NovelToon NovelToon
Return To You

Return To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Wanita Karir
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.

Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.

Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.

Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.

Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.

Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.

Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#6

Kemegahan Mansion Utama Keluarga Vale-Knight yang terletak di kawasan elite perbukitan Los Angeles tidak mampu meredam atmosfer tegang yang menyelimuti ruang kerja keluarga.

Ruangan berlantai kayu jati dengan dinding-dinding yang dipenuhi deretan buku bersampul kulit itu terasa pengap oleh kecemasan.

Di balik meja kerja besar dari kayu ek kuno, berdiri Kaelor Vale-Knight—sang kepala keluarga sekaligus sosok pria paruh baya yang masih memancarkan wibawa garis keturunan miliarder. Matanya yang tajam menatap lurus pada putra keduanya, Evander.

"Bagaimana bisa ada rentetan ancaman bom di sirkuitmu, Evan? Terlebih lagi, teroris sialan itu memasangnya tepat di bawah sasis hypercar milikmu," tanya Kaelor dengan nada suara yang berat dan menuntut penjelasan runtut.

Evander yang berdiri di dekat jendela besar dengan kedua tangan tenggelam di saku celananya, mengembuskan napas panjang.

Wajahnya yang tampan tampak sedikit letih, bayangan pertemuannya dengan Cherry siang tadi masih menyisakan kekacauan di benaknya.

"Tim keamanan internal masih menyelidiki sistem pengawasan sirkuit, Dad. Tapi terduga sementara kami adalah pihak dari pesaing bisnis yang kalah taruhan dalam balapan besar bulan lalu. Mereka kehilangan jutaan dolar dan reputasi tim mereka hancur. Ini kemungkinan besar adalah aksi balas dendam untuk merusak asetku," jawab Evander dengan nada suara yang diusahakan tetap tenang, meskipun hatinya bergemuruh.

Di sofa beludru tak jauh dari mereka, duduk sang Mommy yang bernama Suzzy Stone Knight. Wanita paruh baya yang selalu tampil elegan itu tampak mengusap sudut matanya yang sedikit basah.

Tatapannya pada Evander dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam.

"Lalu... bagaimana dengan Gabriella, sayang? Mommy benar-benar minta maaf jika selama ini Mommy mengekangmu dan memaksamu memikul beban ini. Mommy hanya takut dia melakukan hal nekat lagi," ucap Suzzy dengan suara yang bergetar lembut.

Evander berbalik, memandang ibunya dengan tatapan hangat.

Sebuah senyuman tipis dan tulus terukir di bibirnya, mencoba menenangkan wanita yang paling dihormatinya itu. "Tidak apa-apa, Mom. Aku tidak apa-apa, tenang saja. Ini sudah menjadi tanggung jawab yang kupilih untuk menjaga ketenangan keluarga kita."

Suzzy mengangguk samar, namun matanya yang sarat akan pengalaman hidup menatap putranya dengan selidik yang lembut.

"Evan... apa kau saat ini memiliki kekasih? Mommy perhatikan, sudah dua tahun ini kau sama sekali tidak lagi dekat dengan wanita manapun. Kau selalu menyendiri di bengkel atau sirkuit."

Evander terdiam seketika. Pertanyaan itu bagai panah yang tepat sasaran menusuk ruang paling sunyi di hatinya.

Wajah Cherry yang tertutup keringat saat melepas helm EOD berkelebat dengan begitu nyata.

"Kekasihku sedang sibuk, Mom," jawab Evander pelan, sebuah jawaban yang terdengar ambigu bagi sang ibunda.

Namun di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Evander berbisik dengan nada yang teramat melankolis dan penuh kerinduan.

Dia memang selalu sibuk dengan dunianya, Mom. Dunia yang penuh dengan bahaya, menjinakkan berbagai jenis bahan peledak militer. Dan aku... aku memilih hobi balap mobil sport yang gila ini juga karena dirinya. Karena dia tidak pernah membagi waktunya yang berharga untukku, membuatku mencari pelarian pada kecepatan sirkuit agar aku bisa merasakan pacuan adrenalin yang sama dengannya.

