Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
##07
Koridor Markas Bersenjata Kerajaan yang terbuat dari dinding beton tebal dan kaca tahan peluru itu serasa makin panjang bagi Baxeena. Langkah kakinya yang cepat menggema kencang di atas lantai granit yang dipoles mengilap.
Wajahnya masih memerah hangat, campuran antara rasa malu setengah mati karena ketahuan mendengarkan percakapan di luar ruangan tadi, dan kekesalan pada senyuman tipis Alistair yang mendadak muncul tanpa permisi.
"Sepatu hak tinggi konyol," gumam Baxeena pada dirinya sendiri begitu melintasi gerbang utama markas, menyambar udara segar musim gugur yang menusuk kulitnya. "Dia pikir dia bisa lari dari dosanya hanya dengan mengganti sepatuku?"
Mobil sedan kustom berlapis baja milik keluarga kerajaan sudah menunggu di lobi utama dengan pintu yang dibuka sopan oleh seorang pengawal pribadi.
Baxeena masuk dan menghempaskan tubuhnya ke kursi kulit yang empuk. Ia menyandarkan kepalanya, memejamkan mata sejenak, mencoba mengenyahkan aroma kayu cendana dan leather milik Alistair yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya.
Pria itu benar-benar menyebalkan. Alistair yang kaku, teratur, dan sok formal seperti buku sejarah berjalan itu ternyata masih memiliki sisi menggoda yang dulu sangat Baxeena benci sekaligus rindukan saat mereka masih berseragam sekolah belasan tahun lalu. Namun, Baxeena dengan cepat menggelengkan kepala.
Jangan bodoh, Xeena, tegurnya pada diri sendiri. Dia adalah pria yang menghancurkan hatimu. Dia pria yang tidur dengan wanita lain hingga hamil di saat kau menunggunya dengan bodoh di Los Angeles.
Perjalanan menuju Istana Buckingham berlangsung hening. Ketika mobil hitam itu melintasi gerbang besi berukir lambang dinasti Blackwood, suasana istana terasa sedikit berbeda.
Tidak ada lagi keramaian media atau hiruk-pikuk pesta pernikahan. Yang tersisa hanyalah tembok-tembok batu yang menjulang tinggi, kesunyian yang kaku, dan ketegangan yang tersembunyi di balik keramahan para pelayan.
Baxeena melangkah memasuki sayap timur istana, bermaksud untuk pergi ke perpustakaan atau sekadar berjalan-jalan di taman belakang guna menenangkan pikiran. Namun, ketika ia melewati koridor yang mengarah ke area aula latihan piano, gema nada-nada sumbang yang dimainkan secara acak menembus keheningan lorong.
Langkah Baxeena terhenti.
Suara dentingan piano itu tidak terdengar seperti sebuah alunan musik yang indah, melainkan emosi mentah yang dihantamkan ke atas tuts-tuts porselen. Baxeena mendekat perlahan, mengintip melalui celah pintu kayu berukir yang sedikit terbuka.
Di dalam ruangan beratap tinggi dengan lampu gantung kristal yang redup, Violet duduk di atas bangku piano besar bernuansa hitam legam.
Gadis tiga belas tahun itu masih mengenakan seragam sekolahnya, namun blazernya dilempar sembarangan ke lantai. Jemari mungilnya menekan tuts piano dengan kasar, lalu tiba-tiba berhenti. Gadis itu menangkupkan wajahnya di atas tuts-tuts piano, hingga memicu gema dentingan keras yang mematikan.
Bahu kecil Violet bergetar hebat. Ia menangis sesenggukan—suara tangisan anak kecil yang terasing, keputusasaan yang tidak sanggup lagi ia tanggung sendiri.
Baxeena berdiri membisu di balik pintu. Ada rasa panas yang aneh merayap di dadanya saat melihat pemandangan itu. Ia paling benci melihat kepalsuan atau pengkhianatan, namun ia jauh lebih benci melihat seorang anak yang hancur karena dijadikan alat manipulasi oleh orang tuanya sendiri.
Baxeena mendorong pintu kayu itu pelan. Gesekan pintu di atas karpet beludru membuat Violet meloncat kaget. Gadis itu dengan cepat menyapu air matanya dengan lengan kemeja sekolahnya, lalu menegakkan punggungnya dengan pertahanan yang kembali dipasang kencang.
