Yang baca Author do'akan semoga kalian lancar rezekinya😍😍 up dijam yang sama
Dari Selir yang Diabaikan menjadi Permaisuri
👑 Kaisar Tang Xuanze (唐玄泽)
👸 Permaisuri Mu Qingran (慕清然)
🌸 Gelar: Permaisuri Xianhe (贤和皇后)
🏯 Istana: Istana Ziyun
📜 Era Pemerintahan: Zhengzhou (正州)
Mu Qingran hanyalah seorang selir yang hidup dalam bayang-bayang istana. Diabaikan Kaisar Tang Xuanze, dihina para selir, dan dijadikan pion dalam perebutan kekuasaan, ia memilih bertahan dengan kecerdasan dan kesabarannya. Saat berbagai intrik mengancam takhta, Qingran membuktikan kesetiaan serta keberaniannya hingga perlahan merebut kepercayaan sang kaisar. Namun, jalan menuju singgasana permaisuri dipenuhi pengkhianatan, fitnah, dan pengorbanan. Mampukah seorang wanita yang pernah dianggap tak berharga mengubah nasibnya menjadi Permaisuri Xianhe yang dihormati seluruh negeri? Ataukah ambisi istana akan menghancurkan cinta dan harapan yang akhirnya ia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Hitam di Bawah Langit Kelabu
Langit Zhengzhou malam ini seolah telah menanggalkan jubah biru kebanggaannya, digantikan oleh hamparan kelam yang pekat, menekan bumi dengan beban yang menyesakkan dada. Awan hitam berarak kencang, menyimpan guntur yang bergemuruh tertahan, seolah-olah langit sendiri pun gentar melihat lakon berdarah yang hendak dipentaskan di bawahnya. Angin musim dingin meraung di antara celah-celah pilar kayu, membawa aroma logam yang tajam—aroma kematian yang mulai merayap naik, mencemari kesucian malam di dalam kompleks istana bagian dalam.
Mu Qingran berdiri terpaku di ambang pintu, sosoknya yang ramping tampak begitu rapuh di tengah badai, namun auranya memancarkan ketenangan yang tak tergoyahkan, seumpama puncak gunung karang yang tetap berdiri tegak meski diterjang ribuan gelombang. Jubah beludru merah marunnya berkibar bagaikan sayap burung phoenix yang tengah mengepak di tengah kegelapan, kontras dengan pucatnya kulit wajah yang kini diterangi kilat yang sesekali menyambar, membelah angkasa.
"Nona Muda," suara Chun’er terdengar parau, tercekik oleh ketakutan yang merayap di setiap pori-pori kulitnya. Pelayan setia itu mencengkeram erat ujung lengan baju Qingran, tubuhnya bergetar hebat. "Langit tampak murka, dan hawa pembunuhan ini begitu pekat. Apakah... apakah malam ini akan menjadi malam terakhir bagi kita berdua di dunia fana ini?"
Qingran tidak menoleh sedikit pun. Matanya yang jernih, setenang permukaan telaga di musim semi yang tidak tersentuh riak angin, tertuju lurus ke arah gerbang halaman yang mulai digetarkan oleh dentuman-dentuman keras dari luar.
"Kehidupan dan kematian hanyalah sehelai daun kering yang gugur ditiup angin musim gugur, Chun’er," jawab Qingran dengan nada rendah yang mengandung kedalaman filsafat klasik, suaranya mengalir tenang tanpa ada getaran sedikit pun. "Yang membedakan seorang pendekar sejati dan pengecut bukanlah lamanya mereka menghirup udara dunia, melainkan bagaimana cara mereka memilih untuk menyambut takdir yang datang menjemput di ambang pintu."
Tepat saat kalimat itu meluncur dari bibirnya, sebuah dentuman yang mengguntur menghancurkan kesunyian malam. Gerbang kayu jati tua yang kokoh itu tercerabut dari engselnya dengan suara patahan yang memekakkan telinga, terpelanting keras menghantam lantai marmer hingga hancur berkeping-keping. Debu dan serpihan kayu beterbangan, membentuk kabut tipis yang menyelimuti halaman paviliun.