Hingga saat suasana di dalam ruangan itu hampir saja berubah menjadi melankolis dan mellow, keheningan mereka tiba-tiba dipecahkan oleh suara dering telepon milik Daddy Kaelor.

Bzzzzz... Bzzzzz...

Kaelor mengangkat telepon itu dengan kernyitan di dahi. Namun, hanya dalam hitungan detik setelah mendengar suara di seberang sana—yang ternyata adalah supir pribadi keluarga Knight—wajah Kaelor seketika berubah pucat pasi, memutih bagai kehilangan seluruh pasokan darahnya.

Pria tua itu mencengkeram pinggiran meja dengan sangat kuat.

"Apa kau bilang?! Bagaimana mungkin?!" tanya Kaelor dengan teriakan panik yang belum pernah didengar oleh Evander sebelumnya.

Supir itu mengabarkan dengan suara gemetar di seberang sana. "Tuan... Nyonya... Nona kembar... Nona Genevieve... saat ini memakai rompi bom aktif! Kami tidak bisa bergerak dari area lapangan terbuka, dan saat ini kami sedang ditangani oleh pihak kepolisian setempat!"

Deg.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Evander.

Genevieve dan Gwyneth adalah si kembar keponakan Evander—anak dari kakak laki-lakinya berusia 9 tahun.

Kedua bocah perempuan yang lucu dan cerdas itu baru saja datang hari ini ke Los Angeles untuk menghabiskan waktu liburan sekolah mereka bersama sang kakek dan nenek.

"Bicara yang jelas! Bagaimana bisa rompi itu berada pada tubuh cucuku?!" bentak Kaelor, tangannya yang memegang ponsel bergetar hebat.

"Rompi itu dipakaikan oleh seorang pria asing yang tidak dikenal saat Nona Genevieve berada di toilet bandara, Tuan," supir itu menjelaskan dengan isak tangis ketakutan yang tertahan.

"Pria itu memakai masker medis. Nona muda yang masih polos mengira itu hanyalah rompi anti peluru mainan biasa, jadi dia hanya mengiyakan saja saat dipakaikan.

Namun, saat mereka sudah berada di dalam mobil perjalanan menuju mansion, Nona Gwyneth—saudara kembarnya—menyadari ada lampu digital merah yang berkedip dan bunyi detak yang aneh dari balik baju Genevieve. Kami langsung berbelok menuju kantor polisi terdekat!"

Evander tidak menunggu ayahnya menyelesaikan kalimat di telepon.

Dengan gerakan kilat yang dipicu oleh kepanikan yang luar biasa, ia melangkah maju dan menyambar ponsel dari tangan Ayahnya.

"Share lokasinya sekarang juga ke ponselku! Jangan gerakkan anak itu sedikit pun!" teriak Evander ke dalam interkom.

Jantung Evander bergemuruh hebat bagai dihantam badai.

Liburan pertama kedua keponakan tersayangnya di Los Angeles malah berakhir diteror dengan cara yang sangat keji seperti ini.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apakah ada musuh besar keluarga Knight di luar sana yang sedang mengincar nyawa mereka secara sistematis?

Baru kemarin mobil sport mewahnya dipasang bom, dan hari ini, keponakannya yang masih berusia 9 tahun yang harus mengalaminya.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Evander langsung bergegas keluar dari mansion. Ia melompat ke dalam mobil sportnya, menyalakan mesin dengan raungan yang memekakkan telinga, dan mengendarai mobilnya dengan gila, melesat membelah jalanan kota Los Angeles dengan kecepatan yang melanggar seluruh hukum lalu lintas demi menuju lokasi yang dibagikan oleh supir mereka tadi.

Hanya dalam waktu kurang dari delapan menit, mobil Evander mencicit keras, bannya berasap saat ia mengerem mendadak di depan barikade polisi yang telah menutup jalanan di sekitar Kantor Polisi Distrik Pusat.

Tempat itu sudah berubah menjadi zona perimeter steril. Garis kuning polisi terpasang di mana-mana, dan puluhan petugas bersenjata lengkap tampak bersiaga dengan wajah tegang.