"Kenapa kau selalu muncul tiba-tiba?" seru Violet, suaranya serak dan agak bernada tinggi. "Apa di Los Angeles orang-orang tidak diajari caranya mengetuk pintu?!"
Baxeena melangkah masuk tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia tidak memakai bahasa kaku kerajaan, tidak pula memandangnya dengan tatapan belas kasihan. Ia berjalan santai, meraih blazer seragam Violet yang tergeletak di lantai, lalu melipatnya rapi dan meletakkannya di atas meja samping piano.
"Di Los Angeles, orang-orang diajari untuk tidak menangis di atas piano mahal bernilai jutaan poundsterling karena air mata bisa merusak porselen tutsnya," sahut Baxeena santai, melipat tangannya di dada sembari menatap Violet.
Mata Violet membelalak. "Kau... kau sangat tidak punya perasaan!"
"Aku punya perasaan," potong Baxeena lembut namun lugas. "Tapi aku lebih suka menggunakan otakku daripada menangisi hal-hal yang tidak bisa diubah dengan air mata."
Violet memalingkan wajahnya ke arah jendela, menggigit bibirnya rapat-rapat. "Kau tidak tahu apa-apa. Kau tidak tahu bagaimana rasanya ditolak dan dibenci di rumahmu sendiri!"
Baxeena berjalan mendekat, menyandarkan tubuhnya di tepi piano besar tersebut.
Pandangannya lurus menatap taman di luar jendela, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka selama beberapa saat sebelum ia membuka suara kembali. Suaranya mengalir lebih santai, meninggalkan kesan kaku yang biasanya membentengi dirinya.
"Kau tahu, Violet..." kata Baxeena pelan. "...saat aku berusia tiga belas tahun, aku juga pernah merasa seluruh dunia memusuhiku."
Violet tidak merespons, namun melirik Baxeena dari sudut matanya dengan rasa ingin tahu yang tersirat.
"Saat itu aku sekolah di sekolah berasrama, juga di Inggris," lanjut Baxeena, mengenang masa mudanya dengan senyum tipis yang sarat pahit. "Aku merasa terasing karena aku berasal dari LA, caraku berbicara beda, gaya hidupku beda. Lalu, ada seorang pria bodoh yang datang dan membuatku percaya bahwa dunia tidak seburuk itu."
Baxeena jeda sejenak. Bayangan Alistair muda yang tersenyum di bawah naungan pohon oak sekolah mendadak melintas, membuat dadanya berdenyut pelan.
"Tapi kemudian," sambung Baxeena, menatap Violet secara langsung. "Pria itu melakukan kesalahan paling besar dalam hidupnya. Dia menghancurkan seluruh kepercayaanku, dan membuatku harus belajar berdiri sendiri di atas kakiku tanpa bergantung pada siapa pun—termasuk pada orang tua."
Violet terdiam. Ia merasakan kebenaran dan luka yang nyata dalam nada suara Baxeena, bukan sekadar kata-kata manis buatan yang biasa diucapkan para diplomat atau pelayan istana.
"Aku tahu ibumu memberitahumu banyak hal tentangku," kata Baxeena jujur. "Dia bilang aku jahat, aku datang untuk merebut ayahmu, dan aku akan membuangmu. Tapi izinkan aku memberitahumu satu hal, Violet."
Baxeena membungkuk sedikit, menyamakan tinggi pandangannya dengan gadis remaja itu.
"Aku tidak butuh uang ayahmu, aku tidak butuh takhta kerajaan ini, dan aku sama sekali tidak tertarik untuk berpura-pura menjadi ibu kandungmu," tegas Baxeena, matanya memancarkan kejujuran yang tajam. "Tapi selama aku berada di dalam istana ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun—termasuk ibumu sendiri—memanfaatkan ketakutanmu demi keuntungan mereka sendiri."
Mata Violet membesar. "Apa... apa maksudmu membicarakan Ibuku seperti itu?!"
