegelapan di depannya.
"Makhluk fana yang menarik... Jiwa kecil yang dipenuhi oleh racun kebencian yang begitu murni..."
Sebuah suara menggelegar dari kedalaman kabut ungu. Suara itu bukan terdengar melalui telinga, melainkan bergaung langsung di dalam ruang batin Kala, getarannya begitu kuat hingga membuat tumpukan tulang di sekelilingnya bergetar dan runtuh. Tekanan yang dihasilkan oleh suara itu seribu kali lebih menindas daripada energi Qi milik Tuan Muda Liu.
Kala memaksakan dirinya untuk duduk, menyeret kakinya yang patah di atas tengkorak-tengkorak kering. Di balik kabut yang perlahan menipis, sepasang lampu raksasa berwarna emas vertikal menyala. Itu bukan lampu. Itu adalah sepasang mata vertikal setinggi rumah, memancarkan aura
kuno yang telah melintasi jutaan tahun sejarah semesta.
Itulah Naga Primal Kronos—sang Ouroboros.
Makhluk mitologi itu memiliki tubuh raksasa yang melingkari dasar jurang seperti barisan pegunungan hitam. Namun, kondisinya sangat mengenaskan. Enam buah pasak raksasa yang terbuat dari energi elemental—Api, Air, Angin, Matahari, Cahaya, dan Kegelapan—menancap dalam di sepanjang tulang belakangnya, mengunci tubuhnya ke dinding jurang. Rantai-rantai energi dewa tersebut terus-menerus membakar dan menyerap esensi kehidupan sang naga, menyisakan sisik-sisik hitam yang retak dan daging yang membusuk perlahan.
"Manusia buta, bagaimana kau bisa mendarat di sarang penjaraku tanpa hancur menjadi debu?" naga itu menundukkan kepalanya yang seukuran bukit kecil, mengembuskan napas yang membawa aroma waktu yang usang ke wajah Kala.
Kala tidak mundur. Kehilangan Maryam dan Ayla telah mencabut rasa takut dari jiwanya. Dengan mata putih polosnya yang menatap langsung ke arah mata emas raksasa itu, Kala menjawab dengan suara yang dingin dan datar. "Aku dibuang oleh orang-orang di atas sana. Mereka membunuh ibuku. Mereka membunuh sahabatku. Jika kau ingin memakan seonggok sampah ini, lakukanlah. Tetapi jika aku hidup, aku bersumpah akan merangkak kembali ke atas dan mencabik-cabik mereka."
Naga Kronos tertegun sejenak. Keheningan total melanda dasar jurang sebelum akhirnya makhluk purba itu meledak dalam tawa yang pahit sekaligus menggelegar.
"Hahaha! Balas dendam? Kepada para kultivator semut di atas sana? Bocah kecil, musuhmu bukan hanya mereka! Tahukah kau siapa yang mengunciku di sini? Siapa yang merancang penderitaan di dunia ini agar manusia terus meratap? Mereka adalah para Dewa Atas! Enam bajingan serakah yang mencuri takhta kosmis dariku!"
Naga itu menatap Kala dengan intensitas yang semakin tajam. Kilatan rasi bintang kuno tampak berputar di dalam pupil emasnya. "Selama sepuluh ribu tahun, aku menunggu wadah yang tepat. Seseorang yang lahir dengan Segel Kosmos di matanya... Seseorang yang memiliki garis keturunan yang bisa menghentikan detik waktu, namun dikutuk oleh takdir. Itu adalah dirimu, Kala!"
"Apa maksudmu?" Kala mengernyit, memegang dadanya yang terus berdenyut.
"Mata putihmu itu... bukanlah cacat. Itu adalah penutup dari kekuatan yang ditakuti oleh langit. Namun, fisik fanamu terlalu lemah untuk membukanya. Hari ini, ajalku telah tiba. Rantai dewa ini akan menghancurkan jiwaku dalam hitungan hari. Aku menolak membiarkan esensiku habis dihisap oleh mereka! Jadilah pewarisku, Kala! Ambil jantungku, hancurkan takdir para dewa, dan gulung kembali semesta yang korup ini!"