Saat Evander melompat keluar dari mobilnya dengan napas memburu, ia melihat saudara kembar laki-lakinya sendiri yang bernama Cassander yang memang Datang bersama si kembar dari Chicago.

Cassander tampak sedang berdebat hebat dengan petugas dengan kepanikan luar biasa yang tergambar jelas di wajahnya.

"Evan! Sialan, petugas di sini belum ada yang bisa bertindak! Mereka semua pengecut!" teriak Cassander saat melihat saudara kembarnya datang. "Keponakan kita... Genevieve benar-benar ketakutan di dalam sana!"

"Dimana mereka?!" tanya Evander dengan suara membentak, matanya liar memindai sekeliling mencari keberadaan sang keponakan.

Cassander dengan cepat langsung menuntun Evander melewati barikade, menuju ke arah sebuah lapangan khusus yang berada di area belakang sekitar kantor polisi itu.

Di tengah lapangan rumput yang luas, tampak sebuah kursi besi. Di atas kursi itu, duduklah Genevieve kecil sendirian.

Tubuh mungilnya dibalut oleh sebuah rompi taktis hitam yang dipenuhi oleh rangkaian kabel dan blok-blok peledak plastik C4, dengan sebuah timer digital yang terus berdetak mundur di dadanya.

Di kejauhan, Gwyneth kembarannya menangis histeris di dalam pelukan supir mereka.

"Kenapa kalian belum mengatasinya, hah?!" teriak Evander dengan urat-urat leher yang menegang, kemarahannya meledak saat melihat keponakannya yang biasa ceria kini duduk gemetar dengan air mata yang membasahi pipi tembemnya.

Evander langsung mengambil langkah besar, berniat melangkah ke arah keponakannya untuk memeluk dan menenangkannya. Namun, dua orang petugas polisi dengan cepat menghadang dadanya.

"Jangan mendekat, Tuan! Tolong mundur!" ucap polisi itu dengan tegas, menahan tubuh kekar Evander.

"Kami sedang menunggu Tim EOD yang sedang menuju kemari. Jangan melakukan gerakan yang bisa memicu sensor tekanan atau merkuri pada rompi itu!"

"Menunggu?!" Evander menepis tangan polisi itu dengan kasar, matanya merah memancarkan kilat kemurkaan. "Apa kalian pikir nyawa keponakanku tidak berharga, hah?! Telepon mereka lagi sekarang juga! Kalian tidak lihat, seorang anak kecil sedang ketakutan setengah mati di sana sendirian?!"

Evander mengabaikan larangan polisi. Ia maju beberapa langkah, berdiri di batas jarak aman yang masih bisa ditoleransi.

"Tenang, Genevieve... dengarkan paman, sayang," ucap Evander, berusaha melembutkan nada suaranya yang bergetar hebat untuk menenangkan keponakannya tanpa rasa takut sedikit pun pada ancaman ledakan.

Walaupun polisi sejak tadi terus-menerus melarang keras dan meneriakinya untuk menjauh dari keponakannya yang sedang duduk sendiri di kursi itu.

"Paman Evan ada di sini, sayang. Kau anak yang kuat, Genevieve. Jangan menangis, tatap mata paman," ucapnya lagi, memberikan senyuman terbaiknya di tengah situasi hidup dan mati tersebut.

Cassander, saudaranya, sejak tadi tetap berdiri di belakang barikade polisi dengan wajah cemas, memanggil dengan suara tertahan. "Hey, sialan! Kau gila malah berdiri sedekat itu di sana?! Ayo kesini, Evan! Jika bom itu meledak, kau juga akan hancur!"

Evander menoleh sedikit, menatap saudara kembarnya dengan pandangan yang tajam.

"Aku tidak bisa melihat keponakan kita ketakutan seperti ini sendirian, Cassander!" Evander kembali berbalik menghadap para polisi, dadanya naik turun dengan kemarahan yang memuncak.

"Panggil petugas penjinak bomnya sekarang, sialan! Kalian semua lamban! Kota ini membayar kalian bukan untuk berdiri menonton anak kecil menjadi target teror!" teriaknya lagi, suaranya menggema membelah lapangan terbuka itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara di sisi lain jalanan Los Angeles, sebuah mobil taktis van milik agensi EOD sedang melaju kencang dengan sirene yang melolong nyaring.

