"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."
Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.
Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.
Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.
Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...
Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.
Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 | Rahasia Yang Terkunci
Suasana ruang kerja Ayla mendadak membeku.
Layar laptop yang baru saja menyala menampilkan rekaman berdurasi beberapa menit. Gambar di dalamnya buram, seolah direkam menggunakan kamera pengawas lama.
Namun satu hal terlihat begitu jelas.
Hujan deras.
Lampu mobil yang berkedip.
Dan seorang pria yang berlutut di samping mobil yang ringsek.
Arsen.
Wajah Ayla perlahan kehilangan warna.
Tangannya yang masih berada di atas mouse mulai bergetar.
"Itu... Pak Arsen?"
Arsen berdiri tepat di sampingnya. Napasnya memburu, sesuatu yang hampir tak pernah terjadi.
"Ayla."
Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
"Jangan lanjutkan."
Namun terlambat.
Video terus berjalan.
Terlihat Arsen berusaha membuka pintu mobil yang penyok. Tangan dan kemejanya berlumuran darah. Wajahnya dipenuhi kepanikan.
"Ayo... bangun!"
Suara dalam video terdengar samar, tertutup derasnya hujan.
Beberapa detik kemudian...
Kamera bergeser.
Di balik pohon besar di tepi jalan, seorang gadis berdiri mematung.
Rambutnya basah kuyup.
Wajahnya dipenuhi luka kecil.
Tatapannya kosong.
Ayla membeku.
"Itu..."
"Itu aku..."
Suara Ayla hampir tak terdengar.
Arsen langsung menutup laptop.
Brak!
Ruangan mendadak sunyi.
"Pak Arsen!"
Nada suara Ayla bergetar.
"Kenapa saya ada di sana?"
Tak ada jawaban.
"Kenapa Bapak juga ada di sana?"
Arsen memejamkan mata sejenak.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah...
Ia terlihat benar-benar bimbang.
"Aku akan menjelaskan."
"Kalau begitu jelaskan sekarang."
Tatapan mereka bertemu.
Keheningan terasa begitu panjang.
"Aku tidak bisa."
Kalimat itu membuat hati Ayla seperti diremas.
"Kenapa?"
"Karena ada seseorang yang sedang menunggu kamu mengingat semuanya."
Jawaban Arsen justru membuat Ayla semakin bingung.
"Bukankah itu lebih baik?"
"Tidak."
Arsen menggeleng pelan.
"Kalau kamu mengingat semuanya sekarang..."
"...nyawamu akan berada dalam bahaya."
___________________________________________
Di tempat lain.
Ruangan gelap itu kembali dipenuhi cahaya monitor.
Pria bertopeng duduk bersandar sambil menikmati secangkir kopi hitam.
Salah satu bawahannya masuk dengan tergesa.
"Tuan."
"Video itu sudah ditonton."
Pria bertopeng tersenyum tipis.
"Reaksi Arsen?"
"Persis seperti yang Tuan perkirakan."
"Tidak mampu berkata jujur."
Tawa kecil terdengar memenuhi ruangan.
"Semakin lama dia diam..."
"...semakin besar jarak di antara mereka."
Bawahannya mengangguk.
"Lalu langkah berikutnya?"
Pria bertopeng mengambil sebuah map tua dari laci meja.
Map itu tampak lusuh, tetapi dijaga dengan sangat rapi.
Di bagian depan tertulis satu nama.
Mahendra.
Ia membuka map tersebut perlahan.
Di dalamnya terdapat beberapa foto lama.
Salah satunya...
Foto keluarga Mahendra.
Namun ada satu wajah yang dicoret menggunakan tinta hitam.
"Bersiaplah."
Suara pria bertopeng berubah lebih dingin.
"Besok..."
"...mereka akan tahu bahwa musuh sebenarnya jauh lebih dekat."
___________________________________________
Sore hari.
Ayla memilih pulang lebih awal.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi potongan-potongan ingatan yang terus bermunculan.
Suara hujan.
Sirene ambulans.
Tangan seseorang yang menggenggamnya erat.
Lalu...
Sebuah kalung berbentuk bulan sabit.
"Agh..."
Kepalanya kembali berdenyut.
Mobil yang ditumpanginya berhenti tepat di depan rumah.
Begitu turun...
Ia melihat seseorang berdiri di seberang jalan.
Pria itu mengenakan jaket hitam dan topi.
Saat Ayla hendak mendekat...
Pria tersebut berbalik dan berjalan pergi.
"Tunggu!"
Entah dorongan dari mana, Ayla mengejarnya.
Ia terus berlari melewati gang kecil.
Namun pria itu menghilang begitu saja.
Yang tersisa hanya sebuah kotak kayu kecil di atas bangku taman.
Ayla mendekatinya dengan hati-hati.
Kotak itu tidak terkunci.
Perlahan ia membukanya.
Di dalamnya terdapat sebuah kalung berbentuk bulan sabit.
Kalung yang sama persis dengan bayangan dalam ingatannya.
Dan sebuah secarik kertas.
Tangannya gemetar saat membaca isi tulisan itu.
"Kalau ingin tahu siapa dirimu yang sebenarnya..."
"...temui kakakmu sebelum semuanya terlambat."
Napas Ayla tercekat.
"Kakak...?"
Belum sempat ia mencerna isi surat itu...
Ponselnya berdering.
Nama Arsen muncul di layar.
Dengan cepat Ayla mengangkat panggilan itu.
"Halo, Pak Arsen?"
Suara Arsen terdengar jauh lebih keras dari biasanya.
"Ayla!"
"Di mana kamu sekarang?"
"Aku di taman dekat rumah."
"Jangan bergerak!"
Nada suara Arsen dipenuhi kepanikan.
"Aku menuju ke sana!"
Sambungan terputus.
Belum sampai satu menit...
Suara rem mobil terdengar memekakkan telinga.
Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan taman.
Dua pria bertopeng turun dengan cepat.
Salah satunya menatap Ayla.
Lalu berkata pelan...
"Maaf, Nona."
"Permainan ini akhirnya sampai pada giliran Anda."
Bersambung...