Baxeena tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menghela napas panjang, meluruskan kembali tubuhnya. "Pikirkan sendiri apa yang baru saja terjadi hari ini. Kenapa dokumen transaksi rahasia itu bisa ada di tanganmu? Apakah ibumu benar-benar peduli padamu, atau dia hanya membutuhkan namamu untuk membobol kas rahasia yang tidak bisa ia akses?"
Kata-kata Baxeena menggantung di udara bagai petir di siang bolong. Violet tertegun membisu, kata-katanya tertahan di tenggorokan saat teringat bagaimana ibunya semalam memintanya secara spesifik untuk mengambil amplop cokelat itu dari lemari arsip ayahnya di istana.
Tanpa menunggu balasan dari Violet yang masih syok, Baxeena menepuk bahu gadis itu pelan—sebuah sentuhan singkat yang hangat namun tidak memaksa.
"Mandi dan gantilah pakaianmu. Ayahmu menahan perjelas rekening itu di markas militer sore ini. Jika kau ingin bertengkar dengannya, pastikan kau sudah makan dan tidak dalam kondisi kacau seperti ini."
Baxeena berbalik dan melangkah keluar dari ruangan piano, meninggalkan Violet yang duduk terpaku menatap tuts-tuts hitam putih di depannya dengan pikiran yang mendadak berkecamuk hebat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam merayap turun menyelimuti Kota London dengan kabut tipis dan rintik hujan gerimis. Lampu-lampu taman Istana Buckingham berpendar hangat, membiaskan cahaya di atas permukaan jalanan basah.
Di dalam kamar pengantin sayap barat, Baxeena baru saja selesai membersihkan diri. Ia mengenakan gaun tidur bahan sutra berwarna krem yang nyaman dengan jubah kain senada yang menutupinya hingga tumit. Rambut panjangnya yang basah dibiarkan terurai di bahu. Ia berdiri di depan jendela besar, menonton bulir-bulir air hujan yang menempel di kaca.
Suara ketukan pintu yang teratur memecahkan keheningan. Sebelum Baxeena sempat menjawab, pintu terbuka pelan.
Alistair melangkah masuk. Pria itu sudah menanggalkan seragam militernya, kini hanya mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih kasual yang lengan bajunya digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan berotot dan jam tangan kustom kerajaan. Wajahnya tampak sedikit lelah dari aktivitas rapat panjangnya di markas, namun sorot matanya yang tajam mendadak melunak begitu pandangannya jatuh pada Baxeena.
"Hujan makin deras di luar," ujar Alistair pelan, menutup pintu di belakangnya. Suaranya tidak lagi sekaku pagi tadi, terdengar lebih santai dan akrab.
Baxeena memutar tubuhnya, bersandar di bingkai jendela. Ia memandang Alistair dengan jarak yang aman. "Bagaimana dengan urusan dokumen tadi?"
Alistair melangkah mendekat menuju meja kecil di sudut ruangan, meletakkan kunci mobil dan ponselnya di sana. "Selesai. Tim audit sudah membekukan seluruh akses luar negeri yang terhubung dengan akun rahasia itu. Katherine tidak akan bisa menyentuh satu penny pun dari kas rahasia istana lagi."
"Baguslah," sahut Baxeena pendek. "Dan bagaimana dengan putrimu?"
Alistair menghentikan gerakannya sejenak. Pria itu membalikkan badan, menatap Baxeena dengan binar mata yang hangat dan dipenuhi rasa kagum yang tak bisa ia sembunyikan.
"Aku baru saja dari kamarnya sebelum ke sini," kata Alistair, melangkah perlahan mendekati Baxeena. "Dia sedang makan malam di kamarnya. Dan... dia menceritakan apa yang kau katakan padanya di ruang piano."
Alis Baxeena bertaut. "Dia mengadu padamu kalau aku menuduh ibunya?"
"Tidak," potong Alistair cepat, sebuah senyuman tipis dan lembut terukir di bibirnya. "Dia tidak mengadu. Dia hanya diam... lalu bertanya apakah benar kau tidak berniat mengambil takhta atau uang istana. Dan dia bilang... caramu berbicara padanya sangat berbeda dari orang-orang dewasa di istana ini."
Baxeena mendengus pelan, memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Aku hanya mengatakan kebenaran. Aku paling benci melihat drama manipulasi yang melibatkan anak-anak."