Di dalam kursi penumpang belakang, atmosfernya terasa begitu pekat dan tegang.

Zacheriyya Tengiz duduk di sana dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Di bawah lampu interior van yang temaram, tampak luka-luka baru pada bagian siku, lengan, juga sekujur tubuhnya. Kain blus satin marunnya robek di beberapa tempat, memperlihatkan kulitnya yang lecet dan memar kebiruan.

Bahkan, di dahinya yang tertutup sisa rambut, tampak darah segar yang masih mengalir perlahan, menetes melewati pelipisnya.

Dua puluh menit yang lalu, saat Cherry baru saja menerima panggilan darurat kedua ini di masa cutinya, ia langsung memacu motor sportnya dengan kecepatan tinggi.

Namun di sebuah persimpangan, sebuah mobil van hitam lain sengaja memotong jalurnya hingga membuat Cherry mengalami kecelakaan, terlempar dari motornya dan menghantam aspal jalanan dengan keras.

Jelas, ada pihak yang sengaja ingin menghambat kedatangannya ke lokasi penjinakan bom ini.

"Obati lukamu dulu, Zach... tolong biarkan aku menekan pendarahan di dahimu," kata rekan kerjanya yang saat ini menjemputnya menggunakan van agensi setelah kecelakaan itu terjadi.

Rekannya menyorongkan sebuah kotak P3K dengan wajah yang sangat cemas melihat kondisi fisik Cherry yang terluka cukup parah.

Namun, Zacheriyya menolak dengan mentah-mentah. Ia menepis tangan rekannya dengan kasar, matanya yang hazel memancarkan determinasi yang sedingin es dan mematikan. Ia mengusap darah di dahinya menggunakan punggung tangan, meninggalkan coretan merah yang mengerikan di wajah cantiknya.

"Kalian terlalu lama mengatasinya!" desis Cherry dengan nada suara yang tajam dan sarat akan kekecewaan.

"Aku benar-benar tak habis pikir dengan kinerja tim pusat. Bagaimana mungkin kalian sama sekali tidak mengerti komponen baru yang digunakan pada teror belakangan ini?! Jika esok hari ada bahan peledak nuklir atau bom berbasis kimia yang ditanam di pusat kota, apa mungkin kota Los Angeles ini akan dibiarkan meledak begitu saja jika tanpa kehadiranku?! Tidak becus!"

Rekannya hanya bisa menelan ludah, tidak berani membantah argumen sang agen terbaik.

"Segera injak gasnya lebih dalam, sialan!" perintah Cherry lagi, suaranya meninggi dipenuhi urgensi yang tinggi. "Ini bukan hanya soal menjinakkan kabel bom. Targetnya adalah seorang anak kecil berusia 9 tahun! Ini tentang trauma psikologis sang anak yang akan membekas seumur hidupnya jika kita terlambat semenit saja! Cepat!"

"Baik, Zach," kata rekannya, langsung menginjak pedal gas van taktis itu dalam-dalam, membuat mobil melesat membelah kemacetan jalanan dengan liar.

...oOo ...

Tibanya van taktis itu di area belakang kantor polisi, pintu belakang mobil langsung terbuka dengan hentakan keras.

Cherry melompat turun, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk di sekujur tubuh dan sikunya akibat kecelakaan motor tadi. Ia langsung menyambar rompi pelindung EOD ringkas dan tas peralatannya.

Namun, baru saja kakinya menapak di tanah lapangan terbuka itu, Zacheriyya langsung disambut dengan suara keributan yang teramat familiar.

Di batas perimeter, seorang pria bertubuh kekar sedang berontak hebat, ditahan dan dipiting oleh empat orang petugas polisi bertubuh besar agar tidak menerobos masuk ke area lapangan.

"Lepaskan aku, sialan! Kalian semua gila?! Keponakanku hanya sendirian di sana dalam ketakutan!" teriak pria itu dengan suara yang parau, urat-urat di wajahnya menegang merah karena amarah dan keputusasaan yang mendalam.