Dari balik kabut kelam itu, sosok-sosok hitam melompat masuk bagaikan sekumpulan burung gagak pencabut nyawa yang kelaparan. Mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar, kaki mereka seolah tidak menapak bumi, melangkah di atas udara dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh atau Qinggong tingkat tinggi. Topeng perak dingin yang menutupi wajah mereka memantulkan cahaya lentera yang meredup, memberikan kesan bahwa mereka bukanlah manusia yang bernyawa, melainkan bayangan maut yang datang dari neraka.
"Sekte Pembunuh Bayangan Bayangan Hitam..." desis pengawal pribadi yang berdiri di samping Qingran. Suaranya bergetar hebat, sementara tangannya yang memegang gagang pedang basah oleh keringat dingin. "Mereka adalah pembunuh bayangan tingkat atas yang disewa dari dunia hitam persilatan! Bagaimana mungkin mereka bisa menembus pos penjagaan kekaisaran?!"
Qingran hanya menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman yang jauh lebih dingin daripada salju yang mulai turun membasahi ubin halaman. Di balik lipatan lengan jubah beludru merah marunnya, jemarinya yang lentik meraba dengan pasti gagang belati giok putih yang telah lama tertidur dalam sarungnya.
"Klan Mei benar-benar telah melampaui batas kewarasan manusia," ujar Qingran, suaranya tetap tenang namun sarat akan wibawa seorang penguasa sejati. "Mereka mengira dengan mengirimkan segerombolan tikus got yang menyamar sebagai pembunuh ini, mereka bisa memadamkan api yang telah menyala di singgasana naga? Sungguh sebuah kebodohan absolut yang pantas mendapatkan upah setimpal berupa kebinasaan di tanah kekaisaran."
Salah satu pembunuh bayangan di barisan depan melesat maju bagaikan kilat menyambar. Pedang panjangnya yang ramping dan berlumuran racun membelah udara malam dengan suara mendesis yang mematikan, mengarah langsung ke leher pengawal Qingran. Pengawal itu mencoba mengangkat pedangnya untuk menangkis, namun kecepatan serangan sang pembunuh terlalu jauh melampaui kemampuan reaksinya.
Di detik yang paling genting, saat maut hanya berjarak sehelai rambut dari tenggorokan sang pengawal, sebuah kilatan cahaya putih yang menyilaukan meluncur bagaikan meteor dari balik jubah Qingran.
Clang!
Sebuah dentingan logam yang begitu nyaring bergema keras, merobek seluruh suara angin malam. Belati giok milik Qingran telah berada di genggamannya, menangkis tebasan pedang maut sang pembunuh dengan ketepatan sudut yang luar biasa sempurna, mengalirkan tenaga dalam murni yang membuat udara di sekitar mereka bergetar.
Sang pembunuh bayangan terperangah di balik topeng peraknya. Matanya melebar kaget, tubuhnya terpaksa mundur tiga langkah ke belakang untuk menstabilkan keseimbangan. Ia tidak pernah menyangka sama sekali bahwa seorang selir kekaisaran—yang di dalam laporan intelijen digambarkan sebagai wanita lemah tanpa kemampuan bela diri—ternyata menyimpan simpanan tenaga dalam yang mampu menahan tebasan pedang pembunuh profesional.
Qingran berdiri dengan posisi kuda-kuda yang anggun namun kokoh, belati giok putih di tangannya kini memancarkan pendaran cahaya redup yang mematikan. Ia menegakkan tubuhnya, menatap tajam sosok-sosok hitam di hadapannya dengan sorot mata yang menghakimi, seolah-olah ia bukan lagi seorang selir yang terabaikan, melainkan seorang dewi kematian yang turun ke medan laga.
"Kalian datang membawa pesan darah dari mereka yang pengecut dan putus asa," ucap Qingran, suaranya kini terdengar jauh lebih dingin daripada embun beku musim dingin. "Maka, izinkanlah aku sebagai nyonya rumah menyambut kedatangan kalian, dan membalasnya dengan sebuah tarian pedang maut yang akan kalian kenang hingga ke dasar neraka baka."
Malam itu, di bawah langit Zhengzhou yang kelabu dan diselimuti badai salju, halaman Paviliun Lanting resmi berubah menjadi arena pembantaian. Darah segar mulai menetes, membasahi hamparan salju putih yang suci, menandai awal dari kebangkitan seorang Permaisuri yang tidak akan pernah bisa diinjak-injak lagi oleh siapapun di dunia ini.