Naga purba itu tiba-tiba melolong panjang. Lolongan yang dipenuhi rasa sakit ekstrem itu memicu getaran hebat. Dengan sisa kekuatan terakhirnya, naga itu memaksakan tubuhnya bergerak melawan enam pasak dewa yang menancap di punggungnya. Darah naga berwarna perak berkilau menyembur keluar, membakar lautan tulang di bawahnya menjadi abu dalam sekejap.
Dari balik dadanya yang robek, sebuah bola cahaya hitam pekat seukuran kepalan tangan melayang keluar. Bola itu berputar dengan kecepatan gila, namun di dalamnya terdapat jutaan partikel bintang dan galaksi mini yang bersinar redup. Itu adalah Inti Jiwa dan Jantung Kronos—pusat dari segala manipulasi waktu dan ruang.
Terima kutukan dan mahkota ini, Dewa Waktu yang baru!"
Bola cahaya kosmik itu melesat cepat, bukan menuju ke dada Kala, melainkan menghantam langsung ke arah kedua matanya yang putih polos.
"AAARRRGGGHHH!!!"
Jeritan Kala memecah kegelapan Jurang Kematian. Rasa sakit yang menghantamnya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Rasanya seolah-olah kedua bola matanya dicungkil keluar, lalu digantikan oleh jutaan meteor cair yang membakar isi kepalanya secara instan. Darah segar berwarna merah pekat bercampur perak mengalir deras dari kelopak matanya, membasahi wajah dan lumpur di bawahnya.
Di dalam kesadarannya yang terbakar, Kala melihat penglihatan tentang penciptaan semesta, kehancuran planet-planet, dan bagaimana waktu mengalir seperti sungai yang bisa dibelokkan. Jiwa fana Kala dipaksa melebur dan berevolusi, ditarik secara paksa dari Ranah Nadi Fana langsung melompati batas kemanusiaan menuju Ranah Penempa Jiwa Tingkat Awal. Tulang kakinya yang patah menyatu kembali dengan cepat, diperkuat oleh sumsum naga yang mengalir di pembuluh darahnya.
Setelah beberapa jam yang terasa seperti keabadian, badai energi di dasar jurang akhirnya mereda.
Tubuh raksasa Naga Primal Kronos kini telah kehilangan seluruh kilauannya. Kulit dan dagingnya berubah menjadi abu putih yang beterbangan ditiup angin purba, menyisakan struktur tulang belakangnya yang panjang dan berkilau seperti untaian pedang baja hitam yang belum ditempa. Sang Naga telah punah, namun warisannya telah berpindah.
Kala perlahan bangkit berdiri. Dia tidak lagi merasa kedinginan atau sesak akibat gas racun jurang. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka kedua kelopak matanya yang sempat tertutup rapat.
Dunia di dasar jurang tidak lagi terlihat sama dalam pandangannya.
Kedua matanya telah berubah total. Tidak ada lagi selaput putih pucat yang mati. Sekarang, kornea matanya berwarna hitam pekat tanpa dasar—sebuah Black Hole (Lubang Hitam) yang sanggup menelan cahaya apa pun. Namun, di dalam lingkaran hitam legam tersebut, terdapat jutaan bintang, rasi, dan pusaran galaksi mini yang berputar lambat dengan keanggunan kosmis.
Setiap kali Kala memfokuskan pandangannya pada sebutir debu atau tulang yang melayang jatuh di depannya, benda tersebut langsung menua menjadi abu atau kembali menjadi utuh dalam hitungan detik, murni karena pancaran gravitasi waktu dari sepasang matanya yang baru: Netra Kosmos Black Hole.
Kala mengepalkan tangannya yang kini dipenuhi oleh urat-urat energi perak. Dia menatap tumpukan tulang naga yang berkilau di depannya, lalu mengalihkan pandangannya ke atas—menembus kabut ungu, menembus salju hitam, langsung mengarah ke puncak di mana Perguruan Pedang Langit berdiri dengan angkuh.
"Tunggu aku," bisik Kala dengan nada sedingin es. "Waktu penderitaan kalian... baru saja dimulai."