"Aku akan pergi ke sana menemaninya! Jika terjadi sesuatu padanya, kalian... aku bersumpah akan membunuh kalian semua dengan tanganku sendiri!"

Pria itu terus meronta, tenaganya yang besar membuat keempat polisi itu kewalahan. Ia mendongak ke arah langit, lalu berteriak lagi dengan segenap kekuatannya.

"Panggil petugas sialan itu sekarang! Kenapa mereka lama sekali datang kemari, hah?!"

Teriakan itu... nada suara penuh kepanikan yang menggelegar namun menyimpan kerapuhan yang teramat sangat itu... adalah teriakan dari Evander Vale-Knight.

Cherry menghentikan langkahnya sesaat.

Pandangan matanya yang tajam dan sedikit terhalang oleh tetesan darah dari dahinya terkunci pada sosok pria yang dua tahun lalu menghancurkan hidupnya, dan yang kemarin ia kelabui di sirkuit.

Di tengah lapangan yang luas, seorang anak kecil berlapis bom waktu sedang menangis, dan di tepi lapangan, pria yang paling ia benci sekaligus pria yang paling ia cintai sedang berjuang setengah mati.

Cherry menarik napas panjang, meremas gagang tas peralatannya kuat-kuat, lalu melangkah maju membelah kerumunan polisi menuju episentrum badai yang sesungguhnya.

1
Mei TResna Rahmatika
sedihh bangett part ini😭
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Hennyy exo
kurang banget🤭🤭

omg evander aku padamu😘😘
Rosdianah 🌷: heheh anak author 🤣
total 1 replies
Hennyy exo
sangat suka dengan alurnya dan penulisannya juga bagus mudah dipagami
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pliss thor sehari upnya 4 atau 6 bab ya🤭
Rosdianah 🌷: heheh nggak janji ya kak🤭
total 1 replies
Hennyy exo
wow makn menanyang thor babnya
Hennyy exo
sumpah thor alurnya makin bagus banget😍
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak sudah stay baca🫶
total 1 replies
Hennyy exo
baca di bab ini.kaya orang gila🤣🤣🤣
gemes deh ama merka berdua
Hennyy exo
di bab ini suka banget ma alurnya
nayla tsaqif
Apa kbr Gabriella margareth,,?? 🤭
Rosdianah 🌷: tunggu kak🤭🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
emang minus kayanya ini laki,yang bengkokin siapa,yang lurusin siapa/NosePick/berasa yang paling ...banget deh/Hammer/
Rosdianah 🌷: perlu digampar 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
yaudah sih Evander bilang jujur aja ke Cherry kalo masih suka dan gak punya hubungan sama Gabriela 🤨 balikan lagi nih pasangan serasi 😍
Rosdianah 🌷: hihi🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Ati2 cherry,, awas kena PHP,, jangan gmpang luluh,, 😌
Bonny Liberty
denger dulu dong omongan si E,biar jelas /Shy/ suka banget sok pintar 🏏
Rosdianah 🌷: hihihi🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Buat misi penyelamatan lg thor,,, mungkin bom di sekolah ponakan evan,, 🤭 q suka tokoh heroik, 🤣
Rosdianah 🌷: Ok Kakak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
baru jelas nih alur ceritanya 🫡 ternyata wanita hamil itu Gabriela dan Evander blom nikah 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤭 Semoga suka ya Kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
😍😍😍 The vale knight series lover
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Bonny Liberty
maaf kisanak, bukan pecahan kaca tapi ranjau darat yang kena bayangan dirimu aja bisa meledak.../Grievance/
Rosdianah 🌷: kwkwkw🤣
total 1 replies
Bonny Liberty
kata cintanya murahan, ga sadar diri,harusnya kamu tau kurang mu apa,hubungan toxic jadinya kan,dah gitu kehilangan real love gara..gara EGO LAKI,dia ga mikir apa cewe juga punya
Rosdianah 🌷: Semoga suka cerita Baru nya kak🫶
total 1 replies
Bonny Liberty
salah satu masalah dunia EGO LAKI..LAKI../Smug/
Rosdianah 🌷: huhuhu 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!