Alistair kini berhenti tepat di hadapan Baxeena, hanya menyisakan jarak satu meter di antara mereka. Aroma tubuh Alistair yang segar pasca-mandi bercampur dengan wangi hujan di luar jendela, menciptakan atmosfer yang mendadak terasa begitu intim dan menyesakkan bagi Baxeena.
"Kau selalu menjadi orang yang paling jujur yang pernah kukenal, Xeena," bisik Alistair. Suaranya begitu dalam, mengalun lembut tanpa kepalsuan. "Dulu... saat di sekolah, dan sampai hari ini. Kau tidak pernah berubah."
"Aku berubah, Alistair," sahut Baxeena dingin, menatap mata hazel suaminya dengan pertahanan rapat. "Baxeena yang dulu mencintaimu dengan bodoh sudah mati Empat Belas tahun yang lalu di Los Angeles."
Alistair tidak membantah. Pria itu justru melangkah setengah tapak lebih dekat, mengangkat tangannya perlahan. Baxeena sempat menegang, mengira Alistair akan menyentuhnya, namun jemari tegap Alistair hanya terhenti di udara—meraih helai rambut basah Baxeena yang menyangkut di kerah jubahnya, lalu menyelipkannya secara hati-hati ke belakang telinga wanita itu tanpa menyentuh kulitnya.
Gerakan yang begitu lembut, terlatih, dan sarat akan penghormatan itu membuat dada Baxeena berdesir heboh secara tidak rasional.
"Aku tahu," desah Alistair lirih, menatap tepat di manik mata Baxeena. "Tapi Baxeena yang berdiri di depanku malam ini... tetaplah wanita berhati mulia yang menyelamatkan putriku dari manipulasi. Dan untuk itu, aku akan selalu berutang padamu."
Baxeena menahan napasnya sejenak, mencoba menguasai degup jantungnya yang mulai tak beraturan. Ia menepis pelan tangan Alistair yang masih menggantung di udara.
"Jangan berutang apa pun padaku," bisik Baxeena, melangkah menyamping untuk menjauhkan diri dari jangkauan Alistair. "Aku tidur di sofa malam ini."
Alistair menatap sofa besar di sudut ruangan, lalu menggelengkan kepala. "Tidak. Ini kamarmu. Kau tidur di tempat tidur. Aku yang akan tidur di sofa."
Baxeena memutar tubuhnya, menatap Alistair dengan dahi berkerut. "Anda seorang Duke dan Pangeran Kerajaan, Alistair. Sofa itu terlalu kecil untuk postur tubuhmu."
Alistair terkekeh pelan—suara tawa renyah yang sudah sangat lama tidak Baxeena dengar. "Di garis depan pertempuran, aku biasa tidur di atas tanah berlumpur hanya berlapiskan mantel tempur, Xeena. Sofa ini terasa seperti kasur kelas satu bagiku."
Pria itu mengambil bantal dari atas tempat tidur besar bernuansa emas itu tanpa ragu, lalu berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya yang tinggi besar di sana.
Meski kakinya agak menekuk karena sofa yang tidak cukup panjang untuk tubuh 188 centimeter-nya, Alistair memejamkan mata dengan raut wajah yang amat tenang, seolah ia baru saja menemukan kedamaian terbesar dalam hidupnya.
Baxeena berdiri terpaku di dekat tempat tidur, menatap pria yang kini menjadi suaminya itu dengan perasaan yang makin kacau. Kebencian yang selama ini ia peluk erat-erat bagai perisai, kini mulai terasa goyah oleh setiap tindakan sederhana, kejujuran, dan kelembutan Alistair yang tak pernah ia sangka.
Baxeena akhirnya mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur dinding yang temaram. Ia naik ke atas tempat tidur yang luas, menarik selimut hingga ke dada, dan membelakangi posisi sofa.
Di dalam kegelapan yang diiringi oleh derai hujan di luar jendela, suara Alistair terdengar mengalun pelan dari arah sofa, memecah keheningan malam.
"Selamat malam, Amore."
Baxeena mengepalkan tangannya di balik selimut, tidak membalas ucapan itu. Namun di dalam dadanya, ada sebuah getaran hangat yang amat lama mati, kini mulai berdenyut kembali perlahan-lahan.
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